Tampilkan postingan dengan label Surat tak tersampaikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat tak tersampaikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2022

Sahabatku dan Rasa Bimbangnya.

Sudah lama aku tidak menuliskan sesuatu di sini. Hari ini, sahabatku kembali datang dengan wajahnya yang risau. Matanya menerawang entah tentang apa. Setelah beberapa saat ia hanya terduduk tanpa menatapku, ia mulai berkata, “bolehkah aku kembali menyampaikan pesan melalui tulisan di blog-mu?”.

Aku mengangguk dan membiarkan ia menuliskan sendiri apa yang ia rasa. Semoga ini sampai ke kamu. Dan, jika kamu merasa sahabatku menuliskan ini untukmu, maka jangan sungkan untuk menyapanya lagi. Selamat membaca surat yang—aku pun—tak  tahu untuk siapa.

Halo, untuk kamu, yang sudah lama tak aku jumpai. Sekitar sembilan atau sepuluh tahun sejak terakhir kita bertemu sepertinya.

Apa kabar? Aku lihat hidupmu semakin berkembang setiap saatnya. Berbeda sejak kita terakhir kali bertemu, bahkan tak pernah terpikirkan kamu akan menjadi seperti saat ini. Aku bahagia melihatmu, meski hanya dari sosial media-mu.

Senin, 30 Desember 2019

2019.

Teruntuk aku di 2019,
Terima kasih sudah tetap bertahan meski terasa menyesakkan. Tak berhenti meski sering merasa lelah. Tetap berjalan kala langkah tak lagi imbang. Kau kuat, walau banyak airmata yang mengisi. Banyak tawa yang tercipta guna menutupi sedih yang berlarut. Banyak canda yang hadir agar tak tampak sedihmu. Kau memilih menyimpan lukamu sendiri. Menangis dalam gelap, terisak dalam sunyi.

Kau hebat, meski kau merasa hanya menjadi debu. Kau hebat, meski kau merasa tak terlihat. Kau hebat, meski kau merasa tak berharga. Kau hebat, meski tak terucapkan.

Teruntuk Sahabat, 
Maaf jika di tahun 2019 aku tak banyak menghabiskan waktu bersama kalian. Tak mampu berjumpa meski rasanya ingin. Di antara Januari sampai Desember, inginku berjumpa, berbagi kisah, berbagi tawa, tapi nyatanya aku tak mampu. Terlalu banyak alasan yang membuatku akhirnya hanya mampu mengirim pesan. Semoga kalian mengerti dan 2020 aku masih bertemu kalian.

Teruntuk Kamu, yang kusebut setiap doa.
Terima kasih tetap menemani. Banyak waktu yang berlalu, tak mungkin jika tak ada selisih paham. Tapi, terima kasih karna kau tak memilih pergi. Maaf jika aku hanya mampu menjadi aku yang terlalu banyak kurang. Maaf sering menjadikanmu tempat berkeluh kesah. Tahun ini, menjadi tahun yang akhirnya memberikan banyak pelajaran untuk kita. Aku berusaha membuktikan, bahwa aku takkan kemana-mana. Pun, kuharap kamu akan begitu nantinya. Tetap bersamaku, tetap di sisiku.

Teruntuk aku di 2020, 
Tetaplah menjadi kuat. Jangan berhenti hanya karna kaulelah, istirahat tak apa. Jangan berhenti kala kaumerasa sesak yang teramat. Aku tahu, kautak selemah itu. Aku tahu, kaumampu melewati semua hal yang nantinya akan terjadi. Tak apa, jika di antara sunyinya malam, kau kembali terisak karna lelah. Kau boleh melakukan itu, hanya jangan menyerah.

Jangan menyerah meski rasanya tak lagi sanggup melanjutkan. Jangan menyerah, karna masih ada impian yang terlanjur kau gantung dan harus kauwujudkan. Entah itu hari ini, esok, atau lusa, kau akan mampu menggapai impianmu. 


30 Desember 2019.

Aku yang mencintai Aku. 
Fanny Saufina.