Tampilkan postingan dengan label Kamu.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamu.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2016

Ini Tentangmu, Untukmu.

Dari berjuta-juta orang di dunia, kenapa aku harus bertemu denganmu? Dari banyaknya perempuan di dunia, kenapa kamu harus bertemu denganku?

Aku tidak percaya kebetulan, bagiku kebetulan adalah peristiwa yang memang Tuhan rancang untuk kita. Dan pertemuan kita adalah salah satunya.

Bisakah aku bilang bahwa aku sedang diuji akan segala ucapan yang pernah kuucapkan? Bisakah aku bilang bahwa aku sedang diminta untuk menunjukkan segala omonganku? Ah, rasanya iya.

Ini tentang kamu, seseorang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Bahkan, bertemu denganmu adalah salah satu ketidaksangkaanku akan jalan hidup.

Bisakah aku tulis semua yang kuresahkan di sini? Bisakah aku mengungkapkan apa yang aku rasakan di sini? Bisakah aku tulis semua tentang kita di sini? Dan, jika kamu membacanya. Jangan bertanya, aku tak tahu bagaimana cara memberitahumu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan kalau ini memang untukmu. Aku pengecut? Memang.

Ini sudah terlalu lama sejak terakhir kali aku merasa nyaman akan kehadiran seseorang. Entah berapa tahun yang lalu, dia adalah seorang teman yang diperkenalkan oleh temanku. Seiring pesan yang tak terhenti, nyaman itu hadir. Aku menanti setiap pesannya. Aku menanti setiap kabarnya. Dan, kesalahanku adalah meninggalkannya, tak menghiraukan rasa nyamanku, tak menghiraukan perasaannya.

Sudah cukup lama sejak hari di mana aku kehilangan rasa nyamanku, kamu akhirnya datang. Tanpa pernah terduga, tanpa pernah kusangka. Dan, rasa nyaman itu kembali. Jika aku boleh jujur, kamu memang bukanlah laki-laki pertama yang datang setelah dia pergi. Aku pernah kenal dengan salah seorang teman adikku. Dan, rasanya aku hanya bergantung pada pesannya, tak pernah merasa nyaman, tak pernah berharap lebih.

Kamu datang dan menghadirkan rasa nyaman itu kembali. Kamu memperlakukanku seperti seseorang di masa lalu itu memperlakukanku. Tak berlebihan, tapi cukup membuatku tersenyum. Aku tidak curiga kepadamu seperti curiga kepada yang lain. Kamu memang benar-benar datang menggantikan seseorang yang kutinggalkan.

Jika kamu bertanya, ini tentang siapa? Maka kujawab, ini tentangmu.

Kamu harus tahu, banyak yang ingin kusampaikan. Tapi, kenapa aku bingung ingin memulai dari mana.

Adakah kita sedang membuat luka untuk diri kita sendiri? Ataukah hanya aku yang sedang melukai diriku sendiri?

Kamu harus tahu, aku adalah perempuan dengan tingkat penasaran yang cukup tinggi dan akhirnya aku tahu apa yang kamu anggap aku tidak tahu.

Adakah kita sedang bermain-main? Lalu, akhirnya kita tidak pernah tahu caranya berhenti bermain.

Aku terlambat jika ingin berhenti. Aku terlalu takut untuk mengulang kesalahanku. Aku terlalu takut untuk menyakiti orang lain. Lagi.

Apa yang kamu pikirkan tentangku? Apa yang kamu harapkan tentang kita? Ah, terlalu jauh jika aku bertanya apa harapanmu. Karena, aku terlalu takut untuk menjawab atau memikirkan kita.

Ini bukan tentang apa pun. Tidak ada yang meragukanku selain pilihan jalan yang akhirnya berbeda di antara kita. Mengertikah kamu akan pilihan jalan itu? Jika aku bisa jujur, hanya itu yang meragukanku itu. Tak ada yang lain.

Adakah kamu menanti pesanku seperti aku menanti pesanmu? Kamu harus tahu, kamu menyebalkan saat menghentikan pesan, tak membalas pesanku, dan membiarkannya. Tapi, kamu menunggu aku yang memulainya lagi. Bagiku, siapa yang menghentikan pesan, maka dialah yang harus mengirim pesan lagi.

Kita ini apa? Hanya dua manusia asing yang mencoba mengenal lalu akhirnya saling melupakan lagi? Aku tidak tahu mengapa, tapi rasanya begitu menyakitkan jika aku memikirkan kemungkinan itu.

Sudahkah kamu membaca tulisan ini? Apa yang kaupikirkan tentangku setelah membaca ini? Terlalu percaya diri kah aku karena menuliskan ini?

Kamu tahu aku adalah perempuan yang sulit percaya. Kamu tahu aku adalah perempuan dengan tingkat penasaran yang tinggi. Dan kamu harus tahu, aku adalah perempuan yang mudah kecewa.

Adakah kamu tahu? Aku pernah penasaran akan sesuatu tentangmu di beberapa hari yang lalu, lalu aku menemukan sesuatu yang membuatku kecewa. Aku sedang mencoba percaya sampai saat ini, tapi nyatanya tak semudah itu untukku agar dapat percaya dengan mudah. Bolehkah aku beranggapan kau sama dengan yang sebelumnya? Ah, maaf, kalau aku terlalu sok tahu menilaimu. Aku tidak marah padamu, aku hanya kecewa dengan keinginanku untuk percaya? Tapi, ternyata aku terlalu lupa untuk tahu diri. Siapa aku hingga bisa kecewa? Siapa aku hingga pantas untuk kesal?

Ini memang tentangmu. Jika kamu membaca ini, jangan bertanya. Karena, aku tak tahu apa jawabannya.

Sudah berapa lama kita dekat? Cukup lama rasanya. Aku tidak tahu kita apa, akan seperti apa jadinya kita nanti. Aku tidak tahu.

Aku memang tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku terlalu takut untuk melangkah dan terlalu takut untuk mundur. Bahkan, terlalu terlambat untuk mundur. Aku hanya akan tetap di sini, entah sampai kapan. Jadi, jika suatu hari kamu mulai jenuh dan berniat pergi, beri tahu aku. Agar aku tahu jika aku memang sudah tak perlu berharap.

Ini tentang kamu. Jika kamu bingung harus seperti apa akhirnya, cukup baca sampai habis.

Terima kasih sudah hadir. Mengingatkanku akan rasa nyaman dan mungkin kehilangan atau rasa sakit lagi nantinya. Terima kasih sudah hadir dengan segala caramu yang membuatku tersenyum. Terima kasih sudah hadir dan menghilangkan rasa yang tak perlu kujelaskan. Terima kasih untuk rasa yang pernah terucap, meski aku tak tahu kebenarannya.

Ini tentangmu. Jika kamu bertanya, akan berapa banyak lagi kata yang harus kau baca. Ini sudah selesai, tenang saja.

Terakhir, jika akhirnya kita memang berakhir pada tahap tak saling mengenal lagi. Jangan pernah lupa bahwa pernah ada perempuan menyebalkan ini.

Ini tentangmu. Jika kamu bertanya, bagaimana perasaanku. Mungkin aku suka padamu. Mungkin. Tapi, yang pasti aku sudah terlanjur nyaman akan kehadiranmu.

Dan, ini memang untukmu, tentangmu. Jadi, terima kasih jika kamu sudah selesai membacanya. Jangan bertanya, aku tidak tahu harus menjawab apa.

Jakarta, 25 Desember 2016.

Fanny Saufina.

Selasa, 12 Agustus 2014

I'm Fine.

Kita memang tidak pernah tahu kapan datangnya sebuah cinta. Kita memang tidak pernah tahu akan kepada siapa cinta ini akan bermuara akhirnya. Kita memang tidak akan pernah tahu bagaimana cerita perjalanan cinta kita. Kita memang tidak pernah tahu akan berakhir seperti apa cerita cinta ini, sedih atau bahagiakah, dicinta atau hanya mencintakah.

Hari ini, entah sudah hari ke-berapa aku terus memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, menantinya datang dengan ramah kepadaku. Aku tidak tahu kenapa dia selalu hadir disela-sela kesibukanku, aku tidak pernah mengerti awal mula aku mulai memikirkannya tanpa henti. Aku hanya tahu, saat dia mulai tak aku lihat, ada sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku mulai mencarinya.

“Dia? Cowok yang jarang masuk? Cowok yang kerjaannya cuma bengong-bengong dikelas?” Aku sudah sangat hafal dengan pertanyaan yang ditanyakan Rita ini. “Banyak laki-laki yang lebih ganteng dibanding dia, banyak lelaki yang lebih baik dibandingin dia. Disekolah ini lebih banyak yang rajin sekolahnya, Shin… Terus kenapa harus dia?”

Minggu, 29 Juni 2014

Kamu dan Perempuan yang Kau buat Berdebar Hatinya.

Ini untukmu, lelaki yang sudah lama mengganggu fikiran perempuan kaku itu.

Tentang kamu tak pernah terlupakan dalam hidup seorang perempuan seumuranmu. Dia, seseorang yang pernah kau rayu dengan kata-katamu yang manis. Kamu bukan sosok istimewa untuknya, tapi entah mengapa ia sulit melupakanmu. Ia tidak pernah tahu sejak kapan semuanya menjadi seperti ini, ia tidak pernah tahu bagaimana bisa sosok yang sudah lama tak ia lihat masih mengganggu fikirannya kala malam datang. Perempuan itu masih saja memikirkanmu kala kau sudah bersama perempuanmu. Salahkah dia? Jika bisa, perempuan itu pun tidak ingin memikirkanmu terlalu dalam. Dia tahu, ini tidak pantas untuk seorang perempuan memikirkan lelaki yang sudah memiliki perempuan, tapi hati tetap hati, mengambil peran yang lebih besar dibandingkan logika.

Dia adalah perempuan yang tak pernah tahu bagaimana cara bersikap manis denganmu. Dia adalah perempuan yang merindukan  beberapa tahun yang lalu, ada sepenggal harapan dihatinya untuk mengulang semuanya. Dia ingin kembali merasakan pipinya merona merah kala kalimat “Aku suka Kamu” terdengar ditelinganya. Dia jatuh cinta padamu? Perempuan itu berkata tidak. Dia hanya tak bisa melupakan semua yang sudah terjadi, tak bisa menghapus kalimat yang membuat pipinya merona, bantahnya. Tapi, semua orang tahu dia sedang jatuh cinta.

Kamis, 22 Mei 2014

Lalu mau datang lagi setelah ini?

Dahulu, selalu ada pesan yang tak pernah absen dari deretan kotak masuk pesanku. Led merah handphone-ku selalu menyala saat malam hari. Dahulu, selalu ada seseorang yang tak pernah bosan mengirim pesan meski tak jarang aku tak membalasnya karena aku sudah terlelap. Dahulu, ada seseorang yang mampu membuatku tersenyum malu karena pesannya. Tapi itu dahulu, kini seseorang itu menghilang (lagi) begitu saja, tak tampak lagi pesannya, tak ada lagi Led-ku menyala karena pesannya.


Apa kabarmu? Sudah adakah wanita yang membalas pesanmu lebih dari aku? Sudah kau dapatkah wanita yang mulai senang mengirim pesan kepadamu terlebih dahulu?

Selasa, 31 Desember 2013

Kenangan (Kamu) dalam 2013

Kenangan dalam 2013, tidak terlalu banyak yang aku ingat. Tapi, nyatanya kenangan (kamu) akan menjadi kenangan yang selalu hangat dipikiranku. 2013 adalah saat yang mulai membuat hatiku tak menentu. Tentang kamu menjadi sangat menggangguku ditahun 2013. Aku masih ingat ketika kau mulai menghilang dan aku menjadi kacau, aku masih ingat ketika aku mulai jengah dengan diamku dan akhirnya meminta temanku untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi, itu tidak terjadi, keadaan seakan mencegahku untuk melakukan itu. Ya, mungkin Tuhan punya alasan kenapa lebih membiarkan aku menyimpan rasa ini sendiri.





Jika kita bicara tentang kenangan 2013, semua akan kembali kepada sesuatu yang menyangkut tentang kamu. Kenangan yang dulunya membuatku menjadi senang dan sedih. Kenangan yang sering menghadirkan perasaan tak menentu disetiap malam. Kenangan saat aku sibuk mengecek timeline dan status social media-mu. Kenangan saat aku memperhatikanmu dalam diam, kenangan saat aku menunggumu dalam diam, kenangan saat aku memperhatikan tawamu dalam diam, kenangan saat aku mulai gugup saat mata kita bertemu, dan saat aku mulai tak suka mendengar kabar tak menyenangkan tentangmu.

Minggu, 22 Desember 2013

Selamat tanggal 22 untuk Ibu-ibu didunia dan kamu.


Selamat tanggal 22 desember untuk seluruh ibu di pelosok dunia. Yaaa, hari ini hari ibu dan hari ulangtahun seseorang yang pernah menjadi kakak kelasku. Hehehe.



Dalam postingan kali ini, aku pengen sedikit membahas tentang seorang wanita yang lahir tanggal 28 November ini. Wanita yang bernama Ibu Dwi Noviansari R ini lah yang selalu mengandung saya dan adik saya selama 9bulan. Mengandung 2 anak sekaligus itu bukanlah hal yang mudah, membawa kemana-mana 2 anak sekaligus merupakan hal yang sangat merepotkan sebenarnya, saat tubuhnya lemah karena tenaganya terkuras saat melahirkan putra-putrinya maka disitulah ia harus merelakan tenaganya akan terkuras lagi saat menyusui kedua anaknya sekaligus. Sempat hanya berbaring ditempat tidur setelah melahirkan, membuktikan bahwa melahirkan dua anak sekaligus bukanlah hal yang mudah. Hal itu membuktikan betapa besarnya pengorbanan beliau untuk kami—putra-putrinya—.
Ibu.....

Kini, kedua anak kecilnya sudah beranjak besar. 17tahun sudah ia terus-menerus merawat kami tanpa pernah ada kata lelah. Dialah wanita terhebat didalam hidupku. Wanita yang tak pernah mengeluh didepan anak-anaknya. Wanita yang selalu rela waktu malamnya kami ganggu dengan tangisan kami karena haus atau sebagainya. Wanita yang rela mengantar anak-anaknya dikala kecil. Wanita yang tak pernah bosan menanyakan keberadaan anaknya. Wanita yang masih menganggap aku dan nando sebagai anak kecil demi keselamatan kami. Wanita yang berusaha selalu tersenyum saat anaknya mulai tak seperti dahulu, hatinya terluka tapi ia tak pernah menunjukkan itu.

Minggu, 25 Agustus 2013

Melewatkanmu.

Melewatkanmu. Mungkin sebuah kesalahan. Satu kesalahan yang tak pernah aku sadari. Tapi, kini aku sadar, memang tak ada yang sepertimu. Tak ada yang mempu memberikan kesan seperti kau memberikan kesan untuk sosokmu dalam hidupku. Aku sadar, jika kini semua sudah terlambat. Aku sadar, jika kini tak ada lagi rasa seperti dahulu. Dan aku sangat sadar, aku takkan pernah bisa membujukmu untuk kembali bersamaku  dan menghadirkan rasa itu dihatimu. Dan satu yang harusnya aku sadar, kini kau sudah bersamanya.

Dahulu, sering aku abaikan pesanmu. Sering aku abaikan panggilanmu. Sering aku tak acuhkan kau. Dan sangat sering membuatmu hanya seperti tempat curhatku. Tapi, kau tak pernah keberatan untuk hal itu. Kau tak pernah meninggalkanu karena hal itu. Dengan setia kau selalu menungguku, mengingatkanku, menantikan kabar dariku. Dan sisi kebodohanku adalah, yang tak pernah sadar bahwa kau selalu menunggu ucapan hangat dan kabar baikku. Kau yang selalu berusaha untuk menghiburku, dikala rasa jenuhku menghampiri. Tak pernah ada kata bosan untuk segala cerita yang berujung tentangnya. Tak pernah ada marah untuk segala tingkah konyolku, hanya saja terkadang aku bisa merasakan rasa khawatirmu yang membuatmu kacau. Dan kini, hanya rasa rindu yang datang ketika aku mengingatnya.

Ketika aku meyakinkan hatiku untuknya, ternyata kau meyakinkan hatimu untukku. Tapi, tak pernah ada kata yang terucap untuk itu. Hanya sebuah pertemanan biasa yang terjalin, entah apa yang membuatmu melakukan itu. Tapi, aku hanya merasa kau tak ingin merusak semuanya. Ketika aku merasa merasa terasingkan dari yang lain, kau selalu mengulurkan tanganmu, menerimaku dengan segala hal yang aku punya, membuatku merasa nyaman. Dan kau tak pernah melihat kekuranganku. Yang kau tahum hanya senyumku adalah penghiburmu. Dan selalu ada rindu saat aku tak ada didekatmu.

Kau  tak pernah berniat meninggalkanku. Tak pernah aku lihat seakan kau jenuh denganku. Semua terjadi karenaku. Aku yang memulai. Bukan karena tak lagi membutuhkanmu, tak mengharapkan kehadiranmu lagi dalam hari-hariku. Dan bukan karena aku mulai jenuh dengan kebersamaan kita. Hanya saja, menurutku ada yang menjadi prioritas diantara orang-orang disekitarku. Dan meninggalkanu adalah salahsatu bentuk pengorbananku. Entah pantas atau tidak disebut dengan pengorbanan, ketika kau tersakiti?

Meninggalkanmu tanpa sebuah alasan yang jelas dan pergi begitu saja, itu caraku yang akhirnya merusak semuanya. Membiarkanmu memandangku dengan tatapan nanar, kini membiarkanmu berfikiran aku memang sama seperti mereka. Dan itu cukup membuatku lega, meski tak benar-benar lega. Tapi, ternyata semuanya tidak seperti yang aku fikirkan. Kalian dengan seenaknya berjalan keluar dari segala pengorbananku. Merusak segala arti pengorbanan yang aku lakukan. Dan kini, semua benar-benar tak ada lagi nama yang pantas disebut dengan pengorbanan.

Kini, aku hanya berdiri jauh dari kalian. Berdiri sendiri direrumputan hijau. Memperhatikan segala kebahagian yang tercipta untuk kalian. Mendengar segala tawa bahagia kalian. Kini, tak ada lagi uluran tanganmu layaknya dahulu. Aku sendiri. Sendiri menikmati segalanya. Aku yang berkorban dan aku yang terkorbankan, mungkin ungkapan itu pas untuk aku teriakkan. Entah kapan saat itu tiba? Bergabung dengan kalian yang tak pernah mengerti rasa ini sesungguhnya. Aku hanya terdiam, saat aku sadar kini tak ada lagi sosok dirimu disampingku. Bermain dengan rerumputan yang bergoyang, mungkin sedikit menghiburku. Tapi tidak mengusir rasa sakit dan sepi ini. Andai aku tak melewatkamu, apa semuanya akan tetap sama?

Sabtu, 20 Juli 2013

Menghilanglah sejenak.


Saat aku tak lagi mampu menghilangkan segala rasa untukmu. Saat aku tak lagi mampu menampikkan bayangmu dihadapanku. Saat aku tak lagi mampu mencoba tak mendengar suara indahmu. Saat mataku tak lagi mampu menepis tawa santaimu. Saat hati tak lagi bisa aku ajak kompromi. Dan saat otakku tetap merekam segala kegiatanmu, maka menghilanglah sejenak.

Menghilanglah meski itu akan menyakitkanku. Menghilanglah dan jangan kembali sampai rasa ini benar-benar tiada. Menghilanglah dengan segala keramahanmu. Menghilanglah dengan pesonamu yang menawan. Menghilanglah kasih, beri aku waktu untuk melupakanmu. Beri aku waktu untuk melenyapkan segala rasa untukmu.

Semuanya tidak mudah untukku, ketika aku harus terus berhadapan denganmu. Menepiskan segala rasa yang besar bukan hal yang mudah untuk aku lakukan. Semuanya dengan mudah kembali dan menyiksaku, jika kau masih disini.

Pergilah dan jangan pernah kembali, jika rasa ini memang tak pernah pudar untukmu. Pergilah. Pergilah. Jangan buat aku semakin tak berdaya dengan segala rasa yang tak terucap ini. Pergilah, jika hatimu memang hanya untuknya. Pergilah, jika memang tak pernah kau anggap aku istimewa. Pergilah.

Senin, 15 Juli 2013

Kamu!


Dalam postingan kali ini gue nggak tau sebenernya mau ngebahas apa. Banyakkkkkkkkk banget yang mau gue tulis di blog ini, tapi gue males ngetiknya~ Gue pilih buat ngeposting tentang perasaan yang kadang gue sendiri yang ngerti, perasaan apa ini. Absurd bgt!

Kalian pernah ngerasa yakin sama seseorang? (dalam hal ini, doi bukan cowok atau pedekatean gue. Dia Cuma teman bahkan kita jarang banget buat berhubungan. Ada sih kontak bbm, tapi kita emang ngga deket dari dulu, jadi paling bbm kalo ada yang penting dan selebihnya yasudahlah). Entah sejak kapan, perasaan gue ada. Gue juga ngga ngerti kenapa gue bisa ngerasa kaya gini tiba-tiba!

Dia itu bukan tipe anak yang penurut, tapi juga bukan tipe anak yang bandel bangeeeet. Ya, sewajarnya anak cowok yang lagi puber. Ngerokok? Pasti lah. Gonta-ganti cewek? Ya gitu deh. Dihukum sama guru mah jangan ditanya lagi, dia dan komplotannya udah dihafal muka-mukanya sama guru. Sering banget ngeledekin gue, bahkan sampe gue nangis juga pernah.  Pas saat-saat itu gue biasa aja, tapi kesini-sini gue mulai inget2 tentang dia. Pokoknya banyak hal yang tiba-tiba gue inget tentang dia dan nggak jarang suka bikin pipi gue jadi semacam tomat.

Awal perasaan ini sih, gue rasa gara2 dia (Ceritanya bikin gue geli, tapi kadang bikin pipi gue merona gimana gituuuuu). Semuanya nggak ada yang special, kecuali pernyataan itu. Awalnya gue nggak nganggep pusing sama pernyataan itu, semuanya berlalu gitu aja. Dia juga menghilang tanpa rasa bersalah. Gue awalnya fine fine aja. Sampe akhirnya, semua berubah. Ada bayangan tentang dia difikiran gue. Tentang sebuah peristiwa penting yang akan ada dimasa depan. Rasanya ada keyakinan kalo suatu saat kita bakal jadi satu. Hahaha ngaco nih!. Gue ngga tau, kenapa gue bisa ngerasa yakin kaya gini? Dia udah berkali-kali gonta-ganti pacar, dan gue sih biasa aja. Ya tapi, harus gue akuin ada sedikit rasa ngga menentu sih kadang2. Wkwkwk. Tapi yaudahlah ya, toh cuma Allah yang tahu jodoh gue nantinya;;)