Sabtu, 02 Juli 2022

Sahabatku dan Rasa Bimbangnya.

Sudah lama aku tidak menuliskan sesuatu di sini. Hari ini, sahabatku kembali datang dengan wajahnya yang risau. Matanya menerawang entah tentang apa. Setelah beberapa saat ia hanya terduduk tanpa menatapku, ia mulai berkata, “bolehkah aku kembali menyampaikan pesan melalui tulisan di blog-mu?”.

Aku mengangguk dan membiarkan ia menuliskan sendiri apa yang ia rasa. Semoga ini sampai ke kamu. Dan, jika kamu merasa sahabatku menuliskan ini untukmu, maka jangan sungkan untuk menyapanya lagi. Selamat membaca surat yang—aku pun—tak  tahu untuk siapa.

Halo, untuk kamu, yang sudah lama tak aku jumpai. Sekitar sembilan atau sepuluh tahun sejak terakhir kita bertemu sepertinya.

Apa kabar? Aku lihat hidupmu semakin berkembang setiap saatnya. Berbeda sejak kita terakhir kali bertemu, bahkan tak pernah terpikirkan kamu akan menjadi seperti saat ini. Aku bahagia melihatmu, meski hanya dari sosial media-mu.

Aku tidak tahu, sungguh, kenapa aku menulis ini untukmu. Tapi, yang aku tahu, kamu mengusik pikiranku sejak terakhir kali kita berbincang.

Aku rasa, semua bermula dari kamu yang menyapaku beberapa tahun yang lalu. Di saat aku merasa bimbang, kamu datang dengan sikap bercandamu. Entah mengapa, seharusnya hal yang sudah aku lupakan, menjadi sesuatu yang aku ingat sampai hari ini. Aku terlalu banyak merangkai kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Aku terlalu percaya diri, iya, benar.

Seharusnya semua menjadi sangat wajar jika kamu mencoba untuk tetap menjaga komunikasi denganku, karna aku temanmu. Tapi, mengapa aku merasa tidak seperti itu. Aku terlalu percaya diri, bukan? Iya, benar.

Dan, akhirnya aku menjadi bimbang. Tentang kamu, tidak pernah begitu saja terlewatkan. Bertahan untuk beberapa waktu di kepalaku dengan harapan kau akan terus menyapaku. Aku terlalu sungkan untuk melakukannya. Tapi, akhirnya waktu menyadarkan kalau itu semua hanya sekadar harapan. Aku hanya teman, tak lebih.

Seperti yang aku ucapkan, tentang kamu, tidak pernah lewat begitu saja. Jika suatu waktu aku tak menemukan aktivitas apapun di sosial media-mu, maka aku mulai bertanya untukku sendiri, meski tanpa menyapamu. “Apa hidupnya baik-baik saja?” “Apa semua untukmya menjadi lebih mudah?” dan pertanyaan lain. Aku memperhatikan tanpa mengusikmu. Tanpa memberitahumu.

Kamu tahu, apa yang paling membingungkan untukku? Suatu waktu, aku sedang mempunyai masalah dan orang yang ingin kuhubungi adalah kamu. Aku hanya ingin bercerita, ingin mendengar pendapatmu. Namun, tak kunjung aku lakukan, karna aku sadar, kita tak seakrab itu dan kamu tidak se-tidak-punya-kerjaan-itu untuk mendengar keluh kesahku.

Kenapa harus kamu? Ada apa dengan kamu?

Seperti perasaanku yang tak aku mengerti, aku pun tak tahu pasti mengapa aku menuliskan ini untukmu. Mungkin, aku hanya ingin kamu tahu, kamu tetap terlihat di mataku, meski kita tak lama bertemu. Kamu tetap akan menjadi sosok yang kucuri pandang melalui akun-akunmu. Dan jika kamu merasa itu kamu, bolehkah tidak terlalu berisik? Jangan bertanya tentang mengapa, karna aku tak tahu alasannya.

Terakhir, semoga kamu bahagia dengan hidupmu, dengan hari-harimu. Semoga selalu sehat. Dan, mari terus berteman, saling menyapa sekadarnya.

“Sudah cukup,” tiba-tiba ia menoleh kepadaku. Aku bertanya apa ia yakin tak ada lagi yang ingin disampaikan, ia berkata, “sudah.”

Apa yang ia sampaikan terasa tak tuntas, namun, aku tidak bisa berkata lagi jika ia memang hanya ingin menyampaikannya seperti itu. Semoga kamu—seseorang yang ia maksud—membacanya. Tak perlu banyak menduga, pun, berisik, katanya. Ia hanya ingin menyampaikan apa yang sudah lama ia rasa. Entah apa itu.

Selamat melanjutkan hidupmu. Jika tidak keberatan, jangan lupa untuk menyapa sahabatku, karna ia mungkin tak akan menyapamu. Ia sangat pemalu, sepertinya kamu tahu itu.

Salam kenal,

 

Fanny Saufina.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.