Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2018

Janggala

Malam ini sama seperti malam yang lalu, saat tak lagi kudapati dirimu di sebuah sudut taman dekat kompleks. Malam ini sama seperti malam yang lalu, sejak tak lagi kudengar tawa renyah milikmu. Malam ini akan tetap sama seperti malam yang kulewati sejak kau tak lagi kutemui, sejak kau menghilang, sejak kau tak berkabar. Malam ini akan tetap sama, terasa sunyi, terasa hampa karna hatiku tak lagi utuh.

Janggala Resmi Rupadi. Begitu kausebutkan namamu di pertemuan kita yang kesekian kalinya. Aku ingin memanggilmu Janggala tapi sempat tak kauizinkan. Kau memintaku untuk memanggilmu Adi, seperti orang awam memanggilmu, tapi aku tak ingin. Aku ingin memanggilmu Janggala, seperti kau ingin memanggilku Deolinda bukan Linda.

Janggala. Sudah berapa lama aku tak menyebutkan namamu tepat di hadapanmu? Aku rindu, kautahu itu. Aku rindu senyum yang selalu tersemat di bibirmu, aku rindu suaramu yang selalu memanggilku, aku rindu raut wajahmu yang menunjukkan lelah namun selalu berusaha menyembunyikannya. Aku rindu.

Kau adalah lelaki pertama yang menarik perhatianku, lelaki yang selalu menghabiskan waktu sore di sudut taman dengan sebuah buku gambar yang selalu menemani. Aku tidak tahu kau menggambar apa setiap sorenya, senjakah? Pohonkah? Danau yang berada tepat di depanmu-kah? Atau bahkan sesuatu yang tak ada di taman? Kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri, bercengkerama secara tenang bersama buku gambar dan pensilmu, tak terlalu peduli dengan sekitarmu. Tak pernah sedikitpun terlihat kauterganggu dengan suara tawa anak kecil yang selalu terdengar riang.

Lalu, di suatu sore yang masih cerah, kausecara tiba-tiba memilih duduk di bangku yang sama denganku. Bangku taman yang berada tak jauh dari tempatmu biasanya duduk. Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu memilih pindah dari sudut taman ke tengah taman. Kauhanya tersenyum seraya menganggukkan kepala, lalu kubalas serupa denganmu. Hanya seperti itu di hari pertama kita saling tatap.

Sejak hari itu, kautak lagi duduk di sudut taman, kau duduk di bangku yang sama denganku. Mungkin kaubosan, pikirku saat itu. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi namun urung kulakukan karna suara pertamamu mengatakan, "jangan pindah. Tetap di sini." Hanya itu. Tanpa menoleh ke arahku, tanpa tersenyum ke arahku. Lalu, kau menyebutkan namamu secara lengkap. Janggala Resmi Rupadi.

Waktu berlalu begitu saja, sore masih tetap indentik dengan senja. Kau masih identik dengan buku gambarmu. Tak berubah, tetap sama. Dan di suatu senja lainnya, kaumulai izinkan aku melihat isi buku gambarmu. Buku gambar dengan berbagai macam warna. Indah, cantik, bagus, dan memang terasa hidup, seperti itu yang kutangkap dari gambarmu. Lalu, di sebuah lembar yang mendekati lembar akhir, aku melihat sketsa perempuan yang sedang terduduk di bawah pohon besar.

Perempuan yang kaulukis terlihat cantik meski tak diiringi oleh warna seperti gambar lainnya. "Itu gambarmu," ucapmu, menatap gambar yang kupegang. Aku tak tahu harus berkata seperti apa. "Aku mencintaimu, entah sejak kapan." Kaumenatapku, lalu mengusap rambutku lembut. Tak menuntut jawaban, hanya tatapan teduh dan senyuman tulus yang kauberikan kala itu.

Janggala. Kautahu mengapa aku senang memanggilmu seperti itu? Janggala berarti kehidupan, kaupasti tahu. Dan bagiku, kausudah memberikan kehidupan yang tak pernah kudapat sebelumnya. Dan kini, kehidupanku tak lagi sama sejak kaupergi. Janggalaku tak lagi kutemui. Adakah kaurindukan aku seperti malam ini kurindukanmu? Adakah sesak yang selalu datang kala ingat waktu yang terlewat begitu indah?

Biar kulanjut cerita kisah kita. Sejak hari di mana kau mulai menyatakan cintamu, kita semakin dekat. Tak hanya di waktu senja kita bertemu, kau berkenan menemuiku di rumah, bertemu kedua orangtuaku, bermain dengan adikku. Kau tak hanya hadir untukku, namun juga orang sekitarku. Kau sosok yang baik, Janggala. Namun, semua perlahan pudar. Tak lagi aku dapati tawa renyahmu di hari-hari setelah tahun ke dua kita bersama. Kau tak lagi sering berkunjung ke rumahku, bahkan di taman pun tak kujumpai lagi. Kau hanya sekali dua kali datang dengan se-bucket bunga dan kata maaf. Jika kutanya, kau tak pernah menghiraukannya. Semua kau simpan sendiri.

Hari-hari yang menyenangkan menjadi terasa menyedihkan untukku. Perubahan sikapmu terlalu mendadak untukku. Aku terlalu sedih karena hilangnya dirimu yang tak pernah kuketahui alasan jelasnya, hilangnya tawamu, hilangnya tatapan menenangkanmu, hilangnya cinta yang kauberikan padaku. Aku sedih dan kau terasa tak peduli tentang itu. Kau masih datang kepadaku kala kauingat, membawakan bunga, menganggap tak ada hal penting yang harus dibahas. Janggala, andai saja semua kauungkap lebih awal, mungkin tak akan ada sakit seperti ini.

Aku semakin menuntut, itu katamu. Kau semakin sering tak tersenyum kepadaku. Rindu yang tak terucapkan berubah menjadi tangis dan makian kala bertemu. Kita semakin jauh. Dan, ketika lelah atas sikapmu semakin memuncak, aku ingin kautunjukkan keseriusanmu. Berjalan hampir tiga tahun, namun, tak kunjung kaukenalkan akan orangtuamu. Katamu, belum saatnya, aku harus bersabar. Semua semakin menjadi satu; lelah, tak percaya, khawatir, rindu. Kita semakin menjadi berjarak. Tak saling berkirim kabar, tak saling bertemu, bahkan tak saling ingin bertatap muka.

Janggala, ternyata mengulang kisah kita membuatku semakin sesak. Aku rindu dan semakin rindu. Aku merasa terlalu egois untuk saat itu. Janggala, bisakah kau hadir di mimpiku dan berkata bahwa kaumemaafkan semua salahku?

Kautahu, duniaku hancur saat seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam datang ke rumahku. Saudara jauhmu, katanya. Ia hanya berkata, aku harus datang ke rumahmu. Setelah menawarkan aku berangkat bersamanya atau sendiri dan kujawab aku bisa datang sendiri, ia pergi. Aku hanya menatap secarik kertas bertuliskan alamatmu. Ini memang inginku, datang ke rumahmu, bertemu dengan kedua orangtuamu. Namun, apakah harus seperti ini? Saat kau tak di sampingku. Saat kau sudah terbaring tanpa mampu menenangkan degup jantungku yang memacu cepat.

Aku hancur kala itu, Janggala. Kaupergi di saat aku masih belum ingin mendengarkan penjelasanmu. Aku hancur saat ibuku memelukku dan berkata, mari kita ke rumahmu untuk mendoakanmu. Kau sudah tenang, jangan menghambat jalanmu dengan tangis yang terlalu. Aku akhirnya meneteskan airmataku. Kertas yang tergenggam, tak sengaja kuremas. Rasanya sesak, Janggala, sungguh. Bahkan hari ini, sudah 60 hari kepergianmu, aku masih merasa sesak.

Janggala. Kehidupan. Kau kehidupan baru untukku. Aku rindu, kautahu itu. Aku sayang kamu. Kaupun tahu itu. Terima kasih sudah hadir dan memberi warna yang indah untukku. Terima kasih sudah memberikanku banyak pelajaran tentang hidup. Tiga tahun bersama, bukan waktu yang sebentar untukku, pun bukan waktu yang biasa. Bersamamu menjadi hal yang sangat mengesankan. Meski di akhir pertemuan kita, kita tak terlalu menyenangkan. Aku, yang lebih tak menyenangkan.

Semoga kaumemaafkanku. Semoga kau tenang di sana. Aku mencintaimu sampai hari ini. Aku masih merindukanmu sampai hari ini.

Love,

Deolinda.

Jumat, 14 September 2018

Molayas



“Kita udahan aja, ya, Ta.”

Aku menatap perempuan di hadapanku dengan tatapan tak mengerti. Sebuah pernyataan yang terkesan mendadak untukku, karena untukku, sampai tadi ia datang pun kami sedang tak terlibat pertengkaran hebat. Aku menatapnya dengan tatapan menuntut, tak jauh berbeda dengan reaksiku, ia hanya menatapku. Tatapan sendu namun terasa tegas yang selalu memukau untukku.

“Alasan kamu apa?” tanyaku.

Irdina, perempuan yang usianya terpaut dua tahun di bawahku ini hanya mengangkat bahunya, tanda ia tak yakin untuk mengungkapkan alasannya. Irdina memilih untuk meminum cokelat hangatnya dibandingkan menjawab pertanyaanku. 

“Alasannya apa, Irdina?” Setelah membiarkannya menikmati cokelat hangatnya, aku kembali menuntut penjelasan darinya. “Berminggu-minggu yang lalu kamu minta kita ga ketemu dulu terus hari ini, kita ketemu cuma buat bicara ini?”

“Maaf, Ta. Kamu tahu apa alasan aku….”

“Nggak, aku nggak tahu. Jadi, sekarang kasih tahu aku!”

“Ta,” panggilnya lirih. “Kamu berhak bahagia dan pasti akan bisa bahagia tanpa aku, mungkin emang ja….”

“Aku lagi nggak mempermasalahkan soal jodoh ataupun takdir, Irdina. Aku hanya minta kamu jelasin alasan keputusan kamu yang serba mendadak ini.”

Irdina menatapku, semakin sendu, bahkan airmatanya sudah terlihat di pelupuk mata, ingin rasanya kumerengkuhnya, menenangkannya. “Kita pernah bahas ini, Ta. Aku mohon, jangan membuat semua semakin sulit untuk kita.”

Aku tak menjawab, tak berkutik kala aku melihat airmatanya benar-benar menetes. Ia berdiri dari duduknya, tersenyum kepadaku, lalu pergi meninggalkanku.

Irdina telah melangkah menjauh, meninggalkanku yang masih memperhatikan kepergiannya, meninggalkan kenangan yang telah kami rajut selama tiga tahun. Irdina mantap meninggalkanku yang masih tak terima atas keputusannya.
---

Jumat, 22 Juni 2018

Surat untuk Zalika



Teruntuk Zalika, 

Aku menuliskannya seperti itu, tujuannya hanya untuk memudahkan seseorang yang menemukan surat ini. Jika aku tak menuliskan seperti itu, kemungkinan besar akan dibaca terlebih dahulu dan baru mereka ketahui kepada siapa surat ini aku hendak tujukan. Aku tak ingin orang lain membaca ini sebelum kaumelihatnya. Aku bahkan tak ingin orang lain membaca ini, aku hanya ingin kamu yang membaca ini. Aku hanya ingin kamu yang mengerti suratku.

Zalika,

Jika kamu membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah meninggalkanmu untuk selamanya. Atau kemungkinan kecilnya, aku sedang berada di rumah sakit dengan berbagai alat bantu yang membantuku tetap ada. Lalu, kemungkinan mana yang menyebabkan kamu telah membaca suratku saat ini?

Minggu, 10 Juni 2018

Parak



Penyesalan yang tak kunjung hilang ialah saat aku tak menerima telepon dari seseorang. Penyesalan yang tak kunjung hilang adalah saat aku selalu meninggikan egoisku di atas rasa cinta yang sebenarnya tak pernah hilang sedetikpun. Penyesalan yang tak pernah terlupakan adalah saat dengan bangganya aku tak memedulikannya, tak mengacuhkannya, tak menganggap usahanya sebagai suatu hal yang perlu aku tanggapi.

Empat tahun berlalu. Namun, semuanya masih tetap sama. Aku masih menangis kala malam aku mulai membaca pesan-pesannya, aku masih merindukan tawa yang selalu berusaha menghiburku, dan aku selalu menyesal karna ia pergi tanpa sebuah ucapan cinta yang seharusnya kuucapkan.

Selasa, 25 Oktober 2016

Intuisi

[Cerita ini terinspirasi dari lagu Yura-Intuisi.
Selamat mendengarkan lagunya dan membaca ceritanya.]

***

Neira berdiri di depan sebuah rumah bercat putih, tak ada yang banyak berubah dari rumah di depannya sejak terakhir kali ia lihat. Neira melangkah perlahan menuju pintu depan rumah yang akan ia tepati selama beberapa minggu kedepan. Semakin dekat, semakin berdebar hatinya. Ini memang bukan yang pertama kali ia bermain atau bahkan akan menginap di rumah ini, tapi rasanya tetap sama setiap kali ia datang. Gugup.


Kuhampiri engkau meski kau jauh
Sendiri kutempuh
Hanya 'tuk bertemu denganmu

"Neira," sambut seorang perempuan paruh baya yang Neira sudah anggap sebagai ibunya sendiri, "kenapa nggak ngabarin kalau mau main?" tanya si ibu pemilik rumah sembari membawa Neira ke dalam rumah.

"Neira mau bikin kejutan ceritanya, Bu," sahut Neira diiringi cengiran khas miliknya, "Jana-nya mana, Bu?" tanya Neira sembari melihat-lihat ke arah kamar Jana yang tertutup rapat, tak ada tanda-tanda si pemilik berada di dalamnya.

"Dia kuliah, Nei, sebentar lagi pulang."

Neira hanya ber-oh panjang sebagai respon dari ucapan Ibunya Jana.

"Istirahat dulu di kamar kamu, pasti capek dari Jakarta ke Bandung, sendirian pula." ibu Jana mulai menyiapkan minuman untuknya, "seharusnya kabari Jana, biar dia jemput kamu di terminal, Nei."

"Kan kejutan, Bu. Neira ke kamar dulu ya, Ibu jangan repot-repot, ih, kaya Neira tamu aja." Neira melangkah menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Jana.

"Berapa lama di sini, Nei?"

"Sekitar dua minggu, Bu. Boleh kan?"

"Kamu kaya baru pertama kali kesini, ih," sahut Ibu Jana sebelum Neira benar-benar masuk ke kamarnya. Kamar di rumah Jana yang memang dikhususkan untuknya. "ini teh hangat buat kamu, bawa masuk aja," ucap perempuan yang memiliki rambut sebahu itu seraya memberikan secangkir teh ke Neira.

Rumah Jana bukanlah rumah yang besar. Hanya sebuah rumah sederhana dengan halaman di bagian depan, jika diperuntukkan sebagai lahan parkir maka hanya mampu menampung 5 sepeda motor. Di dalam rumah terdapat empat kamar tidur yang saling berhadapan. Satu kamar sudah dipatenkan untuk orangtua Jana, di sebelah kanannya adalah kamar yang dikhususkan untuk tamu. Tepat di seberang kamar orangtua Jana adalah kamar Jana, kamar yang jika diperhatikan memikiki warna pintu yang berbeda dengan yang lainnya. Dan di sebelahnya adalah kamar Neira, tamu yang mempunyai kamar sendiri di rumah ini.

Neira menaruh gelas pemberian ibunya Jana di nakas samping tempat tidur. Ia berjalan, mengedarkan pandangannya ke arah foto-foto yang terpajang rapi di dinding. Tak ada yang berubah dari kamar ini, kamar yang memang untuknya.

Kuhampiri engkau meski kau jauh

Neira melangkah pasti di koridor, sesekali langkahnya terhenti untuk menentukan pilihan, atau sekadar untuk bertanya tentang seseorang yang ia cari. Jana.

Setelah mendapat izin ibunya Jana, ia langsung bergegas menuju kampus Jana. Alih-alih memberi kabar akan kedatangannya, ia justru nekad untuk menghampiri Jana yang–ia tidak tahu dimana tepatnya– berada di kampus. Berbekal bahwa Jana masih akan di kampus sampai setengah tujuh, akhirnya Neira benar-benar merealisasikan keinginannya. Rindunya sudah tak sanggup ia tahan, menunggu beberapa jam pun rasanya tidak sanggup.

Namun hatimu tlah runtuh
Dan buatku terjatuh

Setelah berkeliling kampus selama lima belas menit, Neira akhirnya mendapati Jana sedang berada di kantin. Di depannya, Jana sedang memperhatikan layar laptop dengan sangat serius. Ah, Neira rindu wajah serius itu. Sangat.

Dengan senyum yang mengembang, dengan hati yang berbunga-bunga, dan tatapan yang tak lepas dari lelakinya, Neira memperkecil jarak di antara keduanya. Semakin lama, semakin dekat, dan semakin merona wajahnya.

"Hai, Jan," sapa Neira saat akhirnya sampai di depan Jana.

Jana mengadahkan kepalanya, menatap seorang perempuan yang sedang tersenyum lembut kepadanya. "Sejak kapan di sini?" tanyanya tak mengindahkan sapaan Neira.

"Tadi sekitar pukul satu," sahut Neira, masih dengan senyum yang tak kunjung pergi. "Ah, aku bawa ini ... titipan Ibu," sambungnya menyodorkan kotak makan yang memang dipersiapkan ibu Jana untuk anak semata wayangnya.

Jana melirik kotak makan yang terletak di samping laptop, "titipannya sudah tersampaikan, 'kan? Kamu bisa pulang sekarang."

Tepat Jana menyelesaikan ucapannya seketika itu senyuman yang sedari tadi tak luntur kini mulai memudar. Bukan. Bukan karena ucapan Jana, perihal itu Neira sudah sangat biasa, meski ada sisi hatinya yang tetap hancur akan penolakan Jana. Senyum Neira hilang saat seorang wanita–yang baru datang–mengecup pipi Jana, tepat saat Jana menyelesaikan ucapannya. Tepat saat ia merasakan sakit akan penolakan Jana, dan kini ditambah sakit akan perbuatan perempuan yang tak ia kenal itu.

"Hai," sapa Jana dengan senyuman manisnya. Bukan untuk Neira, tapi perempuan yang baru datang, yang kini duduk di kanan Jana. "Gue udah bilang, jangan kaya gitu. Nanti orang salah kira."

Si perempuan tertawa, "emang kenapa? Bakal ada yang cemburu?"

Jana memutar matanya, "Kenalin temen gue, Neira. Nei, kenalin ini temen aku, Tara."

"Neira," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.

Tara membalas uluran tangan Neira, "Tara. Temen Jana dari mana, ya? Kok baru kelihatan."

"Kamu bisa pulang sekarang, Nei. Aku masih ada yang harus dikerjain."

"Aku bisa tunggu, kok, Jan."

"Kamu tinggal dimana, Nei?" tanya Tara yang mulai tertarik dengan Neira yang kembali menghadirkan senyumannya.

"Di ...."

"Pulang, Neira!" potong Jana tak terbantahkan.

"Iya, aku pulang. Aku duluan, ya, Tara." Neira melambaikan tangan ke arah Tara yang juga melambaikan tangan kepadanya, dan Jana yang tetap serius dengan laptopnya.

***


Kau tak pernah tahu
Betapa hati yakin untukmu


Neira tak tahu apa yang membuatnya menunggu Jana di depan rumahnya. Tiga hari tinggal di rumah Jana, baru kali ini ia menunggu kepulangan Jana. Entah apa yang membuat dirinya yakin bahwa Jana akan tiba sebentar lagi. Sebentar lagi sejak satu jam yang lalu.

"Kenapa di luar?" Itu yang Neira dengar saat matanya mulai mengantuk.

"Nungguin kamu," katanya tanpa menghiraukan kerutan di dahi Jana.

"Masuk. Udah malam, aku juga mau tidur."

"Kamu besok ke kampus, Jan?"

Jana tak menanggapi Neira yang masih mengekorinya.

"Kamu nggak ada niat buat ngajak aku jalan-jalan?"

"Kamu bisa jalan-jalan sendiri, Nei," balas Jana saat mereka sudah di depan pintu kamar Jana, "aku mau istirahat, jadi kamu berhenti ngikutin aku," sambung Jana seraya menutup pintu kamarnya.

Kau tak pernah tahu
Betapa aku merindukanmu

Neira menatap pintu kamar Jana untuk beberapa menit, semua orang di rumah ini sudah berada di dalam kamarnya, kecuali Neira. Tak ada yang menemani Neira, senyum yang tak pergi dari bibirnya pun tak sebenarnya ada. Ia hanya sebuah pajangan di sana.

Neira menjauhi pintu kamar Jana yang tak jua terbuka lagi, ia memilih masuk ke kamarnya dengan rindu yang tak terbalaskan.

Jika dulu, Neira hanya cukup datang ke Bandung dan rindunya sudah dapat terlepaskan. Kini, rasanya, rindu semakin tak tahu diri, ia tetap berada di sana meski Neira sudah berada di Bandung. Ia tetap di sana untuk seseorang yang kini sedang berada di dekatnya tapi terasa seperti jauh. Rasanya, tak ada bedanya antara di Jakarta ataupun di Bandung.

Air mata lolos dari matanya yang terpejam, hatinya menjadi sangat sesak. Sangat sesak ketika ingatannya mengarah kepada kejadian beberapa tahun silam, saat Jana dan Neira masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Saat mereka masih menggunakan seragam putih abu-abu, Jana bukanlah sosok yang dingin seperti ini kepada Neira. Mereka menghabiskan hari-hari bersama, mulai dari berangkat sekolah, menikmati waktu istirahat di sekolah, pulang sekolah, dan liburan sekolah.

Jika dulu Neira hanya perlu bilang sekali untuk meminta Jana menemaninya, dan secepat itu Jana sudah berdiri di sisinya. Tapi, kini Neira harus memerlukan waktu yang lama sampai akhirnya ia bisa bertemu Jana.

Semua sudah berubah, kecuali rindu dan perasaannya.


***


Pagi ini, Neira sengaja bangun lebih awal dan menyibukkan dirinya di dapur, menyiapkan sarapan untuk ibu Jana, ayah Jana, dan terkhusus untuk Jana. Berbekal dengan pengetahuannya yang masih minim tentang masak-memasak, ia memulai aksinya di dapur.


Mungkin kutak bisa buatmu luluh


"Pagi, Nei, tumben pagi-pagi udah di dapur," sapa ayah Jana yang mulai menduduki tempatnya di ruang makan.


"Lagi pengen jadi tamu yang tahu diri aja, Yah," sahutnya asal.


Ayah dan ibu Jana yang mendengar jawabannya hanya tertawa. Inilah yang membuat orangtua Jana menyukai Neira, ia selalu mampu menghidupkan suasana di rumah Jana yang terkesan sangat sunyi. Jana memang bukan anak yang mudah bercengkerama dengan orangtuanya, yang Jana lakukan saat di rumah hanya mengerjakan tugas-tugasnya di dalam kamar dan berbincang seperlunya dengan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu Jana juga terkesan jarang melibatkan Jana dalam sebuah percakapan mereka. Tapi, mereka tetaplah keluarga yang harmonis. Neira menyukai saat dirinya berada di keluarga ini.


"Jangan ganggu Ibu, Nei, nanti kami bisa terlambat," ucap Jana yang sudah menduduki tempatnya di meja makan.


"Nei nggak ganggu Ibu kok, Jan. Malah dia ngebantuin Ibu dan bikinin kamu bekal," bela ibu Jana yang membuat Neira tersipu malu.


"Ini bekal kamu." Neira menyerahkan sekotak bekal yang ia buat sendiri. "jangan lupa dimakan."


"Makasih bekalnya, tapi lain kali nggak perlu repot-repot," sahut Jana seraya memasukkan bekalnya ke dalam tas. "aku berangkat."


"Aku senang melakukannya kok dan aku janji akan melakukannya mulai hari ini," sahut Neira semangat, tak menghiraukan pandangan orangtua Jana yang sedari tadi mengarah padanya.

"Tidak perlu." Hanya itu yang Jana ucapkan sebagai salam penutup pembicaraan pagi ini.

Namun kauharus tahu bahwa
Diriku sungguh-sungguh

Pagi ini, Neira kembali menyibukkan diri dalam kegiatan barunya di dapur, membuat bekal untuk Jana. Meski sejak pertama Jana selalu menolak keinginannya, tapi hal yang Neira dapatkan adalah Jana yang selalu membawa bekal buatannya dan menyisakan tempatnya saja saat ia pulang.

"Kamu nggak perlu nyiapin bekal untuk hari ini," kata Jana yang baru bergabung di meja makan bersama ayah dan ibunya.

Jana hari ini terlihat menawan, meski memang selalu seperti itu untuk Neira. Dalam balutan kemeja levis lengan panjang yang ia lipat menjadi sepertiga dan bawahan yang senada, Jana mampu membuat pagi Neira menjadi sangat menyenangkan.

"Aku sudah membuatnya, Jan," ucap Neira setelah tersadar dari lamunannya.

Jana memutar bola matanya, "Aku sudah bilang, berhenti membuatkanku bekal, Nei."

"Tapi kamu selalu membawanya, bahkan menghabiskannya."

"Aku membawanya dan menghabiskannya bukan berarti aku menyukainya."

Dan, pembicaraan selesai. Jana terlanjur bangkit dari duduknya, berpamitan dengan orangtuanya, dan meninggalkan meja makan, meninggalkan Neira yang hendak membalas ucapannya, bahkan meninggalkan rumahnya. Dengan bekal yang sudah dimasukan ke dalam tas tentunya.

***


Setelah hampir dua minggu Neira berada di Bandung, akhirnya hari ini adalah hari terakhirnya. Ia akan kembali ke kotanya nanti sore, meninggalkan Jana yang masih tak memedulikannya.


Setelah hampir ditinggal dua minggu, bunda akhirnya menyuruh Neira pulang. Tak baik jika terus merepotkan ayah dan ibunya Jana, tak baik jika terlalu lama ia terus menginap di rumah seseorang yang tak memiliki ikatan darah dengannya, itulah alasan yang bunda ucapkan. Dan, akhirnya Neira mengiyakan untuk pulang sore ini.


Entah apa yang membuat Jana berangkat lebih pagi hari ini. Bahkan, Jana tak tahu jika ia akan pulang ke Jakarta hari ini. Karena, mereka tak sempat bertemu pagi tadi.


Intuisiku selalu mengarah kepadamu
Intuisiku selalu mengarah kepadamu


Neira melangkahkan kakinya dengan pasti, tak dihiraukan tatapan menyelidik dari sekitarnya.  Fokusnya hanya satu, yaitu keberadaan Jana. Dengan senandung yang sedari tadi ia lantunkan, langkah kaki melangkah tanpa ragu.


Sebenarnya, ia tak tahu posisi Jana saat ini, apa ia sedang berada di kelas, berada di taman kampus bersama teman-temannya, atau di ruang organisasinya. Ia tak tahu sampai sepasang matanya menatap Jana, meyakinkan hatinya bahwa ia memang tak pernah salah jika bersangkutan dengan Jana.


"Hai," sapa Neira saat sudah berada di samping Jana.


Perempuan yang sedari tadi berada di hadapan Jana menatapnya penuh semangat, Neira ingat betul nama perempuan ini. "Hai, Tara," sapa Neira.


"Oh. Hai, Neira."


"Kamu ngapain?" Jana yang sedari tadi hanya sibuk dengan catatannya, kini menatapnya.


"Bekal kamu ketinggalan." Neira menyodorkan bekal buatannya ke hadapan Jana.


"Bukan ketinggalan, tapi emang aku nggak mau bawa."


"Jana!" Tara memanggil Jana tepat saat ia baru menyelesaikan ucapannya. "Aku sempat coba bekal buatanmu, loh, Nei. Dan itu enak banget!" ucap Tara antusias. "Eh, nggak apa-apa, 'kan?"


Neira meringis sebentar, menetralkan hatinya yang entah mengapa menjadi sangat nyeri. Bukan, bukan perihal bekal buatan Neira yang dicoba Tara, tapi, perihal sikap Jana yang tak mengacuhkannya. "Nggak kenapa-kenapa kok, Tar."


"Aku iri dengan Jana akhir-akhir ini kalau kamu mau tahu, Nei. Dia selalu membawa ...."


Tapi tak jua, tapi tak jua,
Tapi tak jua kau hiraukan aku


Neira tak lagi menyimak ucapan Tara, ia lebih memilih menatap kotak bekal yang sudah diletakkan di samping kertas-kertas Jana, ia lebih memilih untuk melayangkan pikirannya ke beberapa tahun silam saat Neira dan Jana masih senantiasa berbagi senyum, lalu melayang ke tahun saat Jana mulai tak mengacuhkannya, dan kembali di hari ini, saat Jana benar-benar tak menganggapnya ada.


"Kamu bisa pulang kalau urusan mengantar bekalmu sudah selesai," ucap Jana, masih dengan pandangan yang fokus ke kertas putih yang sedari tadi ia tulis.


"Aku pulang nanti sore, Jan," beritahu Neira, "ke Jakarta," tambahnya cepat.


"Loh? Kok cepet banget, Nei? Kita bahkan belum pernah jalan bersama." Neira tersenyum miris, itu adalah jawaban yang ia ingin dengar dari Jana, bukan Tara.


Tapi, ternyata Jana lebih memilih untuk merespon, "Baguslah. Terlalu lama tidak kuliah memang tidak baik."


Hanya itu. Tak ada raut kekecewaan saat mendengar Neira yang akan pulang. Tak ada permintaan agar Neira tinggal lebih lama. Tak ada.


"Aku harus pergi dengan Tara, ada rapat. Kamu pulang lah."


Dan, setelah Tara mengucapkan salam perpisahan tinggallah ia sendirian di bangku kantin. Neira masih memperhatikan Tara yang berlari kecil guna mengejar Jana yang sudah berjalan lebih dahulu dan punggung Jana yang kian menjauh. Neira masih duduk di bangku kantin, berharap Jana menghentikan langkahnya dan menghampirinya. Tapi, harapan memang tinggal harapan, Jana sudah benar-benar menghilang dari pandangannya.


Mungkin memang tak akan pernah harapan yang menjadi nyata jika itu tentang Jana. Neira tersenyum miris, hatinya sudah terlalu perih dan akhirnya menjadi kebal.


Neira tertawa pelan, menertawakan dirinya yang bodoh. Akhirnya, setelah merasa cukup, Neira bangkit, melangkahkan kaki meninggalkan bangku kantin yang sedari tadi menjadi saksi bisu perjuangannya yang terakhir. Ya, Neira sudah menyerah untuk Jana.


Semuanya udah cukup. Sudah saatnya untuk ditutup.


Sabtu, 01 Oktober 2016

Pamit

[Terinspirasi dari lagu Pamit - Tulus. 
Selamat mendengarkan lagunya dan membaca ceritanya!]

***

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin yang berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar

"Ngga akan ada yang berubah, aku tetap ada untuk kamu meski jarak tak lagi menyatukan kita." Fredella menatap Runako yang sedari tadi hanya menatapnya secara tajam, menyaratkan ketidaksukaan terhadap pilihan yang dipilih Fredella.

"Jadi, setelah empat tahun hubungan kita, yang sekarang tersisa cuma aku yang ditinggal kamu?"

Fredella tak langsung menjawab pertanyaan sarkasme Runako. Dia harus menyiapkan jawaban yang setidaknya dapat membuat emosi kekasihnya kembali stabil lagi.

Tak ada yang suara yang terdengar di meja nomor dua puluh empat di caffe Sroudias Chocollate. Sepasang kekasih yang biasanya selalu membuat caffe ini penuh dengan kasih sayang yang sangat terasa, kini hanya menatap minuman milik mereka masing-masing. Segelas milkshake stoberi berada di hadapan si perempuan, tak disentuh sejak tadi, hanya diaduk sekilas lalu dibiarkan. Sedangkan, si lelaki lebih memilih untuk mengaduk coffe-nya seraya menatap gadisnya.

Fredella menghela napasnya putus asa. Dia tahu semua tidaklah seperti yang terbayangkan, tidak akan semulus apa yang sudah direncanakan. Runako dengan kesuka-relaan mengizinkan Fredella mengambil beasiswanya di luar negeri adalah sebuah harapan yang sangat sulit untuk didapatkan.

Fredella dan Runako adalah sepasang kekasih yang baru saja lulus SMA. Runako berniat mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri yang baru akan dilaksanakan bulan depan. Sedangkan, Fredella patut berbangga diri karena berhasil mendapatkan beasiswa di salah satu universitas di Jepang. Semua yang sudah ia lakukan ternyata berbuah manis.

"Aku nggak pernah keberatan kita LDR-an, Run," jelas Fredella, "tapi, aku keberatan kalau ... aku harus mengikhlaskan beasiswa ini."

"Aku bisa bantu kamu daftar universitas bagus di sini, Fre, kamu nggak perlu sampai ke sana. Besok pendaftaran terakhir tes, aku bakal urus semua...."

"Bukan itu masalahnya, Run," potong Fredella dengan suara berat. "Orangtuaku sangat menginginkan ini. Ini juga keinginan terbesarku, kamu tahu itu 'kan, Run?"

Runako menghela napasnya berat, tak lagi menatap kekasihnya yang tak kalah emosi dengannya.

Memang selalu seperti ini, tak ada ujung dari pertengkaran keduanya. Tak ada penyelesaiannya. Mereka berdua menganggap hari esok akan masih ada untuk menyelesaikan permasalahan ini, jadi untuk hari ini mereka biarkan saja seiring emosi yang tak kunjung reda.

Sabtu, 27 Februari 2016

Jatuh Cinta



Jatuh cinta. 

Jika ada yang bisa mengatur tentang bagaimana ia datang, tentang siapa yang akan ia singgahi, tentang seberapa dalam ia hidup, mungkin Vanya akan rela untuk mempelajarinya. Jika Vanya bisa, mungkin ia tak akan ingin jatuh cinta kepada lelaki ini, lelaki yang sedari tadi tak mengacuhkannya. Lelaki yang sedari tadi hanya sibuk dengan gadget miliknya, berselancar dalam dunia maya dengan orang yang tak ia ketahui keberadaannya. Jika ia bisa, ia tak ingin memiliki cinta yang sedalam ini untuk lelaki ini, lelaki yang tak pernah menyadari perasaannya. Lelaki menyebalkan namun ia sangat mampu membuatnya rindu. Lelaki yang menyandang stastus sebagai sahabatnya sendiri.

Ya jika ia bisa, ia tak ingin jatuh cinta kepada sahabatnya. Denovandy Pradita Rieffund.

Sabtu, 13 Februari 2016

K.I.T.A



12 Desember 2015 

“Hujan lagi huh.” Desah Kinan pelan.

Langit sore—hari ini—memang tak bersahabat dengan Kinan. Sejak siang tadi, langit berubah menjadi mendung, angin berhembus lebih kencang dari biasanya dan udara tentu saja terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Kinan. Kinan Ziendayina, begitu nama lengkapnya yang tertera di KTP. Perempuan yang mempunyai  rambut berwarna hitam pekat dan lebih senang menguncirnya menjadi satu—layaknya buntut kuda. Namun, tak jarang ia membiarkan rambut hitamnya terurai dengan indah. Perempuan dengan kulit yang sama seperti kulit orang jawa kebanyakan dan dengan sepasang lesung pipit yang membuatnya manis. Tinggi badannya tidak cukup dibilang tinggi namun juga tak pendek, tubuhnya pun tidak berisi dan tak jua terlalu kurus. Sebuah definisi yang bisa dibilang cukup menarik untuk perempuan seusianya. 

Kamis, 19 November 2015

Rahasia Pingkan



Mencintai seseorang adalah sebuah pilihan, pilihan untuk mengizinkan atau tidak ia masuk ke dalam relung hati, pilihan untuk tetap bertahan atau mulai mundur, karena alasan yang perlahan mulai hadir. Mencintai seseorang berarti kita sudah mengambil keputusan tentang seperangkat hal yang mengikutinya, tentang mengungkapkan atau tentang memendam, tentang mengagumi atau mencinta, tentang meminta atau memberi. Mencintai seseorang adalah sebuah hal yang tak bersangkutan dengan ketulusan, bukan pamrih. Mencintai yang sesungguhnya adalah memberi tanpa meminta, mungkin paham seperti yang Pingkan selalu anut.

Ini sudah tahun ketiga, sejak hatinya sudah mulai membuka pintunya untuk ditempati seorang pria yang ia kenal beberapa tahun sebelumnya. Dan seperti yang ia pahami diatas, ia hanya bertugas memberi sebuah cinta untuk pangerannya, tak pernah—atau tak berani—meminta cinta untuknya. Yang ia tahu, kebahagian pria itu selalu berada dinomor satu, dan dengan cara itu, tentunya saja ia akan bahagia. Semoga.

Sabtu, 12 September 2015

Ibuku bukan Mamaku



“Boneka ini milikku….” Kataku setengah berteriak.

“Aku hanya ingin pinjam.” Belanya, seakan ingin membenarkan perbuatannya yang telah mengambil boneka milikku tanpa izin.

“Berikan saja, dia hanya ingin meminjamnya, Kyl.” Aku menengok ke sumber suara, suara yang sudah tak pernah lagi aku dengar sejak 6 tahun yang lalu. Suara yang sangat aku rindukan.

“Mama……” Aku berhambur ke dalam pelukan Mama, tak lagi memperdulikan boneka yang kini Dysna bawa pergi.

Aku memeluknya, erat sekali. Aku tak ingin melepaskannya sedetik pun seakan pertanda aku tak ingin lagi kehilangannya. Perempuan dengan aroma tubuh yang masih sama ini membalas pelukanku seakan merasakan rindu yang sama dan mendambakan pertemuan ini sejak lama.

“Umurmu 20 tahun kan?” Tanyanya saat kami mulai duduk bersama dibawah pohon yang rindang.

Senin, 27 Juli 2015

Tak Perlu Dijelaskan

Kami tidak pernah tahu mengapa kami tetap bersama, kala sudah banyak hari yang kami lalui tanpa saling menggenggam, tanpa saling menyapa, bahkan tanpa saling tersenyum. Kami tidak tahu, apa yang membuat kami tetap bersama, kala kami sudah saling berjalan tanpa menghiraukan satu sama yang lain.

Aku mengenal Fandi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, kala kami masih menggunakan seragam putih-biru, kala kami masih asing dengan sebuah smartphone. Sepuluh tahun yang lalu, kala ia masih harus menggayuh pedal sepedanya agar bisa sampai kesekolah, kala aku masih di antar-jemput Mas Revan—kakakku—kami mulai saling menatap diam-diam.

Entah siapa yang memulai, sebuah tatapan diam-diam itu beranjak menjadi sebuah percakapan hangat setiap jam istirahat. Tak ada waktu istirahat yang terlewatkan tanpa percakapan antara kami. Hingga akhirnya, suatu hari ia mulai memberanikan diri untuk menjemput dirumahku, bertemu dengan orangtua-ku dan Mas Revan. Butuh waktu sebulan untuk meyakinkan diriku, bahwa ia benar-benar menepati ucapannya.

Jumat, 24 Juli 2015

Cinta dan Persahabatan

Aku mengenalnya sudah sejak lama, sejak kami baru dilahirkan. Bahkan saat kami masih dalam kandungan kami sudah diperkenalkan satu sama lain. Dan setelah kami dilahirkan di tanggal yang sama, kami seperti ditakdirkan untuk terus bersama. Kami adalah sepasang remaja yang tumbuh secara bersama, melewati setiap fase pertumbuhan secara bersama. Kami seperti anak kembar yang berbeda jenis kelamin, dimana ada aku selalu ada dia, begitu sebaliknya. 

Semua hari aku lewati dengan dirinya, tak ada yang terlewatkan sekali pun. Telah banyak hal yang aku lalui bersamanya, merasakan membolos sekolah bersama, merasakan bermain disaat hujan deras, bahkan saat Ayah memarahiku karena aku memakan terlalu banyak coklat pun, dia tetap berada disampingku. Untuk kami, setiap hari adalah hari kami, hari dimana kami bebas melakukan apapun yang kami suka tanpa ada yang bisa melarangnya. Tidak pernah ada niat untuk saling menjauh, tidak pernah sedikit pun terbersit untuk saling mendiamkan. Karena, aku dan Revan sadar, bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain.

Hingga akhirnya semua mulai berubah, saat kami mulai mengenal cinta. Saat pipi kami mulai merona seketika, saat degub jantung kami menjadi tak stabil. Semuanya mulai berubah saat cinta datang kepada kami. Revan jatuh cinta kepada seorang gadis biasa, adik kelas kami disekolah. Jika dilihat dari kejauhan, tak ada yang menarik darinya. Dia adalah gadis dengan rambut panjang yang selalu dibiarkan terurai dan Revan menyukai itu. Dan aku. Aku juga mulai merasakan cinta saat Revan jatuh cinta. Cinta sederhana yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya. Cinta yang akhirnya membuat tidur malamku tak nyenyak, cinta yang membuat aku tak berhenti memikirkannya. Aku jatuh cinta pada seorang pria yang sudah lama kukenal. Pria yang senantiasa menemani hari-hariku. Pria yang sedang jatuh cinta kepada gadis lain. Aku jatuh cinta kepada Revan.

Rabu, 04 Maret 2015

Kisah Yang Sama.

“Rendi?” Seorang perempuan dengan tubuh semampai berdiri didepanku. Ia melengkungkan dua sisi bibirnya yang dihiasi lipstick berwarna pink, membentuk sebuah senyuman yang tak pernah aku lupakan.

“Rasanya sudah lama kita tak bertemu, apa kabarmu?” Tanyanya setelah aku mempersilakannya untuk menempati bangku kosong didepanku.

“Baik, meski tidak sepenuhnya. Bagaimana dengan kamu?”

“Ketika banyak orang yang mulai berubah karena waktu, nyatanya disini masih ada seseorang yang tetap sama, tak dirubah oleh waktu.” Katanya, ia tertawa kecil. “Aku baik. Apa kegiatanmu saat ini?”

“Sekarang aku adalah seorang penulis.” Aku menatap matanya yang semakin indah.

“Oh ya?” Ia tersenyum puas mendengar pengakuanku. “Aku senang mendengarnya, kau sudah berhasil meraih semua keinginanmu.” Katanya, masih dengan senyum yang terus ia sajikan.

Jumat, 20 Februari 2015

Lembar pengganti.

Sina membuka lembar demi lembar buku yang sudah ia tulis akhir-akhir ini. Lembar ke seratus adalah lembar yang harus ia tulis malam ini. Ya, semenjak kekasihnya pergi, ia selalu menuliskan hari-hari yang ia lewati disebuah buku catatan miliknya, satu lembar untuk satu hari dan artinya hari ini sudah genap seratus hari kekasihnya pergi.

Semua yang ia tulis dalam buku catatannya bukanlah sebuah catatan biasa, ini adalah janjinya kepada sang kekasih. Sebelum kekasihnya pergi, mereka selalu melalui hari-hari bersama dan kini ia hanya sendiri menjalani semuanya. Meski kini ia tak lagi ditemani sang kekasih, ia selalu ingin kekasihnya tahu apapun aktivitas yang ia lalukan. Bukan hanya Sina yang melakukan hal tersebut, melainkan kekasihnya juga. Mereka sama-sama berjanji untuk menuliskan setiap harinya di sebuah buku catatan yang Sina berikan kala itu dan ketika nanti mereka kembali berjumpa, mereka saling bertukar buku tersebut.

Kamis, 22 Januari 2015

Cinta dari Sahabatmu.

Perempuan itu berdiri diujung pintu perpustakaan kampusnya, niat awalnya untuk membaca seketika sirna saat pandangannya tak sengaja jatuh kepada dua insan yang saling bercengkerama mesra. Lelaki dan perempuan yang sedang jatuh cinta itu tak sadar sedang diperhatikan oleh perempuan lainnya dari jarak yang tak begitu jauh. Banyak yang sadar jika ada yang sedang jatuh cinta, namun tak ada yang sadar jika ada hati sedang terluka.

Creva masih saja berdiri diujung sana, tak berniat untuk segera bergegas. Kakinya terlalu kaku untuk diajak melangkah menjauhi tempat itu. Disana, Theo dan Clara—pacar barunya—masih saja asik bercengkerama, tak jelas topic apa yang membuat mereka senang berlama-lama mengobrol. Creva masih memperhatikan Theo yang sedari tadi melengkungkan bibirnya disela-sela ucapannya, hingga akhirnya Theo sadar jika ada Creva yang hanya berdiri didepan pintu, enggan untuk masuk ataupun pergi.

“Crev?” Panggilnya, membuat Clara menoleh kearahnya juga.

Creva hanya tersenyum tipis, lalu ia pergi. Ini cara terjitu untuk mengembalikan perasaannya yang sedang hancur, mengapa tak dari tadi ia pergi? Mengapa ia harus menyiksa hatinya terlalu lama? Entahlah, terkadang Creva terlalu menikmati kala hatinya sakit.

Kamis, 01 Januari 2015

(Bukan) Pemeran Utama.

Yang aku tahu dalam cinta tak pernah ada dua pemeran utama dalam satu sisi, hanya satu pemeran utama disetiap sisinya, satu lelaki dan satu perempuan, tak kurang dan tak lebih. Aku fikir, aku sudah berhasil menjadi pemeran utama dalam kehidupan cintanya, setelah ia tak menjadikan perempuan itu sebagai wanitanya lagi. Aku fikir, aku ada karena ia memberiku sepenuhnya peran ini, tapi ternyata aku salah, perempuan itu masih ia beri peran, bahkan peran yang seharusnya kini menjadi peranku. Perempuan itu bukanlah pemeran utama tetapi dia memiliki peran yang penting dan aku hanya pemeran tanpa peran.

Calvin, lelaki dengan umur terpaut 3 tahun lebih dewasa dariku. Lelaki yang aku kenal sebagai kakak senior dikampusku. Aku mengenalnya secara tak sengaja, saat aku sedang melewati masa-masa ospek, ia hadir menjadi kakak senior yang baik. Lelaki yang sangat irit bicara, tetapi mampu bersikap manis kepada semua orang. Menurut cerita yang aku dengar, ia sangat disegani dikampus ini, jabatannya sebagai ketua BEM kampus-lah yang membuatnya dikenal oleh hampir semua mahasiswa disini.

“Kau ingin jadi kekasihku?” Tanyanya saat itu, saat aku rela menghabiskan sabtu malam kesekian kali bersamanya.

Aku masih menatapnya, masih tak percaya akan pertanyaan yang baru saja aku dengar. Terlalu cepat untuknya yang baru saja patah hati, menurutku saat itu.

“Kirana, Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Ia meyakinkanku. Menatapku begitu lembut, membuatku semakin merasakan kenyamaan kala bersamanya.

Rabu, 05 November 2014

Antara Persahabatan Terselip Cinta

Sejak setengah jam yang lalu, aku dan Syia berada disini, sebuah kafe yang tak jauh dari kampus kami berdua. Aku dan Syia bukan mahasiswi dalam satu universitas yang sama, namun kampus berdekatan, hanya perlu waktu 15 menit untuk tiba dikampusnya jika menggunakan kendaraan bermotor. Dan kafe ini adalah kafe tempat kami biasanya berjumpa, menghabiskan waktu libur bersama.

Hari ini berbeda dari biasanya, Syia mengajakku bertemu disaat kami tak sedang libur kuliah, bahkan ia rela menunggu aku hingga jam terakhirku berakhir. Syia mengajak bertemu hari ini tanpa kedua sahabatku lainnya. Hanya berdua. Dan kini, saat kami sudah berada ditempat yang sama, masih tak ada perbincangan apapun seperti apapun. Sejak jumpa tadi, hanya sebuah satu sapaan diantara kami, setelahnya tak ada yang berniat ingin memulai topik pembicaraan, aku hanya menunggu Syia memulainya dan Syia sibuk dengan gadget miliknya.

“Gue mau ngomong, Zi” Akhirnya Syia meletakkan gadget miliknya, menatapku secara tajam.

“Apa?” Aku mengerutkan dahiku.

Syia masih menatapku, ia seperti seseorang yang tak menyukaiku, “Lu suka sama Dicno?”

“Dicno?” Aku mengulang nama yang Syia sebut tadi, aku sedikit tertawa mendengar pertanyaannya. “Nggak lah. Gue sama dia udah sahabatan.  And u know about that, Syia!”

“Gue suka sama dia.” Ujarnya, masih tanpa senyum dan masih dengan tatapan tak sukanya.

“Oh.... Oke.” Aku mengerti mengapa ia menatapku dengan tatapan tak suka seperti itu. Aku mengerti mengapa sikapnya berubah sejak beberapa bulan yang lalu.

Dicno adalah teman yang aku kenal secara tak sengaja. Bermula dari perkenalan kami saat pesta teman smpku dan hingga saat ini kami menjalin hubungan pertemanan yang cukup baik. Aku cukup mengenal Dicno, begitu pula Dicno. Syia bukan orang pertama yang menduga aku menyukai Dicno, sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, mungkin karena kami terlalu banyak menghabiskan waktu berdua, bahkan aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Dicno.

Dicno adalah lelaki yang baik, sahabat yang baik, ia selalu rela untuk aku repotkan dengan kerepotanku sebagai perempuan. Tidak jarang ia rela menjemputku dirumah seorang temanku jika sudah larut malam. Ia juga pernah rela menemaniku berbelanja bulanan, ketika Ibuku sedang sakit.
Dan sebulan yang lalu, aku mulai mengenalkannya dengan sahabatku, terlebih Syia. Ia sangat ingin berkenalan dengan Dicno sejak pertama kali aku menceritakannya. Aku fikir mereka mulai berteman dengan baik, tetapi Syia memang berubah sejak saat itu, ia terkesan lebih tertutup denganku. Tatapan matanya menjadi terkesan tak suka jika aku ada didekatnya.

“Tapi dia suka sama lu.” Katanya dengan nada ketus.

Hening. Jantungku berdetak dengan cepat, aku melemas. Tak pernah aku duga sebelumnya akan aku dengar pernyataan seperti ini. Tidak pernah ada bayangan sebelumnya jika sebuah persahabatan diwarnai dengan cinta. “Bercanda lu.” Aku mencoba mengusir segala perasaan tak enak dihatiku. Jujur, aku takut Syia meninggalkanku dan persahabatan kami kandas. Tapi disisi lain, aku juga takut kehilangan seorang sahabat seperti Dicno.

“Kalau tidak percaya, tanya saja sama Dicno. Dia yang bilang sendiri sama gue.”

*****

Cinta Pertama Dhinta

“Kamu cinta sama aku, Ta?” Hun kaget dengan pernyataan perempuan yang duduk disampingnya. Perempuan yang memaksanya untuk menemuinya.

Dhinta mengangguk. Dia sudah tidak tahan lagi menahan segala perasaan cintanya untuk Hun, lelaki yang ia kenal sejak enam bulan yang lalu. Menurutnya, hanya Hun yang selalu ada disaat ia membutuhkan tempat untuk berbagi, hanya Hun yang ada saat rasa kesepian itu datang. Hun membuatnya nyaman.

Hun diam. Tidak tahu harus menjawab seperti apa pernyataan perempuan yang berusia lebih muda 3 tahun dibawahnya ini. Dhinta cantik, mungil, ia asik saat Hun ajak bicara, mereka mengerti satu sama yang lain tentang kehidupan masing-masing. Hun juga merasa nyaman saat ada didekatnya, tapi, kenyataan tak bisa ia ubah. Ia tak boleh jatuh cinta kepada perempuan ini.

“Maaf aku ngga bisa.” Katanya. Hun pergi meninggalkan Dhinta yang diam sedari tadi. Jantungnya yang berdetak dengan cepat kini menjadi sangat tak karuan. Hatinya terasa sesak.

Selasa, 04 November 2014

Kedatangan Cinta (Lagi)

Ini bukan kali pertama aku merasakan getaran-getaran tak menentu. Ini bukan kali pertama pandanganku tak beranjak dari wajah seseorang dihadapanku. Ini bukan kali pertama aku merasakan rasa tak menentu. Sebelumnya aku pernah seperti ini, seperti ingin terus memandang wajahnya  yang terkesan tersenyum kepadaku.

Sebelumnya aku pernah berjanji, tak ingin memulai rasa itu lagi untuk kesekian kalinya, tapi bertemu denganmu membuat aku seakan lupa dengan ucapanku, lupa dengan segala janji yang terucap, lupa akan sakitnya mencintai tanpa dicintai. Aku seperti ingin memulainya lagi, mengawali meski hanya untuk diriku sendiri.

Saat ini, ia berada tak jauh dari tempatku duduk. Suara tawanya masih bisa aku dengar dengan jelas, aku masih bisa memperhatikan paras wajahnya yang tak membuatku bosan, aku tidak tahu sejak kapan, aku mulai senang memandanginya seperti saat ini, menikmati senyum yang disembahkan oleh bibirnya, entah sejak kapan, rasa ini kembali datang setelah 2 tahun yang lalu aku berjanji dengan diriku sendiri.

“Jangan disimpan sendiri, utarakan kalau kamu memang suka.” Clara menyeruput jus miliknya, “Dia juga keliatan care sama kamu kok.” Tambahnya.

Aku masih memandanginya beberapa menit sebelum ia sadar sedang dipandangi oleh seseorang, “Dia care sama semua cewek. Dia care sama semua temennya.” Aku menjatuhkan pandanganku ke meja kantin, tak berani mengangkat pandanganku, karena sepasang mata masih memperhatikanku dari tempatnya berada.

Senin, 06 Oktober 2014

Datang untuk pergi

Sin hanya memandangi telepon genggam miliknya, matanya was-was memperhatikan layar hitam yang sedari tadi tak menyala. Beberapa kali, led merahnya menyala, pesan atau chat bbm mulai menghampiri handphone, tapi beberapa menit setelahnya ia hanya meletakkan handphonenya kembali dengan hembusan nafas yang terdengar lelah. Bukan pesan atau bbm yang ia tunggu.

Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur miliknya, dadanya seketika menjadi sesak. Air wajahnya mendadak menjadi berubah, tak ada senyum manis miliknya, matanya menatap lurus, kosong pandangannya. Beberapa menit selanjutnya, air matanya menetes begitu saja.

Hari ini, semuanya datang lagi, perasaan yang ia tidak tahu apa, perasaan yang tak pernah bisa ia ceritakan kepada teman-temannya, perasaan yang akhirnya selalu membuatnya menangis, perasaan yang selalu ia simpan sendiri, tak membaginya kepada yang lain karena tak pernah tahu cara memulai untuk membaginya. Perasaan yang selalu menghilang saat ia bersama teman-temannya dan perasaan yang selalu datang saat semuanya sudah tak bersamanya.

“Aku benci seperti ini.” Katanya dalam isak tangisnya.

***