Sebelumnya aku mengira bahwa takkan ada lagi surat untukmu. Tapi, ternyata aku salah. Ini untukmu, surat ketiga yang kutulis dan tak tersampaikan. Ini untukmu, setelah cukup lama aku tak mengirimimu surat.
Hai, kamu.
Rasanya tak sopan ketika aku tak menyapamu.
Apa kabarmu? Harimu indah? Ah, aku harap begitu. Kabarku baik-baik saja, jika kamu mau tau. Kabar sahabatku ... Ah, aku tak berani memastikan.
Jika kamu menghitung hari yang terus berganti. Ini sudah lama. Sangat lama sejak terakhir kali aku mengirimi surat. Dan, selama itulah aku berpikir kalian baik-baik saja.
Tapi, ternyata aku salah.
Sahabatku datang kemarin, aku lupa kapan tepatnya, tapi yang aku ingat dia hanya bertanya, "Jika aku dekat dengan orang lain, salahkah aku? Akan sakitkah dia?"
Aku tidak menjawab, hanya ingin bertanya, kenapa ia terlalu memikirkan dirimu? Kenapa ia terlalu memikirkan apa yang akan kaurasakan saat tahu dia sedang bersama orang lain?
Sahabatku datang berkunjung, bukan untuk menceritakanmu lagi. Tapi, hanya untuk melepas rindu denganku dan teman-temanku. Lalu, dengan jahilnya, kami bertanya tentang hubungan kalian. Dia tak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya.
Kamu pergi. Lagi. Itu yang akhirnya aku tahu dari dia, saat kami sedang berdua. Entah karena alasan apa kali ini. Kamu menghilang, lalu benar-benar hilang.
"Di saat ada beberapa yang menemani, kenapa aku masih mengharapkannya?"
Aku tak sempat menjawab karena kedua temanku sudah kembali dari kegiatannya memesan makanan. Kami tak melanjutkan percakapan tentangmu, tak ada raut bimbang di wajahnya, tapi aku tak jua melihat raut senang di wajahnya. Sepertinya, ia sedang menyesuaikan diri.
Lalu, apa kabarmu di sana?
Jika kau ingin tahu, sahabatku merindukan beberapa hal yang menyangkutmu. Adakah kau juga merindukannya?
Aku sudah tidak tahu ingin menuliskan apa, jadi kurasa, sudah cukup surat untukmu.
Semoga kaubahagia dengan hidupmu dan sahabatku juga bahagia dengan hidupnya. Sesederhana itu sebenarnya. Dan, jika kalian memang tak akan pernah lebih dari sekadar teman. Setidaknya jangan kurang dari sekadar teman. Cukup menjadi teman.
Dan semoga kita juga bisa menjadi teman.
Jakarta, 28 Januari 2017
(Calon) temanmu,
Fanny Saufina.
Sabtu, 28 Januari 2017
Surat Kesekian Kali.
Senin, 23 Januari 2017
Aku harus apa...
Aku harus apa....
Saat aku selalu menantimu
Namun,
Kau tak jua hadir
Aku harus apa....
Saat aku mulai tak mengindahkanmu
Namun,
Nyatanya aku masih mengharapkanmu
Aku harus apa....
Saat aku menyakinkan hati untuk tak bertahan
Nyatanya,
Aku tak jua melangkah pergi
Aku harus apa....
Saat aku meyakinkan hati untuk melupakanmu
Namun nyatanya,
Aku masih mengharapkanmu
Aku harus apa....
Bahkan saat kamu tak mengindahkanku
Aku justru semakin menantimu
Mengharapkanmu berada di sampingku.
Aku harus apa....
Ketika kamu tetap menyita sebagian pikiranku
Ketika aku masih menginginkanmu
Namun, aku berusaha untuk menampiknya
Aku harus apa....
Ketika aku memang jatuh hati
Dan, semakin jatuh hati
Padamu.
Jakarta, Januari 2017.
Fanny Saufina
Minggu, 22 Januari 2017
Asing.
Di bawah langit yang menjingga,
Aku menantimu
Dalam putaran detik yang tak berhenti
Aku menantimu
Kamu harus tahu
Berhenti tidak semudah memulai
Kamu harus tahu
Bimbang tak semenyenangkan yang kaukira
Angin yang berhembus
Seakan menyadarkanku dinginnya dirimu
Sunyinya malam
Menyadarkanku bahwa kita telah berbeda
Kamu harus tahu
Tentang hati yang merindu
Kamu harus tahu
Tentang hati yang bimbang
Kita pernah berjalan tanpa kenal lelah
Lalu, inikah waktu di mana kita mulai lelah?
Bukan kita, bukan aku, hanya kamu
Kamu akhirnya lelah
Aku harusnya sadar
Saat hati mulai bermain
Aku harusnya sadar
Saat aku tersenyum lebih banyak
Dan aku harusnya sadar
Bahwa semua telah berbeda.
Di hari itu,
Semua telah berubah
Seakan aku memang hobi untuk tersenyum
Seakan aku hanya cukup jika kau tetap di sisi.
Dan hari ini,
Semua semakin berubah
Berjalan mengikuti arah yang tak kumengerti
Dan akhirnya semua terasa asing
Kau,
Aku,
Kita,
Kembali menjadi asing.
Jakarta, Januari 2017
Fanny Saufina