Sina membuka lembar demi lembar
buku yang sudah ia tulis akhir-akhir ini. Lembar ke seratus adalah lembar yang
harus ia tulis malam ini. Ya, semenjak kekasihnya pergi, ia selalu menuliskan
hari-hari yang ia lewati disebuah buku catatan miliknya, satu lembar untuk satu
hari dan artinya hari ini sudah genap seratus hari kekasihnya pergi.
Semua yang ia tulis dalam buku
catatannya bukanlah sebuah catatan biasa, ini adalah janjinya kepada sang
kekasih. Sebelum kekasihnya pergi, mereka selalu melalui hari-hari bersama dan
kini ia hanya sendiri menjalani semuanya. Meski kini ia tak lagi ditemani sang
kekasih, ia selalu ingin kekasihnya tahu apapun aktivitas yang ia lalukan.
Bukan hanya Sina yang melakukan hal tersebut, melainkan kekasihnya juga. Mereka
sama-sama berjanji untuk menuliskan setiap harinya di sebuah buku catatan yang
Sina berikan kala itu dan ketika nanti mereka kembali berjumpa, mereka saling
bertukar buku tersebut.
“Aku punya buku catatan yang baru
aku beli saat aku berjalan menuju kemari.” Katanya kala ia menyerahkan buku
catatan yang ia beli dengan uang simpanannya.
“Untuk apa?” Tanya Reihan tak
mengerti akan maksud kekasihnya.
“Di buku ini ada 400 halaman.
Hari-hari yang bakal kamu lalui disini sebanyak 360 hari, itu artinya cukup
untuk dituliskan setiap hari yang kita lalui sampai kamu keluar kan?”
Reihan tertawa melihat tingkah
kekasihnya, “Kegiatan aku disini sama aja setiap harinya, Sin. Kamu juga tahu
kan?”
Sina mendesah kesal karena
mendengar nada penolakan dari Reihan. “Terus kalo kamu tiba-tiba punya
aktivitas lain?”
“Ya, aku bakal ngasih tahu kamu
kalau kamu dateng berkunjung.”
“Kita bisa ketemu seminggu
sekali, itu pun ngga setiap minggunya aku bisa datang kesini. Jam kunjung aku
pun cuma satu jam, apa itu cukup buat cerita hari-hari yang kamu lalui disini
selama seminggu?”
Reihan terdiam, ia memperhatikan
kekasihnya yang kini tak lagi memperhatikannya.
“Permisi, Mbak. Jam kunjung sudah
habis.” Seorang petugas menghampiri mereka yang sedang terdiam.
Sina mulai beranjak dari tempatnya
duduk, “Kalau kamu memang nggak mau tulis pun aku akan tetap menulisnya
untukmu. Aku hanya ingin membuat diriku merasa seperti selalu bersamamu.”
Katanya. “Aku pulang, Han. Sampai jumpa.” Katanya, meninggalkan Reihan yang
hanya tersenyum mendengar pamitannya.
Ia berjalan keluar Lapas tempat
Reihan ditahan. Hari itu tepat seminggu Reihan ditangkap polisi, dirumahnya.
Polisi yang memberi penjelasan tentang penangkapan itu, hanya bilang, Reihan
adalah salah satu pelaku tindak penganiayaan. Sebelumnya, Reihan yang sedang
bersama teman-temannya, dilempari sebuah permen karet oleh seorang pemuda yang
lewat dengan sengaja, tak terima dengan perlakuan pemuda itu, mereka lekas
memberi pelajaran kepada sang pemuda.
Sina tidak pernah menyangka
kekasihnya akan menghuni sebuah tempat yang disebut lapas. Hingga hari ini,
hari ke seratus Reihan ditahan, ia masih sukar mempercayai kenyataan ini.
Dimatanya, Reihan adalah seorang pria yang baik, penyayang, bahkan kala bersama
Reihan, Sina selalu merasa seperti dilindungi oleh pria yang ia cintai itu.
***
Selamat malam, Reihan.
Ini kertas ke-200 yang aku tulis, itu artinya masih ada 160 kertas lagi
yang harus aku tulis sebelum aku bertemu denganmu. Sudah dua minggu ini, aku
tidak mengunjungimu. Maaf ya, Sayang. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian
Akhir Semester dan sepertinya kau tahu seperti apa tumpukan tugasku kala akan
mendekati UAS? Jika waktu-ku sudah sedikit lebih senggang, aku akan
mengunjungimu, Yang.
Jangan tanyakan seberapa besar rinduku untukmu padamu! Aku sangat
merindukanmu. Jika boleh jujur, setiap aku selesai menulis buku catatan ini,
aku selalu berharap ini adalah malam terakhir aku menuliskannya. Mungkin aku
terlalu berharap, kala aku selalu menantikanmu datang ke rumahku dimalam-malam
saat aku menulis ini. Ah, sudahlah, aku harus bersabar selama 160 hari lagi
untuk bisa membawamu datang kerumahku, layaknya dahulu.
Selamat malam ya, Sayang. Aku selalu mencintaimu!
“Sin, ada temanmu.” Mamanya
berdiri diujung pintu.
“Siapa, Ma?” Sina mengingat-ingat
siapa saja temannya yang senang datang ke rumahnya saat malam hari. Sepertinya
tidak ada.
“Sudah temui saja, dia menunggumu
diruang tamu.”
Sina menuruti kata Mamanya, ia
beranjak menuju ruang tamu, disana ada seorang lelaki yang sedang memperhatikan
foto-foto keluarga dengan membelakanginya. Seorang lelaki dengan pakaian yang
rapih. Sina menuruni tangga dengan perlahan. Masih mencoba menebak siapa yang
sedang menunggunya.
“Permisi, ada perlu apa ya sama
saya?” Tanyanya hati-hati kala ia sudah berada tepat dibelakang lelaki
tersebut.
Lelaki yang menunggunya sedari
tadi membalikkan tubuhnya, ia tersenyum. Senyuman yang sangat dirindukan Sina.
“Reihan” Sina mendelik. Tanpa
dikomandoi ia langsung memeluk kekasih yang ia rindukan itu. “Aku kangen sama
kamu.” Katanya lirih.
Reihan mengelus kepala Sina penuh
kasih, mendaratkan sebuah kecupan dikepalanya.
“Kamu kok bisa disini sih?”
Katanya, kala mereka sudah duduk.
“Aku sudah dibebaskan, masih
wajib lapor, sih.” Katanya.
“Aku kangen sama kamu tau, Han.”
Ia memeluk kekasihnya lagi.
“Makasih ya, udah mau setia
sampai aku bisa berkunjung kerumahmu lagi.” Katanya. “Oiya, ini buku catatan
yang sudah aku tulis. 199 lembar sudah aku isi dengan tulisan selama aku
disana.” Katanya lagi, menyerahkan buku catatan yang masih sama seperti pertama
kali ia berikan.
Malam ini ternyata memang
lembaran terakhir yang ia harus tulis. Malam ini adalah malam yang paling
dinantikan Sina selama ini, malam ini ia dan Reihan bertemu, bukan di lapas,
melainkan dirumahnya. Malam ini mereka saling bertukar buku catatan yang sudah
mereka tulis setiap harinya. Sudah sebanyak 200 lembar mereka tulis dan malam
ini adalah malam penutup sebuah cerita yang bisa mereka tulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.