Jumat, 20 Februari 2015

Lembar pengganti.

Sina membuka lembar demi lembar buku yang sudah ia tulis akhir-akhir ini. Lembar ke seratus adalah lembar yang harus ia tulis malam ini. Ya, semenjak kekasihnya pergi, ia selalu menuliskan hari-hari yang ia lewati disebuah buku catatan miliknya, satu lembar untuk satu hari dan artinya hari ini sudah genap seratus hari kekasihnya pergi.

Semua yang ia tulis dalam buku catatannya bukanlah sebuah catatan biasa, ini adalah janjinya kepada sang kekasih. Sebelum kekasihnya pergi, mereka selalu melalui hari-hari bersama dan kini ia hanya sendiri menjalani semuanya. Meski kini ia tak lagi ditemani sang kekasih, ia selalu ingin kekasihnya tahu apapun aktivitas yang ia lalukan. Bukan hanya Sina yang melakukan hal tersebut, melainkan kekasihnya juga. Mereka sama-sama berjanji untuk menuliskan setiap harinya di sebuah buku catatan yang Sina berikan kala itu dan ketika nanti mereka kembali berjumpa, mereka saling bertukar buku tersebut.


“Aku punya buku catatan yang baru aku beli saat aku berjalan menuju kemari.” Katanya kala ia menyerahkan buku catatan yang ia beli dengan uang simpanannya.

“Untuk apa?” Tanya Reihan tak mengerti akan maksud kekasihnya.

“Di buku ini ada 400 halaman. Hari-hari yang bakal kamu lalui disini sebanyak 360 hari, itu artinya cukup untuk dituliskan setiap hari yang kita lalui sampai kamu keluar kan?”

Reihan tertawa melihat tingkah kekasihnya, “Kegiatan aku disini sama aja setiap harinya, Sin. Kamu juga tahu kan?”

Sina mendesah kesal karena mendengar nada penolakan dari Reihan. “Terus kalo kamu tiba-tiba punya aktivitas lain?”

“Ya, aku bakal ngasih tahu kamu kalau kamu dateng berkunjung.”

“Kita bisa ketemu seminggu sekali, itu pun ngga setiap minggunya aku bisa datang kesini. Jam kunjung aku pun cuma satu jam, apa itu cukup buat cerita hari-hari yang kamu lalui disini selama seminggu?”

Reihan terdiam, ia memperhatikan kekasihnya yang kini tak lagi memperhatikannya.

“Permisi, Mbak. Jam kunjung sudah habis.” Seorang petugas menghampiri mereka yang sedang terdiam.

Sina mulai beranjak dari tempatnya duduk, “Kalau kamu memang nggak mau tulis pun aku akan tetap menulisnya untukmu. Aku hanya ingin membuat diriku merasa seperti selalu bersamamu.” Katanya. “Aku pulang, Han. Sampai jumpa.” Katanya, meninggalkan Reihan yang hanya tersenyum mendengar pamitannya.

Ia berjalan keluar Lapas tempat Reihan ditahan. Hari itu tepat seminggu Reihan ditangkap polisi, dirumahnya. Polisi yang memberi penjelasan tentang penangkapan itu, hanya bilang, Reihan adalah salah satu pelaku tindak penganiayaan. Sebelumnya, Reihan yang sedang bersama teman-temannya, dilempari sebuah permen karet oleh seorang pemuda yang lewat dengan sengaja, tak terima dengan perlakuan pemuda itu, mereka lekas memberi pelajaran kepada sang pemuda.

Sina tidak pernah menyangka kekasihnya akan menghuni sebuah tempat yang disebut lapas. Hingga hari ini, hari ke seratus Reihan ditahan, ia masih sukar mempercayai kenyataan ini. Dimatanya, Reihan adalah seorang pria yang baik, penyayang, bahkan kala bersama Reihan, Sina selalu merasa seperti dilindungi oleh pria yang ia cintai itu.

***

Selamat malam, Reihan.

Ini kertas ke-200 yang aku tulis, itu artinya masih ada 160 kertas lagi yang harus aku tulis sebelum aku bertemu denganmu. Sudah dua minggu ini, aku tidak mengunjungimu. Maaf ya, Sayang. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Akhir Semester dan sepertinya kau tahu seperti apa tumpukan tugasku kala akan mendekati UAS? Jika waktu-ku sudah sedikit lebih senggang, aku akan mengunjungimu, Yang.

Jangan tanyakan seberapa besar rinduku untukmu padamu! Aku sangat merindukanmu. Jika boleh jujur, setiap aku selesai menulis buku catatan ini, aku selalu berharap ini adalah malam terakhir aku menuliskannya. Mungkin aku terlalu berharap, kala aku selalu menantikanmu datang ke rumahku dimalam-malam saat aku menulis ini. Ah, sudahlah, aku harus bersabar selama 160 hari lagi untuk bisa membawamu datang kerumahku, layaknya dahulu.

Selamat malam ya, Sayang. Aku selalu mencintaimu!

“Sin, ada temanmu.” Mamanya berdiri diujung pintu.

“Siapa, Ma?” Sina mengingat-ingat siapa saja temannya yang senang datang ke rumahnya saat malam hari. Sepertinya tidak ada.

“Sudah temui saja, dia menunggumu diruang tamu.”

Sina menuruti kata Mamanya, ia beranjak menuju ruang tamu, disana ada seorang lelaki yang sedang memperhatikan foto-foto keluarga dengan membelakanginya. Seorang lelaki dengan pakaian yang rapih. Sina menuruni tangga dengan perlahan. Masih mencoba menebak siapa yang sedang menunggunya.

“Permisi, ada perlu apa ya sama saya?” Tanyanya hati-hati kala ia sudah berada tepat dibelakang lelaki tersebut.

Lelaki yang menunggunya sedari tadi membalikkan tubuhnya, ia tersenyum. Senyuman yang sangat dirindukan Sina.

“Reihan” Sina mendelik. Tanpa dikomandoi ia langsung memeluk kekasih yang ia rindukan itu. “Aku kangen sama kamu.” Katanya lirih.

Reihan mengelus kepala Sina penuh kasih, mendaratkan sebuah kecupan dikepalanya.

“Kamu kok bisa disini sih?” Katanya, kala mereka sudah duduk.

“Aku sudah dibebaskan, masih wajib lapor, sih.” Katanya.

“Aku kangen sama kamu tau, Han.” Ia memeluk kekasihnya lagi.

“Makasih ya, udah mau setia sampai aku bisa berkunjung kerumahmu lagi.” Katanya. “Oiya, ini buku catatan yang sudah aku tulis. 199 lembar sudah aku isi dengan tulisan selama aku disana.” Katanya lagi, menyerahkan buku catatan yang masih sama seperti pertama kali ia berikan.


Malam ini ternyata memang lembaran terakhir yang ia harus tulis. Malam ini adalah malam yang paling dinantikan Sina selama ini, malam ini ia dan Reihan bertemu, bukan di lapas, melainkan dirumahnya. Malam ini mereka saling bertukar buku catatan yang sudah mereka tulis setiap harinya. Sudah sebanyak 200 lembar mereka tulis dan malam ini adalah malam penutup sebuah cerita yang bisa mereka tulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.