“Kita udahan aja, ya, Ta.”
Aku menatap perempuan di
hadapanku dengan tatapan tak mengerti. Sebuah pernyataan yang terkesan mendadak
untukku, karena untukku, sampai tadi ia datang pun kami sedang tak terlibat
pertengkaran hebat. Aku menatapnya dengan tatapan menuntut, tak jauh berbeda
dengan reaksiku, ia hanya menatapku. Tatapan sendu namun terasa tegas yang
selalu memukau untukku.
“Alasan kamu apa?” tanyaku.
Irdina, perempuan yang usianya
terpaut dua tahun di bawahku ini hanya mengangkat bahunya, tanda ia tak yakin
untuk mengungkapkan alasannya. Irdina memilih untuk meminum cokelat hangatnya
dibandingkan menjawab pertanyaanku.
“Alasannya apa, Irdina?” Setelah
membiarkannya menikmati cokelat hangatnya, aku kembali menuntut penjelasan
darinya. “Berminggu-minggu yang lalu kamu minta kita ga ketemu dulu terus hari
ini, kita ketemu cuma buat bicara ini?”
“Maaf, Ta. Kamu tahu apa alasan
aku….”
“Nggak, aku nggak tahu. Jadi,
sekarang kasih tahu aku!”
“Ta,” panggilnya lirih. “Kamu
berhak bahagia dan pasti akan bisa bahagia tanpa aku, mungkin emang ja….”
“Aku lagi nggak mempermasalahkan
soal jodoh ataupun takdir, Irdina. Aku hanya minta kamu jelasin alasan
keputusan kamu yang serba mendadak ini.”
Irdina menatapku, semakin sendu,
bahkan airmatanya sudah terlihat di pelupuk mata, ingin rasanya kumerengkuhnya,
menenangkannya. “Kita pernah bahas ini, Ta. Aku mohon, jangan membuat semua
semakin sulit untuk kita.”
Aku tak menjawab, tak berkutik
kala aku melihat airmatanya benar-benar menetes. Ia berdiri dari duduknya,
tersenyum kepadaku, lalu pergi meninggalkanku.
Irdina telah melangkah menjauh,
meninggalkanku yang masih memperhatikan kepergiannya, meninggalkan kenangan
yang telah kami rajut selama tiga tahun. Irdina mantap meninggalkanku yang
masih tak terima atas keputusannya.
---