Kamis, 31 Desember 2020

Terima kasih, 2020.

Di 2019, Kita hanya mampu berdoa agar tahun depan tetap berjalan normal. Berharap agar tahun 2020 menjadi tahun yang membahagiakan. Rencana dibiarkan menggantung, pembicaraan tentang masa depan sudah terdengar sejak beberapa jam sebelum pergantian tahun. Terlalu manis. Membahagiakan, saat itu. Sepanjang perjalanan menuju rumah, tak henti kusematkan doa agar semua berjalan sesuai yang diharapkan. Agar tahun depan tak seberat 2019.

Awalnya berjalan semestinya. Lalu, perlahan dunia mulai tak mengingat apa yang pernah kuminta. Semuanya berjalan tak lagi di jalan yang sama denganku. 

Kehilangan. Menjadi awal pertanda bahwa 2020 yang kuharapkan tak semudah itu untuk didapat. Seikhlasnya kucoba menerima. 

2020 memang menjadi tak mudah, corona datang, perekonomian menurun. Bekerja dari rumah, bersyukur tak ada pengurangan karyawan. Nando terkena pengurangan, Ayah juga tidak bekerja karna lockdown. Tak apa, selagi semua masih bersama. Mesti tak jarang kita harus berpikir untuk hari esok. 

Lalu, Ramadhan datang, masih dengan corona yang berdampingan dengan hidup kita semua. Semua berjalan semestinya hingga dua pekan sebelum lebaran, dunia seakan makin gelap. 16 Mei 2020. Sepanjang malam 15 Mei aku tak tidur sampai sahur. Sahur seperti biasa dengan telur dadar buatan Ibu. Bahkan aku habiskan sisanya. Lalu, terlelap setelah subuh.

Suara Ibu terakhir kudengar, saat membangunkanku kerja. "Fin, kerja gak." Semuanya masih berjalan seperti biasa sampai Ayah bangun dan ibu sudah tidak sadarkan diri. 

Bu, maaf, aku masih menangis kala menulis ini. 

Jika tidak tidurnya aku sebagai pertanda, aku tak akan tidur saat itu. Jika Engkau yang menyiapkan mukena dan baju untuk lebaranku dengan bilang "Ditaruh sini, biar kamu ga cari-cari lagi pas lebaran," adalah sebuah tanda, ingin kupeluk kau. 

Lalu, rencana manis, perbincangan hangat di ujung tahun lalu, menjadi luntur. Perlahan hilang. Tak bisa dilakukan. 

2020. Kini menghitung hari. Aku tak lagi mendamba layaknya tahun lalu. Tak lagi berharap banyak akan topik-topik ringan yang menghangatkan hati.

Terima kasih, 2020-ku. Maaf terlalu banyak airmata. Terlalu banyak umpatan. Maaf aku yang masih terlalu rapuh melewati setiap hari di tahunmu. Pun, terima kasih karna pernah melukis banyak senyum. Banyak hal manis yang kulewati, meski aku tak benar-benar ingat.