Jumat, 27 September 2013

Kau dan Semangatku yang pergi..

Aku ingat ketika kau ada disini, membisikkan sebuah kata yang bisa menghadirkan kembali semangatku dikala lelah. Aku ingat bagaimana wajahmu yang mampu membuatku lupa dengan segala kelelahan yang ada. Aku ingat bagaimana kita terus mencoba mengusir segala lelah bersama, menghadirkan semangat itu kembali dengan cara kita yang berbeda dengan mereka. Kau yang selalu mengingatkanku akan tujuan hidup kita, baik untuk masing-masing ataupun segala rencana untuk kehidupan yang menjadi tujuan bersama.

Dan sekarang kau pergi. Pergi tanpa pernah memperdulikanku. Pergi tanpa pernah berniat untuk kembali. Dan ketika kau pergi, aku mulai tersadar. Tersadar akan artimu untukku. Aku sadar, kau hanya kau yang mampu menghadirkan semuanya. Semangat yang membara itu, senyum yang tak pernah punah dan raut wajah yang selalu gembira. Ya, hanya kau yang mampu menghadirkan semuanya.

Tapi semuanya sudah berlalu. Semua masih membekas diinggatanku, masih terasa hembusan nafasmu setiap kali kau mulai membisikkan kata-kata penyemangat untukku. Selalu aku ingat sebuah senyum kemenangan karena kau berhasil mengalahkan rasa lelah yang hadir. Bagaimana bisa aku melupakannya, ketika aku masih senantiasa mengunjungi tempat ini? Perlu waktu yang panjang saat aku harus benar-benar melupakanmu.

Jumat, 06 September 2013

Perasaan Macam Apa ini?


Aku benci, ketika rasa ini hadir. Aku benci ketika aku harus menatap semuanya dengan pandanganku yang tak bersahabat. Aku benci ketika aku harus (kembali) memendam semuanya lagi. Bisakah aku hidup layaknya dahulu? Kala aku masih sibuk dengan mainanku sendiri. Kala aku bisa tertawa sepuasnya sepanjang hari, kala aku hanya menangis karena mainanku diambil oleh teman-temanku. Aku merindukan saat-saat itu. Aku tak mengerti apa yang harus aku perbuat agar semuanya bisa kembali. Konyol memang, berharap semuanya kembali. 

Semuanya datang, dan aku yang harus (selalu) menerimanya sendiri. Memendamnya sendiri, sampai akhirnya semua pergi lagi. Tak ada tempat untuk bercerita, atau mungkin aku yang terlalu menutup diriku. Tak pernah berniat untuk menceritakan segala hal yang aku rasakan.  Mungkin memang aku yang selalu menempatkan diri sebagai pendengar. Semuanya sama, tak pernah berubah. Rasa ini, selalu datang sesukanya. Membuatku kacau. Membuatku tak bersahabat.

Ketika semuanya hadir, aku masih bisa tertawa. Ya, aku bisa tertawa tapi tawaku hanyalah sebagai pelengkap suasana. Nyatanya, aku masih hampa. Aku masih merasa sendirian dikala semua tertawa. Merasa mereka bukanlah teman-temanku. Mereka bukan teman-temanku dikala seperti ini. Hanya sekedar seseorang yang ada dihidupku.

Dan kini, tinggallah aku sendiri  menikmati segala rasa yang tak pernah aku harapkan kehadirannya. Ingin berteriak agar semua mengerti, tapi haruskah aku melakukan semuanya? Mengapa tak mereka yang berusaha untuk mengerti tanpa harus adanya suatu teriakan? Mengapa tak mereka yang mencoba menatapku?

Entah sampai kapan semuanya akan terus begini, tetap tersenyum untuk menutupi hati yang tersakiti. Tetap tertawa, dikala kau ingin menangis. Membiarkan semuanya sesuai dengan apa adanya. Tak pernah berniat untuk mengantikan, atau merubahnya. Entah sampai kapan semua akan tetap seperti ini, berusaha untuk selalu baik-baik saja. Membiarkan dirimu menatap dunia ini dengan pandangan tak bersahaatmu. Mungkin semua akan berakhir saat aku benar-benar 'jengah' dengan posisi nyamanku.