Aku benci, ketika rasa ini hadir. Aku benci ketika aku harus
menatap semuanya dengan pandanganku yang tak bersahabat. Aku benci ketika aku
harus (kembali) memendam semuanya lagi. Bisakah aku hidup layaknya dahulu? Kala
aku masih sibuk dengan mainanku sendiri. Kala aku bisa tertawa sepuasnya
sepanjang hari, kala aku hanya menangis karena mainanku diambil oleh
teman-temanku. Aku merindukan saat-saat itu. Aku tak mengerti apa yang harus
aku perbuat agar semuanya bisa kembali. Konyol memang, berharap semuanya kembali.
Semuanya datang, dan aku yang harus (selalu) menerimanya
sendiri. Memendamnya sendiri, sampai akhirnya semua pergi lagi. Tak ada tempat
untuk bercerita, atau mungkin aku yang terlalu menutup diriku. Tak pernah
berniat untuk menceritakan segala hal yang aku rasakan. Mungkin memang aku yang selalu menempatkan
diri sebagai pendengar. Semuanya sama, tak pernah berubah. Rasa ini, selalu
datang sesukanya. Membuatku kacau. Membuatku tak bersahabat.
Ketika semuanya hadir, aku masih bisa tertawa. Ya, aku bisa
tertawa tapi tawaku hanyalah sebagai pelengkap suasana. Nyatanya, aku masih
hampa. Aku masih merasa sendirian dikala semua tertawa. Merasa mereka bukanlah
teman-temanku. Mereka bukan teman-temanku dikala seperti ini. Hanya sekedar
seseorang yang ada dihidupku.
Dan kini, tinggallah aku sendiri menikmati segala rasa yang tak pernah aku
harapkan kehadirannya. Ingin berteriak agar semua mengerti, tapi haruskah aku
melakukan semuanya? Mengapa tak mereka yang berusaha untuk mengerti tanpa harus
adanya suatu teriakan? Mengapa tak mereka yang mencoba menatapku?
Entah sampai kapan semuanya akan terus begini, tetap tersenyum untuk menutupi hati yang tersakiti. Tetap tertawa, dikala kau ingin menangis. Membiarkan semuanya sesuai dengan apa adanya. Tak pernah berniat untuk mengantikan, atau merubahnya. Entah sampai kapan semua akan tetap seperti ini, berusaha untuk selalu baik-baik saja. Membiarkan dirimu menatap dunia ini dengan pandangan tak bersahaatmu. Mungkin semua akan berakhir saat aku benar-benar 'jengah' dengan posisi nyamanku.
aku juga ngerasain itu. tapi ya mau gimana lagi? emang udah kejadiannya yang kaya gini =))
BalasHapusIya, cuma bisa menerima dan menjalani yang udah ada:-)
BalasHapus