Minggu, 29 Oktober 2017

Terima Kasih, Atas Luka Sahabatku

Aku tahu sejak ia datang, ia tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Sahabatku, bukanlah orang yang dengan mudah mengatakan segala kesakitannya untuk semua orang, ia memang hanya membagi kepada yang ia rasa pantas untuk ia bagi, pun, tak secara langsung, ia masih akan menunggu hingga ia rasa sudah saatnya ia bagi. Ia terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Resahnya, sedihnya, inginnya.
 
Ini tentang sahabatku—lagi.

Ia datang, tak bicara apa pun, hanya menatap kosong depannya, lalu air matanya menetes. Ia terlalu lemah. “Gue salah apa, Fan?”. Hanya itu yang ia ucapkan sejak ia datang, berulang kali seperti ia berusaha untuk menutupi kesedihannya, berulang kali namun tetap gagal. Aku tahu sesuatu terjadi, tapi aku tak ingin jauh menerka. Ia terisak pelan, lalu menenangkan dirinya sendiri, tersenyum entah untuk apa, tapi rasanya hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.