Aku tahu sejak ia
datang, ia tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Sahabatku, bukanlah orang
yang dengan mudah mengatakan segala kesakitannya untuk semua orang, ia memang
hanya membagi kepada yang ia rasa pantas untuk ia bagi, pun, tak secara
langsung, ia masih akan menunggu hingga ia rasa sudah saatnya ia bagi. Ia
terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Resahnya, sedihnya, inginnya.
Ini tentang
sahabatku—lagi.
Ia datang, tak bicara
apa pun, hanya menatap kosong depannya, lalu air matanya menetes. Ia terlalu
lemah. “Gue salah apa, Fan?”. Hanya
itu yang ia ucapkan sejak ia datang, berulang kali seperti ia berusaha untuk
menutupi kesedihannya, berulang kali namun tetap gagal. Aku tahu sesuatu
terjadi, tapi aku tak ingin jauh menerka. Ia terisak pelan, lalu menenangkan
dirinya sendiri, tersenyum entah untuk apa, tapi rasanya hanya untuk meyakinkan
dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.