Aku tahu sejak ia
datang, ia tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Sahabatku, bukanlah orang
yang dengan mudah mengatakan segala kesakitannya untuk semua orang, ia memang
hanya membagi kepada yang ia rasa pantas untuk ia bagi, pun, tak secara
langsung, ia masih akan menunggu hingga ia rasa sudah saatnya ia bagi. Ia
terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Resahnya, sedihnya, inginnya.
Ini tentang
sahabatku—lagi.
Ia datang, tak bicara
apa pun, hanya menatap kosong depannya, lalu air matanya menetes. Ia terlalu
lemah. “Gue salah apa, Fan?”. Hanya
itu yang ia ucapkan sejak ia datang, berulang kali seperti ia berusaha untuk
menutupi kesedihannya, berulang kali namun tetap gagal. Aku tahu sesuatu
terjadi, tapi aku tak ingin jauh menerka. Ia terisak pelan, lalu menenangkan
dirinya sendiri, tersenyum entah untuk apa, tapi rasanya hanya untuk meyakinkan
dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Gue
salah apa?”, tanyanya, masih dengan pandangan yang
tak terfokus pada apapun.
Hai, seseorang yang
sudah mengenalkan luka untuk sahabatku.
Bukankah pada pesan
terakhir yang kukirim kemarin, sudah kutanyakan; apakah kau masih
menginginkannya seperti pertama kali kau memintanya untuk menemani harimu? Lalu,
ini mengapa?
Setelah satu jam aku
menunggu, akhirnya semua terjelaskan meski dengan isak yang tak ingin pergi.
Kau memilih wanita lain untuk menghilangkan rasa lelahmu, kau memilih wanita
lain saat kau tak bisa bertemu dengan sahabatku, kau memilih wanita lain. Itu
garis besarnya, bukan? Untuk apa? Untuk kesenanganmu sesaat? Untuk lelah yang
menghampirimu? Untuk bosan yang menghantuimu?
Mari aku ceritakan
tentang sahabatku,
Sahabatku adalah
seorang wanita yang tak pernah bisa marah. Ia hanya akan diam jika memang sudah
merasa tak enak. Sekalipun ia memang harus mengatakannya, pasti kamu akan
merasa suaranya yang bergetar. Ia terlalu banyak memikirkan orang, ia terlalu
mudah merasa tak enak. Jadi, seberapa sering ia marah kepadamu? Seberapa sering
ia merajuk kepadamu?
Terakhir kami berjumpa,
ia mengatakan kau ingin ada jarak untuk komunikasi kalian, tak seharusnya
selalu komunikasi dengan kau tahu dimana ia, dan ia tahu dimana kau. Seharusnya
ia bisa menangkap maksudmu yang secara perlahan mengusirnya. Kau tak ingin
diganggu olehnya, bukan? Akui saja. Ia menurutimu, bodohnya memang seperti itu,
ia menurutimu. Ia tak lagi mengirimimu pesan sebanyak mungkin karena kau yang
meminta, tak lagi mencarimu, ia hanya diam. Ia hanya diam menanti kau yang
membalas pesannya. Ia hanya dia menanti dengan segala khawatirnya, dengan
segala kesepiannya.
Jika kau mengatakan kau
bosan, lalu apa dia tak merasakan bosan? Kurasa semua orang pernah merasa
bosan, tapi tergantung bagaimana ia menanggapinya. Sahabatku, selalu menanti
waktu yang pas untuk sekadar bertukar cerita atau mengirim pesan konyol
layaknya dahulu, merelakan waktu istirahatnya demi sebuah pesan yang bahkan tak
pernah kautahu betapa dinantikannya. Sahabatku, tak pernah meneleponmu, karena
tak ingin mengganggu waktumu, kau terlalu sibuk di matanya, dan apa ia pernah
merajuk hanya karena itu? Sahabatku, apa pernah ia tak mengabarimu sekali saja?
Coba kau ingat, seberapa cepat ia membalas pesanmu? Karena memang seperti itu,
betapa ia ingin kau merasa sangat berarti untuknya, betapa ia tak ingin kau
menunggu, betapa ia tahu bahwa menerka dengan khawatir itu tak mengenakkan. Dan
ia tak ingin kau melakukan itu. Pun, sebenarnya jika pun ia membalas lama atau
tak membalas sekalipun adakah kau menantinya?
Sahabatku masih
menangis di depanku, tak bersuara, hanya air mata yang menetes dan senyuman
yang ia hadirkan.
Aku rasanya terlalu
terbawa emosi ketika membahas ini. Karena, aku tahu, bagaimana sahabatku tak
pernah mengizinkan siapa pun masuk, tak pernah sekali pun mengintip untuk
sekadar menghilangkan jenuhnya. Perihal jenuh untuk hari-harimu, bukan hanya
kau saja yang rasa. Ia juga, tapi, apakah pernah ia memaksakan kehendaknya
untuk bertemu denganmu? Apa pernah ia mencari yang lain saat kau tak jadi
menemaninya? Apa pernah ia mencari yang lain saat kau tak kunjung
menghiraukannya?
Kau terlalu egois dan
sahabatku terlalu mengalah. Itu yang menyebabkan sahabatku sesakit ini.
Ia tak pernah merengek
hanya sekadar untuk bertemu, bukan karena ia tak rindu, karena ia tahu ada hal
yang tak selalu sesuai keinginannya. Ia tak pernah merengek hanya sekadar untuk
bertemu, karena ia ingin kau paham, betapa mengertinya ia akan dirimu. Ia tak
seegois itu hanya untuk kesenangannya. Ia tak pernah merengek untuk pesan yang
tak terbalas jika masih ditahap wajar, sehari dua hari, apa ia akan langsung
merengek? Ia selalu menunggu sampai saat yang tak bisa lagi dibiarkan, lalu apa
ia terlihat seperti ingin menang atas asumsinya sendiri? Ia selalu melihatmu
dahulu, menunggumu sadar bahwa ada dirinya yang menunggumu. Tapi, ketika ia tak
lagi dilihat sebagai sesuatu yang penting, baru ia mengatakan apa yang menjadi
gelisahnya. Tapi, tetap tak ingin terlihat ia benar. Bahkan, akhirnya siapa
yang mengucapkan maaf? Untuk perasaan khawatirnya, untuk rasa gelisahnya?
Kenapa kalian selucu ini.
Aku tidak tahu apa yang
ingin aku tulis lagi, aku terlalu emosi mendengar ceritanya.
Jika akhirnya sahabatku
pergi, bukan karena ia ingin, tapi mungkin karena kau yang mengusirnya secara
perlahan. Ia pernah sebertahan itu dengan egoismu. Ia pernah sebertahan itu
denganmu, menangis di malamnya. Membiarkan sesak menghampiri dadanya,
membiarkan airmata menggenang di pelupuk matanya, tanpa pernah memberitahu
bahwa ia sangat tersakiti, bahwa ia sangat merindukanmu.
Ia rindu dirimu seperti
yang pernah kukatakan sebelumnya. Rindu bagaimana kalian menghabiskan waktu
malam hanya sekadar untuk saling menatap melalui gawai, bagaimana kalian
menghabiskan waktu malam hanya sekadar bertukar pesan. Ia rindu mendapati
banyak pesan hanya karena ia tak lagi membalas pesanmu. Ia rindu menjadi
sesuatu yang kaucari. Ia rindu menjadi prioritasmu. Ia rindu. Mengapa semua
berjalan terlalu cepat, hingga yang tersisa hanya kenangan? Mengapa kau berubah
seperti waktu yang terus berubah?
Ia tak pernah berani
untuk mengatakan keinginannya karena takut terasa egois. Ia menyimpan inginnya
untuk bertelepon denganmu karena ia tahu kausibuk dengan duniamu. Ia menyimpan
inginnya untuk bertemu, karena ia tahu tak semua inginnya harus terpenuhi. Ia
menyimpan semuanya hingga terkesan tak pernah ada.
Terakhir untukmu,
seberapa banyak rindu yang tercipta untuknya? Seberapa banyak gelisah yang ada
saat ia tak kunjung terlihat? Adakah rasa sayang seperti saat pertama kau
mengatakannya? Adakah rasa khawatir untuknya saat ia tak kunjung membalas
pesanmu?
Sahabatku pernah
sesabar itu denganmu, jika akhirnya semua berakhir, maka ia sudah merasa cukup
untuk sabar dan mengalah yang ia berikan kepadamu. Bukan karena ia tak cinta,
tapi, memang ada hal yang jika dipaksakan memang menjadi tak baik.
Jakarta, Oktober 2017.
Sahabat seseorang yang
kautancapkan luka pada hatinya.
Fanny Saufina Nurul
Jannah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.