Minggu, 29 Oktober 2017

Terima Kasih, Atas Luka Sahabatku

Aku tahu sejak ia datang, ia tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Sahabatku, bukanlah orang yang dengan mudah mengatakan segala kesakitannya untuk semua orang, ia memang hanya membagi kepada yang ia rasa pantas untuk ia bagi, pun, tak secara langsung, ia masih akan menunggu hingga ia rasa sudah saatnya ia bagi. Ia terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Resahnya, sedihnya, inginnya.
 
Ini tentang sahabatku—lagi.

Ia datang, tak bicara apa pun, hanya menatap kosong depannya, lalu air matanya menetes. Ia terlalu lemah. “Gue salah apa, Fan?”. Hanya itu yang ia ucapkan sejak ia datang, berulang kali seperti ia berusaha untuk menutupi kesedihannya, berulang kali namun tetap gagal. Aku tahu sesuatu terjadi, tapi aku tak ingin jauh menerka. Ia terisak pelan, lalu menenangkan dirinya sendiri, tersenyum entah untuk apa, tapi rasanya hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.


“Gue salah apa?”, tanyanya, masih dengan pandangan yang tak terfokus pada apapun.

Hai, seseorang yang sudah mengenalkan luka untuk sahabatku.

Bukankah pada pesan terakhir yang kukirim kemarin, sudah kutanyakan; apakah kau masih menginginkannya seperti pertama kali kau memintanya untuk menemani harimu? Lalu, ini mengapa?
Setelah satu jam aku menunggu, akhirnya semua terjelaskan meski dengan isak yang tak ingin pergi. Kau memilih wanita lain untuk menghilangkan rasa lelahmu, kau memilih wanita lain saat kau tak bisa bertemu dengan sahabatku, kau memilih wanita lain. Itu garis besarnya, bukan? Untuk apa? Untuk kesenanganmu sesaat? Untuk lelah yang menghampirimu? Untuk bosan yang menghantuimu?

Mari aku ceritakan tentang sahabatku,

Sahabatku adalah seorang wanita yang tak pernah bisa marah. Ia hanya akan diam jika memang sudah merasa tak enak. Sekalipun ia memang harus mengatakannya, pasti kamu akan merasa suaranya yang bergetar. Ia terlalu banyak memikirkan orang, ia terlalu mudah merasa tak enak. Jadi, seberapa sering ia marah kepadamu? Seberapa sering ia merajuk kepadamu?

Terakhir kami berjumpa, ia mengatakan kau ingin ada jarak untuk komunikasi kalian, tak seharusnya selalu komunikasi dengan kau tahu dimana ia, dan ia tahu dimana kau. Seharusnya ia bisa menangkap maksudmu yang secara perlahan mengusirnya. Kau tak ingin diganggu olehnya, bukan? Akui saja. Ia menurutimu, bodohnya memang seperti itu, ia menurutimu. Ia tak lagi mengirimimu pesan sebanyak mungkin karena kau yang meminta, tak lagi mencarimu, ia hanya diam. Ia hanya diam menanti kau yang membalas pesannya. Ia hanya dia menanti dengan segala khawatirnya, dengan segala kesepiannya.

Jika kau mengatakan kau bosan, lalu apa dia tak merasakan bosan? Kurasa semua orang pernah merasa bosan, tapi tergantung bagaimana ia menanggapinya. Sahabatku, selalu menanti waktu yang pas untuk sekadar bertukar cerita atau mengirim pesan konyol layaknya dahulu, merelakan waktu istirahatnya demi sebuah pesan yang bahkan tak pernah kautahu betapa dinantikannya. Sahabatku, tak pernah meneleponmu, karena tak ingin mengganggu waktumu, kau terlalu sibuk di matanya, dan apa ia pernah merajuk hanya karena itu? Sahabatku, apa pernah ia tak mengabarimu sekali saja? Coba kau ingat, seberapa cepat ia membalas pesanmu? Karena memang seperti itu, betapa ia ingin kau merasa sangat berarti untuknya, betapa ia tak ingin kau menunggu, betapa ia tahu bahwa menerka dengan khawatir itu tak mengenakkan. Dan ia tak ingin kau melakukan itu. Pun, sebenarnya jika pun ia membalas lama atau tak membalas sekalipun adakah kau menantinya?

Sahabatku masih menangis di depanku, tak bersuara, hanya air mata yang menetes dan senyuman yang ia hadirkan.

Aku rasanya terlalu terbawa emosi ketika membahas ini. Karena, aku tahu, bagaimana sahabatku tak pernah mengizinkan siapa pun masuk, tak pernah sekali pun mengintip untuk sekadar menghilangkan jenuhnya. Perihal jenuh untuk hari-harimu, bukan hanya kau saja yang rasa. Ia juga, tapi, apakah pernah ia memaksakan kehendaknya untuk bertemu denganmu? Apa pernah ia mencari yang lain saat kau tak jadi menemaninya? Apa pernah ia mencari yang lain saat kau tak kunjung menghiraukannya?

Kau terlalu egois dan sahabatku terlalu mengalah. Itu yang menyebabkan sahabatku sesakit ini.

Ia tak pernah merengek hanya sekadar untuk bertemu, bukan karena ia tak rindu, karena ia tahu ada hal yang tak selalu sesuai keinginannya. Ia tak pernah merengek hanya sekadar untuk bertemu, karena ia ingin kau paham, betapa mengertinya ia akan dirimu. Ia tak seegois itu hanya untuk kesenangannya. Ia tak pernah merengek untuk pesan yang tak terbalas jika masih ditahap wajar, sehari dua hari, apa ia akan langsung merengek? Ia selalu menunggu sampai saat yang tak bisa lagi dibiarkan, lalu apa ia terlihat seperti ingin menang atas asumsinya sendiri? Ia selalu melihatmu dahulu, menunggumu sadar bahwa ada dirinya yang menunggumu. Tapi, ketika ia tak lagi dilihat sebagai sesuatu yang penting, baru ia mengatakan apa yang menjadi gelisahnya. Tapi, tetap tak ingin terlihat ia benar. Bahkan, akhirnya siapa yang mengucapkan maaf? Untuk perasaan khawatirnya, untuk rasa gelisahnya? Kenapa kalian selucu ini.

Aku tidak tahu apa yang ingin aku tulis lagi, aku terlalu emosi mendengar ceritanya.

Jika akhirnya sahabatku pergi, bukan karena ia ingin, tapi mungkin karena kau yang mengusirnya secara perlahan. Ia pernah sebertahan itu dengan egoismu. Ia pernah sebertahan itu denganmu, menangis di malamnya. Membiarkan sesak menghampiri dadanya, membiarkan airmata menggenang di pelupuk matanya, tanpa pernah memberitahu bahwa ia sangat tersakiti, bahwa ia sangat merindukanmu.

Ia rindu dirimu seperti yang pernah kukatakan sebelumnya. Rindu bagaimana kalian menghabiskan waktu malam hanya sekadar untuk saling menatap melalui gawai, bagaimana kalian menghabiskan waktu malam hanya sekadar bertukar pesan. Ia rindu mendapati banyak pesan hanya karena ia tak lagi membalas pesanmu. Ia rindu menjadi sesuatu yang kaucari. Ia rindu menjadi prioritasmu. Ia rindu. Mengapa semua berjalan terlalu cepat, hingga yang tersisa hanya kenangan? Mengapa kau berubah seperti waktu yang terus berubah?

Ia tak pernah berani untuk mengatakan keinginannya karena takut terasa egois. Ia menyimpan inginnya untuk bertelepon denganmu karena ia tahu kausibuk dengan duniamu. Ia menyimpan inginnya untuk bertemu, karena ia tahu tak semua inginnya harus terpenuhi. Ia menyimpan semuanya hingga terkesan tak pernah ada.
Terakhir untukmu, seberapa banyak rindu yang tercipta untuknya? Seberapa banyak gelisah yang ada saat ia tak kunjung terlihat? Adakah rasa sayang seperti saat pertama kau mengatakannya? Adakah rasa khawatir untuknya saat ia tak kunjung membalas pesanmu?

Sahabatku pernah sesabar itu denganmu, jika akhirnya semua berakhir, maka ia sudah merasa cukup untuk sabar dan mengalah yang ia berikan kepadamu. Bukan karena ia tak cinta, tapi, memang ada hal yang jika dipaksakan memang menjadi tak baik.

Jakarta, Oktober 2017.
Sahabat seseorang yang kautancapkan luka pada hatinya.



Fanny Saufina Nurul Jannah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.