Sabtu, 31 Agustus 2013

Kalau bukan kita, Siapa lagiiiii?


Dipostingan kali ini gue mau ngebahas rasa cinta tanah air, nuansanya kan masih hari kemerdekaan tuh. Oke, jangan protes, gue tau ini udah akhir Agustus. Tapi, apa rasa cinta tanah air cuma ada saat hari kemerdekaan? Kalo gue ngga sih. I'm proud to be part of a nation of Indonesia!

Sebelum gue memulai untuk mengetik lebih banyak, gue mau ngucapin maaf (terlebih dahulu)kalau ada beberapa kata dalam postingan ini menyinggung anda.

Pernah denger orang yang ngejelek-jelekin Indonesia? Pasti pernah. Atau pernah punya temen yang sering banget ngeluh gara-gara kehidupan di Indonesia? Atau kamu sendiri termasuk orang yang ngga betah dengan kehidupan di Indonesia? Sekarang, kalo kamu emang udah ngga suka sama kehidupan di Indonesia, kenapa kalian ngga hengkang aja dari Indonesia? Jawabannya bermacem-macem: “Ngurus segalanya pasti repot.” “Mau kemana lagi?” “Ngga ada dananya. Kalo gue bisa dan ada uangnya, gue juga udah pindah dari Indonesia”. Banyak banget yang menggunakan alasan-alasan itu. Itu menurut gue bukan alasan yang membuat diri kalian lebih dianggap ‘benar’ dengan segala omongan-omongan ngga enak kalian tentang Indonesia, kalian malah terlihat semakin aneh dengan alasan itu.

Oke, ibarat kata kalian punya pacar, setiap kali ketemu sama pacar kalian kerjaan kalian cuma ngeluh tentang keadaan dia. Terus apa yang bakal pacar kamu lakuin? Lama kelamaan pacar kamu juga bakal jengah dengernya. Sekarang, logikanya saat kamu punya pacar tapi hati kamu bukan buat pacar kamu apa yang kamu lakuin? Ngga mungkin kamu tetep bertahan, kalo kamu bukan orang yang berniat jahat. Begitu juga Indonesia, kalo kamu terus-terusan ngeluh, bukan kasihan ke Indonesianya. Tapi, lebih kasihan ke para Pahlawannya. Kamu tahu ngga seberapa lama mereka harus melawan para penjajah itu? Kamu tahu ngga bagaimana mereka terus berusaha untuk kehidupan yang layak buat kita? Ya intinya, coba tengok lagi gimana perjuangan mereka.

Kalo pemuda-pemudi Indonesia aja udah ngga ada yang peduli sama bangsanya, siapa yang peduli sama Indonesia ini? Kalo pemuda-pemudinya aja lebih milih buat bangga terhadap bangsa lain, terus apa mereka (pahlawan) harus memaksa pemuda-pemudi bangsa lain untuk bangga sama bangsa kita? Kenapa ngga kita nyoba terus numbuhin rasa bangga kita terhadap bangsa sendiri? Ini bangsa kita, bukan bangsa mereka. Kalo kalian ngeluh tentang Indonesia, kenapa ngga kita yang berusaha untuk membuat Indonesia lebih baik ditangan kita, guys. Kita harapan bangsa. Kita yang harus meneruskan perjuangan mereka, bukan mereka, dia ataupun siapapun dari bangsa lain.

Akhir kata, dari postingan ini gue cuma mau bilang ‘selama kalian hidup di Indonesia, Nafas dengan udara Indonesia, Berpijak di Tanah Indonesia, maka hargailah Indonesia. Pahlawan ngga pernah minta kita buat jadi pintar, tapi cukup teruskan perjuangan mereka. Tidak dengan berperang, tapi membuat Indonesia lebih baik.” So, kalo bukan kita, siapa lagi? Dan sekali lagi, maaf jika ada perkataan yang tak mengenakan hati.

Selasa, 27 Agustus 2013

My brother is My love.


Kev tediam ditempatnya. Ia hanya memfungsikan dirinya sebagai pendengar, mungkin tak berkata apa-apa bisa lebih memudahkan semuanya. Tapi, nyatanya tidak semudah itu, dadanya semakin terasa sesak. Lututnya mulai terasa lemas, untung saja saat ini dia terduduk. Matanya semakin terasa perih. Ia tertunduk lemas, menyembunyikan airmatanya yang sudah terbendung. Aku harus kuat,Harus!, ia terus mencoba menyemagati dirinya sendiri.

“Lalu kapan kamu mau berangkat, Sel?”

Sella menatap Kev yang terus tertunduk. Tidak ada reasi sedikitpun yang ditunjukkan lelaki berusia 20tahun ini. “Lusa, Pah. Dion sudah mengurus semuanya.” Jawabnya pelan. Suaranya lembut membuat semua orang yang berada di ruang keluarga harus benar-benar memusatkan perhatikan kepadanya, termasuk Kev.

“Kamu ada kuliah Kev?” Tanya Mamanya.

  Kev menggeleng, masih dengan tertunduk.

 “Kalau begitu kamu yang mengantar adikmu ke bandara ya?” Tanya Papa, tapi Kev tahu itu bukanlah kalimat pertanyaan melainkan perintah untuknya. “Papa dan Mama ngga bisa mengantar Sella.” Sambungnya lagi.

Kev mengangkat kepalanya, menatap Papa, Mama, dan Sella secara bergantian. Dadanya semakin terasa sesak. Ia merasa seperti baru dihantam oleh benda berat tepat didadanya. Bagaimana bisa ia mengantar Sella sedangkan ia merasa sangat sulit untuk melepas adiknya yang cantik ini. Ia tidak mengerti kenapa semua menjadi sesulit ini. “Tapi pa….” Kev mencoba mengelak.

“Ayolah, Kev. Bersikap dewasa.” Pinta Mamanya memotong ucapan Kev.

Pertahanan Kev sudah hancur. Ia berlari meninggalkan keluarganya diruang tengah tanpa pamit. Hal yang tidak pernah diperbolehkan oleh keluarganya, terutama Papanya yang sangat disiplin. Ia terus berlari menaiki anak tangga rumahnya, menghiraukan panggilan Mamanya dan tatapan kecewa Papahnya. Airmatanya terus mengalir begitu saja, Kenapa harus menangis? Bukannya aku sudah sering ditinggal atau dikhianati perempuan? Kenapa semuanya menjadi sangat sulit?, Kev terus bertanya dalam hatinya. Kenapa perasaannya semakin tak menentu?

Minggu, 25 Agustus 2013

Melewatkanmu.

Melewatkanmu. Mungkin sebuah kesalahan. Satu kesalahan yang tak pernah aku sadari. Tapi, kini aku sadar, memang tak ada yang sepertimu. Tak ada yang mempu memberikan kesan seperti kau memberikan kesan untuk sosokmu dalam hidupku. Aku sadar, jika kini semua sudah terlambat. Aku sadar, jika kini tak ada lagi rasa seperti dahulu. Dan aku sangat sadar, aku takkan pernah bisa membujukmu untuk kembali bersamaku  dan menghadirkan rasa itu dihatimu. Dan satu yang harusnya aku sadar, kini kau sudah bersamanya.

Dahulu, sering aku abaikan pesanmu. Sering aku abaikan panggilanmu. Sering aku tak acuhkan kau. Dan sangat sering membuatmu hanya seperti tempat curhatku. Tapi, kau tak pernah keberatan untuk hal itu. Kau tak pernah meninggalkanu karena hal itu. Dengan setia kau selalu menungguku, mengingatkanku, menantikan kabar dariku. Dan sisi kebodohanku adalah, yang tak pernah sadar bahwa kau selalu menunggu ucapan hangat dan kabar baikku. Kau yang selalu berusaha untuk menghiburku, dikala rasa jenuhku menghampiri. Tak pernah ada kata bosan untuk segala cerita yang berujung tentangnya. Tak pernah ada marah untuk segala tingkah konyolku, hanya saja terkadang aku bisa merasakan rasa khawatirmu yang membuatmu kacau. Dan kini, hanya rasa rindu yang datang ketika aku mengingatnya.

Ketika aku meyakinkan hatiku untuknya, ternyata kau meyakinkan hatimu untukku. Tapi, tak pernah ada kata yang terucap untuk itu. Hanya sebuah pertemanan biasa yang terjalin, entah apa yang membuatmu melakukan itu. Tapi, aku hanya merasa kau tak ingin merusak semuanya. Ketika aku merasa merasa terasingkan dari yang lain, kau selalu mengulurkan tanganmu, menerimaku dengan segala hal yang aku punya, membuatku merasa nyaman. Dan kau tak pernah melihat kekuranganku. Yang kau tahum hanya senyumku adalah penghiburmu. Dan selalu ada rindu saat aku tak ada didekatmu.

Kau  tak pernah berniat meninggalkanku. Tak pernah aku lihat seakan kau jenuh denganku. Semua terjadi karenaku. Aku yang memulai. Bukan karena tak lagi membutuhkanmu, tak mengharapkan kehadiranmu lagi dalam hari-hariku. Dan bukan karena aku mulai jenuh dengan kebersamaan kita. Hanya saja, menurutku ada yang menjadi prioritas diantara orang-orang disekitarku. Dan meninggalkanu adalah salahsatu bentuk pengorbananku. Entah pantas atau tidak disebut dengan pengorbanan, ketika kau tersakiti?

Meninggalkanmu tanpa sebuah alasan yang jelas dan pergi begitu saja, itu caraku yang akhirnya merusak semuanya. Membiarkanmu memandangku dengan tatapan nanar, kini membiarkanmu berfikiran aku memang sama seperti mereka. Dan itu cukup membuatku lega, meski tak benar-benar lega. Tapi, ternyata semuanya tidak seperti yang aku fikirkan. Kalian dengan seenaknya berjalan keluar dari segala pengorbananku. Merusak segala arti pengorbanan yang aku lakukan. Dan kini, semua benar-benar tak ada lagi nama yang pantas disebut dengan pengorbanan.

Kini, aku hanya berdiri jauh dari kalian. Berdiri sendiri direrumputan hijau. Memperhatikan segala kebahagian yang tercipta untuk kalian. Mendengar segala tawa bahagia kalian. Kini, tak ada lagi uluran tanganmu layaknya dahulu. Aku sendiri. Sendiri menikmati segalanya. Aku yang berkorban dan aku yang terkorbankan, mungkin ungkapan itu pas untuk aku teriakkan. Entah kapan saat itu tiba? Bergabung dengan kalian yang tak pernah mengerti rasa ini sesungguhnya. Aku hanya terdiam, saat aku sadar kini tak ada lagi sosok dirimu disampingku. Bermain dengan rerumputan yang bergoyang, mungkin sedikit menghiburku. Tapi tidak mengusir rasa sakit dan sepi ini. Andai aku tak melewatkamu, apa semuanya akan tetap sama?

Selasa, 13 Agustus 2013

Cinta Datang Terlambat - Maudy Ayunda


Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa
Cinta datang terlambat

Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…

Just For You- Dinda feat. Abdul & The Coffe Theory


Dirimu teman terbaikku
Yang mengerti yang ku mau
Yang ku suka, yang ku benci

Dan dirimu satu yang terbaik
Yang pernah aku miliki
Saat ini sampai nanti

Just for you i give you all my heart
I give you all the sweetest things
Cause you’re the one and the best i ever have

Just for you i give you all my love
I give you all that i can give
Cause you’re the one and the best i ever have
Just for you

Dirimu (oooh) teman terbaikku
Yang mengerti yang ku mau
Yang ku suka dan ku benci

Dan dirimu (oooh) satu yang terbaik
Yang pernah aku miliki
Saat ini sampai nanti

Just for you i give you all my heart
I give you all the sweetest things
Cause you’re the one and the best i ever have

Just for you i give you all my love
I give you all that i can give
Cause you’re the one and the best i ever have
Just for you

Just for you i give you all my heart
I give you all the sweetest things
Cause you’re the one and the best i ever have

Just for you i give you all my love
I give you all that i can give
Cause you’re the one and the best i ever have

Just for you (just for you, just for you)
Ooo you’re the one
Just for you (just for you, just for you)
And the best i ever have, just for you

Diqof.................Apa kabar kalian?


Diqof. Hei guys, apa yang bisa gue tulis disini tentang kita?

Diamond In Quendom Of Freedom. Apa itu? Kita pun ngga ngerti, yaaa coba tanyakan kepada sang pembuat. Dhita. Awal namanya SPMB, Sang Personil Mega Bintang. Asli, keren abis kan nama itu?? Gue masih inget, pertama dikasih tahu nama SPMB itu pas gue lagi piket. Nah anak-anak sering ngomongin SPMB. Karena satu dan banyak hal, ya sebut aja: kita dikritik oleh The Tharink (seinget gue tulisannya begitu ya), dengan alasan sudah menjiplak nama buatan Babab. Yaudah deh, dhita akhirnya ngeganti itu nama. Ngga butuh waktu lama, buat Dhita nemu nama baru yang bagus dan keren buat kelompok kita. Dan itu lah hasilnya, DIQOF.

Banyak yang nanya diqof itu apasih? Dan jujur, sampe sekarang gue masih bingung apa itu arti namanya. Ya, tapi siapa yang peduli? Ada juga yang nanya, Diqof itu geng? Untuk hal itu, gue sedikit keberatan sih kalo kita dibilang geng. Diqof itu tanpa sengaja dibikin. Gini, mari kita simak sejarah singkat yang super duber singkat ala gue:

Pas itu, Dhita, Keke, Gue, Selvi, Wina, Rizka baru aja naik kekelas 8. Gue sama Wina kelas 84, dan mereka berempat masuk kekelas 81. Dikarenakan gue sama Wina yang masih belum kenal sama anak-anak kelas 84 pada masa awal-awal masuk. Ya jadilah gue dan Wina senantiasa berkunjung kekelas 81 yang notabennya kelas temen-temen kita. Tapi, jujur awalnya gue ngga kenal sama si Selvi. Hihi.

Kita waktu itu sering ngumpulnya dideket Lab TIK lantai 3. Nah disitu, istilah anak gaul mah basecam kita. Terus, menjelang mau ulangan, kita ngadain belajar bareng gitu. Tapi, ya namanya manusia, belajarnya cuma berapa menit sedangkan ngobrolnya dari awalnya ngomongin apa lama-lama semuanya diomongin. Bahkan, Rizka pernah usul buat bikin daftar list setiap yang kita omongin.

Ya kurang lebih kaya gitu deh. Kita ngga pernah ngerayain secara spesifik kapan Diqof lahir. Toh yang bikin aja gue rasa lupa.  Iya ngga dit? Apalah arti perayaan itu?

Sekarang udah ketahun berapa guys Diqof ada? Berapa kejadian yang kalian inget tentang Diqof?
Gue kangen banget sama kalian. Kangen. Kangen mampir ke wm setiap pulang pengembangan diri. Hei, inget nggak waktu kita ngadain multicall? Janjian mau telepon-teleponan jam berapa? Siapin paket teleponnya. Janjian pake kartu xl. Dan sekarang, siapa yang masih bertahan pake xl? Nyeplokin Selvi di wm. Argh. I really missed that.

Kita sekarang udah jauh, jarang banget komunikasi. Nggak pernah ngumpul yang bener-bener berenam lagi. Tapi, suatu saat kita harus ngumpul lagi ya. Gue mau ketawa-ketawa bareng kalian pas kita ngulang cerita pas SMP dulu. Harus. Kita harus ngumpul lagi nanti, suatu saat. Bahkan kalo kita udah lulus, kita harus ketemu………. Sukses ujian buat Diqof! Semangaaat!

Ini pas istirahat pengembangan diri.

Surat Untuk Anakku.


Aku masih ingat, betapa bahagianya diriku saat mengetahui ibumu mengandung, dahulu. Masih aku ingat, berapa bahagianya aku lalui hari-hari dengan penantian akan kehadiranmu. Waktu terus berputar. Hari kian berganti dengan cepat. Dan, sampai waktu itu tiba aku masih sangat menantikanmu. Perut ibumu semakin besar seiring bergantinya bulan. Dan semua impianku kini ada didepan mata, ibumu akan bergulat dengan rasa sakit untuk menghadirkan kau ada dibumi ini, sayang.  Jantungku berdegub kencang, detakan hebat yang tak pernah aku rasakan sebelumnya itu takkan pernah aku lupakan, nak. Deguban jantungku berhenti saat suara tangisanmu mulai tedengar. Detakan itu mulai berganti dengan tangisan bahagiaku. Kini, aku menjadi seorang ayah.

Terimakasih, telah Kau hadirkan pangeran kecil dihidupku. Aku terus bersyukur tanpa henti. Menatap wajah kecil yang masih berwarna merah digendonganku ini. Dan lagi-lagi airmataku meleleh. Aku bahagia, sangat bahagia.

Aku melalui hari-hariku dengan semangat baru. Aku bisa merasakan kau membawakanku suatu semangat dan kebahagian yang tak bisa aku jelaskan. Lelah bekerja tak membuatku lupa akan kehadiranmu. Dengan segala tenaga yang tersisa, aku selalu melihatmu di waktu istirahatku.

Kini, aku sadar, waktu telah berputar dengan cepat. Usiamu sudah tak kecil lagi. Menginjak dewasa, kau sudah dewasa sekarang, Nak. Tak adalagi pangeran kecilku yang merengek saat aku membuka pintu, tak ada lagi pangeran kecilku yang merengek karena tak aku belikan mainan. Kini, aku cukup mengenang saat kau berlari-lari dengan pedang-pedangan ditanganku, bersembunyi dibalik pohon meski sebenarnya tanpa aku harus bersusah payah mencarimu, aku sudah dapat menemukanmu karena tawa riangmu.

Nak, jika aku boleh jujur, aku merindukanmu. Merindukan saat bermain bersamamu. Aku rindu melihatmu yang tenggelam dalam lelap tidurmu. Aku rindu mendengarkan segala ceritamu. Aku rindu disambut dengan pelukan hangatmu saat aku tiba dirumah. Tapi, disatu sisi, aku kini tersadar, tak akan mungkin aku mendapatkan semuanya selalu. Kau sudah besar, mampu memilih jalanmu sendiri.

Hanya satu pesanku, jaga dirimu baik-baik. Ingatlah aku selalu seiring kau melangkahkan kakimuJ

                                                                                                                                       Biggest love.
               

                                                                                                                Ur Superhero!