Dahulu, sering aku abaikan pesanmu. Sering aku abaikan
panggilanmu. Sering aku tak acuhkan kau. Dan sangat sering membuatmu hanya
seperti tempat curhatku. Tapi, kau tak pernah keberatan untuk hal itu. Kau tak
pernah meninggalkanu karena hal itu. Dengan setia kau selalu menungguku,
mengingatkanku, menantikan kabar dariku. Dan sisi kebodohanku adalah, yang tak
pernah sadar bahwa kau selalu menunggu ucapan hangat dan kabar baikku. Kau yang
selalu berusaha untuk menghiburku, dikala rasa jenuhku menghampiri. Tak pernah
ada kata bosan untuk segala cerita yang berujung tentangnya. Tak pernah ada
marah untuk segala tingkah konyolku, hanya saja terkadang aku bisa merasakan
rasa khawatirmu yang membuatmu kacau. Dan kini, hanya rasa rindu yang datang
ketika aku mengingatnya.
Ketika aku meyakinkan hatiku untuknya, ternyata kau
meyakinkan hatimu untukku. Tapi, tak pernah ada kata yang terucap untuk itu. Hanya
sebuah pertemanan biasa yang terjalin, entah apa yang membuatmu melakukan itu. Tapi,
aku hanya merasa kau tak ingin merusak semuanya. Ketika aku merasa merasa
terasingkan dari yang lain, kau selalu mengulurkan tanganmu, menerimaku dengan
segala hal yang aku punya, membuatku merasa nyaman. Dan kau tak pernah melihat
kekuranganku. Yang kau tahum hanya senyumku adalah penghiburmu. Dan selalu ada
rindu saat aku tak ada didekatmu.
Kau tak pernah
berniat meninggalkanku. Tak pernah aku lihat seakan kau jenuh denganku. Semua terjadi
karenaku. Aku yang memulai. Bukan karena tak lagi membutuhkanmu, tak
mengharapkan kehadiranmu lagi dalam hari-hariku. Dan bukan karena aku mulai
jenuh dengan kebersamaan kita. Hanya saja, menurutku ada yang menjadi prioritas
diantara orang-orang disekitarku. Dan meninggalkanu adalah salahsatu bentuk
pengorbananku. Entah pantas atau tidak disebut dengan pengorbanan, ketika kau
tersakiti?
Meninggalkanmu tanpa sebuah alasan yang jelas dan pergi
begitu saja, itu caraku yang akhirnya merusak semuanya. Membiarkanmu memandangku
dengan tatapan nanar, kini membiarkanmu berfikiran aku memang sama seperti
mereka. Dan itu cukup membuatku lega, meski tak benar-benar lega. Tapi,
ternyata semuanya tidak seperti yang aku fikirkan. Kalian dengan seenaknya
berjalan keluar dari segala pengorbananku. Merusak segala arti pengorbanan yang
aku lakukan. Dan kini, semua benar-benar tak ada lagi nama yang pantas disebut
dengan pengorbanan.
Kini, aku hanya berdiri jauh dari kalian. Berdiri sendiri
direrumputan hijau. Memperhatikan segala kebahagian yang tercipta untuk kalian.
Mendengar segala tawa bahagia kalian. Kini, tak ada lagi uluran tanganmu
layaknya dahulu. Aku sendiri. Sendiri menikmati segalanya. Aku yang berkorban
dan aku yang terkorbankan, mungkin ungkapan itu pas untuk aku teriakkan. Entah kapan
saat itu tiba? Bergabung dengan kalian yang tak pernah mengerti rasa ini
sesungguhnya. Aku hanya terdiam, saat aku sadar kini tak ada lagi sosok dirimu
disampingku. Bermain dengan rerumputan yang bergoyang, mungkin sedikit
menghiburku. Tapi tidak mengusir rasa sakit dan sepi ini. Andai aku tak
melewatkamu, apa semuanya akan tetap sama?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.