Selasa, 27 Agustus 2013

My brother is My love.


Kev tediam ditempatnya. Ia hanya memfungsikan dirinya sebagai pendengar, mungkin tak berkata apa-apa bisa lebih memudahkan semuanya. Tapi, nyatanya tidak semudah itu, dadanya semakin terasa sesak. Lututnya mulai terasa lemas, untung saja saat ini dia terduduk. Matanya semakin terasa perih. Ia tertunduk lemas, menyembunyikan airmatanya yang sudah terbendung. Aku harus kuat,Harus!, ia terus mencoba menyemagati dirinya sendiri.

“Lalu kapan kamu mau berangkat, Sel?”

Sella menatap Kev yang terus tertunduk. Tidak ada reasi sedikitpun yang ditunjukkan lelaki berusia 20tahun ini. “Lusa, Pah. Dion sudah mengurus semuanya.” Jawabnya pelan. Suaranya lembut membuat semua orang yang berada di ruang keluarga harus benar-benar memusatkan perhatikan kepadanya, termasuk Kev.

“Kamu ada kuliah Kev?” Tanya Mamanya.

  Kev menggeleng, masih dengan tertunduk.

 “Kalau begitu kamu yang mengantar adikmu ke bandara ya?” Tanya Papa, tapi Kev tahu itu bukanlah kalimat pertanyaan melainkan perintah untuknya. “Papa dan Mama ngga bisa mengantar Sella.” Sambungnya lagi.

Kev mengangkat kepalanya, menatap Papa, Mama, dan Sella secara bergantian. Dadanya semakin terasa sesak. Ia merasa seperti baru dihantam oleh benda berat tepat didadanya. Bagaimana bisa ia mengantar Sella sedangkan ia merasa sangat sulit untuk melepas adiknya yang cantik ini. Ia tidak mengerti kenapa semua menjadi sesulit ini. “Tapi pa….” Kev mencoba mengelak.

“Ayolah, Kev. Bersikap dewasa.” Pinta Mamanya memotong ucapan Kev.

Pertahanan Kev sudah hancur. Ia berlari meninggalkan keluarganya diruang tengah tanpa pamit. Hal yang tidak pernah diperbolehkan oleh keluarganya, terutama Papanya yang sangat disiplin. Ia terus berlari menaiki anak tangga rumahnya, menghiraukan panggilan Mamanya dan tatapan kecewa Papahnya. Airmatanya terus mengalir begitu saja, Kenapa harus menangis? Bukannya aku sudah sering ditinggal atau dikhianati perempuan? Kenapa semuanya menjadi sangat sulit?, Kev terus bertanya dalam hatinya. Kenapa perasaannya semakin tak menentu?


Kev terduduk dibalkon kamarnya. Udara malam sangat terasa sangat merasuk kedalam tulang rusuknya. Sudah sejak dua jam yang lalu, ia hanya terduduk menatap langitnya yang sudah gelap. Sebenarnya, tidak ada yang bisa ia lihat selain warna hitam yang gelap dilangit. Semakin gelap ketika ia mengingat keputusan Sella untuk melanjutkan kuliah di Amerika. Meninggalkannya begitu saja, saat ia sedang berusaha meyakinkan hatinya.

“Kak?” Panggil Sella yang berada disampingnya. Entah sejak kapan, ia berdiri disamping Kev yang sedang hancur. “Bisa kita bicara?” Tanya lembut. Hatinya pun terasa sesak, sulit melewati ini. Tapi, ia sudah memutuskannya.

“Apa maumu?” Tanya Kev jutek. Matanya masih menatap langit malam yang tak dihiasi bintang-bintang.

“Aku ingin kau melupakan semuanya. Bukankah Mama dan Papa sudah meminta agar kita mencoba menghilangkan semua rasa ini?” Katanya menunduk. Kata-katanya tersusun dan terpilih, ia hafal sekali bagaimana Kev yang mudah tersinggung dengan sedikit perkataan salah.

Kev tertunduk. Malas sekali meneruskan perbincangan yang tak pernah usai ini. “Lalu apa dengan kepergianmu bisa membuat kita saling melupakan?” Tanyanya datar. “Aku tidak yakin.”

Sella terhenyak. Ia tak pernah mendapatkan ucapan dingin seperti ini dari Kev. Yang ia kenal hanyalah Kev yang selalu punya cara untuk tersenyum. Tapi, beberapa bulan yang lalu semuanya hilang. Kev menjadi sosok yang pendiam, dingin. Dalam waktu yang cepat, semua sudah merubah sosok Kev. Kini ia bukan Kev yang ceria, kini hari-harinya lebih banyak dihiasi dengan kebungkamannya, hanya senyuman—terpaksa—yang ia berikan untuk setiap harinya.

                Hari itu adalah awal semua perubahan terjadi. Tidak ada lagi tawa yang menghiasi hari Sella dan Kev sejak saat itu. Mimic tegang tergambar dari kedua wajah insan yang sedang dimabuk cinta ini. Kev tahu ini salah, tapi ia juga tahu semua ini benar. Rasanya kepada adiknya, Sella sudah tidak bisa lagi ia bendung. Rasa cemas akan kehadiran Sellapun sudah hal yang biasa ia rasakan. Rasa rindu yang tak terucap pun menghiasi hari-harinya saat Sella tak ada disisinya. Ternyata, tidak hanya Kev yang merasakannya, Sella pun merasakan hal yang sama. Kadang, rasa cemburu hinggap saat Kev mengajak teman perempuannya bermain kerumah. Tidak pernah ada kata yang jelas, untuk segala rasa yang ada saat itu.

Hari itu mereka memutuskan untuk berterus terang kepada kedua orangtua mereka. Sulit memang untuk mengakuinya, tapi Kev sadar, semua tidak akan seperti ini terus. Mereka tidak akan terus berlari dari segala kenyataan yang ada. Dan perasaan ini pun tidak akan bisa selalu disembunyikan. Seperti yang ia sudah duga sebelumnya, orangtuanya sangat marah mendengar kejujuran dua anaknya. Bahkan, hampir dua minggu Papa mendiamkan mereka, hingga akhirnya Sella yang mengalah. Ia tidak bisa terus seperti ini, ia tidak ingin membuat keluarganya hancur. Setelah berfikkir panjang, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika. Meninggalkan semuanya dengan luka, ya ia sangat terluka. Tapi, ia lebih terluka saat melihat semuanya hancur seperti ini.

“Aku ingin istirahat. Kau boleh keluar.” Kata Kev memecahkan fikiran Sella yang sedang mengingat semuanya.

“Kalau Lusa kakak memang ngga bisa nganterin aku. Aku bisa berangkat sendiri.” Kata Sella mencoba membiasakan dirinya, ia tidak boleh terlihat lemah. Semua ini sudah menjadi keputusannya.

~°°~°~°~

Sella dan Kev hanya saling sibuk dengan kegiatannya. Kev mengemudikan mobilnya, sedangkan Sella sibuk membalaskan mention dari akun twitternya. Tidak ada kata yang terucap sejak tadi. Hening. Sesekali mereka saling bertatapan tapi pada saat itu juga, ia membuang tatapannya kesembarang arah. Mereka tidak ingin terlihat lemah satu sama lain. Tapi, ternyata mereka bahkan sangat terlihat lemah dengan kegiatannya ini.

“Apa yang akan kau lakukan di Amerika?” Tanya ambigu Kev. Kev mulai bosan dengan keadaan sejak tadi.

“Kuliah.” Jawabnya. Bahkan tanpa Sella menjawab pun, ia sudah tahu apa tujuan Sella ke Amerika. Ya, selain untuk menghindar dari masalah yang ada.

“Selain itu?” Tanyanya lagi. “Mencari pacar bule mungkin?” Tanya Kev asal.

Sella tertawa pelan mendengar pertanyaan Kev. Ia terdengar seperti cemburu tapi ia tidak tahu harus seperti apa. “Mungkin. Kalau ada kenapa tidak dimanfatkan.”

Kev menatap Sella datar. Andai, Sella tahu perasaan macam apa yang sedang ada dihatinya.

Mereka sudah berada di Airport. Satu jam lagi pesawat Sella akan berangkat. Sella menatap lelaki yang kini ada dihadapannya, Kev terlihat sangat menawan. Ganteng, tentu saja. Ia merasakan hatinya mulai bergejolak tak menentu. Hatinya terasa sakit lagi. Sangat sakit saat ia harus sadar akan tempat dimana mereka berada kini. Sella harus sadar bahwa ia akan merindukan lelaki jangkung ini.

“Boleh aku minta kau memelukku?” Tanya Sella menatap ragu. “Sebagai kakak……….” Katanya lagi.

Kev sadar, ia hanya seorang kakak untuk Sella, adik kecilnya yang selalu merengek ini. Tanpa ragu Kev memeluk Sella. Ia akan sangat mengkhawatirkan adiknya ini. Ia sangat tahu bagaimana Sella, dan hal itu tidak akan bisa membuatnya tenang.

“Aku akan menjaga diriku baik-baik. Jangan khawatirkan aku!” Katanya seakan bisa mengerti fikiran Kev. “Tidak akan ada yang aku izinkan untuk merusak semua yang aku punya.”

Kev tersenyum mendengar ucapan penuh semangat Sella. Gadis ini sangat terlihat sedang menghibur dirinya dan dirinya sendiri.

“Aku pergi bukan untuk lari, tapi untuk menyelesaikan semuanya. Jaga Papah, Mama ya kak. Aku janji, aku takkan mengecewakan kalian.” Katanya dengan suara yang semakin bergetar. Hatinya semakin tak menentu. “Aku menyayangimu.”

“Aku juga menyayangimu.” Kev melepas pelukan adiknya. Tersenyum dan membiarkan Sella meninggalkannya berdiri sendiri. “Juga mencintaimu, Sel.” Katanya pelan saat Sella sudah berada jauh dari tempatnya berdiri.

~°°~°~°

Kev tahu apa yang ia harus lakukan sekarang. Menjemput cintanya, mungkin itu yang bisa ia katakan. Orangtuanya sudah mempersiapkan semuanya, keberangkatan tidak akan bisa gagal (lagi) untuk hari ini. Cukup minggu lalu, ia gagal untuk memberikan surprise kepada sang pujaan hatinya. Kini, tekadnya sudah bulat. Ia ingat, kata-kata Sella ‘tidak ada yang aku izinkan untuk merusak semua yang aku punya.’ Ya aku takkan mengizinkan siapapun merusaknya, hari ini.

“Kabarin kita kalau kamu sudah sampai sana.” Pesan Mama sebelum Kev mulai melangkahkan kakinya dengan mantap.

Kev tersenyum penuh harap. Sudah lama, ia tidak senyum penuh semangat seperti ini. Hari ini, semuanya seakan kembali. Kini, berbagai alasannya untuk tetap tersenyum kembali hadir, pulang dari perjalanan jauhnya.

Setelah menikmati masa penerbangan yang cukup panjang, kini ia bisa menatap Bandara Internasional San Fransisco. Ia menghembuskan nafas leganya. Ia menikmati pemandangan sekeliling yang mulai dipadati oleh pendatang dari luar negri. Terlihat norak, tapi ini memang perjalanan pertama kalinya ke Amerika. Kini, ia berada didepan pintu apartemen yang ditujunya. Semoga ia ada, dan surprise ini tidak terlihat sia-sia, Kev terus berdoa sejak tadi. Tak lama setelah ia berdiri dan baru saja ingin menekan bel, si pemilik apartemen membuka pintunya.

“Hai.” Satu kata pertama yang terucap saat si Pemilik Apartemen menatapnya heran.

“Sedang apa disini?” Tanyanya .

“Kau ingin keluar?” Tanya Kev tak menghiraukan pandangan bingung perempuan dihadapannya.

“Tidak. Ayo masuk!” Katanya mempersilakan masuk. “Apa Papah dan Mamah tahu kau kesini?” Tanyanya terus berjalan menuju kulkas untuk menyediakan Kev minuman.

“Mereka yang menyuruhku untuk kesini.” Katanya riang. “Aku sudah tahu semua. Mengapa kau tak bicara kalau kau mengetahui semuanya? Kenapa kau malah menghindar?” Tanya Kev menyerang. “Apa memang kau ingin untuk menjauh dariku? Apa kata-katamu saat dulu itu hanya sebuah penghibur untukku, Sel?”

Sella terdiam sesaat, hatinya yang sudah mulai biasa, kini terasa tersayat lagi. “Aku hanya ingin kau mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Aku hanya seorang anak panti asuhan yang Papah dan Mama ambil.” Katanya dingin. Ia terduduk lemas jauh dari Kev. “Aku hanya ingin kau merasa bahagia.” Katanya lirih.

“Apa dengan seperti ini aku terlihat bahagia?” Tanyanya.

Sella terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan berkata apa lagi. Hatinya semakin tak bisa diajak kompromi.

“Kau melakukan kesalahan. Apa kau merasa aku bahagia? Bodoh. Mana mungkin aku bahagia tanpamu.” Katanya dengan nada tetap santai, kini ia lebih bisa mengendalikan emosinya. “Dan apa pelarianmu ini berhasil? Apa kau sudah melupakanku?” Tanyanya lagi.

Sella masih terdiam. Aku tak melupakanmu, takkan bisa. Dan perasaan ini semakin mendalam ketika aku ingat saat-saat kita bersama. Katanya dalam hati.

Kev mendekati perempuan yang tertunduk lemah didekat meja makannya. Menggenggam tangannya dengan lembut dan pasti. “Hanya bersama kau, aku akan bahagia.” Katanya manis. Ia terduduk berlutut dihadapan gadis yang ia cintai ini. “Menikahlah denganku.” Pintanya.

Sella tersenyum. Ia bahagia mendengar setiap ucapan manis Kev. Ia memeluk erat lelaki yang dicintainya ini. Tidak ada katanya bisa ia jelaskan untuk saat ini, kecuali bahagia. Ia sangat bahagia.

SELESAI~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.