Kev
tediam ditempatnya. Ia hanya memfungsikan dirinya sebagai pendengar, mungkin
tak berkata apa-apa bisa lebih memudahkan semuanya. Tapi, nyatanya tidak
semudah itu, dadanya semakin terasa sesak. Lututnya mulai terasa lemas, untung
saja saat ini dia terduduk. Matanya semakin terasa perih. Ia tertunduk lemas,
menyembunyikan airmatanya yang sudah terbendung. Aku harus kuat,Harus!, ia terus mencoba menyemagati dirinya
sendiri.
“Lalu
kapan kamu mau berangkat, Sel?”
Sella
menatap Kev yang terus tertunduk. Tidak ada reasi sedikitpun yang ditunjukkan
lelaki berusia 20tahun ini. “Lusa, Pah. Dion sudah mengurus semuanya.” Jawabnya
pelan. Suaranya lembut membuat semua orang yang berada di ruang keluarga harus
benar-benar memusatkan perhatikan kepadanya, termasuk Kev.
“Kamu
ada kuliah Kev?” Tanya Mamanya.
Kev
menggeleng, masih dengan tertunduk.
“Kalau
begitu kamu yang mengantar adikmu ke bandara ya?” Tanya Papa, tapi Kev tahu itu
bukanlah kalimat pertanyaan melainkan perintah untuknya. “Papa dan Mama ngga bisa
mengantar Sella.” Sambungnya lagi.
Kev
mengangkat kepalanya, menatap Papa, Mama, dan Sella secara bergantian. Dadanya
semakin terasa sesak. Ia merasa seperti baru dihantam oleh benda berat tepat
didadanya. Bagaimana bisa ia mengantar Sella sedangkan ia merasa sangat sulit
untuk melepas adiknya yang cantik ini. Ia tidak mengerti kenapa semua menjadi
sesulit ini. “Tapi pa….” Kev mencoba mengelak.
“Ayolah,
Kev. Bersikap dewasa.” Pinta Mamanya memotong ucapan Kev.
Pertahanan
Kev sudah hancur. Ia berlari meninggalkan keluarganya diruang tengah tanpa
pamit. Hal yang tidak pernah diperbolehkan oleh keluarganya, terutama Papanya
yang sangat disiplin. Ia terus berlari menaiki anak tangga rumahnya,
menghiraukan panggilan Mamanya dan tatapan kecewa Papahnya. Airmatanya terus
mengalir begitu saja, Kenapa harus
menangis? Bukannya aku sudah sering ditinggal atau dikhianati perempuan? Kenapa
semuanya menjadi sangat sulit?, Kev terus bertanya dalam hatinya. Kenapa
perasaannya semakin tak menentu?
Kev
terduduk dibalkon kamarnya. Udara malam sangat terasa sangat merasuk kedalam
tulang rusuknya. Sudah sejak dua jam yang lalu, ia hanya terduduk menatap
langitnya yang sudah gelap. Sebenarnya, tidak ada yang bisa ia lihat selain
warna hitam yang gelap dilangit. Semakin gelap ketika ia mengingat keputusan
Sella untuk melanjutkan kuliah di Amerika. Meninggalkannya begitu saja, saat ia
sedang berusaha meyakinkan hatinya.
“Kak?”
Panggil Sella yang berada disampingnya. Entah sejak kapan, ia berdiri disamping
Kev yang sedang hancur. “Bisa kita bicara?” Tanya lembut. Hatinya pun terasa
sesak, sulit melewati ini. Tapi, ia sudah memutuskannya.
“Apa
maumu?” Tanya Kev jutek. Matanya masih menatap langit malam yang tak dihiasi
bintang-bintang.
“Aku
ingin kau melupakan semuanya. Bukankah Mama dan Papa sudah meminta agar kita
mencoba menghilangkan semua rasa ini?” Katanya menunduk. Kata-katanya tersusun
dan terpilih, ia hafal sekali bagaimana Kev yang mudah tersinggung dengan
sedikit perkataan salah.
Kev
tertunduk. Malas sekali meneruskan perbincangan yang tak pernah usai ini. “Lalu
apa dengan kepergianmu bisa membuat kita saling melupakan?” Tanyanya datar. “Aku
tidak yakin.”
Sella
terhenyak. Ia tak pernah mendapatkan ucapan dingin seperti ini dari Kev. Yang ia
kenal hanyalah Kev yang selalu punya cara untuk tersenyum. Tapi, beberapa bulan
yang lalu semuanya hilang. Kev menjadi sosok yang pendiam, dingin. Dalam waktu
yang cepat, semua sudah merubah sosok Kev. Kini ia bukan Kev yang ceria, kini
hari-harinya lebih banyak dihiasi dengan kebungkamannya, hanya senyuman—terpaksa—yang
ia berikan untuk setiap harinya.
Hari
itu adalah awal semua perubahan terjadi. Tidak ada lagi tawa yang menghiasi
hari Sella dan Kev sejak saat itu. Mimic tegang tergambar dari kedua wajah insan
yang sedang dimabuk cinta ini. Kev tahu ini salah, tapi ia juga tahu semua ini
benar. Rasanya kepada adiknya, Sella sudah tidak bisa lagi ia bendung. Rasa cemas
akan kehadiran Sellapun sudah hal yang biasa ia rasakan. Rasa rindu yang tak
terucap pun menghiasi hari-harinya saat Sella tak ada disisinya. Ternyata,
tidak hanya Kev yang merasakannya, Sella pun merasakan hal yang sama. Kadang,
rasa cemburu hinggap saat Kev mengajak teman perempuannya bermain kerumah. Tidak
pernah ada kata yang jelas, untuk segala rasa yang ada saat itu.
Hari
itu mereka memutuskan untuk berterus terang kepada kedua orangtua mereka. Sulit
memang untuk mengakuinya, tapi Kev sadar, semua tidak akan seperti ini terus. Mereka
tidak akan terus berlari dari segala kenyataan yang ada. Dan perasaan ini pun
tidak akan bisa selalu disembunyikan. Seperti yang ia sudah duga sebelumnya,
orangtuanya sangat marah mendengar kejujuran dua anaknya. Bahkan, hampir dua
minggu Papa mendiamkan mereka, hingga akhirnya Sella yang mengalah. Ia tidak
bisa terus seperti ini, ia tidak ingin membuat keluarganya hancur. Setelah berfikkir
panjang, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika. Meninggalkan semuanya
dengan luka, ya ia sangat terluka. Tapi, ia lebih terluka saat melihat semuanya
hancur seperti ini.
“Aku
ingin istirahat. Kau boleh keluar.” Kata Kev memecahkan fikiran Sella yang
sedang mengingat semuanya.
“Kalau
Lusa kakak memang ngga bisa nganterin aku. Aku bisa berangkat sendiri.” Kata
Sella mencoba membiasakan dirinya, ia tidak boleh terlihat lemah. Semua ini
sudah menjadi keputusannya.
~°°~°~°~
Sella
dan Kev hanya saling sibuk dengan kegiatannya. Kev mengemudikan mobilnya,
sedangkan Sella sibuk membalaskan mention
dari akun twitternya. Tidak ada kata
yang terucap sejak tadi. Hening. Sesekali mereka saling bertatapan tapi pada
saat itu juga, ia membuang tatapannya kesembarang arah. Mereka tidak ingin
terlihat lemah satu sama lain. Tapi, ternyata mereka bahkan sangat terlihat
lemah dengan kegiatannya ini.
“Apa
yang akan kau lakukan di Amerika?” Tanya ambigu Kev. Kev mulai bosan dengan
keadaan sejak tadi.
“Kuliah.”
Jawabnya. Bahkan tanpa Sella menjawab pun, ia sudah tahu apa tujuan Sella ke
Amerika. Ya, selain untuk menghindar dari masalah yang ada.
“Selain
itu?” Tanyanya lagi. “Mencari pacar bule mungkin?” Tanya Kev asal.
Sella
tertawa pelan mendengar pertanyaan Kev. Ia terdengar seperti cemburu tapi ia
tidak tahu harus seperti apa. “Mungkin. Kalau ada kenapa tidak dimanfatkan.”
Kev
menatap Sella datar. Andai, Sella tahu perasaan macam apa yang sedang ada
dihatinya.
Mereka
sudah berada di Airport. Satu jam lagi pesawat Sella akan berangkat. Sella menatap
lelaki yang kini ada dihadapannya, Kev terlihat sangat menawan. Ganteng, tentu
saja. Ia merasakan hatinya mulai bergejolak tak menentu. Hatinya terasa sakit
lagi. Sangat sakit saat ia harus sadar akan tempat dimana mereka berada kini.
Sella harus sadar bahwa ia akan merindukan lelaki jangkung ini.
“Boleh
aku minta kau memelukku?” Tanya Sella menatap ragu. “Sebagai kakak……….” Katanya
lagi.
Kev
sadar, ia hanya seorang kakak untuk Sella, adik kecilnya yang selalu merengek
ini. Tanpa ragu Kev memeluk Sella. Ia akan sangat mengkhawatirkan adiknya ini. Ia
sangat tahu bagaimana Sella, dan hal itu tidak akan bisa membuatnya tenang.
“Aku
akan menjaga diriku baik-baik. Jangan khawatirkan aku!” Katanya seakan bisa
mengerti fikiran Kev. “Tidak akan ada yang aku izinkan untuk merusak semua yang
aku punya.”
Kev
tersenyum mendengar ucapan penuh semangat Sella. Gadis ini sangat terlihat
sedang menghibur dirinya dan dirinya sendiri.
“Aku
pergi bukan untuk lari, tapi untuk menyelesaikan semuanya. Jaga Papah, Mama ya
kak. Aku janji, aku takkan mengecewakan kalian.” Katanya dengan suara yang
semakin bergetar. Hatinya semakin tak menentu. “Aku menyayangimu.”
“Aku
juga menyayangimu.” Kev melepas pelukan adiknya. Tersenyum dan membiarkan Sella
meninggalkannya berdiri sendiri. “Juga mencintaimu, Sel.” Katanya pelan saat
Sella sudah berada jauh dari tempatnya berdiri.
~°°~°~°
Kev
tahu apa yang ia harus lakukan sekarang. Menjemput cintanya, mungkin itu yang
bisa ia katakan. Orangtuanya sudah mempersiapkan semuanya, keberangkatan tidak
akan bisa gagal (lagi) untuk hari ini. Cukup minggu lalu, ia gagal untuk
memberikan surprise kepada sang pujaan hatinya. Kini, tekadnya sudah bulat. Ia ingat,
kata-kata Sella ‘tidak ada yang aku
izinkan untuk merusak semua yang aku punya.’ Ya aku takkan mengizinkan
siapapun merusaknya, hari ini.
“Kabarin
kita kalau kamu sudah sampai sana.” Pesan Mama sebelum Kev mulai melangkahkan
kakinya dengan mantap.
Kev
tersenyum penuh harap. Sudah lama, ia tidak senyum penuh semangat seperti ini. Hari
ini, semuanya seakan kembali. Kini, berbagai alasannya untuk tetap tersenyum
kembali hadir, pulang dari perjalanan jauhnya.
Setelah
menikmati masa penerbangan yang cukup panjang, kini ia bisa menatap Bandara
Internasional San Fransisco. Ia menghembuskan nafas leganya. Ia menikmati
pemandangan sekeliling yang mulai dipadati oleh pendatang dari luar negri. Terlihat
norak, tapi ini memang perjalanan pertama kalinya ke Amerika. Kini, ia berada
didepan pintu apartemen yang ditujunya. Semoga
ia ada, dan surprise ini tidak terlihat sia-sia, Kev terus berdoa sejak
tadi. Tak lama setelah ia berdiri dan baru saja ingin menekan bel, si pemilik
apartemen membuka pintunya.
“Hai.”
Satu kata pertama yang terucap saat si Pemilik Apartemen menatapnya heran.
“Sedang
apa disini?” Tanyanya .
“Kau
ingin keluar?” Tanya Kev tak menghiraukan pandangan bingung perempuan
dihadapannya.
“Tidak.
Ayo masuk!” Katanya mempersilakan masuk. “Apa Papah dan Mamah tahu kau kesini?”
Tanyanya terus berjalan menuju kulkas untuk menyediakan Kev minuman.
“Mereka
yang menyuruhku untuk kesini.” Katanya riang. “Aku sudah tahu semua. Mengapa kau
tak bicara kalau kau mengetahui semuanya? Kenapa kau malah menghindar?” Tanya
Kev menyerang. “Apa memang kau ingin untuk menjauh dariku? Apa kata-katamu saat
dulu itu hanya sebuah penghibur untukku, Sel?”
Sella
terdiam sesaat, hatinya yang sudah mulai biasa, kini terasa tersayat lagi. “Aku
hanya ingin kau mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Aku hanya seorang anak
panti asuhan yang Papah dan Mama ambil.” Katanya dingin. Ia terduduk lemas jauh
dari Kev. “Aku hanya ingin kau merasa bahagia.” Katanya lirih.
“Apa
dengan seperti ini aku terlihat bahagia?” Tanyanya.
Sella
terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan berkata apa lagi. Hatinya semakin
tak bisa diajak kompromi.
“Kau
melakukan kesalahan. Apa kau merasa aku bahagia? Bodoh. Mana mungkin aku
bahagia tanpamu.” Katanya dengan nada tetap santai, kini ia lebih bisa
mengendalikan emosinya. “Dan apa pelarianmu ini berhasil? Apa kau sudah
melupakanku?” Tanyanya lagi.
Sella
masih terdiam. Aku tak melupakanmu,
takkan bisa. Dan perasaan ini semakin mendalam ketika aku ingat saat-saat kita
bersama. Katanya dalam hati.
Kev
mendekati perempuan yang tertunduk lemah didekat meja makannya. Menggenggam
tangannya dengan lembut dan pasti. “Hanya bersama kau, aku akan bahagia.”
Katanya manis. Ia terduduk berlutut dihadapan gadis yang ia cintai ini. “Menikahlah
denganku.” Pintanya.
Sella
tersenyum. Ia bahagia mendengar setiap ucapan manis Kev. Ia memeluk erat lelaki
yang dicintainya ini. Tidak ada katanya bisa ia jelaskan untuk saat ini,
kecuali bahagia. Ia sangat bahagia.
SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.