Aku hanya terdiam dibawah senja.
Warnanya yang mulai meredup membuat siluet tubuhku direrumputan ini. Sudah
hampir 3 jam aku hanya terduduk disini, menikmati kesendirianku, menikmati
segala hembusan angin yang menenangkan. Tenang. Tak ada gemuruh yang berarti.
Mungkin, manusia bukan makhluk yang bisa hidup sendiri tapi aku lebih memilih sendiri.
Sendiri menikmati waktu yang terus berputar, sendiri menikmati segala rasa yang
tak menentu. Aku sadar, aku perlu seseorang tapi mungkin tidak untuk saat ini.
Hati ini masih terlalu sakit untuk menatap keramaian manusia yang berlalu
lalang.
“Mau sampai kapan seperti ini?”
Samar-samar aku mendengar suara yang tak asing ditelingaku.
Tak ada jawaban yang aku berikan.
Aku sengaja membuat pertanyaannya menjadi menggantung.
“Kiana, Jangan menjadi orang
jahat, dia sudah meminta maaf kepadamu. “ Katanya lagi seakan menghukumku.
Aku menatapnya yang sudah berada
disampingku, tatapan tak terima tentunya. ‘Jika
kau yang ada diposisiku, apa kau takkan seperti ini?’ Tanya ku dalam hati.
“Oke, maaf.” Katanya. “Dia memang
belum meminta maaf, tapi aku yakin maksud dia baik. Hanya saja caranya yang
tidak tepat.”Sambungnya cepat.
“Sebaik-baiknya kebohongan apa
ada yang jauh lebih baik dari kejujuran.”
Aku merasakan dadaku yang mulai sesak, mengatur nafasku yang tak
beraturan. “Satu tahun aku hidup dengan segala sandiwar bodoh yang dia
skenariokan. Apapun alasannya, aku tetap mengerti dan tidak akan mengerti.”
Kataku dengan
suara yang mulai bergetar.
Dino terdiam, dia tahu bagaimana
gemuruh hatiku yang mulai datang kembali. Bersahabat selama 5 tahun membuat
kami cukup mengerti satu sama lain, seperti saat ini.
Aku benci ketika semua kembali
hadir, segala ingatan tentang kebohongan yang sangat aku kutuk itu kembali
menghantuiku. Sina rela membuat scenario yang sangat cantik untuk membohongiku.
Entah apa alasannya, yang aku tahu hanya selama satu tahun ini, aku seperti
orang bodoh yang dengan mudahnya Sina bohongi. Dengan mudahnya aku percaya
segala ucapan Sina.
Masih sangat sulit untuk
dilupakan, ketika aku menerima sebuah pesan singkat yang mengatasnamakan
Runo—Orang yang aku cintai. Aku sangat senang saat itu, bayangkan saja sudah
cukup lama aku mendambakan itu dan kini, aku menerimanya. Apa ada alasan untuk
aku tidak merasa senang? Kami dekat saat itu. Sangat dekat, tapi hanya melalui
sebuah telepon. Ya, kami sering berpapasan tapi kami tidak berteguran. Aku
sempat ragu akan kehadirannya, tapi ternyata dia dengan mudah mengucapkan
segala janji manisnya. Percaya atau tidak, dengan mudah kau akan mempercayai segala
ucapan orang yang kau sayangi. Semuanya indah. Sampai akhirnya, semua
terbongkar. Runo yang sering mengirim pesan singkat dan janji-janji manis itu
bukanlah Runo yang asli. Dia adalah Sina. Sahabatku. Ya, aku dibohongi.
“Aku tahu, tidak mudah untuk memaafkan.
Tapi, persahabatan kalian apa tidak lebih penting dibandingkan masalah ini?”
Dengan segala kekuatanku yang
tersisa, aku menahan airmataku yang sudah berada dikelopak mataku.
“Bukan karena aku pacarnya Sina,
tapi karena kalian sahabatku. Dan Runo juga sahabatku.” Katanya.
Rasa sakit itu kembali hadir
ketika aku sadar, seseorang disampingku sedang memposisikan dirinya sebagai
pacar pembohong itu, bukan sahabatku.
“Aku pergi.” Kataku bergegas
bangkit. “Saranku, Jangan hubungi aku jika hanya untuk membicarakan hal seperti
ini lagi. Ini bukan urusanmu.” Kataku melanjutkan langkahku dengan cepat.
°~°~°°~°~°
“Runo.” Ucap lelaki dihadapanku
dengan gagahnya.
Wajahku mulai tersipu malu,
tanganku digenggamnya erat. “Keira.” Kataku berusaha bersikap seperti biasa.
“Dino sudah cerita banyak
tentangmu.” Katanya ramah, dengan senyumnya yang membuatku tak berkutik.
Aku melirik Dino, dia mempamerkan
giginya yang putih bersih. Canggung, sangat. “Dia memang tukang gosip.” Kataku
asal.
Runo adalah mahasiswa jurusan
teknik. Dia tidak tampan, hanya saja bentuk wajahnya yang oval dengan warna kulitnya
yang sawo matang membuatnya terlihat istimewa dihatiku. Matanya yang bulat
hitam selalu mampu menghadirkan rasa ingin menatapnya. Rambutnya hitam pekat
diatur sedemikian rupa, dan saat dia tertawa, kau akan melihat dua lesung pipi
menghiasi wajahnya. Indahnya ciptaanMu Tuhan.
Sabtu sore kami habiskan disebuah
café disudut kota ini. Menikmati waktu yang terus berputar. Kami bercengkerama
dengan santai. Runo mendominasi perbincangan. Banyak hal yang ia bagikan
tentang kami, pengetahuan saat ia ikut menjadi relewan disebuah dusun yang terkena
banjir bandang, saat ia menginap disebuah desa perdalaman karena ingin membantu
desa tersebut. Runo termasuk aktivis kampus, sudah banyak acara social yang ia
lakukan. Tidak ada kesan sombong diwajahnya, ia hanya ingin berbagi tentang
pengalamannya yang mulia itu.
“Terimakasih. Sudah mengantarku.”
Kataku saat kami sudah berada didepan rumahku. “Mampir dulu?”
Dia menatap jam tangan yang ia
letakkan dilengan kanannya. “Sudah malam, lain kali saja.”
Aku tersenyum tak keberatan.
“Yasudah, aku pulang duluan.
Salam untuk keluargamu.” Katanya berlalu meninggalkanku yang masih tersenyum
puas.
°~°~°°~°~°
Aku menatap wajahnya yang sedang
tertidur. Tidur diatas rerumput memang hobinya, dan menemaninya adalah hobi
baruku. Meski harus menunggunya tertidur dan memandanginya secara diam-diam
bukanlah hal yang buruk untukku. Wajahnya yang manis mampu mengusir segala rasa
bosanku.
Sudah 2bulan kami dekat. Kami menjadi
akrab setelah hari perkenalan itu, tak pernah lagi aku lewati sabtu malam
sendiri semenjak hadirnya dia. Runo selalu bersedia menjemputku untuk pergi
kekampus bersama. Tak jarang, ia rela menunggu dikampus hingga malam saat
kelasku tak kunjung kelar. Runo selalu memintaku untuk menemaninya saat ia
futsal, membawakannya minuman untuk mengusir dahaganya. Andai, aku tak membuang waktuku hanya untuk kebohongan itu, mungkin aku
sudah bahagia sejak lama. Kataku pelan.
“Kau berbicara denganku?” Runo
membuka matanya dan merenggangkan kedua tangannya keatas.
“Hmmm……..” Aku terdiam sejenak. “Tidak,
aku sedang membaca buku ini.” Kataku asal.
Dia tertawa.
Hening. Tak ada perbincangan
lagi. Aku tak tahu harus memulai seperti apa. Dan Runo asik dengan makalah
tebalnya yang akan ia baca.
“Run.” Panggilku mencairkan
suasana. “Kamu kenapa ngga punya cewe?” Tanyaku canggung.
Runo menatapku aneh. Dan masih
tak ada jawaban untuk pertanyaanku. Bodoh, mengapa aku tanyakan itu?, Aku
mengutuk kebodohanku.
“Kenapa aku harus punya pacar?”
“Banyak cewek yang suka kepadamu.
Apa tidak ada yang menarik dimatamu?”
Runo tersenyum, manis sekali. “Ada.”
“Lalu”
“Maksudmu?” Ia menanyakan
pertanyaanku yang aneh. “Kami dekat saat ini.”
Aku tersipu. Ada satu bisikan yang
berkata akulah yang dimaksud Runo.
“Kau menyukainya?”
“Mungkin.” Katanya
bersinar-sinar. “Hei, sejak tadi kau mengintrogasiku. Lalu bagaimana dengan
kau?”
Aku bingung, ingin aku menjawab
bahwa dia yang aku kagumi sejak lama. Tapi, sisi gengsiku menolaknya. “Lagi
tidak ingin berhubungan serius.” Kataku bohong (lagi). Tuhan, Maafkan aku yang
harus selalu berbohong.
Ia tersenyum, dan selalu semakin
terlihat manis. “Bagus kalo begitu.”
°~°~°°~°~°
|
To: Runo
|
|
Text: Selamat ulangtahun, Run. Semoga Tuhan
memberikan segala hal yang terbaik untukmu. Aku selalu mendoakanmu. Jangan
lupa nanti malam, aku menunggumu dicafe biasa. Kiana.
|
Hari ini adalah hari ulangtahun
Runo. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan yang istimewa untuknya. Tekadku sudah
bulat, dihari ulangtahunnya aku akan mengungkapkan segala hal yang sudah lama
aku pendam. Sudah cukup aku menunggu, 4bulan kami dekat, Runo tak kunjung
mengatakan apa yang aku harapkan. Dan dihari yang special untuknya, akulah yang
akan memulai semuanya.
“Kamu terlihat cantik.” Ucap Mama
saat melihat aku yang tak percaya diri didepan kaca.
Sudah hampir setengah jam aku
hanya memperhatikan keseluruhan tubuhku dicermin. Hatiku berdegub kencang tak
menentu. Ku tarik nafasku dalam-dalam, aku hembuskan. Dan Tuhan, kenapa aku
ingin menyerah?
“Sudah, kakakmu sudah menunggu
daritadi.” Kata Mama. “Apapun hasil yang kamu terima, setidaknya tidak ada yang
terpendam lagi.”
Aku mencoba mengusir segala
keraguan dan kebimbangan dihatiku.
Aku menempati sebuah meja yang
berada dipojok ruangan. Tempat yang sudah aku pesan sebelumnya ini adalah
tempat pertama kali ia memegang tanganku. Sudah satu jam lebih aku menunggunya
dimeja ini. Banyak orang yang berlalu lalang membuatku semakin grogi.
Fikiranku semakin tak karuan saat
satu persatu pengunjung mulai meninggalkan café. Ingin menangis dibawah hujan
yang sedang mengguyur diluar saat ini.
“Maaf, aku terlambat.” Suara itu
aku dengar, dengan segera aku menaikan wajahku, menghilangkan segala kegrogian
yang ada. “Apa ini? Untukku?” Tanyanya canggung.
“Selamat ulangtahun. Ini untukmu.”
Kataku dengan tenang. “Kau ingin tiup lilin?”
Dia tertawa malu, “Boleh.”
Aku menyanyikannya lagu selamat
ulangtahun secara pelan. Aku cukup bahagia saat menyadari, Senyum Runo sedari
tadi tak berubah.
“Run.”Panggilku.
Ia menatapku. “Ada apa?”
“Ada yang ingin aku katakan.” Aku
menarik nafasku. “Sebenernya aku menyukai……………”
“Sayang, katanya sebentar. Aku nunggu
dimobilnya bete tau.” Seorang perempuan menghampiri kami, ia memakai gaun yang
sangat indah. Hiasan make up diwajahnya sangat natural. Sangat cantik.
Tadi perempuan itu memanggil Runo
‘sayang’? Dadaku terasa sakit. Seperti baru aku terima sebuah pukulan yang
sangat keras dihatiku. Mataku sudah panas, berkaca-kaca.
“Maaf ya.” Jawab Runo masih
sangat ramah. “Kiana, kenalin ini Mioni. Perempuan yang waktu itu aku
ceritakan. Ingat kan?” Runo menatap Mioni, mereka terlihat bahagia. “Ini Kiana.
Temen baik aku, say.” Katanya memperkenalkan aku.
Aku sakit. Lututku sangat lemas.
Dadaku semakin sesak, semakin sulit untuk bernafas. Airmataku sudah tergenang. Bersiap
akan menetes secara perlahan-lahan. Aku bodoh, menganggapnya menyukaiku. Aku bodoh
saat aku selalu berharap ia menganggapku lebih. Hanya teman baik. TEMAN BAIK,
Kiana. HANYA TEMAN BAIK!
“Aku harus segera pulang. Ada
yang ingin dibicarakan lagi?” Tanyanya.
Aku menggeleng, lidahku tidak
mampu mengeluarkan kata-kata saat ini. Bahkan saat ini aku ingin ia segera
menghilang dari pandanganku.
“Aku duluan ya. Terimakasih untuk
kejutan ini.” Katanya berlalu.
Aku terdiam ditempatku. Airmata
tak lagi bisa aku tahan. Malam ini, malam yang aku fikir akan membuatku bahagia
bahkan hanya menyisakan kesedihan. Aku menangis ditempatku terduduk. Mengutuk segala
kebodohan diriku selama ini. Aku ingat ketika aku merasa bahagia saat tahu Runo
menungguku dikampus saat malam hari. Aku ingat ketika kami menghabiskan setiap
malam sabtu bersama. Aku ingat ketika kami terduduk menatap bintang ditaman,
dan saat hujan datang ia selalu merelakan jaketnya untukku. Aku ingat ketika
aku selalu menatap wajahnya yang sedang tertidur. Aku ingat ketika……………..
Airmataku semakin deras. Dadaku sangat
sakit. Aku ingin bernafas seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada rasa sesak
ini. Aku ingin membuka mataku seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada
kegelisahan yang hadir. Dan aku ingin hidup seperti aku sebelum mengenalmu, tak
ada rasa sakit ini.
Oh my. Kenapa endingnya begini sih huhuhu emang ya cewek tuh sukanya mem-php-kan dirinya sendiri. Keep writing ya! :)
BalasHapusbtw, temenan baik yuk di blog. udah aku follow ya blogmu :))
Hehe iya kak, ini request-an temen. Cerita dia yang aku buat jadi cerpen gitu.
BalasHapusAku juga sudah mem-follow kamu:-)