Sabtu, 26 Oktober 2013

Tentang Aku dan Rasa ini.

Aku hanya terdiam dibawah senja. Warnanya yang mulai meredup membuat siluet tubuhku direrumputan ini. Sudah hampir 3 jam aku hanya terduduk disini, menikmati kesendirianku, menikmati segala hembusan angin yang menenangkan. Tenang. Tak ada gemuruh yang berarti. Mungkin, manusia bukan makhluk yang bisa hidup sendiri tapi aku lebih memilih sendiri. Sendiri menikmati waktu yang terus berputar, sendiri menikmati segala rasa yang tak menentu. Aku sadar, aku perlu seseorang tapi mungkin tidak untuk saat ini. Hati ini masih terlalu sakit untuk menatap keramaian manusia yang berlalu lalang.

“Mau sampai kapan seperti ini?” Samar-samar aku mendengar suara yang tak asing ditelingaku.

Tak ada jawaban yang aku berikan. Aku sengaja membuat pertanyaannya menjadi menggantung.

“Kiana, Jangan menjadi orang jahat, dia sudah meminta maaf kepadamu. “ Katanya lagi seakan menghukumku.

Aku menatapnya yang sudah berada disampingku, tatapan tak terima tentunya. ‘Jika kau yang ada diposisiku, apa kau takkan seperti ini?’ Tanya ku dalam hati.

“Oke, maaf.” Katanya. “Dia memang belum meminta maaf, tapi aku yakin maksud dia baik. Hanya saja caranya yang tidak tepat.”Sambungnya cepat.

“Sebaik-baiknya kebohongan apa ada yang jauh lebih baik dari kejujuran.”  Aku merasakan dadaku yang mulai sesak, mengatur nafasku yang tak beraturan. “Satu tahun aku hidup dengan segala sandiwar bodoh yang dia skenariokan. Apapun alasannya, aku tetap mengerti dan tidak akan mengerti.” Kataku dengan 
suara yang mulai bergetar.

Dino terdiam, dia tahu bagaimana gemuruh hatiku yang mulai datang kembali. Bersahabat selama 5 tahun membuat kami cukup mengerti satu sama lain, seperti saat ini.

Aku benci ketika semua kembali hadir, segala ingatan tentang kebohongan yang sangat aku kutuk itu kembali menghantuiku. Sina rela membuat scenario yang sangat cantik untuk membohongiku. Entah apa alasannya, yang aku tahu hanya selama satu tahun ini, aku seperti orang bodoh yang dengan mudahnya Sina bohongi. Dengan mudahnya aku percaya segala ucapan Sina.

Masih sangat sulit untuk dilupakan, ketika aku menerima sebuah pesan singkat yang mengatasnamakan Runo—Orang yang aku cintai. Aku sangat senang saat itu, bayangkan saja sudah cukup lama aku mendambakan itu dan kini, aku menerimanya. Apa ada alasan untuk aku tidak merasa senang? Kami dekat saat itu. Sangat dekat, tapi hanya melalui sebuah telepon. Ya, kami sering berpapasan tapi kami tidak berteguran. Aku sempat ragu akan kehadirannya, tapi ternyata dia dengan mudah mengucapkan segala janji manisnya. Percaya atau tidak, dengan mudah kau akan mempercayai segala ucapan orang yang kau sayangi. Semuanya indah. Sampai akhirnya, semua terbongkar. Runo yang sering mengirim pesan singkat dan janji-janji manis itu bukanlah Runo yang asli. Dia adalah Sina. Sahabatku. Ya, aku dibohongi.

“Aku tahu, tidak mudah untuk memaafkan. Tapi, persahabatan kalian apa tidak lebih penting dibandingkan masalah ini?”

Dengan segala kekuatanku yang tersisa, aku menahan airmataku yang sudah berada dikelopak mataku.

“Bukan karena aku pacarnya Sina, tapi karena kalian sahabatku. Dan Runo juga sahabatku.” Katanya.
Rasa sakit itu kembali hadir ketika aku sadar, seseorang disampingku sedang memposisikan dirinya sebagai pacar pembohong itu, bukan sahabatku.

“Aku pergi.” Kataku bergegas bangkit. “Saranku, Jangan hubungi aku jika hanya untuk membicarakan hal seperti ini lagi. Ini bukan urusanmu.” Kataku melanjutkan langkahku dengan cepat.
°~°~°°~°~°

“Runo.” Ucap lelaki dihadapanku dengan gagahnya.

Wajahku mulai tersipu malu, tanganku digenggamnya erat. “Keira.” Kataku berusaha bersikap seperti biasa.

“Dino sudah cerita banyak tentangmu.” Katanya ramah, dengan senyumnya yang membuatku tak berkutik.
Aku melirik Dino, dia mempamerkan giginya yang putih bersih. Canggung, sangat. “Dia memang tukang gosip.” Kataku asal.

Runo adalah mahasiswa jurusan teknik. Dia tidak tampan, hanya saja bentuk wajahnya yang oval dengan warna kulitnya yang sawo matang membuatnya terlihat istimewa dihatiku. Matanya yang bulat hitam selalu mampu menghadirkan rasa ingin menatapnya. Rambutnya hitam pekat diatur sedemikian rupa, dan saat dia tertawa, kau akan melihat dua lesung pipi menghiasi wajahnya. Indahnya ciptaanMu Tuhan.

Sabtu sore kami habiskan disebuah café disudut kota ini. Menikmati waktu yang terus berputar. Kami bercengkerama dengan santai. Runo mendominasi perbincangan. Banyak hal yang ia bagikan tentang kami, pengetahuan saat ia ikut menjadi relewan disebuah dusun yang terkena banjir bandang, saat ia menginap disebuah desa perdalaman karena ingin membantu desa tersebut. Runo termasuk aktivis kampus, sudah banyak acara social yang ia lakukan. Tidak ada kesan sombong diwajahnya, ia hanya ingin berbagi tentang pengalamannya yang mulia itu.

“Terimakasih. Sudah mengantarku.” Kataku saat kami sudah berada didepan rumahku. “Mampir dulu?”

Dia menatap jam tangan yang ia letakkan dilengan kanannya. “Sudah malam, lain kali saja.”

Aku tersenyum tak keberatan.

“Yasudah, aku pulang duluan. Salam untuk keluargamu.” Katanya berlalu meninggalkanku yang masih tersenyum puas.
 °~°~°°~°~°

Aku menatap wajahnya yang sedang tertidur. Tidur diatas rerumput memang hobinya, dan menemaninya adalah hobi baruku. Meski harus menunggunya tertidur dan memandanginya secara diam-diam bukanlah hal yang buruk untukku. Wajahnya yang manis mampu mengusir segala rasa bosanku.

Sudah 2bulan kami dekat. Kami menjadi akrab setelah hari perkenalan itu, tak pernah lagi aku lewati sabtu malam sendiri semenjak hadirnya dia. Runo selalu bersedia menjemputku untuk pergi kekampus bersama. Tak jarang, ia rela menunggu dikampus hingga malam saat kelasku tak kunjung kelar. Runo selalu memintaku untuk menemaninya saat ia futsal, membawakannya minuman untuk mengusir dahaganya. Andai, aku tak membuang waktuku hanya untuk kebohongan itu, mungkin aku sudah bahagia sejak lama. Kataku pelan.

“Kau berbicara denganku?” Runo membuka matanya dan merenggangkan kedua tangannya keatas.

“Hmmm……..” Aku terdiam sejenak. “Tidak, aku sedang membaca buku ini.” Kataku asal.

Dia tertawa.


Hening. Tak ada perbincangan lagi. Aku tak tahu harus memulai seperti apa. Dan Runo asik dengan makalah tebalnya yang akan ia baca.

“Run.” Panggilku mencairkan suasana. “Kamu kenapa ngga punya cewe?” Tanyaku canggung.

Runo menatapku aneh. Dan masih tak ada jawaban untuk pertanyaanku. Bodoh, mengapa aku tanyakan itu?, Aku mengutuk kebodohanku.

“Kenapa aku harus punya pacar?”

“Banyak cewek yang suka kepadamu. Apa tidak ada yang menarik dimatamu?”

Runo tersenyum, manis sekali. “Ada.”

“Lalu”

“Maksudmu?” Ia menanyakan pertanyaanku yang aneh. “Kami dekat saat ini.”

Aku tersipu. Ada satu bisikan yang berkata akulah yang dimaksud Runo.

“Kau menyukainya?”

“Mungkin.” Katanya bersinar-sinar. “Hei, sejak tadi kau mengintrogasiku. Lalu bagaimana dengan kau?”

Aku bingung, ingin aku menjawab bahwa dia yang aku kagumi sejak lama. Tapi, sisi gengsiku menolaknya. “Lagi tidak ingin berhubungan serius.” Kataku bohong (lagi). Tuhan, Maafkan aku yang harus selalu berbohong.

Ia tersenyum, dan selalu semakin terlihat manis. “Bagus kalo begitu.”

°~°~°°~°~°

To: Runo
Text: Selamat ulangtahun, Run. Semoga Tuhan memberikan segala hal yang terbaik untukmu. Aku selalu mendoakanmu. Jangan lupa nanti malam, aku menunggumu dicafe biasa. Kiana.

Hari ini adalah hari ulangtahun Runo. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan yang istimewa untuknya. Tekadku sudah bulat, dihari ulangtahunnya aku akan mengungkapkan segala hal yang sudah lama aku pendam. Sudah cukup aku menunggu, 4bulan kami dekat, Runo tak kunjung mengatakan apa yang aku harapkan. Dan dihari yang special untuknya, akulah yang akan memulai semuanya.

“Kamu terlihat cantik.” Ucap Mama saat melihat aku yang tak percaya diri didepan kaca.

Sudah hampir setengah jam aku hanya memperhatikan keseluruhan tubuhku dicermin. Hatiku berdegub kencang tak menentu. Ku tarik nafasku dalam-dalam, aku hembuskan. Dan Tuhan, kenapa aku ingin menyerah?

“Sudah, kakakmu sudah menunggu daritadi.” Kata Mama. “Apapun hasil yang kamu terima, setidaknya tidak ada yang terpendam lagi.”

Aku mencoba mengusir segala keraguan dan kebimbangan dihatiku.

Aku menempati sebuah meja yang berada dipojok ruangan. Tempat yang sudah aku pesan sebelumnya ini adalah tempat pertama kali ia memegang tanganku. Sudah satu jam lebih aku menunggunya dimeja ini. Banyak orang yang berlalu lalang membuatku semakin grogi.

Fikiranku semakin tak karuan saat satu persatu pengunjung mulai meninggalkan café. Ingin menangis dibawah hujan yang sedang mengguyur diluar saat ini.

“Maaf, aku terlambat.” Suara itu aku dengar, dengan segera aku menaikan wajahku, menghilangkan segala kegrogian yang ada. “Apa ini? Untukku?” Tanyanya canggung.

“Selamat ulangtahun. Ini untukmu.” Kataku dengan tenang. “Kau ingin tiup lilin?”

Dia tertawa malu, “Boleh.”

Aku menyanyikannya lagu selamat ulangtahun secara pelan. Aku cukup bahagia saat menyadari, Senyum Runo sedari tadi tak berubah.

“Run.”Panggilku.

Ia menatapku. “Ada apa?”

“Ada yang ingin aku katakan.” Aku menarik nafasku. “Sebenernya aku menyukai……………”

“Sayang, katanya sebentar. Aku nunggu dimobilnya bete tau.” Seorang perempuan menghampiri kami, ia memakai gaun yang sangat indah. Hiasan make up diwajahnya sangat natural. Sangat cantik.

Tadi perempuan itu memanggil Runo ‘sayang’? Dadaku terasa sakit. Seperti baru aku terima sebuah pukulan yang sangat keras dihatiku. Mataku sudah panas, berkaca-kaca.

“Maaf ya.” Jawab Runo masih sangat ramah. “Kiana, kenalin ini Mioni. Perempuan yang waktu itu aku ceritakan. Ingat kan?” Runo menatap Mioni, mereka terlihat bahagia. “Ini Kiana. Temen baik aku, say.” Katanya memperkenalkan aku.

Aku sakit. Lututku sangat lemas. Dadaku semakin sesak, semakin sulit untuk bernafas. Airmataku sudah tergenang. Bersiap akan menetes secara perlahan-lahan. Aku bodoh, menganggapnya menyukaiku. Aku bodoh saat aku selalu berharap ia menganggapku lebih. Hanya teman baik. TEMAN BAIK, Kiana. HANYA TEMAN BAIK!

“Aku harus segera pulang. Ada yang ingin dibicarakan lagi?” Tanyanya.

Aku menggeleng, lidahku tidak mampu mengeluarkan kata-kata saat ini. Bahkan saat ini aku ingin ia segera menghilang dari pandanganku.

“Aku duluan ya. Terimakasih untuk kejutan ini.” Katanya berlalu.

Aku terdiam ditempatku. Airmata tak lagi bisa aku tahan. Malam ini, malam yang aku fikir akan membuatku bahagia bahkan hanya menyisakan kesedihan. Aku menangis ditempatku terduduk. Mengutuk segala kebodohan diriku selama ini. Aku ingat ketika aku merasa bahagia saat tahu Runo menungguku dikampus saat malam hari. Aku ingat ketika kami menghabiskan setiap malam sabtu bersama. Aku ingat ketika kami terduduk menatap bintang ditaman, dan saat hujan datang ia selalu merelakan jaketnya untukku. Aku ingat ketika aku selalu menatap wajahnya yang sedang tertidur. Aku ingat ketika……………..

Airmataku semakin deras. Dadaku sangat sakit. Aku ingin bernafas seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada rasa sesak ini. Aku ingin membuka mataku seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada kegelisahan yang hadir. Dan aku ingin hidup seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada rasa sakit ini.

2 komentar:

  1. Oh my. Kenapa endingnya begini sih huhuhu emang ya cewek tuh sukanya mem-php-kan dirinya sendiri. Keep writing ya! :)

    btw, temenan baik yuk di blog. udah aku follow ya blogmu :))

    BalasHapus
  2. Hehe iya kak, ini request-an temen. Cerita dia yang aku buat jadi cerpen gitu.

    Aku juga sudah mem-follow kamu:-)

    BalasHapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.