Hai. Apa kabarmu? Lama tak berjumpa, lama tak berkomunikasi
denganmu membuatku selalu menerka-nerka kabarmu. Membuatku selalu mengecek status media
sosialmu. Maaf, aku lancang melakukan itu.
Bolehkah aku tetap memanggilmu dengan panggilan ‘kak’? Atau
kau mulai muak dengan panggilan akrabku untukmu itu?
Sepucuk surat ini aku bikin untuk menjelaskan semuanya.
Semuanya, tidak. Tidak semuanya. Hanya sebagian penjelasan yang mendasar. Jika ada
waktu, aku ingin bertemu denganmu. Bukan karena rinduku yang tak tertahan, tapi
aku ingin menjelaskan semuanya secara sejelas-jelasnya. Ingin menatap mata
bulat hitammu, agar aku tahu adakah kebencian dihatimu untukku? Atau masih
adakah rasa yang tak terucap itu untukku?
Pertama-tama, aku ingin mengucapkan maaf. Maaf karna telah
menyia-nyiakanmu. Ya, bisa dikatakan kalau aku telah menyia-nyiakanmu. Seandainya
kau tahu, aku tidak benar-benar meninggalkanmu begitu saja, aku masih
memperhatikanmu dalam wilayahku. Cukup lama aku melakukan itu, entah sampai
kapan. Semua aku lakukan karena rasa bersalahku terhadapmu. Meninggalkanmu tanpa
alasan yang pasti, mungkin kebodohanku. Tapi adakalanya kau harus menentukan
apa yang menurutnya lebih penting? Merelakan yang lain mungkin jalannya.
Mungkin kau tak mengerti, mengapa saat itu aku mulai
menjauhimu? Membuatmu agar seakan membenciku. Membuatmu agar tak menghubungiku
lagi. Semua aku lakukan, karena aku
ingin kau menjauhiku. Jangan berfikiran, aku tak menyenangi kehadiranmu. Semua
sengaja aku lakukan ketika semua mulai beranggapan kita memiliki hubungan
lebih. Aku benci ketika semua mulai menganggapku berbohong. Aku benci ketika
mereka mulai berbisik dibelakangku. Aku benci itu, dan aku sadar itu semua
karena dia menyukaimu. Bukan karenamu, tapi saat itu aku harus menentukan
pilihanku. Dan menjauhimu adalah
pilihanku.
Disurat yang tak tersampaikan ini, aku ingin memberitahumu
tentang apa yang tak pernah aku beritahu kepada siapapun. Aku rindu denganmu. Merindukan
perhatianmu. Merindukan caramu memperhatikanku. Merindukan cara tawamu dan aku
sadar aku merindukan semua yang berhubungan denganmu. Tak ada yang sepertimu,
menyerupai pun tak ada. Aku kini sendiri menatap segalanya. Tak mengerti harus
bercerita dengan siapa, tak ada yang mampu mendengar dan memberiku nasihat
sepertimu. Semua tentangmu, hanyalah milikmu.
Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu yang selalu aku
pungkiri? Benarkah kau menganggapku special? Benarkah kau menyimpan rasa yang
tak aku sadari? Maaf, sekali lagi aku ingin meminta maaf karena pernah tak
menghiraukan rasa itu. Aku hanya memperdulikan mereka, bahkan aku baru sadar,
aku tak memperdulikan hatiku.
Dan untuk kesekian kalinya, biarkan aku terus mengucapkan
maafku untukmu. Maaf untuk segala kebodohanku selama ini. Jika bisa aku ingin
mengulang semuanya. Membiarkanmu tetap ada disisiku, tapi ternyata terlalu egois jika aku harus
mengganggumu yang sudah bahagia tanpaku. Semoga kau bahagia, selalu bahagia.
Biarkan aku tetap menyimpan kenangan tentang kita yang tak pernah tergantikan
oleh kenangan apapun. Kau adalah bagian terindah dalam hidupku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.