Sabtu, 12 Oktober 2013

Sepucuk Surat tak tersampaikan.

Hai. Apa kabarmu? Lama tak berjumpa, lama tak berkomunikasi denganmu membuatku selalu menerka-nerka kabarmu.  Membuatku selalu mengecek status media sosialmu. Maaf, aku lancang melakukan itu.

Bolehkah aku tetap memanggilmu dengan panggilan ‘kak’? Atau kau mulai muak dengan panggilan akrabku untukmu itu?

Sepucuk surat ini aku bikin untuk menjelaskan semuanya. Semuanya, tidak. Tidak semuanya. Hanya sebagian penjelasan yang mendasar. Jika ada waktu, aku ingin bertemu denganmu. Bukan karena rinduku yang tak tertahan, tapi aku ingin menjelaskan semuanya secara sejelas-jelasnya. Ingin menatap mata bulat hitammu, agar aku tahu adakah kebencian dihatimu untukku? Atau masih adakah rasa yang tak terucap itu untukku?

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan maaf. Maaf karna telah menyia-nyiakanmu. Ya, bisa dikatakan kalau aku telah menyia-nyiakanmu. Seandainya kau tahu, aku tidak benar-benar meninggalkanmu begitu saja, aku masih memperhatikanmu dalam wilayahku. Cukup lama aku melakukan itu, entah sampai kapan. Semua aku lakukan karena rasa bersalahku terhadapmu. Meninggalkanmu tanpa alasan yang pasti, mungkin kebodohanku. Tapi adakalanya kau harus menentukan apa yang menurutnya lebih penting? Merelakan yang lain mungkin jalannya.

Mungkin kau tak mengerti, mengapa saat itu aku mulai menjauhimu? Membuatmu agar seakan membenciku. Membuatmu agar tak menghubungiku lagi.  Semua aku lakukan, karena aku ingin kau menjauhiku. Jangan berfikiran, aku tak menyenangi kehadiranmu. Semua sengaja aku lakukan ketika semua mulai beranggapan kita memiliki hubungan lebih. Aku benci ketika semua mulai menganggapku berbohong. Aku benci ketika mereka mulai berbisik dibelakangku. Aku benci itu, dan aku sadar itu semua karena dia menyukaimu. Bukan karenamu, tapi saat itu aku harus menentukan pilihanku.  Dan menjauhimu adalah pilihanku.


Disurat yang tak tersampaikan ini, aku ingin memberitahumu tentang apa yang tak pernah aku beritahu kepada siapapun. Aku rindu denganmu. Merindukan perhatianmu. Merindukan caramu memperhatikanku. Merindukan cara tawamu dan aku sadar aku merindukan semua yang berhubungan denganmu. Tak ada yang sepertimu, menyerupai pun tak ada. Aku kini sendiri menatap segalanya. Tak mengerti harus bercerita dengan siapa, tak ada yang mampu mendengar dan memberiku nasihat sepertimu. Semua tentangmu, hanyalah milikmu.

Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu yang selalu aku pungkiri? Benarkah kau menganggapku special? Benarkah kau menyimpan rasa yang tak aku sadari? Maaf, sekali lagi aku ingin meminta maaf karena pernah tak menghiraukan rasa itu. Aku hanya memperdulikan mereka, bahkan aku baru sadar, aku tak memperdulikan hatiku.

Dan untuk kesekian kalinya, biarkan aku terus mengucapkan maafku untukmu. Maaf untuk segala kebodohanku selama ini. Jika bisa aku ingin mengulang semuanya. Membiarkanmu tetap ada disisiku,  tapi ternyata terlalu egois jika aku harus mengganggumu yang sudah bahagia tanpaku. Semoga kau bahagia, selalu bahagia. Biarkan aku tetap menyimpan kenangan tentang kita yang tak pernah tergantikan oleh kenangan apapun. Kau adalah bagian terindah dalam hidupku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.