Hai. Apa
kabar kamu? Ini hanya pertanyaan basa-basi. Karena aku tahu kamu sedang
baik-baik saja. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan untukmu. Kamu tidak
ingin bertanya kabarku? Sudahlah, tidak penting. Tapi, yang harus kamu tahu. Aku tidak benar-benar baik saat kamu
menghilang dari pandanganku.
Kalo aja kamu
baca surat yang tak tersampai ini, kamu akan tahu apa yang aku rasakan selama
ini.
Dari mana
aku harus memulai?
Kamu ingat, saat
kita baru masuk SMK? Kita satu gugus. Awalnya biasa ngeliat kamu. Sampai akhirnya
aku ngerasa tatapanmu berbeda. Tatapan itu selalu mampu membuat pipiku merona. Sebelum
semuanya semakin besar, aku menapik rasa yang mulai tak menentu itu. Rasa dimana
aku selalu menantikan kehadiranmu. Rasa yang tak menentu saat kau mulai tak ada
dihadapanku. Rasa ini yang membuatku selalu menguping segala perkataanmu. Tapi,
ternyata aku salah. Semakin besar aku menampik segalanya, semakin besar rasa
itu hadir.
Aku melewati
hari-hari dengan rasa yang tak menentu, saat itu. Memendam semuanya sepanjang
semester pertama. Dan tatapan itu, aku masih nyaman dengan tatapannya untukku.
Setelah semuanya aku yakini semuanya, aku mulai memberanikan diri untuk
bercerita kepada teman-temanku. Tak ada kemajuan yang spesifik. Bahkan memang
tidak ada yang benar-benar berubah. Aku nyaman dengan segala praduga-ku
untukmu.
Kamu ingat,
ketika kita bermain. Kalo ada yang kalah harus dijitak, itu kesepakatan yang
kita buat. Hanya aku, kamu, dan salah satu teman. Akhirnya aku kalah. Tapi,
kamu ngga mau menjitakku. “Cowok ngga
boleh ngejitak cewek.” Hanya itu yang kau katakan saat temanku memaksamu
untuk menaati kesepakatan kita. Dan kau harus tahu, kata-kata yang keluar dari
suara halusmu mampu membuat aku melayang. Senang bukan main, tapi hanya
senyuman kecil yang aku tunjukan saat itu.
Tak pernah
berani menatap matamu secara langsung. Dan tak pernah berani membuka
pembicaraan yang panjang denganmu. Aku malu.
Semakin hari
rasa ini semakin besar. Aku semakin sadar, kalau ada sayang untukmu. Tapi, kau
masih saja (hanya) menatapku seperti itu. Tak ada tingkah yang menunjukkan kau
mempunyai rasa yang sama. Teman-temanku terus menyemangatiku. Sampai akhirnya,
aku tahu kau sudah punya pacar. Hancur, man. Hancur semua harapan yang sudah
aku buat. Aku jatuh saat aku sadar, aku hanya terbang tanpa sayap-sayapmu.
“Tapi, dia emang kalo ngeliat lu tuh
beda.”
“Dia lagi ngeliatin lu loh, Fan.”
“Tadi pas dia keluar dia kaya
ngelirik ke lu loh, Fan.”
Ucapan itu
yang selalu menyemangati aku. Entah, rasa ini tak pernah pergi. Aku masih saja
menantikan kehadiranmu tiap harinya. Menatapmu dalam wilayahku. Aku masih tersenyum
tak tergambarkan saat mendengar tawa renyahmu.
Semuanya
begitu saja, 2 tahun aku memendam semuanya. Mencintaimu dalam diamku.
Menantikan kehadiranmu. 2 tahun aku selalu mencari-cari kau saat kau tak ada. 2
tahun aku merasakan segalanya dalam kesendirianku. Berdiam tak pernah beranjak.
Hanya menunggumu yang tak datang. Hanya menunggumu yang hanya menatapku dengan
tatapan tak aku mengerti itu. 2 tahun lamanya aku nyaman dengan caraku
mencintaimu.
Dan, hingga
akhirnya. Semua memang benar-benar harus aku akhiri. Penantian yang tak
berujung ini hanya menjadi sia-sia. Kau mulai menghilang. Aku mulai tak dapat
menjangkau kabarmu. Aku mulai kehilangan jejakmu. Semunya kembali hancur. Dan kini
benar-benar hancur. Aku harus rela, segala harapan yang pernah aku gantung kini
harus aku lepaskan dan aku buang diatas air yang mengalir. Semuanya hancur.
Aku yang
mulai lemah tanpamu, menjadi tak menentu saat mendengar segala hal yang tak
menyenangkan tentangmu. Hatiku berontak saat telinga ini mendapatkan kabar yang
tak mengenakan tentangmu.
Semuanya sudah
berubah. Aku tak lagi menanti kehadiranmu. Aku fikir, aku berhasil
menghilangkan segala rasa yang tak terucap ini. Tapi, lagi-lagi aku salah. Aku
todak berhasil. Rasa itu mungkin memang tak sebesar yang terdahulu, tapi,
semangatku pun ikut pergi. Kau membawa beberapa persen semangatku. Aku baru
sadar, kau hadir dengan tawaran semangat untuk hari-hariku. Dan kini, aku harus
kehilangan semangat itu.
Bolehkah aku
meminta kepadamu, agar kau kembalikan semangatku itu? Aku hanya ingin
semangatku kembali.
Love.
Ur
Secret Admirer.
Secreet Admirer adalah orang yang ga bisa bedain cinta dan rahasia
BalasHapusMaksudnya? Rada ngga ngerti hehehe
BalasHapuswidih terharu bacanya teh, kalo udah gitu sebaiknya cepat cari yang baru sebelum kita sedih berkepanjangan
BalasHapusHehehe iyaa nih....
BalasHapus