Dalam
postingan kali ini, gue lagi ngga tahu mau ngapain. Besok libur dan akhirnya
gue memutuskan untuk berdiam diri didepan notebook ini *bukan bertapa ya.* Berdiam didepan notebook gue fikir bisa
mencurahkan segala kata-kata yang udah mau tercurah. Seperti yang pernah gue
bilang dalam http://fannysaufinaa.blogspot.com/2013/10/kenapa-menulis_19.html. Gue termasuk orang yang bisa mengungkapkan segala dengan
tulisan. Cara yang berbeda.
Gue termasuk
orang yang kepo. Entah apa alasan detailnya, yang gue tau cuma gue pengen
selalu ada disaat mereka butuh. Ya, kadang ngga tepat saatnya dan kekepoan yang
terlalu dalam itu ngga bagus. Gue sadar itu, tapi kekepoan gue muncul gitu aja
saat disekeliling gue ngga beres. Yang gue tahu hanya, gue pengen mereka selalu
bahagia, meski akhirnya itu mustahil.
Terkadang,
rasa yang gue sebut dengan care itu
memaksa gue mengeluarkan kata-kata yang terlalu ‘memojokkan’. Bukan berniat
untuk membuat mereka terpojok, hanya berniat membuka mata mereka. Gue bukan
tipe orang yang suka ngasih saran dengan kata-kata yang perez. Jujur itu yang lebih baik menurut gue. Menurut gue, masalah
ngga akan selesai dengan kata-kata yang perez,
semuanya harus terang-terangan.
Tapi nyatanya
gue salah. Iya gue tahu, gue salah.
Gue terlalu
ikut campur dalam urusan kalian. Ngga pernah mikirin apa yang kalian rasain
saat kalian minta pendapat dan denger pendapat dari gue. Gue salah ketika gue terlalu
kepo. Gue yang salah. Ini bukan urusan gue, tapi kenapa gue yang terlalu
mengambil posisi kedalamnya?
Maaf.
Maaf, karena
kekepoan gue. Maaf karena terlalu ikutcampur dalam segala hal. Maaf karena
terlalu mengambil posisi dalam masalahmu. Maaf untuk kata yang tak mengenakkan.
Maaf. Maaf dan sekali lagi maaf.
Tapi, jika
gue masih diperbolehkan untuk menjelaskan alasannya. Gue hanya ingin melihat
kalian bahagia. “Kalian berhak bahagia
dengan kebahagian kalian sendiri.” Itu yang selalu gue bilang kekalian. Ya,
karena emang kalian berhak bahagia. Gue selalu pengen ngelihat kalian
tersenyum. Gue ngga pengen kalian galau-galau (kaya gue). Hahahahaha. Mungkin
egois, saat gue cuma pengen cukup gue yang ngerasa galau, cukup gue yang selalu
ngerasa sendiri.
Apa gue
harus berubah? Menjadi cuek dan ngga peduli? Apa gue harus menghilangkan segala
sisi kekepoan gue? Gue ngga tau bisa atau nggak, tapi gue akan coba kalo
nyatanya itu lebih baik. Menjadi orang yang ngga terlalu ikut campur urusan
kalian. Ya, gue akan coba.
Satu pesan
gue kekalian:
Kebahagian kamu ada
ditangan kamu sendiri. Ketika semua orang sudah merasakan kebahagiannya, apa
kamu masih akan tetap terpuruk seperti ini? Kamu berhak untuk bahagia.
Menikmati kehidupan yang sesungguhnya.
Kamu juga segera hapus kesedihan tuh. Kamu juga berhak bahagia kan :))
BalasHapusHehehe Iya kak, Kita semua berhak bahagia=)
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMenurut gue: kepo itu manusiawi.
BalasHapusManusia selalu punya rasa keingintahuan yang tinggi. Kalo cuma cuek aja, pasti gak akan maju-maju. Dan, kepo itu juga dikaitkan sama kepedulian. Tapi, tergantung situasi juga sih. Yang dikepoin ngerasa terganggu atau nggak. Gitu. Hehehe.
Iya kak, hehe. Kepo emang udah dari sananya.=)
HapusGpp kepo selama ke-kepo-an itu masih di batas normal2 aja.
BalasHapusNggag usah jadi orang laen, kalo jadi diri sendiri itu jauh lebih nyaman, . Kalo ingin berubah, pelan2 aja, jangan memaksa. Pasti lama2 juga berubah, ya meskipun prosesnya akan lama sekali. It's ok!
InsyaAllah masih di normal kok.=)
Hapus