Senin, 11 November 2013

Maaf karena keingintahuanku.


Dalam postingan kali ini, gue lagi ngga tahu mau ngapain. Besok libur dan akhirnya gue memutuskan untuk berdiam diri didepan notebook ini *bukan bertapa ya.* Berdiam didepan notebook gue fikir bisa mencurahkan segala kata-kata yang udah mau tercurah. Seperti yang pernah gue bilang dalam http://fannysaufinaa.blogspot.com/2013/10/kenapa-menulis_19.html. Gue termasuk orang yang bisa mengungkapkan segala dengan tulisan. Cara yang berbeda.

Gue termasuk orang yang kepo. Entah apa alasan detailnya, yang gue tau cuma gue pengen selalu ada disaat mereka butuh. Ya, kadang ngga tepat saatnya dan kekepoan yang terlalu dalam itu ngga bagus. Gue sadar itu, tapi kekepoan gue muncul gitu aja saat disekeliling gue ngga beres. Yang gue tahu hanya, gue pengen mereka selalu bahagia, meski akhirnya itu mustahil.

Terkadang, rasa yang gue sebut dengan care itu memaksa gue mengeluarkan kata-kata yang terlalu ‘memojokkan’. Bukan berniat untuk membuat mereka terpojok, hanya berniat membuka mata mereka. Gue bukan tipe orang yang suka ngasih saran dengan kata-kata yang perez. Jujur itu yang lebih baik menurut gue. Menurut gue, masalah ngga akan selesai dengan kata-kata yang perez, semuanya harus terang-terangan.

Tapi nyatanya gue salah. Iya gue tahu, gue salah.


Gue terlalu ikut campur dalam urusan kalian. Ngga pernah mikirin apa yang kalian rasain saat kalian minta pendapat dan denger pendapat dari gue. Gue salah ketika gue terlalu kepo. Gue yang salah. Ini bukan urusan gue, tapi kenapa gue yang terlalu mengambil posisi kedalamnya?

Maaf.

Maaf, karena kekepoan gue. Maaf karena terlalu ikutcampur dalam segala hal. Maaf karena terlalu mengambil posisi dalam masalahmu. Maaf untuk kata yang tak mengenakkan. Maaf. Maaf dan sekali lagi maaf.

Tapi, jika gue masih diperbolehkan untuk menjelaskan alasannya. Gue hanya ingin melihat kalian bahagia. “Kalian berhak bahagia dengan kebahagian kalian sendiri.” Itu yang selalu gue bilang kekalian. Ya, karena emang kalian berhak bahagia. Gue selalu pengen ngelihat kalian tersenyum. Gue ngga pengen kalian galau-galau (kaya gue). Hahahahaha. Mungkin egois, saat gue cuma pengen cukup gue yang ngerasa galau, cukup gue yang selalu ngerasa sendiri.

Apa gue harus berubah? Menjadi cuek dan ngga peduli? Apa gue harus menghilangkan segala sisi kekepoan gue? Gue ngga tau bisa atau nggak, tapi gue akan coba kalo nyatanya itu lebih baik. Menjadi orang yang ngga terlalu ikut campur urusan kalian. Ya, gue akan coba.

Satu pesan gue kekalian:  
Kebahagian kamu ada ditangan kamu sendiri. Ketika semua orang sudah merasakan kebahagiannya, apa kamu masih akan tetap terpuruk seperti ini? Kamu berhak untuk bahagia. Menikmati kehidupan yang sesungguhnya.

7 komentar:

  1. Kamu juga segera hapus kesedihan tuh. Kamu juga berhak bahagia kan :))

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Menurut gue: kepo itu manusiawi.
    Manusia selalu punya rasa keingintahuan yang tinggi. Kalo cuma cuek aja, pasti gak akan maju-maju. Dan, kepo itu juga dikaitkan sama kepedulian. Tapi, tergantung situasi juga sih. Yang dikepoin ngerasa terganggu atau nggak. Gitu. Hehehe.

    BalasHapus
  4. Gpp kepo selama ke-kepo-an itu masih di batas normal2 aja.
    Nggag usah jadi orang laen, kalo jadi diri sendiri itu jauh lebih nyaman, . Kalo ingin berubah, pelan2 aja, jangan memaksa. Pasti lama2 juga berubah, ya meskipun prosesnya akan lama sekali. It's ok!

    BalasHapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.