Selasa, 31 Desember 2013

Kenangan (Kamu) dalam 2013

Kenangan dalam 2013, tidak terlalu banyak yang aku ingat. Tapi, nyatanya kenangan (kamu) akan menjadi kenangan yang selalu hangat dipikiranku. 2013 adalah saat yang mulai membuat hatiku tak menentu. Tentang kamu menjadi sangat menggangguku ditahun 2013. Aku masih ingat ketika kau mulai menghilang dan aku menjadi kacau, aku masih ingat ketika aku mulai jengah dengan diamku dan akhirnya meminta temanku untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi, itu tidak terjadi, keadaan seakan mencegahku untuk melakukan itu. Ya, mungkin Tuhan punya alasan kenapa lebih membiarkan aku menyimpan rasa ini sendiri.





Jika kita bicara tentang kenangan 2013, semua akan kembali kepada sesuatu yang menyangkut tentang kamu. Kenangan yang dulunya membuatku menjadi senang dan sedih. Kenangan yang sering menghadirkan perasaan tak menentu disetiap malam. Kenangan saat aku sibuk mengecek timeline dan status social media-mu. Kenangan saat aku memperhatikanmu dalam diam, kenangan saat aku menunggumu dalam diam, kenangan saat aku memperhatikan tawamu dalam diam, kenangan saat aku mulai gugup saat mata kita bertemu, dan saat aku mulai tak suka mendengar kabar tak menyenangkan tentangmu.

Senin, 30 Desember 2013

Cinta......Yang Mempertemukan Kita.


“Pokoknya lu harus ketemu sama dia.” Hanya itu yang diucapkan Miona, sahabatku.

Aku masih menanggapi dengan setengah hati. Masih malas untuk membuka hatiku lagi.

“Masih mikirin si Clo?” Miona menatapku. “Emang dia masih cinta sama lu?” Tanyanya dengan nada sinisnya. Miona memang tidak suka terhadap Clo.

Aku hanya terdiam. Ucapan Miona membuatku menjadi gelisah. Clo adalah mantan kekasihku. Clo mengakhiri hubungan yang baru kami jalin beberapa bulan yang lalu. Alasannya pun tak aku mengerti sampai saat ini. Yang aku mengerti hanya saat ini tak ada lagi ucapan sayang yang aku dapat darinya, tak aku terima lagi pesan menanyakan kegiatanku, tak aku terima lagi ucapan selamat pagi yang mampu membangkitkan semangatku. Ya, dia separuh semangatku.

“Hai. Sorry macet tadi.” Seorang pria berdiri dihadapan kami, dengan sigap mengambil tempat disebelah Miona dan diikuti pria disebelahnya. Dia Dwiki, kekasih Miona. ‘Kenalin ini Aldi. Temen gue.” Sambungnya cepat.

“Kina.” Aku memperkenalkan diriku.

“Aldi.” Pria itu tersenyum.

Mentari mulai menenggelamkan dirinya. Sinarnya yang berwarna orange mulai membuat efek gelap disudut café ini. Sejak beberapa jam yang lalu, aku hanya menunduk. Mendengarkan segala cerita Miona dan Dwiki, sesekali Aldi ikut mengambil bagian dalam cerita itu dan aku hanya memposisikan diri menjadi pendengar. Fikiranku masih melayang, entah kemana tapi akhirnya aku sadar fikiranku tertuju ke Clo. Ah, lelaki itu lagi.

Aldi menatapku. Tatapan yang sebenernya tak aku mengerti apa maksudnya. Saat tatapan kami bertemu, ia hanya tersenyum dan langsung mengalihkan padangannya kepada kedua temanku dimeja ini. Aku masih menatapnya, merasakan efek senyuman yang ia berikan. Senyumannya memang sangat manis, kataku dalam hati.
~°~°°~°~
Aldi
Nanti kalo udah bel, sms ya. Aku pulang cepet. Jd nanti aku jemput kamu.

Handphoneku bergetar saat pesan Aldi aku terima. Sebulan sudah kami dekat, kami menjadi dekat semenjak perkenalan itu. Aldi lah yang selalu menghibur hari-hariku yang sepi semenjak Clo yang pergi. Dia menyempatkan dirinya untuk mengatar dan menjemputku sekolah. Aldi memberikan sosok seperti Clo, hanya saja aku tak yakin rasaku sudah untuknya. Aku takut menyakitinya, hanya menganggapnya sebagai pelarianku.

Kina
Kalo memang sibuk, ngga usah. Kasihan kamu.

Jumat, 27 Desember 2013

Ini Resolusi 2014 ala Fanny

Haiiiii~

Apa kabar kalian yang menganggap saya sebagai teman? *eaaa. Masih betah sama status jomblo nih? Tenang, kalian ngga sendirian kok.

Sekarang udah tanggal 27 Desember 2013 ya? Dan itu artinya kita butuh 4 hari lagi untuk memelihat matahari di tahun 2014. Yeay! Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan diberikan umur untuk melihatnya. Jadi, Apa rencana kalian ditahun baru? Ngedate kah? Atau cuma nonton acara-acara tv dirumah? Ya, apapun itu. Syukuri aja.

Di postingan kali ini, gue mau ngebahas Resolusi di tahun 2014. Menurut gue, Resolusi di tahun 2014 bisa membuat kita lebih focus dengan apa yang kita ingin capai di tahun 2014. Tapi, tanpa realisasi yang benar-benar tulisan ini hanyalah sebuah tulisan. Dan inilah Resolusi saya di tahun depan:

  • Lulus Segala Ujian sekolah.
Yap. Ini semester terakhir gue di SMK dan disemester ini gue bakal lebih disibukkan dengan berbagai macam kegiatan sekolah dan ujian-ujiannya. Entah itu Ujian Kompetensi, Ujian Sekolah Teori. Ya, semoga di 2014 semuanya bisa gue lewati dengan mudah. Semuanya cuma butuh doa dan usaha.

  • Lulus Ujian Nasional 2014.
Pastinya setelah Ujian Sekolah bakal ada Ujian Nasional. Dan semoga gue bisa membuktikan waktu gue selama 3tahun disekolah bukanlah kegiatan yang sia-sia.

  • Diterima di Universitas Negri.
Dan setelah Ujian-Ujian itu, gue ngga bisa berleha-leha gitu aja. Masih ada Ujian Masuk Universitas Negri dan itu yang harus gue hadapi selanjutnya. Masuk di jurusan yang gue minati dan semuanya berjalan lancar.

Minggu, 22 Desember 2013

Selamat tanggal 22 untuk Ibu-ibu didunia dan kamu.


Selamat tanggal 22 desember untuk seluruh ibu di pelosok dunia. Yaaa, hari ini hari ibu dan hari ulangtahun seseorang yang pernah menjadi kakak kelasku. Hehehe.



Dalam postingan kali ini, aku pengen sedikit membahas tentang seorang wanita yang lahir tanggal 28 November ini. Wanita yang bernama Ibu Dwi Noviansari R ini lah yang selalu mengandung saya dan adik saya selama 9bulan. Mengandung 2 anak sekaligus itu bukanlah hal yang mudah, membawa kemana-mana 2 anak sekaligus merupakan hal yang sangat merepotkan sebenarnya, saat tubuhnya lemah karena tenaganya terkuras saat melahirkan putra-putrinya maka disitulah ia harus merelakan tenaganya akan terkuras lagi saat menyusui kedua anaknya sekaligus. Sempat hanya berbaring ditempat tidur setelah melahirkan, membuktikan bahwa melahirkan dua anak sekaligus bukanlah hal yang mudah. Hal itu membuktikan betapa besarnya pengorbanan beliau untuk kami—putra-putrinya—.
Ibu.....

Kini, kedua anak kecilnya sudah beranjak besar. 17tahun sudah ia terus-menerus merawat kami tanpa pernah ada kata lelah. Dialah wanita terhebat didalam hidupku. Wanita yang tak pernah mengeluh didepan anak-anaknya. Wanita yang selalu rela waktu malamnya kami ganggu dengan tangisan kami karena haus atau sebagainya. Wanita yang rela mengantar anak-anaknya dikala kecil. Wanita yang tak pernah bosan menanyakan keberadaan anaknya. Wanita yang masih menganggap aku dan nando sebagai anak kecil demi keselamatan kami. Wanita yang berusaha selalu tersenyum saat anaknya mulai tak seperti dahulu, hatinya terluka tapi ia tak pernah menunjukkan itu.

Sabtu, 21 Desember 2013

Dan ini hasil akhirnya.......

Yeaaaay!

Akhirnya semuanya udah terbayarkan. Perjuangan selama 6 bulan sudah terbayarkan dengan peringkat yang tetap bisa gue pertahanin. Alhamdulillah. Kurang memuaskan sih, nilai-nilainya menurun dan jumlah nilainya sama kaya peringkat ke-2. Tapi, seenggaknya, disemester terakhir ini gue masih bisa ngeringanin biaya SPP sekolah gue. Alhamdulillah.

Pertahanin peringkat ke-1 itu ngga mudah. Susah banget, apalagi ditambah kalo kalian kehilangan semangat kalian.

Dari awal masuk SMK gue udah pasang target buat ngedapetin peringkay ke-1. Kelas 10 semuanya berjalan sesuai harapan gue, ada semangat yang buat gue rajin pacaran sama buku-buku dimalam hari. Ngga jarang, gue sampe bergadang saat gue ulangan. Saat itu semua berjalan masih sesuai harapan gue. Kelas 11 semuanya mulai menurun, perlahan-lahan tapi masih ada dorongan akan target-target gue. Gue masih bisa pertahanin semuanya. Dan kelas 12 ini, semuanya semakin menurun. Dorongan akan target-target gue seakan hilang tapi datang dibeberapa kesempatan.

Semuanya gue jalanin hanya sebagai ‘rutinitas’ gue. Semuanya gue lakuin cuma untuk satu target “senyum mereka—kedua  orangtua gue”. Cuma itu. Dan akhirnya saat semuanya tercapai, ngga ada kebahagian seperti yang lalu-lalu? Ngga ada lagi sisi ‘ini loh gue.’ Semuanya hanya bener-bener Cuma buat mereka.

Dan dihari ini, gue udah ngejalanin ‘rutinitas’ gue, ngelunasin segala target selama 6 bulan ini.

Kurang puas dengan hasilnya sebenernya. Jumlah nilai gue sama dengan peringkat ke-2. Tapi, Alhamdulillah nilai agama gue masih lebih tinggi, jadinya gue diambil jadi juara ke-1. Tapi tetep aja masih ada rasa kurang puas untuk nilai-nilai semester pertama ini.

Kamis, 12 Desember 2013

Dan entahlah apa ini.


Akhirnya UAS selesai hari ini. Seneng? Biasa aja sih sebenernya. Selesai ulangan remedial pun hadir, Yap. Namanya juga dunia sekolah. Ini yang mengganggu pikiran gue, remedial. Siapa sih yang mau namanya tercantum dimading sekolah dengan judul “Siswa Yang Harus Melakukan Perbaikan.” Pasti kalo udah selesai ulangan, ya pikirannya udah ke hal-hal yang menyenangkan, apalagi saat-saat liburan. 

Gue mosting kali ini, sebenernya buat ngilangin kegundahan hati akan remedial. Ah, Siapa sih itu remedial?

“Fanny yang sekarang agak bandel ya, jadi jarang buat PR dirumah.”

“Fanny udah mulai jadi males.”

“Fanny aja yang rangking 1 aja belum ngerjain, selow aja.”

Akhir-akhir ini, gue sering banget dapet kalimat-kalimat itu. Iya, gue yang sekarang mulai berubah. Bukan. Bukan jadi powerrangers atau sebagainya. ‘Semangat’nya yang pergi gitu aja. Ini yang gue tulis sebelumnyaKau dan Semangatku yang pergi.. Dan sekarang semuanya semakin menjadi-jadi. Dimalam hari, gue mulai malas berteman dengan buku-buku. Kalo ada ulangan baru gue berteman. Ngga ada lagi rasa pengen berlama-lama dengan buku-buku yang ganteng itu. Cuma baca sekenanya.

Dan apa kalian ngerti rasa ini? Disaat gue lagi berusaha jadi gue yang dulu. Disaat gue berusaha buat ngeyakinin kalo semuanya ngga berubah. Disaat gue berusaha buat ngisi berapa persen semangat itu kembali, tapi nyatanya banyak orang yang malah ngeyakinin gue kalo ‘semuanya emang berubah.’ ‘semangat itu emang Cuma dari dia.’ ‘gue yang sekarang bukan gue yang dulu.’ Mau tau rasanya? Seperti terpojok. Atau mungkin guenya yang terlalu cepet ngedown?

Kemana semangat itu? Kemana target-targetnya?

Setiap malam—hampir setiap malam—, saat gue mulai malas menatap buku-buku yang bertumpuk dimeja belajar gue, pertanyaan itu hadir. Pertanyaan itu hadir saat gue mulai menatap target gue yang gue tempel bersampingan jadwal pelajaran gue. Pertanyaan itu selalu menghantui gue saat gue mulai sendirian. Melayang-layang dengan leluasa dipikiran gue, ngga pernah peduli akan efek yang ada.  

Galau. Jangan ditanya lagi. Banget. Apalagi kalo harus diurutin kesampai ujung, Ibu dan Ayah ujungnya. Dan itu semakin bikin gue galau. Takut ngecewain mereka.

“Berarti besok (semester depan) masih bisa nerima beasiswa lagi, Fin.”

Gue nyengar-nyengir sambil bilang “Ngga tahu deh, kayanya nggak bu.”

Dan hati gue nyes……………Nyes banget pas gue harus bilang kaya gitu. Ngga tega ngehancurin sebagian kebahagian mereka. (Ah, gue nulis gini aja udah berkaca-kaca). Ngebahagian mereka, dapetin beasiswa, dan ngeringanin beban biaya mereka termasuk target gue. Tapi nyatanya, semuanya ngga lebih besar dibandingkan efek dia dalam hidup gue.

Dia. Iya dia, yang pernah jadi pangeran dihati gue. Dan sekarang, dia pergi gitu aja bawa semangat yang dia pernah hadirkan. Semangat yang membuat gue rela berlama-lama bersama buku-buku. Dan sekarang, semuanya pergi gitu aja, meninggalkan gue sendiri. Kini, Cuma gue yang bisa ngatur segalanya sendiri. Sendiri berteman segala kegundahan.