Senin, 30 Desember 2013

Cinta......Yang Mempertemukan Kita.


“Pokoknya lu harus ketemu sama dia.” Hanya itu yang diucapkan Miona, sahabatku.

Aku masih menanggapi dengan setengah hati. Masih malas untuk membuka hatiku lagi.

“Masih mikirin si Clo?” Miona menatapku. “Emang dia masih cinta sama lu?” Tanyanya dengan nada sinisnya. Miona memang tidak suka terhadap Clo.

Aku hanya terdiam. Ucapan Miona membuatku menjadi gelisah. Clo adalah mantan kekasihku. Clo mengakhiri hubungan yang baru kami jalin beberapa bulan yang lalu. Alasannya pun tak aku mengerti sampai saat ini. Yang aku mengerti hanya saat ini tak ada lagi ucapan sayang yang aku dapat darinya, tak aku terima lagi pesan menanyakan kegiatanku, tak aku terima lagi ucapan selamat pagi yang mampu membangkitkan semangatku. Ya, dia separuh semangatku.

“Hai. Sorry macet tadi.” Seorang pria berdiri dihadapan kami, dengan sigap mengambil tempat disebelah Miona dan diikuti pria disebelahnya. Dia Dwiki, kekasih Miona. ‘Kenalin ini Aldi. Temen gue.” Sambungnya cepat.

“Kina.” Aku memperkenalkan diriku.

“Aldi.” Pria itu tersenyum.

Mentari mulai menenggelamkan dirinya. Sinarnya yang berwarna orange mulai membuat efek gelap disudut café ini. Sejak beberapa jam yang lalu, aku hanya menunduk. Mendengarkan segala cerita Miona dan Dwiki, sesekali Aldi ikut mengambil bagian dalam cerita itu dan aku hanya memposisikan diri menjadi pendengar. Fikiranku masih melayang, entah kemana tapi akhirnya aku sadar fikiranku tertuju ke Clo. Ah, lelaki itu lagi.

Aldi menatapku. Tatapan yang sebenernya tak aku mengerti apa maksudnya. Saat tatapan kami bertemu, ia hanya tersenyum dan langsung mengalihkan padangannya kepada kedua temanku dimeja ini. Aku masih menatapnya, merasakan efek senyuman yang ia berikan. Senyumannya memang sangat manis, kataku dalam hati.
~°~°°~°~
Aldi
Nanti kalo udah bel, sms ya. Aku pulang cepet. Jd nanti aku jemput kamu.

Handphoneku bergetar saat pesan Aldi aku terima. Sebulan sudah kami dekat, kami menjadi dekat semenjak perkenalan itu. Aldi lah yang selalu menghibur hari-hariku yang sepi semenjak Clo yang pergi. Dia menyempatkan dirinya untuk mengatar dan menjemputku sekolah. Aldi memberikan sosok seperti Clo, hanya saja aku tak yakin rasaku sudah untuknya. Aku takut menyakitinya, hanya menganggapnya sebagai pelarianku.

Kina
Kalo memang sibuk, ngga usah. Kasihan kamu.


Bel tanda berakhirnya sekolah pun berbunyi. Aku melangkah keluar kelas dengan semangat, 2 jam pelajaran kimia membuat otakku panas dan udara sedikit gerah, ingin menghirup udara segar diluar kelas. Aku baru hendak mengambil handphoneku disaku, saat satu pesan Aldi aku terima. “Aku tunggu digerbang, Na.” Hanya itu isinya.

“Maaf nunggu lama.” Kataku saat berada dihadapannya.

Ia hanya tersenyum. “Mau langsung pulang?” Tanya mengabaikan permintaan maafku.

Aku mengangguk.

Tak ada percakapan selama diperjalanan. Hanya suara angin yang berhembus terdengar saat ini. Aku dan Aldi memang sudah dekat, tapi nyatanya saat kami bertatap muka seperti ini hanya kebisuan yang ada. Aku ataupun Aldi tidak pernah ada inisiatif untuk membuka percakapan. Kami terlalu sibuk dengan pikiran kami masing-masing dan terlalu menikmati suara angin yang berhembus.

“Kina.” Aldi memanggilku. Suaranya pelan. “Kenapa kamu ngga balikan sama Clo?” Tanyanya.

Aku terdiam, tidak mengerti jalan pikiran Aldi dan tidak mengerti apa maksud pertanyaan Aldi. Ini bukan yang pertama kali Aldi bertanya seperti ini. Sebelumnya dia menanyakan hal yang sama melalui pesan singkatnya.

“Kalo kamu masih sayang, kamu perjuangin dia dong. Kejar dia, Kin.” Ucapnya.

“Kenapa aku harus balikan sama Clo?” Tanyaku. Aku semakin tidak mengerti, kenapa rasanya ingin marah saat aku mendengar pertanyaan Aldi. Aku kecewa ketika Aldi selalu bertanya tentang hal yang tidak aku suka.

“Karena kamu masih sayang kan sa……”

“Kamu ngga tau apa-apa, Di. Jangan sok tahu.” Potongku tegas. Aku benar-benar muak saat Aldi menganggapku masih menyayangi Clo. Aku tahu ini konyol, marah tanpa sebab. Tapi hatiku kini tak menentu. Aku akui Clo masih menempati ruang dihatiku, tapi tidak bisa aku pungkiri, ruang hatiku yang lain telah ditempati Aldi.

~°~°°~°~

“Hai, Kin.” Sapa seorang pria dihadapanku. Pria yang sudah lama tak aku lihat itu, ternyata mash mengingatku. Aku menatapnya tanpa respon atas sapanya. “Apa kabarmu?” Ia tertawa canggung, menghilangkan suasana tak nyaman yang aku buat.

“Menurutmu? Pantaskah kau bertanya seperti itu?” Tanyaku jutek. Aku menatapnya malas. Untuk apa dia kembali didalam hidupku ketika aku sedang meyakinkan hatiku untuk Aldi.

“Kamu masih marah sama aku gara-gara….”

“Ada pertanyaan lebih penting ngga sih, Clo?” Tanyaku dengan nada semakin sengit. Kini, aku tidak mengerti cara yang sopan untuk menanggapi kehadirannya yang begitu mendadak.

Clo terdiam. Dia hanya menatapku tak percaya, sifatku yang membuatnya menatapku seperti ini, aku sadar itu. Aku juga hanya terdiam, entah mengapa tak ada niat sedikitpun untuk menghindarinya. Aku masih menatap wajahnya yang oval dengan alisnya yang tebal membuatnya kesan mempesona diwajahnya. Kami bertukar tatapan. Saling menikmati waktu yang berputar, menikmati suara langkah kaki disekeliling kami.

“Sorry.” Suara itu menghancurkan keheningan diantara kami. Tanpa dikomandoi, kami serempak melihat kearah sumber suara itu. “Kin, gue daritadi didepan gerbang. Ternyata lu disini.” Katanya dengan muka datar.

Aku menunduk. Tak berani menatapnya.

“Ini siapa Kin?” Tanyanya. Pertanyaannya membuat Clo mengernyitkan dahinya. “Gue Aldi. Temen Kina.” Aldi mengulurkan tangannya, bersikap sangat bersahabat, tapi masih menatapku dengan caranya yang…….. Argh. Aku tak mengerti!

“Clo.” Clo membalas uluran tangan Aldi. Mereka saling berjabat dan melempar cukup lama. Aku seperti tidak ada saat itu.


“Sorry Clo, gue udah janji sama Aldi. Duluan ya.” Kataku cepat. Aku ingin keluar dari zona ini, sangat menggangguku.


Seperti biasa, aku dan Aldi hanya menikmati angin yang berhembus selama perjalanan kami. Tak ada yang mempunyai inisiatif untuk membuka percakapan terlebih dahulu. Aldi sibuk dengan kegiatan menyetirnya dan aku hanya memposisikan diriku dibelakangnya.


Air satu persatu mulai menetes dari langit yang sedari tadi mendung. Aldi masih tak memperdulikannya, ia terus melajukan motornya dijalanan yang cukup sepi saat itu. Masih tanpa suara, ia terlalu konsentrasi akan jalanan didepannya. Air menetes semakin deras, mulai membuat bajuku terasa sedikit basah. Aldi memberhentikan motornya ditepi jalan raya, melihat kearahku.


“Hujannya bakal gede, mau lanjut atau neduh aja?” Tanyanya.


“Seterah kamu. Kan kamu yang bawa motor.” Aku menjawab sekenanya.


“Kita lanjut aja ya?” Katanya lagi. Ia hendak melanjutkan perjalanan. Tapi baru beberapa meter dari tempat kami berhenti tadi, motornya kembali ditepikan lagi. Aldi mendesah kesal.


“Kenapa di?” Tanyaku tak mengerti.


“Mogok. Bensinnya abis.” Katanya cuek. Membiarkan motornya dibahasi oleh hujan yang semakin deras.


Kami duduk disebuah halte yang tidak terlalu banyak orang. Aku menatap motor Aldi, berdoa semoga hujan bisa menjadi bensin dan kami dapat melanjutkan perjalanan kami. Dan Aldi hanya terdiam, wajahnya menggambarkan kekesalan hatinya. Aldi melepas jaket yang sedari tadi dikenakannya.


“Nih, pake. Nanti kamu masuk angin.” Katanya memakaikan jaketnya dibahuku.


Aku hanya tersenyum, merogoh kantong jaketnya dan mendapatkan sebuah kertas. Diam-diam, aku membukanya. Aku melihat tulisannya yang mulai tak jelas karena terkena hujan. “Selamat ulangtahun, di.” Hanya itu yang masih bisa aku lihat dengan jelas. Tuhan, kenapa aku begitu bodoh melupakan hari ini? Hari sejak lama aku sudah tunggu, bahkan kado yang sudah aku persiapkan masih aku geletakkan dimeja kamarku.


“Di.” Panggilku.


Aldi menoleh kearahku. Raut wajahnya tak berubah.


“Selamat ulangtahun ya.” Kataku canggung, aku melihat satu tarikan dibibirnya membentuk sebuah senyuman. “Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Maaf, aku lupa bawa kadonya.” Sambungku.


Senyumnya seketika hilang. “Kamu lupa hari ini karena Clo datang lagi kan? Kalo masih sayang, balikan aja.” Sahut Aldi ketus. Sangat ketus.


“Ngga kaya gitu Di, aku emang lupa bukan karena……….”


“Clo udah dateng lagi kan? Kenapa ngga balikan aja sih Kin? Kalian itu…..”


“Kalo lu emang mau gue balikan sama Clo, Fine. Gue bakal turuti apa mau lu.” Kataku. Aku menatapnya penuh amarah. Dan lagi-lagi, aku tidak bisa menjelaskan secara detail apa sebab kemarahanku saat ini.


~°~°°~°~


Hari ini hujan kembali datang. Aku masih berada dikoridor depan kelasku, memperhatikan setiap tetes hujan yang turun. Mendengarkan suara tetesan gemericik hujan. Menikmati segala sensasi yang dihadirkan oleh hujan itu. Aku masih sibuk dengan lamunanku ketika handphone ku terus-menerus berdering.


“Halo. Kamu dimana?”


“Masih disekolah. Hujan kan, ngga bisa pulang.” Kataku masih memperhatikan setiap tetesan hujan.


“Aku tahu. Yaudah nanti aku jemput ya, sayang.”


“Seterah kamu, Clo.” Aku menanggapinya sekadarnya. Hatiku terasa hampa mendengar kata sayang dari mulutnya.


Aku dan Clo memang sudah kembali menjalin hubungan. Clo meminta maaf akan kesalahannya dan mengajakku untuk kembali menjalin hubungan saat aku baru sampai rumah seusai perdebatan terakhirku dengan Aldi. Malamnya, aku memberi tahu dia bahwa aku menuruti permintaannya. Dan saat itu juga, ia mendatangi rumahku, berteriak-teriak meminta penjelasanku. Cukup lama, kami berada dibawah hujan bersama. Menikmati tetesannya yang membuat tubuh dingin. Setelah sekian lama, Aldi hanya berkata “Gue akan nunggu lu sampai kapanpun. Sampai lu putus dari Clo gue akan tetep nunggu, Kin. Itu janji gue.” Selepas itu, dia pergi begitu saja. Meninggalkan aku yang masih asik dalam hujan.




“Sayang?” Panggil Clo disampingku.


Aku menoleh, mendapati Clo dengan wajah cemas, “Kamu baik-baik aja kan?” Tanyanya.


Aku mengangguk dengan sedikit tarikan dibibirku.


“Kita pulang sekarang?”


Dan lagi-lagi, aku hanya mengangguk. Mengikuti langkahnya yang cukup cepat, menikmati genggaman tangannya ditanganku. Dan menikmati suara hujan yang masih terus menemani.


~°~°°~°~


Tiga bulan sudah, aku menjalani kehidupanku ditemani Clo. Tak banyak yang berubah semenjak kami pertama kali bertemu. Masih ada kalimat ‘sayang’ darinya untukku, masih selalu aku dapat ucapan selamat pagi darinya, masih dapat aku dengar dengan jelas suara cemasnya saat kabar dariku tak kunjung datang, semuanya benar-benar sama, tak ada yang berubah, kecuali………hatiku.


Aku mungkin bisa membohongi Clo, Miona, ataupun Dwiki dan mungkin aku berhasil membohongi Aldi. Namun, ini hatiku, seberapa besar usahaku untuk mengelabui mereka, aku masih berada disebuah malam yang menyiksaku. Hati ini, ya. Aku tak pernah bisa membohongi hati ini. Aku tak pernah bisa menepis segala rasa kacau. Aku selalu lemah saat pikiranku melayang tertuju ke seorang pria. Dia yang menghadirkan rasa ini. Menghadirkan segala percaya akan cinta yang baru. Aldi, aku merindukannya.


“Kamu kenapa sih? Kamu berubah, Kin.” Suara itu mulai mengeras.


“Jangan teriak-teriak.” Pintaku dengan lembut. Aku memang benci dengan sebuah teriakan.


“Kamu yang buat aku seperti ini. Siapa sih laki-laki itu?” Tanyanya lagi dengan suara yang semakin mengeras.


“Laki-laki?” Aku mengerutkan dahiku.


“Tak perlu bersandiwara lagi.” Katanya. “Disini aku lihat banyak sms kamu dengan laki-laki lain.” Dia mengambil handphoneku yang sedari tadi ada dimeja.


“Jangan konyol. Aku tahu siapa aja yang sms aku, dan ngga ada satupun dari laki-laki lain.” Aku membela diriku.


“Terserah kamu. Aku mau kita putus.” Clo akhirnya mengakhiri kalimatnya. Melancarkan segala hal—yang mungkin sudah ia rencanakan sebelumnya—.


Aku masih diam ditempatku, memperhatikan setiap langkah cepatnya. Menikmati pandangan akan tubuhnya yang mulai mendekati pintu kafe ini, dan semakin lama tubuhnya semakin menghilang.


Aku terdiam. Memperhatikan setiap nama kontak yang ada di inbox-ku. Dan nyatanya, aku memang sudah menduga ini semua. Clo memang tak lagi sama. Dia bukanlah seorang yang berhasil membuatku menjatuhkan hatiku, Clo yang saat ini dan Clo yang lalu memang sudah sosok yang berbeda. Aku tak kenal dengan Clo yang saat ini. Bahkan dengan caranya yang mengakhiri hubungan kami, membuatku semakin tak mengenalnya.


Dia hanya mencari alasan untuk mengakhiri hubungan ini, Gumamku pelan.


~°~°°~°~


Didanau ini aku melampiaskan semuanya. Bukan tentang Clo, bukan tentang sakit hati, bukan tentang patah hatiku setelah diputuskan oleh Clo. Aku melampiaskan tentang suatu rasa yang tak pernah aku beritahu kepada siapapun. Ini tentang seseorang yang pernah mengucapkan janjinya kepadaku.


Mungkin aku bodoh memilih Clo daripada dia—seseorang yang sampai saat ini masih menungguku. Atau mungkin hanya rasa emosiku yang saat itu mengatur segala hal yang aku putuskan. Entah. Aldi. Ya, seseorang yang tak pernah ku dengar kabarnya beberapa bulan belakangan ini, bahkan lebih tepatnya setelah aku memutuskan untuk kembali bersama Clo. Dia menghilang, atau mungkin aku yang terlalu sibuk dengan segala hal yang menyangkut Clo.


“Aku sudah tahu ini pasti kau.” Suara itu menganggetkanku. Melepaskan segala pikiran yang sedari tadi mengangguku. “Apa kabarmu?”


Aku membalikkan tubuhku. Menatap tak percaya seseorang yang ada dihadapanku ini. Tak banyak yang berubah darinya, hanya saja rambutnya yang lebih ia tata rapi.


“Apa kabarmu?” Tanya lagi. Suaranya dan nadanya masih sangat aku kenal.


“Baik. Kamu?” Kataku kaku. Ya, jantungku berdegub dengan sangat cepat.


“Hari ini cukup baik karena bertemu denganmu. Tapi, yang kemarin-kemarin aku tidak yakin aku baik-baik saja.” Katanya diakhiri dengan tawa renyahnya.


Aku diam. Aldi diam. Dan kami saling diam. menikmati hembusan angin yang ada disekeliling kami, menikmati rerumputan yang menari diantara kaki-kaki kami dan menikmati suara gemericik air danau yang samar-samar aku dengar.


“Di.” Aku memberanikan diri untuk memanggilnya. Aldi menoleh kearahku. Dan sekali lagi, dia tak berubah. Tatapan matanya yang selalu tenang. Dan senyumannya yang mengajakku untuk ikut tersenyum. “Siapa pacarmu saat ini?”


Aldi diam untuk beberapa saat, menatapku dengan diamnya. “Aku pernah berjanji dengan seorang wanita.” Katanya menatapku lagi. “Aku akan tetep menyimpan rasaku untuknya, sampai kapanpun.” Aldi kembali menatap danau.


Aku diam. Kenapa aku jadi senang berdiam?, Tanyaku pelan.


Aldi memindahkan posisinya. Ia kini berada didepanku. Menatapku dengan tajam, menggenggam tanganku dengan erat namun lembut. “Aku serius akan janji itu, Kin.” Katanya masih dengan tatapannya yang menghanyutkan. “Aku menyukaimu.”


Aku tersenyum. Dan kali ini, hatiku terasa lepas. Tak ada lagi kerisauan hati yang selama ini aku rasakan. Ini yang aku harapkan selama ini. Aldi memelukku sangat erat. Mengkecup keningku dengan penuh kasih. Dan kami menikmati suasana danau ini dengan suasana hati yang berbeda. Cinta.

6 komentar:

  1. blognya lucu, secara keseluruhan ceritanya enak dibaca karena ringan dan rapi, 2 thumbs up deh buat kakak ;) tapi ada bagusnya tulisannya jangan warna coklat-merah karena backgroundnya udah warna coklat. ada beberapa poin lagi yang saya rasa harus saya kritik tentang teknik menulisnya :

    kata sambung setelah kalimat langsung seperti 'kata' 'ucap' 'sahut' itu tidak perlu diawali huruf kapital.

    bahasa masih ada yang inkonsisten. contohnya kalimat "Sinarnya yang berwarna orange mulai membuat efek gelap disudut café ini" yang benar "Sinarnya yang berwarna ORANYE mulai membuat efek gelap disudut KAFE ini"

    bahasa asing sebaiknya dicetak miring.

    yang benar terserah, bukan seterah, di KBBI gak ada seterah.

    semoga tidak menyinggung kakak :) terus menulis ya kak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banget kak masukannya:-) Nanti akan diperbaiki;-)

      Hapus
  2. wihhh ini cerita fiktif apa emang awalnya nyata terus dibikin cerita? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah nyatanya temen hehehe, terus dia minta tolong dibuatin cerita hehehe.

      Hapus
  3. wah keren. untung ini happy ending ya.
    meski ada beberapa kata yg perlu diperbaiki. tapi udah bagus lah ini secara keseluruhan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe terimakasih:-) Iya kak, masih harus belajar:-)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.