“Pokoknya lu harus
ketemu sama dia.” Hanya itu yang diucapkan Miona, sahabatku.
Aku masih menanggapi
dengan setengah hati. Masih malas untuk membuka hatiku lagi.
“Masih mikirin si Clo?”
Miona menatapku. “Emang dia masih cinta sama lu?” Tanyanya dengan nada
sinisnya. Miona memang tidak suka terhadap Clo.
Aku hanya terdiam.
Ucapan Miona membuatku menjadi gelisah. Clo adalah mantan kekasihku. Clo
mengakhiri hubungan yang baru kami jalin beberapa bulan yang lalu. Alasannya
pun tak aku mengerti sampai saat ini. Yang aku mengerti hanya saat ini tak ada
lagi ucapan sayang yang aku dapat darinya, tak aku terima lagi pesan menanyakan
kegiatanku, tak aku terima lagi ucapan selamat pagi yang mampu membangkitkan
semangatku. Ya, dia separuh semangatku.
“Hai. Sorry macet
tadi.” Seorang pria berdiri dihadapan kami, dengan sigap mengambil tempat
disebelah Miona dan diikuti pria disebelahnya. Dia Dwiki, kekasih Miona.
‘Kenalin ini Aldi. Temen gue.” Sambungnya cepat.
“Kina.” Aku
memperkenalkan diriku.
“Aldi.” Pria itu tersenyum.
Mentari mulai
menenggelamkan dirinya. Sinarnya yang berwarna orange mulai membuat efek gelap
disudut café ini. Sejak beberapa jam yang lalu, aku hanya menunduk.
Mendengarkan segala cerita Miona dan Dwiki, sesekali Aldi ikut mengambil bagian
dalam cerita itu dan aku hanya memposisikan diri menjadi pendengar. Fikiranku
masih melayang, entah kemana tapi akhirnya aku sadar fikiranku tertuju ke Clo.
Ah, lelaki itu lagi.
Aldi menatapku. Tatapan
yang sebenernya tak aku mengerti apa maksudnya. Saat tatapan kami bertemu, ia
hanya tersenyum dan langsung mengalihkan padangannya kepada kedua temanku
dimeja ini. Aku masih menatapnya, merasakan efek senyuman yang ia berikan. Senyumannya memang sangat manis, kataku
dalam hati.
~°~°°~°~
Aldi
|
Nanti
kalo udah bel, sms ya. Aku pulang cepet. Jd nanti aku jemput kamu.
|
Handphoneku bergetar
saat pesan Aldi aku terima. Sebulan sudah kami dekat, kami menjadi dekat
semenjak perkenalan itu. Aldi lah yang selalu menghibur hari-hariku yang sepi
semenjak Clo yang pergi. Dia menyempatkan dirinya untuk mengatar dan
menjemputku sekolah. Aldi memberikan sosok seperti Clo, hanya saja aku tak
yakin rasaku sudah untuknya. Aku takut menyakitinya, hanya menganggapnya
sebagai pelarianku.
Kina
|
Kalo
memang sibuk, ngga usah. Kasihan kamu.
|
Bel tanda berakhirnya
sekolah pun berbunyi. Aku melangkah keluar kelas dengan semangat, 2 jam
pelajaran kimia membuat otakku panas dan udara sedikit gerah, ingin menghirup
udara segar diluar kelas. Aku baru hendak mengambil handphoneku disaku, saat
satu pesan Aldi aku terima. “Aku tunggu
digerbang, Na.” Hanya itu isinya.
“Maaf nunggu lama.”
Kataku saat berada dihadapannya.
Ia hanya tersenyum.
“Mau langsung pulang?” Tanya mengabaikan permintaan maafku.
Aku mengangguk.
Tak ada percakapan
selama diperjalanan. Hanya suara angin yang berhembus terdengar saat ini. Aku
dan Aldi memang sudah dekat, tapi nyatanya saat kami bertatap muka seperti ini
hanya kebisuan yang ada. Aku ataupun Aldi tidak pernah ada inisiatif untuk
membuka percakapan. Kami terlalu sibuk dengan pikiran kami masing-masing dan
terlalu menikmati suara angin yang berhembus.
“Kina.” Aldi
memanggilku. Suaranya pelan. “Kenapa kamu ngga balikan sama Clo?” Tanyanya.
Aku terdiam, tidak
mengerti jalan pikiran Aldi dan tidak mengerti apa maksud pertanyaan Aldi. Ini
bukan yang pertama kali Aldi bertanya seperti ini. Sebelumnya dia menanyakan
hal yang sama melalui pesan singkatnya.
“Kalo kamu masih
sayang, kamu perjuangin dia dong. Kejar dia, Kin.” Ucapnya.
“Kenapa aku harus
balikan sama Clo?” Tanyaku. Aku semakin tidak mengerti, kenapa rasanya ingin
marah saat aku mendengar pertanyaan Aldi. Aku kecewa ketika Aldi selalu
bertanya tentang hal yang tidak aku suka.
“Karena kamu masih
sayang kan sa……”
“Kamu ngga tau apa-apa,
Di. Jangan sok tahu.” Potongku tegas. Aku benar-benar muak saat Aldi
menganggapku masih menyayangi Clo. Aku tahu ini konyol, marah tanpa sebab. Tapi
hatiku kini tak menentu. Aku akui Clo masih menempati ruang dihatiku, tapi
tidak bisa aku pungkiri, ruang hatiku yang lain telah ditempati Aldi.
~°~°°~°~
“Hai, Kin.” Sapa
seorang pria dihadapanku. Pria yang sudah lama tak aku lihat itu, ternyata mash
mengingatku. Aku menatapnya tanpa respon atas sapanya. “Apa kabarmu?” Ia
tertawa canggung, menghilangkan suasana tak nyaman yang aku buat.
“Menurutmu? Pantaskah
kau bertanya seperti itu?” Tanyaku jutek. Aku menatapnya malas. Untuk apa dia
kembali didalam hidupku ketika aku sedang meyakinkan hatiku untuk Aldi.
“Kamu masih marah sama
aku gara-gara….”
“Ada pertanyaan lebih
penting ngga sih, Clo?” Tanyaku dengan nada semakin sengit. Kini, aku tidak
mengerti cara yang sopan untuk menanggapi kehadirannya yang begitu mendadak.
Clo terdiam. Dia hanya
menatapku tak percaya, sifatku yang membuatnya menatapku seperti ini, aku sadar
itu. Aku juga hanya terdiam, entah mengapa tak ada niat sedikitpun untuk
menghindarinya. Aku masih menatap wajahnya yang oval dengan alisnya yang tebal
membuatnya kesan mempesona diwajahnya. Kami bertukar tatapan. Saling menikmati
waktu yang berputar, menikmati suara langkah kaki disekeliling kami.
“Sorry.” Suara itu
menghancurkan keheningan diantara kami. Tanpa dikomandoi, kami serempak melihat
kearah sumber suara itu. “Kin, gue daritadi didepan gerbang. Ternyata lu
disini.” Katanya dengan muka datar.
Aku menunduk. Tak
berani menatapnya.
“Ini siapa Kin?”
Tanyanya. Pertanyaannya membuat Clo mengernyitkan dahinya. “Gue Aldi. Temen
Kina.” Aldi mengulurkan tangannya, bersikap sangat bersahabat, tapi masih
menatapku dengan caranya yang…….. Argh. Aku tak mengerti!
“Clo.” Clo membalas
uluran tangan Aldi. Mereka saling berjabat dan melempar cukup lama. Aku seperti
tidak ada saat itu.
“Sorry Clo, gue udah
janji sama Aldi. Duluan ya.” Kataku cepat. Aku ingin keluar dari zona ini,
sangat menggangguku.
Seperti biasa, aku dan
Aldi hanya menikmati angin yang berhembus selama perjalanan kami. Tak ada yang
mempunyai inisiatif untuk membuka percakapan terlebih dahulu. Aldi sibuk dengan
kegiatan menyetirnya dan aku hanya memposisikan diriku dibelakangnya.
Air satu persatu mulai
menetes dari langit yang sedari tadi mendung. Aldi masih tak memperdulikannya,
ia terus melajukan motornya dijalanan yang cukup sepi saat itu. Masih tanpa
suara, ia terlalu konsentrasi akan jalanan didepannya. Air menetes semakin
deras, mulai membuat bajuku terasa sedikit basah. Aldi memberhentikan motornya
ditepi jalan raya, melihat kearahku.
“Hujannya bakal gede,
mau lanjut atau neduh aja?” Tanyanya.
“Seterah kamu. Kan kamu
yang bawa motor.” Aku menjawab sekenanya.
“Kita lanjut aja ya?”
Katanya lagi. Ia hendak melanjutkan perjalanan. Tapi baru beberapa meter dari
tempat kami berhenti tadi, motornya kembali ditepikan lagi. Aldi mendesah
kesal.
“Kenapa di?” Tanyaku
tak mengerti.
“Mogok. Bensinnya
abis.” Katanya cuek. Membiarkan motornya dibahasi oleh hujan yang semakin deras.
Kami duduk disebuah
halte yang tidak terlalu banyak orang. Aku menatap motor Aldi, berdoa semoga
hujan bisa menjadi bensin dan kami dapat melanjutkan perjalanan kami. Dan Aldi
hanya terdiam, wajahnya menggambarkan kekesalan hatinya. Aldi melepas jaket yang
sedari tadi dikenakannya.
“Nih, pake. Nanti kamu
masuk angin.” Katanya memakaikan jaketnya dibahuku.
Aku hanya tersenyum,
merogoh kantong jaketnya dan mendapatkan sebuah kertas. Diam-diam, aku
membukanya. Aku melihat tulisannya yang mulai tak jelas karena terkena hujan. “Selamat ulangtahun, di.” Hanya itu yang
masih bisa aku lihat dengan jelas. Tuhan, kenapa aku begitu bodoh melupakan
hari ini? Hari sejak lama aku sudah tunggu, bahkan kado yang sudah aku
persiapkan masih aku geletakkan dimeja kamarku.
“Di.” Panggilku.
Aldi menoleh kearahku.
Raut wajahnya tak berubah.
“Selamat ulangtahun
ya.” Kataku canggung, aku melihat satu tarikan dibibirnya membentuk sebuah
senyuman. “Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Maaf, aku lupa bawa
kadonya.” Sambungku.
Senyumnya seketika
hilang. “Kamu lupa hari ini karena Clo datang lagi kan? Kalo masih sayang,
balikan aja.” Sahut Aldi ketus. Sangat ketus.
“Ngga kaya gitu Di, aku
emang lupa bukan karena……….”
“Clo udah dateng lagi
kan? Kenapa ngga balikan aja sih Kin? Kalian itu…..”
“Kalo lu emang mau gue
balikan sama Clo, Fine. Gue bakal turuti apa mau lu.” Kataku. Aku menatapnya
penuh amarah. Dan lagi-lagi, aku tidak bisa menjelaskan secara detail apa sebab
kemarahanku saat ini.
~°~°°~°~
Hari ini hujan kembali
datang. Aku masih berada dikoridor depan kelasku, memperhatikan setiap tetes
hujan yang turun. Mendengarkan suara tetesan gemericik hujan. Menikmati segala
sensasi yang dihadirkan oleh hujan itu. Aku masih sibuk dengan lamunanku ketika
handphone ku terus-menerus berdering.
“Halo. Kamu dimana?”
“Masih disekolah. Hujan
kan, ngga bisa pulang.” Kataku masih memperhatikan setiap tetesan hujan.
“Aku tahu. Yaudah nanti
aku jemput ya, sayang.”
“Seterah kamu, Clo.”
Aku menanggapinya sekadarnya. Hatiku terasa hampa mendengar kata sayang dari
mulutnya.
Aku dan Clo memang
sudah kembali menjalin hubungan. Clo meminta maaf akan kesalahannya dan
mengajakku untuk kembali menjalin hubungan saat aku baru sampai rumah seusai
perdebatan terakhirku dengan Aldi. Malamnya, aku memberi tahu dia bahwa aku
menuruti permintaannya. Dan saat itu juga, ia mendatangi rumahku,
berteriak-teriak meminta penjelasanku. Cukup lama, kami berada dibawah hujan
bersama. Menikmati tetesannya yang membuat tubuh dingin. Setelah sekian lama,
Aldi hanya berkata “Gue akan nunggu lu sampai kapanpun. Sampai lu putus dari
Clo gue akan tetep nunggu, Kin. Itu janji gue.” Selepas itu, dia pergi begitu
saja. Meninggalkan aku yang masih asik dalam hujan.
“Sayang?” Panggil Clo
disampingku.
Aku menoleh, mendapati
Clo dengan wajah cemas, “Kamu baik-baik aja kan?” Tanyanya.
Aku mengangguk dengan
sedikit tarikan dibibirku.
“Kita pulang sekarang?”
Dan lagi-lagi, aku
hanya mengangguk. Mengikuti langkahnya yang cukup cepat, menikmati genggaman
tangannya ditanganku. Dan menikmati suara hujan yang masih terus menemani.
~°~°°~°~
Tiga bulan sudah, aku
menjalani kehidupanku ditemani Clo. Tak banyak yang berubah semenjak kami
pertama kali bertemu. Masih ada kalimat ‘sayang’ darinya untukku, masih selalu
aku dapat ucapan selamat pagi darinya, masih dapat aku dengar dengan jelas
suara cemasnya saat kabar dariku tak kunjung datang, semuanya benar-benar sama,
tak ada yang berubah, kecuali………hatiku.
Aku mungkin bisa
membohongi Clo, Miona, ataupun Dwiki dan mungkin aku berhasil membohongi Aldi.
Namun, ini hatiku, seberapa besar usahaku untuk mengelabui mereka, aku masih
berada disebuah malam yang menyiksaku. Hati ini, ya. Aku tak pernah bisa
membohongi hati ini. Aku tak pernah bisa menepis segala rasa kacau. Aku selalu
lemah saat pikiranku melayang tertuju ke seorang pria. Dia yang menghadirkan
rasa ini. Menghadirkan segala percaya akan cinta yang baru. Aldi, aku
merindukannya.
“Kamu kenapa sih? Kamu
berubah, Kin.” Suara itu mulai mengeras.
“Jangan teriak-teriak.”
Pintaku dengan lembut. Aku memang benci dengan sebuah teriakan.
“Kamu yang buat aku
seperti ini. Siapa sih laki-laki itu?” Tanyanya lagi dengan suara yang semakin
mengeras.
“Laki-laki?” Aku
mengerutkan dahiku.
“Tak perlu bersandiwara
lagi.” Katanya. “Disini aku lihat banyak sms kamu dengan laki-laki lain.” Dia
mengambil handphoneku yang sedari tadi ada dimeja.
“Jangan konyol. Aku
tahu siapa aja yang sms aku, dan ngga ada satupun dari laki-laki lain.” Aku
membela diriku.
“Terserah kamu. Aku mau
kita putus.” Clo akhirnya mengakhiri kalimatnya. Melancarkan segala hal—yang
mungkin sudah ia rencanakan sebelumnya—.
Aku masih diam
ditempatku, memperhatikan setiap langkah cepatnya. Menikmati pandangan akan
tubuhnya yang mulai mendekati pintu kafe ini, dan semakin lama tubuhnya semakin
menghilang.
Aku terdiam.
Memperhatikan setiap nama kontak yang ada di inbox-ku. Dan nyatanya, aku memang
sudah menduga ini semua. Clo memang tak lagi sama. Dia bukanlah seorang yang
berhasil membuatku menjatuhkan hatiku, Clo yang saat ini dan Clo yang lalu
memang sudah sosok yang berbeda. Aku tak kenal dengan Clo yang saat ini. Bahkan
dengan caranya yang mengakhiri hubungan kami, membuatku semakin tak
mengenalnya.
Dia
hanya mencari alasan untuk mengakhiri hubungan ini,
Gumamku pelan.
~°~°°~°~
Didanau ini aku
melampiaskan semuanya. Bukan tentang Clo, bukan tentang sakit hati, bukan
tentang patah hatiku setelah diputuskan oleh Clo. Aku melampiaskan tentang
suatu rasa yang tak pernah aku beritahu kepada siapapun. Ini tentang seseorang
yang pernah mengucapkan janjinya kepadaku.
Mungkin aku bodoh
memilih Clo daripada dia—seseorang yang sampai saat ini masih menungguku. Atau
mungkin hanya rasa emosiku yang saat itu mengatur segala hal yang aku putuskan.
Entah. Aldi. Ya, seseorang yang tak pernah ku dengar kabarnya beberapa bulan
belakangan ini, bahkan lebih tepatnya setelah aku memutuskan untuk kembali
bersama Clo. Dia menghilang, atau mungkin aku yang terlalu sibuk dengan segala
hal yang menyangkut Clo.
“Aku sudah tahu ini
pasti kau.” Suara itu menganggetkanku. Melepaskan segala pikiran yang sedari
tadi mengangguku. “Apa kabarmu?”
Aku membalikkan
tubuhku. Menatap tak percaya seseorang yang ada dihadapanku ini. Tak banyak
yang berubah darinya, hanya saja rambutnya yang lebih ia tata rapi.
“Apa kabarmu?” Tanya
lagi. Suaranya dan nadanya masih sangat aku kenal.
“Baik. Kamu?” Kataku
kaku. Ya, jantungku berdegub dengan sangat cepat.
“Hari ini cukup baik
karena bertemu denganmu. Tapi, yang kemarin-kemarin aku tidak yakin aku
baik-baik saja.” Katanya diakhiri dengan tawa renyahnya.
Aku diam. Aldi diam.
Dan kami saling diam. menikmati hembusan angin yang ada disekeliling kami,
menikmati rerumputan yang menari diantara kaki-kaki kami dan menikmati suara
gemericik air danau yang samar-samar aku dengar.
“Di.” Aku memberanikan diri
untuk memanggilnya. Aldi menoleh kearahku. Dan sekali lagi, dia tak berubah.
Tatapan matanya yang selalu tenang. Dan senyumannya yang mengajakku untuk ikut
tersenyum. “Siapa pacarmu saat ini?”
Aldi diam untuk
beberapa saat, menatapku dengan diamnya. “Aku pernah berjanji dengan seorang
wanita.” Katanya menatapku lagi. “Aku akan tetep menyimpan rasaku untuknya,
sampai kapanpun.” Aldi kembali menatap danau.
Aku diam. Kenapa aku jadi senang berdiam?, Tanyaku
pelan.
Aldi memindahkan
posisinya. Ia kini berada didepanku. Menatapku dengan tajam, menggenggam
tanganku dengan erat namun lembut. “Aku serius akan janji itu, Kin.” Katanya
masih dengan tatapannya yang menghanyutkan. “Aku menyukaimu.”
Aku tersenyum. Dan kali
ini, hatiku terasa lepas. Tak ada lagi kerisauan hati yang selama ini aku
rasakan. Ini yang aku harapkan selama ini. Aldi memelukku sangat erat.
Mengkecup keningku dengan penuh kasih. Dan kami menikmati suasana danau ini
dengan suasana hati yang berbeda. Cinta.


blognya lucu, secara keseluruhan ceritanya enak dibaca karena ringan dan rapi, 2 thumbs up deh buat kakak ;) tapi ada bagusnya tulisannya jangan warna coklat-merah karena backgroundnya udah warna coklat. ada beberapa poin lagi yang saya rasa harus saya kritik tentang teknik menulisnya :
BalasHapuskata sambung setelah kalimat langsung seperti 'kata' 'ucap' 'sahut' itu tidak perlu diawali huruf kapital.
bahasa masih ada yang inkonsisten. contohnya kalimat "Sinarnya yang berwarna orange mulai membuat efek gelap disudut café ini" yang benar "Sinarnya yang berwarna ORANYE mulai membuat efek gelap disudut KAFE ini"
bahasa asing sebaiknya dicetak miring.
yang benar terserah, bukan seterah, di KBBI gak ada seterah.
semoga tidak menyinggung kakak :) terus menulis ya kak :D
Terimakasih banget kak masukannya:-) Nanti akan diperbaiki;-)
Hapuswihhh ini cerita fiktif apa emang awalnya nyata terus dibikin cerita? :D
BalasHapusKisah nyatanya temen hehehe, terus dia minta tolong dibuatin cerita hehehe.
Hapuswah keren. untung ini happy ending ya.
BalasHapusmeski ada beberapa kata yg perlu diperbaiki. tapi udah bagus lah ini secara keseluruhan
Hehe terimakasih:-) Iya kak, masih harus belajar:-)
Hapus