Disini Crea biasa berada,
menikmati segala rasa yang selalu mengacaukannya. Di tempat ini ia bisa
mencurahkan segala hal di buku kecil yang selalu dibawanya kemana pun. Ia
sendiri. Senang menyendiri. Dan memang sendiri. Tak ada teman disaat seperti
ini, tak ada tawa yang ia dengar, cerita mereka berlalu begitu saja bersama
kehidupan mereka yang mulai sibuk. Kesunyianlah yang menjadi teman sebenarnya
didalam hidupnya.
“Crea.” Seseorang menyapanya
dengan ramah.
Crea memutar tubuhku, “Hai.” Sambutnya
cepat.
“Sedang apa?” Tanya seorang
perempuan dihadapannya yang sedari tadi mengandeng kekasihnya.
“Menyendiri.” ia mengakhirinya
dengan tawa, bahkan ia tidak berniat untuk menanyakan kegiatannya.
“Oh gitu. Yaudah, aku duluan ya.”
Mereka berlalu begitu saja, meninggalkan Crea dalam kesunyian ini.
Dan semua kembali hadir. Perasaan kacau ini, aku tidak mengerti
maksudnya. Aku hanya mampu merasakannya tapi tak bisa mengutarakannya. Ada rasa
ingin berteriak ketika semua orang disekelilingku mulai sibuk dengan
kekasihnya. Aku sendiri disini, menikmati angin dan gemericik suara danau
dengan perasaan tak terdefinisi ini. Aku sendiri disini, tak ada mereka yang
mulai melupakanku. Mungkin, hanya aku yang merasa tak terpedulikan lagi atau
memang seperti itu kenyataannya. Kadang, aku seperti tidak mengenal mereka lagi.
Ingin rasanya aku lari saat mereka mulai menceritakan kekasihnya, tapi nyatanya
aku masih memposisikan diriku sebagai pendengar mereka. Apa ini adil untukku
yang selalu menikmati kesunyian malam dengan rasa ini? Apa ini adil untukku
yang selalu menangis saat aku tak kuat menahannya dan tak mengerti harus
mencurahkannya kepada siapa? Kenapa rasanya aku terlalu sungkan untuk membagi
rasa yang mengacaukan ini? Aku bodoh. Aku hanya ingin terlihat baik-baik saja
didepan mereka, tapi nyatanya aku terlalu rapuh untuk hidup ini. Ya, aku
terlalu rapuh.
Crea menyelesaikan tulisannya
dengan airmata yang sedari tadi menetes. Ia selalu menangis dalam diam,
menangis dikesunyian sudut taman ini. Ia selalu menangis tanpa diketahui
teman-temannya. Menyembunyikan bagian hatinya yang hampa, bersikap seakan semua
baik-baik saja.
“Aku terlalu munafik.” Rintihnya
pelan dengan tangis yang semakin tak tertahan.
Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri
“Crea.” Panggil seseorang yang
sudah ada didepannya. “Kamu ikut aku yuk.” Perempuan itu mulai menarik
tangannya agar mengikutinya.
“Kemana sih?” Ia harus bersusah
payah untuk menyeimbangi langkah Lee, sahabatnya.
“Kantin.” Jawab Lee singkat.
“Ngapain tadi aku…………..” Ia
terdiam melihat ketiga sahabatnya sudah berada disebuah meja dan sedang
bercengkerama dengan seorang laki-laki
yang sering ia lihat disekolah ini. “Ini maksudnya apa ya?” Tanyanya
menghentikan langkahnya.
Crea bukan termasuk tipe
kebanyakan cewek sekolahan lainnya yang senang berkumpul bersama teman-temannya
dikantin. Menurutnya, itu hanya membuang waktunya. Saat bel berbunyi, ia memang
bergegas kekantin bersama teman-temannya, tapi ia hanya membeli satu minuman
dan makanan ringan, setelahnya ia kembali lagi kekelas. Menikmati music dengan headset-nya dan novel atau buku bacaan
lainnya.
“Kita mau nyomblangin kamu sama
cowok itu.” Jawab Lee dengan antusias yang tinggi. “Mau sampai kapan
terus-terusan kaya gini?” tanyanya.
Lee kembali menarik Crea dan
berdiri kini mereka berada tepat didepan
meja dengan 3 siswi dan 1 siswa yang sedang menatap mereka penuh senyum. Lee
segera menyuruh Crea menempati tempat yang kosong, namun ketiga temannya ia
suruh menjauh dari sana. Tak ada sebuah kata basa-basi untuk ini, hanya ada
perilaku yang membuatnya bingung. Mereka bergegas meninggalkan Crea yang masih
diam dalam duduknya, tak mengerti harus bagaimana. Semakin jauh, semakin jauh
dan semakin tak terlihat.
“Nama lu Crea?” Seseorang
dihadapannya membuatnya kaget. Ia masih sibuk dengan keempat sahabatnya yang
pergi tanpa pamit.
Crea tersenyum, mencoba ramah
tapi canggung. “Kalo boleh tau, kenapa kita ditinggal berdua ya?” Setelahnya ia
mengutuk dirinya sendiri dengan pertanyaan yang baru saja ia ucapkan itu. Ia
masih ingat kata ‘Kita mau nyomblangin
kamu sama cowok itu’ yang tadi diucapkan Lee dengan penuh antusias.
Cowok itu tertawa, dan Crea hanya
menatapnya. “Sebenernya gue juga ngga tau” jawabnya. Ia tidak tahu apa tujuan para perempuan itu, tapi ia tertawa? Cowok
yang aneh, Crea masih menatap cowok dihadapannya ini. “Nama gue Gria.”
Ia tidak menjawab, hanya
membiarkan mulutnya membentuk huruf O.
Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri
Mereka berada disebuah kafe tak
jauh dari sekolah. Bangku yang sudah seminggu menjadi tempat nyamannya selama
sebulan terakhir ini. Crea dan Gria sudah memesan sebuah minuman dengan makanan
ringan, perutnya masih tidak ingin menerima makanan berat. Menikmati panasnya
kota Surabaya disiang hari, tapi masih ada senyum disana. Senyum itu ada dan
masih ada sampai panas kota ini mulai tak terasa begitu menyengat. Mungkin,
karena mereka sedang jatuh cinta.
Mereka bercanda, bercerita
tentang kejadian-kejadian hari ini dan tentang apapun yang menurut mereka patut
untuk diceritakan. Gria sering menceritakan tentang teman-temannya yang tak
pernah kehabisan bahan banyolan, menceritakan
kesibukannya akhir-akhir ini, kegiatannya selepas sekolah. Selalu begitu, tapi
Crea masih senantiasa menjadi pendengar untuk segala cerita Gria. Sedangkan,
Crea lebih banyak menjadi pendengar, tapi sesekali Gria memaksanya untuk
bercerita tentang kesehariannya, kesenangannya dan teman-temannya. Meski
bingung akhirnya ia bercerita tentang kesenangannya ‘menyendiri’.
“Aku tidak merasakan apapun,
kecuali kesunyian.” Ia mulai bercerita. “Gemericik danau samar-samar bisa aku
dengar dan membuat kesan sendiri itu semakin ada.”
“Hanya itu? Berdiam dipinggir
danau?” Gria mulai tertarik akan kepribadian Crea yang mulai tertutup.
“Menulis. Mencurahkan segala hal
yang aku rasakan dengan kata-kata yang terangkai bebas.” Ia memejamkan matanya.
“Memancing rasa itu dan mengeluarkannya dengan sangat lembut. Tapi, nyatannya
rasa itu kembali hadir ketika mereka datang.”
“Mereka? Rasa itu?”
“Permisi.” Seorang pramusaji
sedang meletakan pesanan mereka dihadapan masing-masing dan berlalu setelah
pekerjaannya selesai.
Crea tersenyum, menyeruput
segelas cokelat dingin kesukaannya.
“Perasaan galau maksudmu?” Gria
masih tertarik dengan perbincangan ini.
“Entahlah.” Crea kembali
tersenyum, sedikit mencegah mulutnya untuk bercerita lebih jauh. Bukan dia
namanya ketika ia menceritakan semuanya kepada oranglain. “Hanya sebuah
perasaan kacau.” Ia kembali mengisap cokelat dinginnya.
“Kamu terlalu tertutup, Crea.”
Kata Gria menyadari sedang ada usaha dari Crea untuk tidak terpancing dengan
pertanyaan-pertanyaannya.
Ia tersenyum. Ia sedang senang
tersenyum saat ini, “Aku hanya tidak bagaimana cara berbagi kesedihan. Aku
hanya ingin terlihat baik-baik saja. Kamu sudah punya kesedihan sendiri dan aku
tidak mau menambah beban kesedihanmu dengan kesedihanku.”
“Kamu terlalu munafik ketika kamu
selalu ingin terlihat baik-baik saja. Semua orang punya hak untuk menceritakan
apa yang mereka rasakan, tidak dipendam sendiri, itu hanya akan menambah
sakit.”
“Dan setiap orang punya caranya
sendiri untuk bercerita, aku memilih pada bercerita pada kertas bisu.
Mencurahkan segalanya disitu, tanpa ada yang harus terbebani.”
“Setiap kesedihan harus dihadapi
dengan solusi, lalu apa yang kamu dapat dari sebuah kertas bisu itu? Kamu
kenapa rasa itu selalu datang lagi?” Gria mulai menatap Crea dengan tatapan
tajam. “Karena, kamu hanya mencurahkannya. Tidak mendapatkan solusi untuk
mencegah atau menghindarinya.”
Crea terdiam. Mungkin, ucapan
Gria benar. Ia tidak pernah mendapatkan solusi atas segala rasa yang mengacaukannya.
“Biarkan aku menikmati semuanya.”
Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri
Taman ini terasa berbeda.
Ditempat favoritnya kini ia berada, dipinggir danau yang selalu menjadi
tempatnya bercerita. Sudah dua bulan belakangan ini, ia jarang sekali
mengunjungi taman ini. Ia jarang menikmati udara paginya yang sejuk, menikmati
segala kesunyian disini. Kini semua sudah berubah, tak ada lagi kesunyian, tak
ada lagi hatinya yang hampa.
Aku merasakannya. Menikmati setiap detik bersamanya. Melewati hariku
yang mulai berbeda. Ditempat yang sama, aku menulis ini. Tapi, kini aku merasa
tak ada pengacau itu. Senyumku sedari tadi mengembang. Tak ada airmata diakhir
tulisan ini. Jatuh cintakah ini? Kalau memang aku jatuh cinta, apa yang perbuat
selanjutnya? Aku tak mengerti cara memulai semuanya. Aku tak paham bagaimana
caranya untuk mengajaknya berbicara terlebih dahulu. Disini semuanya sudah
berubah, aku masih berada disudut taman ini, disebuah tempat yang jauh dari
keramaian. Tapi, disini pula aku tak merasakan lagi kesunyian itu.
Ia menatap danau yang tak tenang
itu. Menghirup udaranya dengan pelan-pelan lalu menghembuskannya, merasakan
setiap detakan jantungnya yang lebih stabil dari sebelum-sebelumnya. Dan
semuanya memang sudah berubah. Tak ada lagi rasa sesak yang datang. Tak ada
lagi airmata yang menetes tiba-tiba, bahkan kini ia selalu tersenyum.
Ia bangkit dari duduknya,
berjalan menjauh dari tempat semulanya, bergegas pulang. Cuaca pagi hari ini
tidak terlalu bagus, awannya sedang tidak bersahabat dengannya. Mungkin, ia merasa kehilangan seorang
sahabatnya. Sahabatnya yang selalu sendiri. Iya, aku tidak lagi sendiri.
Crea geli sendiri dengan pikirannya yang aneh.
Ia masih melangkahkan kakinya
sebelum ia melihat sepasang kekasih dihadapannya.
Ia berhenti beberapa cm tak jauh
dari mereka, memperhatikan setiap gerak-gerik sepasang kekasih itu. Hatinya
mulai kacau (lagi). Perasaan itu mulai hadir lagi. Lututnya terasa lemas,
jantungnya berdegub dengan sangat cepat, kini matanya terasa sangat panas dan
air matanya menetes begitu saja. Otaknya mengulang beberapa kejadian yang baru
saja mereka lalui akhir-akhirnya ini. Ia masih menatap kekasih dihadapannya. Si
cowok mulai mendekap erat perempuannya, mengecup keningnya dengan penuh cinta,
memainkan rambutnya seakan ingin memanjakannya. Ia masih menatap sepasang
kekasih yang akan berlalu ini.
“Gria………….” Panggilnya dengan
tangis semakin menjadi.
Si cowok memutar tubuhnya dan
terdiam masih dengan memeluk kekasihnya.
Crea berjalan mendekati mereka.
Crea sadar tidak seharusnya Ia merasa marah, karena nyatanya mereka tak ada
apa-apa.
Mereka berhadapan dengan jarak 4
langkah kaki. Gria dan Crea masih terdiam saling memandang. “Ini siapa Gria?”
Tanya si perempuan yang mulai curiga dengan Crea dan Gria.
Gria kaget tapi masih mendengar
pertanyaan kekasihnya. “Ini Crea, Ci.” Katanya cepat. Ia tidak ingin si pacar
memikirkan hal yang aneh-aneh tentangnya dan Crea. “Temen sekolah aku.”
Sambungnya.
Crea masih terdiam.
“Crea, ini Cita. Pacar gue.”
katanya singkat. Sangat singkat. Tapi, hatinya terasa baru saja menerima
pukulan yang keras, sakit. Rasanya sangat sakit.
“Kalian ngga ada apa-apa kan?”
Cita mulai bertanya, ini yang ditakutkan Gria sejak tadi. “Kenapa Crea nangis
gitu? Ini bukan seperti yang di sinetron kan, yang?” tanyanya lagi.
Crea tidak mau dituduh menjadi
perusak hubungan orang, ia menghapus airmatanya. “Bukan.” Ia tertawa. “kamu
terlalu banyak nonton sinetron, Cit. Kami hanya teman.” Katanya masih dengan
tawa yang ia paksakan. “Gria teman curhatku. Aku baru saja patah hati, tadinya
mau cerita ke Gria. Ternyata, ngeliat cowok mirip Gria disini, makanya aku
panggil. Ternyata benar.” Sambungnya, masih diakhiri dengan tawa yang ia
paksakan.
Gria tersenyum lemas. Dari
senyumnya, terlihat ada rasa bersalah.
“Aku duluan ya. Curhatnya nanti
aja. Have a fun ya kalian.” Katanya berlalu begitu saja. Meninggalkan Gria yang
sedang berusaha bersikap sewajarnya dan Cita yang merasa tenang mendengar
penjelasannya.
Ia berjalan dengan rasa yang
kembali hadir. Pengacau itu kembali hadir. Airmata itu kembali datang. Dan,
hati ini menjadi tak menentu (lagi). Ia berjalan menjauh dari mereka yang mulai
meninggalkan tempat semula, mereka saling berjalan menjauh dengan rasa yang
hadir dihati masing-masing. Gria dengan perasaan bersalahnya, Cita dengan perasaan
curiga namun tetap mencoba percaya, dan dia yang paling terluka dari semua ini.
Dia yang paling merasa terhempas dalam cerita ini. Crea.
Kini, semua kembali. Pengacau,
airmata, dan kesunyian. Kini, ia sendiri lagi. Senang menyendiri lagi, dan
memang sendiri lagi. Masih sama dengan yang lalu, ia tidak ingin membagi rasa
sakit ini kepada siapapun. Rasanya ia sangat sulit untuk membaginya,
menikmatinya sendiri sudah menjadi ciri khasnya.
Mereka kembali dan mereka pergi. Aku bisa merasakan mereka kembali. Aku
terlalu hafal dengan rasanya, jadi aku sudah tak kaget dibuatnya. Kini,
semuanya kembali. Sendiri. Tak ada teman untuk saat ini. Aku tidak ingin
membaginya bukan karena tidak ada tempat berbagi, aku terlalu egois untuk
membiarkan hati ini merasakan segalanya sendiri. Sendiri berteman kesunyian.
Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.