Minggu, 05 Januari 2014

Sendiri


 
Disudut taman dipinggiran kota Surabaya-lah tempat Crea berada sekarang. Menikmati udara pagi yang masih sejuk. Menghembuskan nafasnya perlahan-lahan. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang, hanya beberapa remaja yang sedang berolahraga pagi atau sekedar duduk-duduk santai bersama teman seusianya, diantara mereka ada juga yang bersama pacar mereka. Crea terduduk tak jauh dari danau yang berada ditaman ini, menikmati airnya yang tenang. Sengaja menjauh dari segala keramaian di taman ini.

Disini Crea biasa berada, menikmati segala rasa yang selalu mengacaukannya. Di tempat ini ia bisa mencurahkan segala hal di buku kecil yang selalu dibawanya kemana pun. Ia sendiri. Senang menyendiri. Dan memang sendiri. Tak ada teman disaat seperti ini, tak ada tawa yang ia dengar, cerita mereka berlalu begitu saja bersama kehidupan mereka yang mulai sibuk. Kesunyianlah yang menjadi teman sebenarnya didalam hidupnya.

“Crea.” Seseorang menyapanya dengan ramah.

Crea memutar tubuhku, “Hai.” Sambutnya cepat.
 
“Sedang apa?” Tanya seorang perempuan dihadapannya yang sedari tadi mengandeng kekasihnya.

“Menyendiri.” ia mengakhirinya dengan tawa, bahkan ia tidak berniat untuk menanyakan kegiatannya.

“Oh gitu. Yaudah, aku duluan ya.” Mereka berlalu begitu saja, meninggalkan Crea dalam kesunyian ini.

Dan semua kembali hadir. Perasaan kacau ini, aku tidak mengerti maksudnya. Aku hanya mampu merasakannya tapi tak bisa mengutarakannya. Ada rasa ingin berteriak ketika semua orang disekelilingku mulai sibuk dengan kekasihnya. Aku sendiri disini, menikmati angin dan gemericik suara danau dengan perasaan tak terdefinisi ini. Aku sendiri disini, tak ada mereka yang mulai melupakanku. Mungkin, hanya aku yang merasa tak terpedulikan lagi atau memang seperti itu kenyataannya. Kadang, aku seperti tidak mengenal mereka lagi. Ingin rasanya aku lari saat mereka mulai menceritakan kekasihnya, tapi nyatanya aku masih memposisikan diriku sebagai pendengar mereka. Apa ini adil untukku yang selalu menikmati kesunyian malam dengan rasa ini? Apa ini adil untukku yang selalu menangis saat aku tak kuat menahannya dan tak mengerti harus mencurahkannya kepada siapa? Kenapa rasanya aku terlalu sungkan untuk membagi rasa yang mengacaukan ini? Aku bodoh. Aku hanya ingin terlihat baik-baik saja didepan mereka, tapi nyatanya aku terlalu rapuh untuk hidup ini. Ya, aku terlalu rapuh.

Crea menyelesaikan tulisannya dengan airmata yang sedari tadi menetes. Ia selalu menangis dalam diam, menangis dikesunyian sudut taman ini. Ia selalu menangis tanpa diketahui teman-temannya. Menyembunyikan bagian hatinya yang hampa, bersikap seakan semua baik-baik saja.

“Aku terlalu munafik.” Rintihnya pelan dengan tangis yang semakin tak tertahan.

Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri

“Crea.” Panggil seseorang yang sudah ada didepannya. “Kamu ikut aku yuk.” Perempuan itu mulai menarik tangannya agar mengikutinya.

“Kemana sih?” Ia harus bersusah payah untuk menyeimbangi langkah Lee, sahabatnya.

“Kantin.” Jawab Lee singkat.

“Ngapain tadi aku…………..” Ia terdiam melihat ketiga sahabatnya sudah berada disebuah meja dan sedang bercengkerama dengan seorang laki-laki  yang sering ia lihat disekolah ini. “Ini maksudnya apa ya?” Tanyanya menghentikan langkahnya.

Crea bukan termasuk tipe kebanyakan cewek sekolahan lainnya yang senang berkumpul bersama teman-temannya dikantin. Menurutnya, itu hanya membuang waktunya. Saat bel berbunyi, ia memang bergegas kekantin bersama teman-temannya, tapi ia hanya membeli satu minuman dan makanan ringan, setelahnya ia kembali lagi kekelas. Menikmati music dengan headset-nya dan novel atau buku bacaan lainnya.

“Kita mau nyomblangin kamu sama cowok itu.” Jawab Lee dengan antusias yang tinggi. “Mau sampai kapan terus-terusan kaya gini?” tanyanya.

Lee kembali menarik Crea dan berdiri  kini mereka berada tepat didepan meja dengan 3 siswi dan 1 siswa yang sedang menatap mereka penuh senyum. Lee segera menyuruh Crea menempati tempat yang kosong, namun ketiga temannya ia suruh menjauh dari sana. Tak ada sebuah kata basa-basi untuk ini, hanya ada perilaku yang membuatnya bingung. Mereka bergegas meninggalkan Crea yang masih diam dalam duduknya, tak mengerti harus bagaimana. Semakin jauh, semakin jauh dan semakin tak terlihat.

“Nama lu Crea?” Seseorang dihadapannya membuatnya kaget. Ia masih sibuk dengan keempat sahabatnya yang pergi tanpa pamit.

Crea tersenyum, mencoba ramah tapi canggung. “Kalo boleh tau, kenapa kita ditinggal berdua ya?” Setelahnya ia mengutuk dirinya sendiri dengan pertanyaan yang baru saja ia ucapkan itu. Ia masih ingat kata ‘Kita mau nyomblangin kamu sama cowok itu’ yang tadi diucapkan Lee dengan penuh antusias.

Cowok itu tertawa, dan Crea hanya menatapnya. “Sebenernya gue juga ngga tau” jawabnya. Ia tidak tahu apa tujuan para perempuan itu, tapi ia tertawa? Cowok yang aneh, Crea masih menatap cowok dihadapannya ini. “Nama gue Gria.”

 Ia tidak menjawab, hanya membiarkan mulutnya membentuk huruf O.

Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri

Mereka berada disebuah kafe tak jauh dari sekolah. Bangku yang sudah seminggu menjadi tempat nyamannya selama sebulan terakhir ini. Crea dan Gria sudah memesan sebuah minuman dengan makanan ringan, perutnya masih tidak ingin menerima makanan berat. Menikmati panasnya kota Surabaya disiang hari, tapi masih ada senyum disana. Senyum itu ada dan masih ada sampai panas kota ini mulai tak terasa begitu menyengat. Mungkin, karena mereka sedang jatuh cinta.

Mereka bercanda, bercerita tentang kejadian-kejadian hari ini dan tentang apapun yang menurut mereka patut untuk diceritakan. Gria sering menceritakan tentang teman-temannya yang tak pernah kehabisan bahan banyolan, menceritakan kesibukannya akhir-akhir ini, kegiatannya selepas sekolah. Selalu begitu, tapi Crea masih senantiasa menjadi pendengar untuk segala cerita Gria. Sedangkan, Crea lebih banyak menjadi pendengar, tapi sesekali Gria memaksanya untuk bercerita tentang kesehariannya, kesenangannya dan teman-temannya. Meski bingung akhirnya ia bercerita tentang kesenangannya ‘menyendiri’.

“Aku tidak merasakan apapun, kecuali kesunyian.” Ia mulai bercerita. “Gemericik danau samar-samar bisa aku dengar dan membuat kesan sendiri itu semakin ada.”

“Hanya itu? Berdiam dipinggir danau?” Gria mulai tertarik akan kepribadian Crea yang mulai tertutup.

“Menulis. Mencurahkan segala hal yang aku rasakan dengan kata-kata yang terangkai bebas.” Ia memejamkan matanya. “Memancing rasa itu dan mengeluarkannya dengan sangat lembut. Tapi, nyatannya rasa itu kembali hadir ketika mereka datang.”

“Mereka? Rasa itu?”

“Permisi.” Seorang pramusaji sedang meletakan pesanan mereka dihadapan masing-masing dan berlalu setelah pekerjaannya selesai.

Crea tersenyum, menyeruput segelas cokelat dingin kesukaannya.

“Perasaan galau maksudmu?” Gria masih tertarik dengan perbincangan ini.

“Entahlah.” Crea kembali tersenyum, sedikit mencegah mulutnya untuk bercerita lebih jauh. Bukan dia namanya ketika ia menceritakan semuanya kepada oranglain. “Hanya sebuah perasaan kacau.” Ia kembali mengisap cokelat dinginnya.

“Kamu terlalu tertutup, Crea.” Kata Gria menyadari sedang ada usaha dari Crea untuk tidak terpancing dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Ia tersenyum. Ia sedang senang tersenyum saat ini, “Aku hanya tidak bagaimana cara berbagi kesedihan. Aku hanya ingin terlihat baik-baik saja. Kamu sudah punya kesedihan sendiri dan aku tidak mau menambah beban kesedihanmu dengan kesedihanku.”

“Kamu terlalu munafik ketika kamu selalu ingin terlihat baik-baik saja. Semua orang punya hak untuk menceritakan apa yang mereka rasakan, tidak dipendam sendiri, itu hanya akan menambah sakit.”

“Dan setiap orang punya caranya sendiri untuk bercerita, aku memilih pada bercerita pada kertas bisu. Mencurahkan segalanya disitu, tanpa ada yang harus terbebani.”

“Setiap kesedihan harus dihadapi dengan solusi, lalu apa yang kamu dapat dari sebuah kertas bisu itu? Kamu kenapa rasa itu selalu datang lagi?” Gria mulai menatap Crea dengan tatapan tajam. “Karena, kamu hanya mencurahkannya. Tidak mendapatkan solusi untuk mencegah atau menghindarinya.”

Crea terdiam. Mungkin, ucapan Gria benar. Ia tidak pernah mendapatkan solusi atas segala rasa yang mengacaukannya. “Biarkan aku menikmati semuanya.”

Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri

Taman ini terasa berbeda. Ditempat favoritnya kini ia berada, dipinggir danau yang selalu menjadi tempatnya bercerita. Sudah dua bulan belakangan ini, ia jarang sekali mengunjungi taman ini. Ia jarang menikmati udara paginya yang sejuk, menikmati segala kesunyian disini. Kini semua sudah berubah, tak ada lagi kesunyian, tak ada lagi hatinya yang hampa.

Aku merasakannya. Menikmati setiap detik bersamanya. Melewati hariku yang mulai berbeda. Ditempat yang sama, aku menulis ini. Tapi, kini aku merasa tak ada pengacau itu. Senyumku sedari tadi mengembang. Tak ada airmata diakhir tulisan ini. Jatuh cintakah ini? Kalau memang aku jatuh cinta, apa yang perbuat selanjutnya? Aku tak mengerti cara memulai semuanya. Aku tak paham bagaimana caranya untuk mengajaknya berbicara terlebih dahulu. Disini semuanya sudah berubah, aku masih berada disudut taman ini, disebuah tempat yang jauh dari keramaian. Tapi, disini pula aku tak merasakan lagi kesunyian itu.

Ia menatap danau yang tak tenang itu. Menghirup udaranya dengan pelan-pelan lalu menghembuskannya, merasakan setiap detakan jantungnya yang lebih stabil dari sebelum-sebelumnya. Dan semuanya memang sudah berubah. Tak ada lagi rasa sesak yang datang. Tak ada lagi airmata yang menetes tiba-tiba, bahkan kini ia selalu tersenyum.

Ia bangkit dari duduknya, berjalan menjauh dari tempat semulanya, bergegas pulang. Cuaca pagi hari ini tidak terlalu bagus, awannya sedang tidak bersahabat dengannya. Mungkin, ia merasa kehilangan seorang sahabatnya. Sahabatnya yang selalu sendiri. Iya, aku tidak lagi sendiri. Crea geli sendiri dengan pikirannya yang aneh.

Ia masih melangkahkan kakinya sebelum ia melihat sepasang kekasih dihadapannya.

Ia berhenti beberapa cm tak jauh dari mereka, memperhatikan setiap gerak-gerik sepasang kekasih itu. Hatinya mulai kacau (lagi). Perasaan itu mulai hadir lagi. Lututnya terasa lemas, jantungnya berdegub dengan sangat cepat, kini matanya terasa sangat panas dan air matanya menetes begitu saja. Otaknya mengulang beberapa kejadian yang baru saja mereka lalui akhir-akhirnya ini. Ia masih menatap kekasih dihadapannya. Si cowok mulai mendekap erat perempuannya, mengecup keningnya dengan penuh cinta, memainkan rambutnya seakan ingin memanjakannya. Ia masih menatap sepasang kekasih yang akan berlalu ini.

“Gria………….” Panggilnya dengan tangis semakin menjadi.

Si cowok memutar tubuhnya dan terdiam masih dengan memeluk kekasihnya.

Crea berjalan mendekati mereka. Crea sadar tidak seharusnya Ia merasa marah, karena nyatanya mereka tak ada apa-apa.

Mereka berhadapan dengan jarak 4 langkah kaki. Gria dan Crea masih terdiam saling memandang. “Ini siapa Gria?” Tanya si perempuan yang mulai curiga dengan Crea dan Gria.

Gria kaget tapi masih mendengar pertanyaan kekasihnya. “Ini Crea, Ci.” Katanya cepat. Ia tidak ingin si pacar memikirkan hal yang aneh-aneh tentangnya dan Crea. “Temen sekolah aku.” Sambungnya.

Crea masih terdiam.

“Crea, ini Cita. Pacar gue.” katanya singkat. Sangat singkat. Tapi, hatinya terasa baru saja menerima pukulan yang keras, sakit. Rasanya sangat sakit.

“Kalian ngga ada apa-apa kan?” Cita mulai bertanya, ini yang ditakutkan Gria sejak tadi. “Kenapa Crea nangis gitu? Ini bukan seperti yang di sinetron kan, yang?” tanyanya lagi.

Crea tidak mau dituduh menjadi perusak hubungan orang, ia menghapus airmatanya. “Bukan.” Ia tertawa. “kamu terlalu banyak nonton sinetron, Cit. Kami hanya teman.” Katanya masih dengan tawa yang ia paksakan. “Gria teman curhatku. Aku baru saja patah hati, tadinya mau cerita ke Gria. Ternyata, ngeliat cowok mirip Gria disini, makanya aku panggil. Ternyata benar.” Sambungnya, masih diakhiri dengan tawa yang ia paksakan.

Gria tersenyum lemas. Dari senyumnya, terlihat ada rasa bersalah.

“Aku duluan ya. Curhatnya nanti aja. Have a fun ya kalian.” Katanya berlalu begitu saja. Meninggalkan Gria yang sedang berusaha bersikap sewajarnya dan Cita yang merasa tenang mendengar penjelasannya.

Ia berjalan dengan rasa yang kembali hadir. Pengacau itu kembali hadir. Airmata itu kembali datang. Dan, hati ini menjadi tak menentu (lagi). Ia berjalan menjauh dari mereka yang mulai meninggalkan tempat semula, mereka saling berjalan menjauh dengan rasa yang hadir dihati masing-masing. Gria dengan perasaan bersalahnya, Cita dengan perasaan curiga namun tetap mencoba percaya, dan dia yang paling terluka dari semua ini. Dia yang paling merasa terhempas dalam cerita ini. Crea.

Kini, semua kembali. Pengacau, airmata, dan kesunyian. Kini, ia sendiri lagi. Senang menyendiri lagi, dan memang sendiri lagi. Masih sama dengan yang lalu, ia tidak ingin membagi rasa sakit ini kepada siapapun. Rasanya ia sangat sulit untuk membaginya, menikmatinya sendiri sudah menjadi ciri khasnya.

Mereka kembali dan mereka pergi. Aku bisa merasakan mereka kembali. Aku terlalu hafal dengan rasanya, jadi aku sudah tak kaget dibuatnya. Kini, semuanya kembali. Sendiri. Tak ada teman untuk saat ini. Aku tidak ingin membaginya bukan karena tidak ada tempat berbagi, aku terlalu egois untuk membiarkan hati ini merasakan segalanya sendiri. Sendiri berteman kesunyian.

Sendiri°Sendiri°Sendiri°Sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.