Sabtu, 15 Maret 2014

Surat Untukmu "Pengumbar Kata Manis"

Hai.


Apa kabarmu? Bagaimana harimu? Menyenangkan atau menyedihkan? Aku berharap kau mendapatkan hari-hari yang menyenangkan. Lalu masih senangkah kau mengumbar kata-kata manismu kepada banyak wanita? Pesanku untukmu, janganlah terlalu banyak mengumbar kata-kata manismu lagi, percayalah itu menyakitkan untuk mereka (wanita yang kau beri kata-kata manismu), mungkin aku termasuk kedalamnya. Aku fikir iya.

Aku tidak mengerti mengapa akhir-akhir aku menjadi seperti ini. Akhir-akhir ini, kau terlalu sibuk mengganggu fikiranku dikala aku istirahat. Dan kau harus tahu, aku menjadi sangat tak menentu saat kau mulai hadir. Pipiku merona ketika namamu terdengar. Kata-katamu masih senantiasa mengiang-ngiang difikiranku. Adakah cara untuk menghilangkannya? Beritahu aku, jika memang ada.


Salahkah aku, jika aku mulai sibuk nge-scroll timeline mu? Berbolak-balik ke contact bbm untuk melihat namamu di recent update? Mengaktifkan facebookku dan melihat online contact. Akankah ada kejadian seperti 2 tahun silam? Aku mungkin terlalu naid untuk mengakui ini, kau mulai mengisi sisi ruang dihatiku yang sempat aku tutup. Aku tidak tahu mengapa kau terlalu mudah melakukan ini. Aku tidak tahu mengapa kau bisa membuat aku memikirkanmu tanpa henti.


Aku tidak mengerti ini apa. Aku tidak tahu ini apa. Cinta. Teman-temanku berkata: iya. Tapi, aku masih sangat sulit untuk menerimanya. Entah kenapa, aku tidak ingin mengakuinya, aku tidak ingin rasa ini semakin besar. Tapi, ternyata aku semakin tak bisa menghilangkan kau dari fikiranku kala aku istirahat. Hingga akhirnya, aku menyerah untuk melawan semuanya.


“Mengapa kau melakukan ini?” hanya itu yang ingin aku tanyakan kepadamu. Saat kau hadir dan menghilang sesuka hatimu, tahukah kau tentang satu sisi hati yang terluka? Tahukah kau tentang satu sisi di otakku yang tak pernah berhenti memikirkanmu? Ini tidak menyakitkan untukku. Tapi, aku tidak bisa menyebutkan diriku baik-baik saja kala kau datang lagi.


Aku yang bodoh mungkin, aku mengenalmu. Aku tahu dengan ‘kegiatanmu’ mengumbar kata-kata manis, lalu mengapa hatiku masih ikut berkontribusi didalamnya? Mengapa aku masih tak bisa menahan hatiku? Kenapa aku tak bisa bersikap biasa saja saat kau mulai berkata manis?


Bolehkah aku jujur, seringkali di malam hari aku menunggu chat darimu. Chat tak jelasmu. Tapi, yang kau tak pernah tahu, selalu ada senyum mengembang disetiap kata-kata ‘judes’ dariku. Dan sampai saat ini, ketika aku menulis surat tak tersampaikan ini, aku masih aku yang sama. Aku yang masih berharap chat darimu dimalam hari.


Lalu apa rencanamu untuk masa depanmu? Kau akan meneruskan dan berusaha menggapai cita-citamu  bukan? Dan biarkan aku melakukan hal yang sama. Menghilanglah dari fikiranku. Aku hanya ingin fokus mengejar cita-citaku layaknya kau mengejar cita-citamu. Bukankah itu adil? Kalau kita memang ditakdirkan bertemu lagi, biarkan Allah yang merancang semuanya secara indah.


Satu pertanyaan untukmu, ‘adakah rasa itu sesungguhnya?’ ‘apa kau merasakan apa yang aku rasakan?’

Ini kesalahanku mungkin, dulu sewaktu kita sekolah, aku terlalu tidak mengharapkan kehadiranmu. Dan hingga akhirnya, aku merindukan kehadiranmu. Kehadiranmu dengan segala kekonyolanmu.

Jika aku memang tak ada dihatimu, pergilah. Menjauhlah dari aku. Biarkan aku menemukan seseorang yang sebenarnya untukku. Biarkan aku merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Jika, memang ada aku dihatimu. Aku rasa ini tidak mungkin, kau terlalu pemain untuk dipercaya.


Aku fikir, sudah terlalu banyak kata-kata yang aku tuangkan di surat tak tersampaikan ini. Semoga kau membacanya secara tidak sengaja, mengerti semuanya. Semoga kau mengerti ‘apa yang seharusnya kau lakukan.’


Salam dari seseorang yang buat jatuh hati.

4 komentar:

  1. Membaca risalah cinta ini aku menjadi malu sendiri,..
    Malu kepada dunia. Malu kepada orang yang udah katanya “berpacaran”...
    Di satu sisi juga, membaca postingan ini aku menjadi galau, galau ini orang sakit hati atau juga rindu.. (hehe), kalau ditipi-tipi kan ada, “benci tapi rindu”, “kangen tapi ngga ah”...
    Yang jelas aku menangkap esensi dari surat cinta..

    Semoga, sosok yang kau tujukan segera membacanya, Amin....
    Terimakasih banyak Fanny atas postingannya.. *cinta itu indah pada waktunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe jangan ke bawa galau ya kak:-)
      Iya kak, terimakasih juga sudah membaca:-)

      Hapus
  2. wahh jadi kamu sekarang kena penyakit diabetes ya mbak? abis kebanyakan makan omongan omongan manis, sampe kena diabetes wkwkw
    bagus kak, jadi kerasa banget pernah ngumbar kata manis sama ehm... mantan :l

    http://fandhyachmadromadhon.blogspot.com/2014/03/menulis-blog-untuk-apa.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, kebanyakan dikasih omongan yang manis-manis, tapi ditinggal gitu aja. hehehe.

      Aku sudah ke blog mu:-)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.