Hai.
Apa kabarmu? Bagaimana harimu?
Menyenangkan atau menyedihkan? Aku berharap kau mendapatkan hari-hari yang
menyenangkan. Lalu masih senangkah kau mengumbar kata-kata manismu kepada
banyak wanita? Pesanku untukmu, janganlah terlalu banyak mengumbar kata-kata
manismu lagi, percayalah itu menyakitkan untuk mereka (wanita yang kau beri
kata-kata manismu), mungkin aku termasuk kedalamnya. Aku fikir iya.
Aku tidak mengerti mengapa
akhir-akhir aku menjadi seperti ini. Akhir-akhir ini, kau terlalu sibuk mengganggu
fikiranku dikala aku istirahat. Dan kau harus tahu, aku menjadi sangat tak
menentu saat kau mulai hadir. Pipiku merona ketika namamu terdengar.
Kata-katamu masih senantiasa mengiang-ngiang difikiranku. Adakah cara untuk
menghilangkannya? Beritahu aku, jika memang ada.
Salahkah aku, jika aku mulai
sibuk nge-scroll timeline mu?
Berbolak-balik ke contact bbm untuk melihat namamu di recent update?
Mengaktifkan facebookku dan melihat online contact. Akankah ada kejadian
seperti 2 tahun silam? Aku mungkin terlalu naid untuk mengakui ini, kau mulai
mengisi sisi ruang dihatiku yang sempat aku tutup. Aku tidak tahu mengapa kau
terlalu mudah melakukan ini. Aku tidak tahu mengapa kau bisa membuat aku
memikirkanmu tanpa henti.
Aku tidak mengerti ini apa. Aku
tidak tahu ini apa. Cinta. Teman-temanku berkata: iya. Tapi, aku masih sangat
sulit untuk menerimanya. Entah kenapa, aku tidak ingin mengakuinya, aku tidak
ingin rasa ini semakin besar. Tapi, ternyata aku semakin tak bisa menghilangkan
kau dari fikiranku kala aku istirahat. Hingga akhirnya, aku menyerah untuk
melawan semuanya.
“Mengapa kau melakukan ini?”
hanya itu yang ingin aku tanyakan kepadamu. Saat kau hadir dan menghilang
sesuka hatimu, tahukah kau tentang satu sisi hati yang terluka? Tahukah kau
tentang satu sisi di otakku yang tak pernah berhenti memikirkanmu? Ini tidak
menyakitkan untukku. Tapi, aku tidak bisa menyebutkan diriku baik-baik saja
kala kau datang lagi.
Aku yang bodoh mungkin, aku
mengenalmu. Aku tahu dengan ‘kegiatanmu’ mengumbar kata-kata manis, lalu
mengapa hatiku masih ikut berkontribusi didalamnya? Mengapa aku masih tak bisa
menahan hatiku? Kenapa aku tak bisa bersikap biasa saja saat kau mulai berkata
manis?
Bolehkah aku jujur, seringkali di
malam hari aku menunggu chat darimu. Chat tak jelasmu. Tapi, yang kau tak
pernah tahu, selalu ada senyum mengembang disetiap kata-kata ‘judes’ dariku.
Dan sampai saat ini, ketika aku menulis surat tak tersampaikan ini, aku
masih aku yang sama. Aku yang masih berharap chat darimu dimalam hari.
Lalu apa rencanamu untuk masa
depanmu? Kau akan meneruskan dan berusaha menggapai cita-citamu bukan? Dan biarkan aku melakukan hal yang
sama. Menghilanglah dari fikiranku. Aku hanya ingin fokus mengejar cita-citaku
layaknya kau mengejar cita-citamu. Bukankah itu adil? Kalau kita memang
ditakdirkan bertemu lagi, biarkan Allah yang merancang semuanya secara indah.
Satu pertanyaan untukmu, ‘adakah
rasa itu sesungguhnya?’ ‘apa kau merasakan apa yang aku rasakan?’
Ini kesalahanku mungkin, dulu
sewaktu kita sekolah, aku terlalu tidak mengharapkan kehadiranmu. Dan hingga
akhirnya, aku merindukan kehadiranmu. Kehadiranmu dengan segala kekonyolanmu.
Jika aku memang tak ada dihatimu,
pergilah. Menjauhlah dari aku. Biarkan aku menemukan seseorang yang sebenarnya
untukku. Biarkan aku merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Jika, memang ada
aku dihatimu. Aku rasa ini tidak mungkin, kau terlalu pemain untuk dipercaya.
Aku fikir, sudah terlalu banyak
kata-kata yang aku tuangkan di surat tak tersampaikan ini. Semoga kau
membacanya secara tidak sengaja, mengerti semuanya. Semoga kau mengerti ‘apa
yang seharusnya kau lakukan.’
Salam dari seseorang yang buat
jatuh hati.

Membaca risalah cinta ini aku menjadi malu sendiri,..
BalasHapusMalu kepada dunia. Malu kepada orang yang udah katanya “berpacaran”...
Di satu sisi juga, membaca postingan ini aku menjadi galau, galau ini orang sakit hati atau juga rindu.. (hehe), kalau ditipi-tipi kan ada, “benci tapi rindu”, “kangen tapi ngga ah”...
Yang jelas aku menangkap esensi dari surat cinta..
Semoga, sosok yang kau tujukan segera membacanya, Amin....
Terimakasih banyak Fanny atas postingannya.. *cinta itu indah pada waktunya..
Hehe jangan ke bawa galau ya kak:-)
HapusIya kak, terimakasih juga sudah membaca:-)
wahh jadi kamu sekarang kena penyakit diabetes ya mbak? abis kebanyakan makan omongan omongan manis, sampe kena diabetes wkwkw
BalasHapusbagus kak, jadi kerasa banget pernah ngumbar kata manis sama ehm... mantan :l
http://fandhyachmadromadhon.blogspot.com/2014/03/menulis-blog-untuk-apa.html
Iya kak, kebanyakan dikasih omongan yang manis-manis, tapi ditinggal gitu aja. hehehe.
HapusAku sudah ke blog mu:-)