![]() |
| Sumber Gambar |
Ciant berlari keluar kelas dengan
terburu-buru, beberapa temannya ia suruh menyingkir agar tidak tertabrak
olehnya. Dengan langkah cepat ia menyusuri lorong-lorong kelas yang masih
dipenuhi dengan murid-murid lain. Ia terus mempercepat langkahnya. Akhir-akhir
ini, ia tidak terlalu memperdulikan orang yang mencibirnya karena langkah
cepatnya. Dan sampailah dia ditempat yang dituju. Tempat yang sudah seminggu
ini menjadi tempat mengasyikkan saat pulang sekolah, gerbang sekolah. Berdiri
mematung memperhatikan setiap siswa yang keluar dari sekolah yang berada
disebelahnya.
“Hai, Ciant. Lagi nungguin doi
muncul lagi?” Kata seorang perempuan teman sekelasnya.
Ciant hanya tertawa.
Seseorang yang ia tunggu,
akhirnya muncul dengan motornya. Mengenakan helm berwarna merah dan sweater
abu-abu favoritnya, ah ini hanya pendapat Ciant. Laki-laki yang berada diantara
teman-temannya itu cukup menarik perhatiannya, sesekali ia tertawa dengan
lesung pipi yang ada di kedua sisinya. Ciant masih menatapnya dari jauh.
“Kalo kaya gini doang, mana dia
tahu, Ant?” Seorang perempuan sudah berada disampingnya, Selly, sahabatnya
sejak beberapa tahun yang lalu.
“Ya mau kaya gimana lagi?” Ciant
sudah mulai memalingkan wajahnya. Laki-laki yang sedari tadi ia tatap, mulai
merasa di perhatikan. Sesekali ia menatap kearah Ciant, hanya untuk memastikan
apakah Ciant masih menatapnya.
~°°~°~°~
“Gue tahu nama cowok itu dong.”
Ciant menunjukkan sebuah akun facebook milik lelaki yang selama ini ia
perhatikan secara jauh.
“Nah, coba lu chat. Lu deketin
dong.” Selly lagi-lagi menyuruh Ciant untuk mendekati lelaki itu, Rendi.
Raut wajah Ciant berubah, “Ngga
ah Sel. Cukup tahu facebooknya. Kalo dia suka sama gue, dia pasti berusaha
kok.” Ia melangkahkan kakinya menuju dalam kelas. Hatinya mulai tak menentu.
Sudah hampir enam bulan, ia terus
belari keluar sekolah saat bel baru berbunyi hanya untuk melihat sosok
lelakinya. Sudah hampir enam bulan, ia berdiri didepan gerbang, mengamati
seorang lelaki yang sedang dikelilingi oleh teman-temannya. Dan sudah selama
itu ia hanya diam. berdiri tanpa pernah berkata, bertemu tanpa pernah saling
sapa, dan memperhatikan tanpa pernah menunjukkannya. Inilah dunia Ciant,
dunianya yang penuh dengan kebungkaman.
Dan masih sama seperti hari-hari
selama 6 bulan terakhir ini, Ciant masih berdiri ditempat yang sama, masih
memperhatikan sosok yang sama. Dan masih dengan dunianya yang sama,
kebungkamannya.
“Rendi. Rendi. Ini ada Ciant.”
Suara itu terdengar diantara deruan motor dan bisingnya suara anak-anak yang
keluar gerbang.
Dan tepat, lelaki yang dimaksud
mengarahkan pandangannya kearah asal suara. Jadilah, Ciant mati kutu. Ia
menundukkan pandangannya, mencibir Ayu yang berhasil berteriak-teriak tanpa
malu. Beberapa menit Rendi masih menatap ke arah Ciant, lalu ia memalingkah
wajahnya lagi, tersenyum kepada teman-temannya dan digodalah ia dengan beberapa
lelaki disebelahnya. Ia masih memandang kearah asal suara tadi, dengan senyum,
menurut Ciant, itu senyum malu milik Rendi.
“Tadi malu-maluin banget.” Ciant
masih saja mengutuk sahabatnya itu.
Ayu hanya tertawa. “Ya abisnya
kalo cuma diliatin mana dia tahu sih Ant?”
“Besok-besok gue ikutan ah, yu.”
Selly ikut menggoda sahabatnya yang wajahnya sudah memerah itu. Hatinya
berdebar dengan keras.
Mereka tertawa dan Ciant hanya berdiam
diri.
~°°~°~°~
Masih dengan kegilaan yang sama,
mereka berteriak-teriak tanpa mengenal malu. “Rendi, ada Ciant nih.” “Rendi,
dicariin sama Ciant.” “Rendi, dapet salam dari Ciant.” Dan masih banyak
kata-kata gila yang mereka buat sendiri. Mereka terlalu gila dan berani,
sedangkan Ciant terlalu asik dengan dunianya.
Satu sisi hatinya, tak yakin
dengan kelakuan temannya. Tapi, ketika hati mulai ikut berkontribusi, siapa
yang bisa menahannya kalau ada satu pengharapan yang hadir? Ia terlalu lemah
untuk menolak hati yang dengan mudah berdebar dengan cepat. Ia terlalu lemah
untuk menahan rona merah pada pipinya. Ia terlalu lemah untuk berkata yang
sebenarnya, menyapanya terlebih dahulu, bahkan hanya untuk sekedar sebuah
senyuman awal pun sangat sulit ia hadirkan. Ia hanya perempuan lemah yang
tenggelam dalam dunianya.
“Kemarin gue liat kalo Rendi
minta nomor Caca masa, Ant.” Senyumnnya hilang. Hatinya mulai tak menentu lagi.
“Terus?”
“Ya ngga dikasih sama si Caca,
lagian dia juga udah punya cowok kan.” Selly melangkah dengan langkah pasti,
tak tahu tentang hati yang sedang tak menentu.
Ciant benci ketika dirinya
seperti ini, Ciant benci ketika dirinya hanya berani berdiri dari jauh memperhatikan Rendi.
Perempuan dengan kacamata ini, mulai semakin tak menentu, ketika harapan yang
selama ini ia fikir nyata, ternyata sia-sia. Tak ada yang benar-benar memulai,
mereka hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Ciant dengan dunianya yang bungkam
dan Rendi dengan senyum malu ketika teman-temannya mulai menggodanya. Tak ada
yang berani memulai, Ciant tak tahu harus memulai seperti apa, karena
menurutnya perempuan lebih pantas menunggu, dan inilah Ciant yang selalu
menunggu hal yang tidak pasti tentang Rendi. Sedangkan, Rendi hanya diam,
menurut Ciant Rendi memang tak tertarik dengannya, menurutnya ia kurang cantik
untuk dapat menjadi seseorang yang membuat Rendi tertarik.
“Rend, dicariin sama Ciant.”
Suara itu masih dapat dengan jelas ia dengar, meski ia sudah menjauh. Berjalan
lebih cepat karena tak ingin lebih menjadi salah tingkah.
Dan lagi-lagi, Rendi menoleh
kearah Selly dan Ayu yang berada disamping motornya, hanya tersenyum lalu
mengendarai motornya yang mulai ia gas.
~°°~°~°~
“Kalian udah ngga usah kaya gitu
lagi. Teriak-teriak ngga jelas. Toh, orangnya juga ngga peduliin kan? Dia ngga
suka sama gue.” Ciant sudah berada di titik terendah pertahanannya.
Harapan-harapannya selama ini sudah ia lepas, ia tak ingin semakin tinggi
menaruh semuanya.
Kedua sahabatnya
memperhatikannya. “Lu ngga mulai, dia mana tahu sih perasaan lu.”
Ciant mencoba tidak memperhatikan
kearah gerbang sebelah, ia harusnya mengerti hatinya sudah terlalu sakit ketika
harapannya hanya menjadi hampa. “Kalo dia suka sama gue, dia udah usaha dari
awal. Ini apa? Ngga ada kan?”
“Boleh ngomong sama teman kalian
nggak?” Seorang lelaki berada dihadapan mereka. Tidak ada kegilaan lagi, tidak
ada teriak-teriak lagi. Mereka hanya diam.
“Silakan.” Ayu mulai sadar
seseorang dihadapannya ini menanti jawaban dari mereka. “Kita tunggu disana ya,
Ant.”
Ciant hanya diam. Mengangguk tak
pasti. Hatinya berdebar sangat cepat. Pipinya mulai merona.
“Oiya nama lu siapa? Gue Rendi.”
Rendi memulai dengan sangat ramah.
Gue tahu nama lu Rend, tapi nyatanya lu bahkan ngga tau nama gue ketika
teman-teman gue sudah sibuk memberitahu nama gue kan?, ia menjawabnya dalam
hati. “Ciant.” Jawabnya singkat, berusaha mengatur nada yang biasa saja.
“Oh.” Rendi diam. Ciant diam. Tak ada yang
berusaha, mereka saling mencoba memperhatikan sekeliling dengan pikiran mereka
masing-masing.
Rendi mulai menatapnya lagi,
“Gini ya…….. Gue manggil lu siapa nih?” ia tertawa canggung.
“Ciant aja, atau Ant.”
“Oh oke. Jadi gini, bisa ngga
tolong lu bilang sama temen lu yang dua tadi buat ngga manggil-manggil gue
terus. Bukannya gimana ya, tapi gue rada ngga enak sama orang-orang. Lagian
juga kan temen lu emang ngga malu teriak-teriakan kaya gitu?” Dia berkata
dengan sangat ramah, tapi tetap ada sesuatu yang menghantam hati Ciant sangat
keras. Kakinya melemas, detaknya jantungnya tidak berhenti tetapi melemah,
hantamannya sangat keras, ia sampai hampir menangis. Ia tahan airmata yang
sudah di matanya.
“Ya gitu aja sih. Pokoknya tolong
ya dibilangin ke temen-temennya.” Rendi tersenyum. “Eh, tapi bukan karena gue
sok ganteng atau gimana ya. Ya cuma kaya risih aja sih, kan kalo
diteriak-teriakin kaya gitu, yang lain jadi merhatiin juga.” Rendi tertawa
pelan, dan kali ini ia membenci dirinya yang masih saja terpesona akan lesung
pipi milik Rendi.
“Oke, nanti gue sampein.” Ciant
tertawa, memaksakan dirinya untuk tertawa. “Maaf ya.”Sambungnya lirih.
“Iya ngga apa-apa. Yaudah gue
duluan ya.” Rendi meninggalkan Ciant yang masih mengatur hatinya sendiri.
Mencoba mengendalikan dirinya.
Didalam dunia miliknya, ia
berteriak dalam hati. Ia hancur. Harapannya kini benar-benar hampa. Semuanya
terasa sakit melihat seseorang yang baru saja meninggalkannya. Semuanya terasa
sakit saat ia mengulang perkataan yang baru ia dengar.
Dan tinggallah Ciant sendiri.
Sendiri dalam dunianya sendiri. Sendiri menyimpan segala rasa sakit yang selama
ini menumpuk dan akhirnya harus ia tumpuk semakin tinggi. Tinggallah dia
sendiri dengan segala serpihan-serpihan hati yang hancur. Ciant kini hanya
berteman harapan-harapan hampanya. Dan kini, ia sadar, takkan ada lagi
lari-lari saat bel tiba, tak perlu lagi ia menunggu lelaki bermotor merah
mengenakan helm merah dan sweater abu-abu didepan gerbang.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.