Kamis, 24 Juli 2014

Diary Gladis Part 1

Rabu, 22 September 2010

Aku tidak pernah tahu mengapa dia selalu hadir kala malam mataku ingin terpejam, aku tidak pernah tahu mengapa selalu aku rasakan rindu yang tak bisa aku kendalikan saat ia tak ada dihadapanku, aku tidak pernah tahu mengapa aku menjadi sering menyebut namanya akhir-akhir ini, aku tidak pernah tahu mengapa pipiku menjadi merona kala kami bertatap muka. Apa ini yang disebut dengan jatuh cinta?

Lelaki itu bernama Rio, sosok yang sangat dikagumi oleh perempuan se-antreo sekolah. Lelaki yang menjadi langganan untuk surat cinta terbanyak sepanjang tiga tahun sekolah di SMA Budi Perkesa. Menjadi salah satu pemain terbaik tim futsal sekolah-lah yang akhirnya menjadikannya se-terkenal ini di kalangan perempuan-perempuan.

“Lu kan belum kenal sama dia, kalo paling cuma papasan di koridor kelas. Terus apa yang buat lu suka sama dia?” Sheena yang berada disebelahku ikut menatap kearah Rio yang berada diantara teman-temannya—yang tak kalah keren.

Sabtu, 19 Juli 2014

Prolog Diary Gladis

Selamat malam, kamu yang bersedia membaca tulisan ini disela-sela kesibukanmu.

Malam ini saya mau membuat suatu label khusus tentang cerita baru yang akan saya buat secara berkelanjutan. Label ini saya kasih nama “DIARY GLADIS”, bukan tentang diary atau curhatan saya pribadi, ini hanya sebuah kisah fiktif dari seorang gadis yang saya ciptakan sendiri dan saya ceritakan dalam bentuk cerita yang berkesinambungan.

Sebelum saya memulai cerita, izinkan saya mengenalkan beberapa tokoh yang akan kalian jumpai dalam cerita ini;

Gladis, gadis berusia 17 tahun. Nama lengkapnya Gladis Putri Gianca. Tubuh mungilnya membuat dia selalu dikira menjadi anak yang baru ingin masuk SMA, tak pernah ada yang mengira kalau dia sudah berada diujung masa-masa SMA. Rambutnya yang sebahu selalu ia biarkan terurai, membuatnya terlihat manis. Tapi Gladis bukan gadis yang mudah bergaul, ia sangat sulit untuk memulai suatu percakapan. Ia gadis dengan sejuta rasa yang ia pendam sendiri, tak seorang pun yang ia beritahu tentang rasa yang ia rasakan.

Surat Untuk Jagoan Kecilku.

Teruntuk Jagoanku….

Nak, sudah berapa lama kita tak duduk bersama menikmati pagi hari dengan segelas susu milikmu dan secangkir kopi milikku? Kita saling berbincang tentang berita hari ini yang termuat dalam koran yang sesungguhnya tak sepenuhnya kau mengerti. Sudah berapa malam aku tak melihatmu terlelap pulas dalam kamarmu saat aku pulang kerja? Sudah berapa hari kita tak bertemu karena kesibukanku bekerja dank au yang selalu pulang saat aku tak dirumah? Tak rindukah kau dengan Ayahmu ini? Tak inginkah kau mengulang pagi-pagi yang kau lalui bersama lelaki paruh baya dirumah ini?

Aku tidak tahu apa yang bisa aku tulis disini, aku hanya ingin mencurahkan apa yang tak aku bisa curahkan secara langsung kepadamu, Nak.