Teruntuk Jagoanku….
Nak, sudah berapa lama kita tak duduk bersama menikmati pagi
hari dengan segelas susu milikmu dan secangkir kopi milikku? Kita saling
berbincang tentang berita hari ini yang termuat dalam koran yang sesungguhnya
tak sepenuhnya kau mengerti. Sudah berapa malam aku tak melihatmu terlelap
pulas dalam kamarmu saat aku pulang kerja? Sudah berapa hari kita tak bertemu
karena kesibukanku bekerja dank au yang selalu pulang saat aku tak dirumah? Tak
rindukah kau dengan Ayahmu ini? Tak inginkah kau mengulang pagi-pagi yang kau
lalui bersama lelaki paruh baya dirumah ini?
Aku tidak tahu apa yang bisa aku tulis disini, aku hanya
ingin mencurahkan apa yang tak aku bisa curahkan secara langsung kepadamu, Nak.
Kau sudah bukan lagi anak kecil-ku, Nak. Kini kau sudah
besar, dewasa. Usia-mu pun sudah mencapai tujuh belas tahun, usia dimana kau
mulai bisa meraih KTP. Kau sudah bisa mengendarai motormu sendiri, kau sudah
tak membutuhkan aku yang senantiasa untuk mengantarmu kemana-pun. Belum lama
ini kau sudah mendapatkan SIM-mu dan kau bisa kemana saja sesukamu tanpa harus
aku antar lagi.
Aku tidak tahu apa yang akhir-akhir ini membuat kita menjadi
tak sependapat. Mungkin aku yang terlalu kaku akan pergaulan zaman kini, tapi
percayalah, Nak, aku hanya ingin kau tak salah jalan. Aku hanya ingin melihat
kau bahagia kelak, menjadi orang yang dipandang oleh banyak orang, bukan
untukku, tapi untuk dirimu sendiri.
Nak, sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, tak rindukah
kau dengan lelaki yang sudah berusia mencapai kepala empat ini? Tak rindukah
kau saat kau merengek kepadaku saat mainan keinginanmu belum aku belikan? Jika aku
boleh jujur, aku sangat merindukan saat-saat itu. Aku rindu dengan kebersamaan
kita. Jika bisa, aku ingin mengulang semuanya kembali. Bermain dengan anak
lelaki-ku yang lucu dan aktif. Tapi, itu tidak mungkin lagi, Nak. Kau sudah
besar, bukan anak kecil lagi.
Nak, jaga dirimu baik-baik dalam pergaulanmu, aku percaya,
kau bisa membedakan mana yang baik dan tidak
untukmu, untuk masa depanmu. Ingatlah, disini ada aku yang selalu mencemaskanmu
dalam diamku, ada Ibu-mu yang senantiasa menanyakanmu kala kau tak kunjung
pulang, ada Mbak-mu yang selalu mengkhawatirkanmu, memantau pergaulanmu meski
tak terlihat, ada Nenek-mu yang sangat membutuhkanmu sewaktu-waktu nanti.
Nak, meski kau sudah bukan anak kecil lagi tapi kau tetap
menjadi anak kecil-ku. Anak kecilku yang selalu aku sebut namamu dalam doaku.
Nak, aku tahu kau tak mungkin menjadi anak kecil lagi, tapi aku minta kembali
lah menjadi anak kecilku yang lebih banyak menghabiskan waktumu dirumah,
menjaga wanita-wanita yang ada didalam istana kita kala aku sedang mencari
nafkah.
Nak, semoga kau membaca ini disela-sela kesibukanmu bersama
teman-temanmu. Aku tak meminta banyak, buatlah aku tersenyum kala melihatmu
bahagia dalam kesuksesanmu kelak, Nak. Satu kata yang sulit sekali rasanya
ingin aku ucapkan secara langsung kepadamu; Aku sayang kepadamu, Nak. Ya, aku tetap
menyayangimu meski kita kini sudah sering tak sependapat, meski kita jarang
duduk bersama.
Jakarta, 19 Juli 2014
Salam Sayangku.
Lelaki yang Kau Panggil ‘Ayah’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.