Sabtu, 19 Juli 2014

Surat Untuk Jagoan Kecilku.

Teruntuk Jagoanku….

Nak, sudah berapa lama kita tak duduk bersama menikmati pagi hari dengan segelas susu milikmu dan secangkir kopi milikku? Kita saling berbincang tentang berita hari ini yang termuat dalam koran yang sesungguhnya tak sepenuhnya kau mengerti. Sudah berapa malam aku tak melihatmu terlelap pulas dalam kamarmu saat aku pulang kerja? Sudah berapa hari kita tak bertemu karena kesibukanku bekerja dank au yang selalu pulang saat aku tak dirumah? Tak rindukah kau dengan Ayahmu ini? Tak inginkah kau mengulang pagi-pagi yang kau lalui bersama lelaki paruh baya dirumah ini?

Aku tidak tahu apa yang bisa aku tulis disini, aku hanya ingin mencurahkan apa yang tak aku bisa curahkan secara langsung kepadamu, Nak.


Kau sudah bukan lagi anak kecil-ku, Nak. Kini kau sudah besar, dewasa. Usia-mu pun sudah mencapai tujuh belas tahun, usia dimana kau mulai bisa meraih KTP. Kau sudah bisa mengendarai motormu sendiri, kau sudah tak membutuhkan aku yang senantiasa untuk mengantarmu kemana-pun. Belum lama ini kau sudah mendapatkan SIM-mu dan kau bisa kemana saja sesukamu tanpa harus aku antar lagi.

Aku tidak tahu apa yang akhir-akhir ini membuat kita menjadi tak sependapat. Mungkin aku yang terlalu kaku akan pergaulan zaman kini, tapi percayalah, Nak, aku hanya ingin kau tak salah jalan. Aku hanya ingin melihat kau bahagia kelak, menjadi orang yang dipandang oleh banyak orang, bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri.

Nak, sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, tak rindukah kau dengan lelaki yang sudah berusia mencapai kepala empat ini? Tak rindukah kau saat kau merengek kepadaku saat mainan keinginanmu belum aku belikan? Jika aku boleh jujur, aku sangat merindukan saat-saat itu. Aku rindu dengan kebersamaan kita. Jika bisa, aku ingin mengulang semuanya kembali. Bermain dengan anak lelaki-ku yang lucu dan aktif. Tapi, itu tidak mungkin lagi, Nak. Kau sudah besar, bukan anak kecil lagi.

Nak, jaga dirimu baik-baik dalam pergaulanmu, aku percaya, kau bisa membedakan mana yang baik dan tidak  untukmu, untuk masa depanmu. Ingatlah, disini ada aku yang selalu mencemaskanmu dalam diamku, ada Ibu-mu yang senantiasa menanyakanmu kala kau tak kunjung pulang, ada Mbak-mu yang selalu mengkhawatirkanmu, memantau pergaulanmu meski tak terlihat, ada Nenek-mu yang sangat membutuhkanmu sewaktu-waktu nanti.

Nak, meski kau sudah bukan anak kecil lagi tapi kau tetap menjadi anak kecil-ku. Anak kecilku yang selalu aku sebut namamu dalam doaku. Nak, aku tahu kau tak mungkin menjadi anak kecil lagi, tapi aku minta kembali lah menjadi anak kecilku yang lebih banyak menghabiskan waktumu dirumah, menjaga wanita-wanita yang ada didalam istana kita kala aku sedang mencari nafkah.

Nak, semoga kau membaca ini disela-sela kesibukanmu bersama teman-temanmu. Aku tak meminta banyak, buatlah aku tersenyum kala melihatmu bahagia dalam kesuksesanmu kelak, Nak. Satu kata yang sulit sekali rasanya ingin aku ucapkan secara langsung kepadamu; Aku sayang kepadamu, Nak. Ya, aku tetap menyayangimu meski kita kini sudah sering tak sependapat, meski kita jarang duduk bersama.

Jakarta, 19 Juli 2014

Salam Sayangku.

Lelaki yang Kau Panggil ‘Ayah’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.