Kamis, 24 Juli 2014

Diary Gladis Part 1

Rabu, 22 September 2010

Aku tidak pernah tahu mengapa dia selalu hadir kala malam mataku ingin terpejam, aku tidak pernah tahu mengapa selalu aku rasakan rindu yang tak bisa aku kendalikan saat ia tak ada dihadapanku, aku tidak pernah tahu mengapa aku menjadi sering menyebut namanya akhir-akhir ini, aku tidak pernah tahu mengapa pipiku menjadi merona kala kami bertatap muka. Apa ini yang disebut dengan jatuh cinta?

Lelaki itu bernama Rio, sosok yang sangat dikagumi oleh perempuan se-antreo sekolah. Lelaki yang menjadi langganan untuk surat cinta terbanyak sepanjang tiga tahun sekolah di SMA Budi Perkesa. Menjadi salah satu pemain terbaik tim futsal sekolah-lah yang akhirnya menjadikannya se-terkenal ini di kalangan perempuan-perempuan.

“Lu kan belum kenal sama dia, kalo paling cuma papasan di koridor kelas. Terus apa yang buat lu suka sama dia?” Sheena yang berada disebelahku ikut menatap kearah Rio yang berada diantara teman-temannya—yang tak kalah keren.


Aku menggeleng, lalu menatap Sheena yang sedang menyantap makanan yang ia beli tadi. “Apa selama ini kamu mencintai seseorang karena alasan?”

Sheena mengangguk, “Kalau tanpa alasan, gue ngga mungkin suka sama cowok, apalagi cowok yang ngga gue kenal, kayanya nggak mungkin.”

“Lalu apa alasanmu?”

Sheena menelan habis semua makanan yang ada dimulutnya tanpa sisa, “Dia baik, dia ganteng, rajin solat ya mungkin sih, selalu ada buat gue, gue nyaman sama dia.”

Aku menyeruput minumanku, tak menghiraukan Sheena yang baru saja menjelaskan alasannya mencintai seseorang.

“Kalau lu apa? Daritadi gue nanya lu, tapi malah nanya mulu.”

Aku masih diam, aku tidak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan Sheena. Mataku menerawang jauh kearah lelaki yang masih sibuk bergurau dengan teman-temannya tanpa memperdulikan sekelilingnya. Ia tidak tampan, bukan lelaki yang mudah mengumbar senyumnya ke banyak orang yang sebenarnya tak ia kenal, ia hanya terlihat begitu ramah dengan orang-orang terdekatnya.

“Dis?”

Kami tidak pernah saling bertegur sapa, bahkan aku ragu ia menyadari kehadiranku disekelilingnya. Kami pernah sekelas saat kelas 11, tahun lalu, Iya, tapi aku rasa ia sudah lupa dengan aku yang selalu menduduki bangku depan. Setahun kami sekelas, tak pernah ia benar-benar menegurku. Tak pernah benar-benar kami saling bergurau layaknya ia bergurau bersama teman-temannya. Dia terlalu jauh untuk aku jangkau atau aku yang tak pernah berusaha untuk menjangkaunya?

“Gladis?” Sheena berteriak tepat ditelingaku. “Kalo ditanya ya mbok’ dijawab, jangan diam gitu aja. Ngelamun lagi, nanti keterusan loh.”

Aku menatapnya lagi, masih tak menjawab pertanyaannya. Aku masih tidak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan Sheena. Alasan mencintai Rio? Apa aku punya alasan untuk mencintai Rio? Jika ada, mengapa aku masih bingung kala malam aku terus memikirkannya? Yang aku hanya tahu, aku menjadi sulit tidur karena aku tak henti-hentinya membayangkan senyum ramahnya. Meski bukan untukku, setidaknya tidak ada yang melarang untuk aku ikut menikmati senyuman itu, bukan?

“Bener-bener deh ya, Dis. Kalau ngga mau di jawab, yaudah nggak perlu dijawab juga ngga apa-apa.”

“Aku tidak tahu, Sheen. Yang aku tahu, aku tidak pernah bisa benar-benar langsung memejamkan mataku saat aku benar-benar mengantuk.”

Sheena hanya mengangguk seakan mengerti jawabanku.

Kami melanjutkan menyantap makanan yang ada dihadapan kami, makanan yang sedari tadi tak aku lirik, rasanya tak selera untuk menyantapnya. Aku kembali mengedarkan pandanganku ke arah lelaki yang belum kunjung bergegas dari tempat duduknya bersama teman-temannya. Tapi, kini pandanganku menjadi kacau, dadaku berdegub dengan cepat, rasanya sesak seperti baru saja menerima hantaman keras. Mataku menjadi memanas, begitu perih. Siapa dia?

Kini, ia tak hanya bersama teman-temannya, seseorang perempuan menemaninya disana. Perempuan yang aku kenal sebagai adik kelasku kini berada ditengah-tengah pemain futsal sekolah ini. Bukan hanya aku saja yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya, banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tak terima, ya pasang mata itu milik gadis-gadis sekolah.

“Dia Naomi.” Sheena mulai menyadari ketidaktenangan aku.

“Aku tahu itu. Yang tidak aku tahu, mengapa mereka berdua disana?”

Sheena menatapku sejenak, ia seperti sedang menyiapkan suatu nyali untuk berkata yang sebenarnya kepadaku. “Mereka sedang dekat. Lu nggak tahu tentang itu?”

Yap! Hantaman itu begitu keras mengenai dada-ku. Rasanya sakit sekali, mataku memanas, airmataku sudah membendung. Jangan menangis disini, jangan. Aku mohon, Jangan disini, Gladis. Aku membatin, menguatkan diriku yang sedang kacau, menyembunyikan rasa sakit bekas hantaman di dada-ku.

Aku menundukkan kepalaku, tak kuat rasanya mengangkat kepalaku agar menatap kedepan. Tidak kuat rasanya melihat lelaki yang baru saja mengganggu tidurku kini sudah bersama perempuan lain. Tidak kuat rasanya mengganti rasa cinta ini dengan rasa sakit yang datang begitu saja.

Kami memang tak pernah saling kenal lebih dalam, bahkan aku tidak yakin ia mengenalku. Kami hanya sepasang manusia dengan jarak yang begitu jauh, entah siapa yang menciptakan jarak itu, namun, jarak itu begitu terasa. Aku memang tak pernah menyapanya terlebih dahulu, dia tak pernah tersenyum kepadaku terlebih dahulu, kami hanya berada dalam diam. Aku memperhatikannya dalam diamku, tak pernah mencoba untuk keluar dari zona nyamanku. Dan kini, semuanya menyadarkanku, memang aku yang selalu diam saat kami berada dijarak yang cukup dekat, meski tak menyapaku terlebih dahulu, bukankah bisa aku yang memulainya? Tapi kini, jarak antara kami menjadi sangat jelas terlihat. Seorang perempuan ditengah-tengah antara kami.


Siapa yang pantas aku salahkan? Perempuan yang tak pernah tahu perasaanku? Siapa yang pantas aku salahkan? Aku yang hanya mencintainya dalam diam? Mungkin memang aku yang salah.


------------------------------------------------------------------


Sampai bertemu dicerita yang akan aku ceritakan selanjutnya, jangan bosan untuk membaca setiap rangkaian kata-kata ini.

Salamku,


Gladis Putri Gianca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.