Rabu, 22 September 2010
Aku tidak pernah tahu mengapa dia
selalu hadir kala malam mataku ingin terpejam, aku tidak pernah tahu mengapa
selalu aku rasakan rindu yang tak bisa aku kendalikan saat ia tak ada
dihadapanku, aku tidak pernah tahu mengapa aku menjadi sering menyebut namanya
akhir-akhir ini, aku tidak pernah tahu mengapa pipiku menjadi merona kala kami
bertatap muka. Apa ini yang disebut dengan jatuh cinta?
Lelaki itu bernama Rio, sosok
yang sangat dikagumi oleh perempuan se-antreo sekolah. Lelaki yang menjadi
langganan untuk surat cinta terbanyak sepanjang tiga tahun sekolah di SMA Budi
Perkesa. Menjadi salah satu pemain terbaik tim futsal sekolah-lah yang akhirnya
menjadikannya se-terkenal ini di kalangan perempuan-perempuan.
“Lu kan belum kenal sama dia,
kalo paling cuma papasan di koridor
kelas. Terus apa yang buat lu suka sama dia?” Sheena yang berada disebelahku
ikut menatap kearah Rio yang berada diantara teman-temannya—yang tak kalah
keren.
Aku menggeleng, lalu menatap
Sheena yang sedang menyantap makanan yang ia beli tadi. “Apa selama ini kamu
mencintai seseorang karena alasan?”
Sheena mengangguk, “Kalau tanpa
alasan, gue ngga mungkin suka sama cowok, apalagi cowok yang ngga gue kenal,
kayanya nggak mungkin.”
“Lalu apa alasanmu?”
Sheena menelan habis semua
makanan yang ada dimulutnya tanpa sisa, “Dia baik, dia ganteng, rajin solat ya
mungkin sih, selalu ada buat gue, gue nyaman sama dia.”
Aku menyeruput minumanku, tak
menghiraukan Sheena yang baru saja menjelaskan alasannya mencintai seseorang.
“Kalau lu apa? Daritadi gue nanya
lu, tapi malah nanya mulu.”
Aku masih diam, aku tidak tahu
harus menjawab seperti apa pertanyaan Sheena. Mataku menerawang jauh kearah
lelaki yang masih sibuk bergurau dengan teman-temannya tanpa memperdulikan
sekelilingnya. Ia tidak tampan, bukan lelaki yang mudah mengumbar senyumnya ke
banyak orang yang sebenarnya tak ia kenal, ia hanya terlihat begitu ramah
dengan orang-orang terdekatnya.
“Dis?”
Kami tidak pernah saling bertegur
sapa, bahkan aku ragu ia menyadari kehadiranku disekelilingnya. Kami pernah
sekelas saat kelas 11, tahun lalu, Iya, tapi aku rasa ia sudah lupa dengan aku
yang selalu menduduki bangku depan. Setahun kami sekelas, tak pernah ia
benar-benar menegurku. Tak pernah benar-benar kami saling bergurau layaknya ia
bergurau bersama teman-temannya. Dia terlalu jauh untuk aku jangkau atau aku
yang tak pernah berusaha untuk menjangkaunya?
“Gladis?” Sheena berteriak tepat
ditelingaku. “Kalo ditanya ya mbok’
dijawab, jangan diam gitu aja. Ngelamun lagi, nanti keterusan loh.”
Aku menatapnya lagi, masih tak
menjawab pertanyaannya. Aku masih tidak tahu harus menjawab seperti apa
pertanyaan Sheena. Alasan mencintai Rio? Apa aku punya alasan untuk mencintai
Rio? Jika ada, mengapa aku masih bingung kala malam aku terus memikirkannya? Yang
aku hanya tahu, aku menjadi sulit tidur karena aku tak henti-hentinya
membayangkan senyum ramahnya. Meski bukan untukku, setidaknya tidak ada yang
melarang untuk aku ikut menikmati senyuman itu, bukan?
“Bener-bener deh ya, Dis. Kalau ngga
mau di jawab, yaudah nggak perlu dijawab juga ngga apa-apa.”
“Aku tidak tahu, Sheen. Yang aku
tahu, aku tidak pernah bisa benar-benar langsung memejamkan mataku saat aku
benar-benar mengantuk.”
Sheena hanya mengangguk seakan
mengerti jawabanku.
Kami melanjutkan menyantap
makanan yang ada dihadapan kami, makanan yang sedari tadi tak aku lirik, rasanya
tak selera untuk menyantapnya. Aku kembali mengedarkan pandanganku ke arah
lelaki yang belum kunjung bergegas dari tempat duduknya bersama teman-temannya.
Tapi, kini pandanganku menjadi kacau, dadaku berdegub dengan cepat, rasanya
sesak seperti baru saja menerima hantaman keras. Mataku menjadi memanas, begitu
perih. Siapa dia?
Kini, ia tak hanya bersama
teman-temannya, seseorang perempuan menemaninya disana. Perempuan yang aku
kenal sebagai adik kelasku kini berada ditengah-tengah pemain futsal sekolah
ini. Bukan hanya aku saja yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya, banyak
pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tak terima, ya pasang mata itu milik
gadis-gadis sekolah.
“Dia Naomi.” Sheena mulai
menyadari ketidaktenangan aku.
“Aku tahu itu. Yang tidak aku
tahu, mengapa mereka berdua disana?”
Sheena menatapku sejenak, ia
seperti sedang menyiapkan suatu nyali untuk berkata yang sebenarnya kepadaku. “Mereka
sedang dekat. Lu nggak tahu tentang itu?”
Yap! Hantaman itu begitu keras
mengenai dada-ku. Rasanya sakit sekali, mataku memanas, airmataku sudah
membendung. Jangan menangis disini,
jangan. Aku mohon, Jangan disini, Gladis. Aku membatin, menguatkan diriku
yang sedang kacau, menyembunyikan rasa sakit bekas hantaman di dada-ku.
Aku menundukkan kepalaku, tak
kuat rasanya mengangkat kepalaku agar menatap kedepan. Tidak kuat rasanya
melihat lelaki yang baru saja mengganggu tidurku kini sudah bersama perempuan
lain. Tidak kuat rasanya mengganti rasa cinta ini dengan rasa sakit yang datang
begitu saja.
Kami memang tak pernah saling
kenal lebih dalam, bahkan aku tidak yakin ia mengenalku. Kami hanya sepasang
manusia dengan jarak yang begitu jauh, entah siapa yang menciptakan jarak itu,
namun, jarak itu begitu terasa. Aku memang tak pernah menyapanya terlebih
dahulu, dia tak pernah tersenyum kepadaku terlebih dahulu, kami hanya berada
dalam diam. Aku memperhatikannya dalam diamku, tak pernah mencoba untuk keluar
dari zona nyamanku. Dan kini, semuanya menyadarkanku, memang aku yang selalu
diam saat kami berada dijarak yang cukup dekat, meski tak menyapaku terlebih
dahulu, bukankah bisa aku yang memulainya? Tapi kini, jarak antara kami menjadi
sangat jelas terlihat. Seorang perempuan ditengah-tengah antara kami.
Siapa yang pantas aku salahkan? Perempuan
yang tak pernah tahu perasaanku? Siapa yang pantas aku salahkan? Aku yang hanya
mencintainya dalam diam? Mungkin memang aku yang salah.
------------------------------------------------------------------
Sampai bertemu dicerita yang akan
aku ceritakan selanjutnya, jangan bosan untuk membaca setiap rangkaian
kata-kata ini.
Salamku,
Gladis Putri Gianca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.