Selasa, 21 Oktober 2014

Teruntuk Wanita Setelah Ibu-ku.

Hari ini, sudah hampir empat belas hari saya lalui tanpa adanya sosokmu lagi dirumah. Sudah hampir empat belas hari saya tak berpamitan denganmu ketika saya hendak kuliah. Dan sudah selama itu tak pernah lagi saya dengar suaramu yang biasanya sering memanggil saya.

Kini, kau sudah pergi meninggalkan kami, kami yang sebenarnya masih membutuhkanmu. Pergi untuk selamanya, menuju ke kehidupan abadi nan kekal disana. Kini, kau sudah bahagia. Saya yakin, tempatmu berada sekarang ada sebuah tempat terbaik yang disediakan Allah swt. aamiin.

Senin, 06 Oktober 2014

Datang untuk pergi

Sin hanya memandangi telepon genggam miliknya, matanya was-was memperhatikan layar hitam yang sedari tadi tak menyala. Beberapa kali, led merahnya menyala, pesan atau chat bbm mulai menghampiri handphone, tapi beberapa menit setelahnya ia hanya meletakkan handphonenya kembali dengan hembusan nafas yang terdengar lelah. Bukan pesan atau bbm yang ia tunggu.

Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur miliknya, dadanya seketika menjadi sesak. Air wajahnya mendadak menjadi berubah, tak ada senyum manis miliknya, matanya menatap lurus, kosong pandangannya. Beberapa menit selanjutnya, air matanya menetes begitu saja.

Hari ini, semuanya datang lagi, perasaan yang ia tidak tahu apa, perasaan yang tak pernah bisa ia ceritakan kepada teman-temannya, perasaan yang akhirnya selalu membuatnya menangis, perasaan yang selalu ia simpan sendiri, tak membaginya kepada yang lain karena tak pernah tahu cara memulai untuk membaginya. Perasaan yang selalu menghilang saat ia bersama teman-temannya dan perasaan yang selalu datang saat semuanya sudah tak bersamanya.

“Aku benci seperti ini.” Katanya dalam isak tangisnya.

***