Selasa, 21 Oktober 2014

Teruntuk Wanita Setelah Ibu-ku.

Hari ini, sudah hampir empat belas hari saya lalui tanpa adanya sosokmu lagi dirumah. Sudah hampir empat belas hari saya tak berpamitan denganmu ketika saya hendak kuliah. Dan sudah selama itu tak pernah lagi saya dengar suaramu yang biasanya sering memanggil saya.

Kini, kau sudah pergi meninggalkan kami, kami yang sebenarnya masih membutuhkanmu. Pergi untuk selamanya, menuju ke kehidupan abadi nan kekal disana. Kini, kau sudah bahagia. Saya yakin, tempatmu berada sekarang ada sebuah tempat terbaik yang disediakan Allah swt. aamiin.

Saya menuliskan ini, karena saya melarang diri saya melupakanmu. Ketika ingatan saya perlahan-lahan sudah mulai memudar, maka saya punya alat untuk mengembalikan lagi ingatan saya, meski tak banyak tetapi tulisan ini akan mencegah saya untuk melupakanmu.
Mbah. Seperti itu biasanya saya memanggilmu, bukan? Sudah terbiasa sejak kecil memanggilmu seperti itu membuat beberapa hari ini saya masih ingin mengutarakan panggilan itu. Meski saya tak tahu persis bagaimana, tetapi banyak bibir yang bercerita tentang engkau yang tanpa lelah merawat saya dan kembaran saya kala kami masih kecil. Memperhatikan perkembangan kami selama 18 tahun ini, tak pernah sedikitpun terdengar kau merasa lelah karena kebandelan kami berdua. Tidak jarang kau memarahi kami ketika kenakalan kami sudah terlewat.

Sudah banyak hal yang kita lalui bersama, terlebih beberapa tahun terakhir ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu liburan berdua. Keinginanmu untuk menjenguk keluargamu diluar Jakarta yang akhirnya membuat saya menemanimu. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa, ketika saya mulai jenuh dengan padatnya kota ini dan disaat yang sama pula kau meminta untuk ditemani keluar kota. Yogyakarta dan Borobudur adalah kota yang selalu kita kunjungi berdua. Terakhir kali, saya menemanimu adalah saat liburan kenaikan kelas 3 SMK, ya itu terakhir kali saya menikmati perjalanan menuju Yogya denganmu. Kini, siapa yang akan saya temani ketika aku mulai jenuh dengan kota ini?

Mbah, perlahan-lahan rumah akan menjadi sepi semenjak kepergianmu. Sehabis tujuh hari kepergianmu, sanak keluarga kita satu persatu mulai kembali kerumah mereka. Dan akhirnya hanya ada kami berempat kini yang berada dirumah dan ketika Ayah mulai bekerja, saya mulai kuliah dan Nando mulai sibuk dengan urusannya, dirumah hanya ada Ibu. Ketika dulu, masih ada engkau yang menemani ibu dirumah, menjadi teman cerita Ibu ketika kami sibuk diluar rumah, tapi kini, Ibu hanya akan berada dirumah sendiri, tak ada lagi teman cerita seperti dahulu.

Jika boleh saya jujur, masih banyak hal yang akhirnya mengingatkan saya kepadamu. Tak masalah untuk saya ketika saya selalu teringat kepadamu, tapi saya akan selalu ingin menangis akhirnya, Saya fikir, saya sudah tahu arti kehilangan yang sesungguhnya sebelum kehilangan dirimu, tapi ternyata saya salah. Saya belum tahu arti kehilangan itu dan ketika saya kehilanganmu, disitulah saya baru tahu kehilangan itu menyakitkan, terlebih orang yang kita sayang.

Mbah, maaf jika sampai saat ini, saya masih sering menangisi kepergianmu. Apa keikhlasan itu berhubungan dengan airmata yang selalu menetes? Saya sudah mengikhlaskanmu, merelakanmu, tapi saya tak bisa melupakanmu. Hanya itu yang sering membuat saya ingin menangis, kenangan tentangmu, Mbah. Sosokmu yang takkan lagi aku temui. Rinduku denganmu. Saya percaya kau lebih bahagia saat ini, tak perlu lagi merasakan sakit, bisa berdiri dan berjalan lagi tanpa kesakitan lagi. Iya kan, Mbah?

Mbah, maaf jika saya masih belum menjadi cucu seperti yang kau inginkan. Masih sering mengecewakanmu. Mbah, kau ingat ceritaku tentang lomba cerpen yang aku ikuti? Sehari setelah kepergianmu, aku mendapatkan kabar, cerpenku diterima, Mbah. Meski belum menjadi pemenang, tapi saya termasuk kontributor didalam buku itu, Mbah. Tanpa saya kasih tahu pun, sebenarnya kau sudah tahu ya, Mbah?

Mbah, terimakasih sudah termasuk kedalam orang yang turutserta membesarkan saya hingga seperti ini. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidup saya. Terimakasih sudah menciptakan kenangan-kenangan kita yang takkan tergantikan. Terimakasih atas segala kebaikanmu dan maaf saya yang terlalu sering merepotkanmu.

Mbah, doa terbaik selalu aku berikan untukmu. Aku percaya Allah jauh lebih menyayangimu dibandingkan kami. Allah tak ingin melihatmu merasakan sakit yang lebih lama lagi. Dan saat ini kau sudah berada ditempat terbaikmu, ditempat yang lebih baik dari tempatmu disini.


Meski jarang terucap dari bibir kami, tapi kami sebenarnya sangat menyayangimu. Semoga kami bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga kami bisa lebih sering mendoakanmu dan Mbah Kakung. Semoga kalian bertemu dikehidupan disana dan akhirnya bisa saling bersama-sama lagi. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.