Hari ini, sudah hampir empat
belas hari saya lalui tanpa adanya sosokmu lagi dirumah. Sudah hampir empat
belas hari saya tak berpamitan denganmu ketika saya hendak kuliah. Dan sudah
selama itu tak pernah lagi saya dengar suaramu yang biasanya sering memanggil
saya.
Kini, kau sudah pergi
meninggalkan kami, kami yang sebenarnya masih membutuhkanmu. Pergi untuk
selamanya, menuju ke kehidupan abadi nan kekal disana. Kini, kau sudah bahagia.
Saya yakin, tempatmu berada sekarang ada sebuah tempat terbaik yang disediakan
Allah swt. aamiin.
Saya menuliskan ini, karena saya
melarang diri saya melupakanmu. Ketika ingatan saya perlahan-lahan sudah mulai
memudar, maka saya punya alat untuk mengembalikan lagi ingatan saya, meski tak
banyak tetapi tulisan ini akan mencegah saya untuk melupakanmu.
Mbah. Seperti itu
biasanya saya memanggilmu, bukan? Sudah terbiasa sejak kecil memanggilmu
seperti itu membuat beberapa hari ini saya masih ingin mengutarakan panggilan
itu. Meski saya tak tahu persis bagaimana, tetapi banyak bibir yang bercerita
tentang engkau yang tanpa lelah merawat saya dan kembaran saya kala kami masih
kecil. Memperhatikan perkembangan kami selama 18 tahun ini, tak pernah
sedikitpun terdengar kau merasa lelah karena kebandelan kami berdua. Tidak jarang
kau memarahi kami ketika kenakalan kami sudah terlewat.
Sudah banyak hal
yang kita lalui bersama, terlebih beberapa tahun terakhir ini, kita lebih
banyak menghabiskan waktu liburan berdua. Keinginanmu untuk menjenguk
keluargamu diluar Jakarta yang akhirnya membuat saya menemanimu. Saya juga
tidak tahu bagaimana bisa, ketika saya mulai jenuh dengan padatnya kota ini dan
disaat yang sama pula kau meminta untuk ditemani keluar kota. Yogyakarta dan
Borobudur adalah kota yang selalu kita kunjungi berdua. Terakhir kali, saya
menemanimu adalah saat liburan kenaikan kelas 3 SMK, ya itu terakhir kali saya
menikmati perjalanan menuju Yogya denganmu. Kini, siapa yang akan saya temani
ketika aku mulai jenuh dengan kota ini?
Mbah,
perlahan-lahan rumah akan menjadi sepi semenjak kepergianmu. Sehabis tujuh hari
kepergianmu, sanak keluarga kita satu persatu mulai kembali kerumah mereka. Dan
akhirnya hanya ada kami berempat kini yang berada dirumah dan ketika Ayah mulai
bekerja, saya mulai kuliah dan Nando mulai sibuk dengan urusannya, dirumah
hanya ada Ibu. Ketika dulu, masih ada engkau yang menemani ibu dirumah, menjadi
teman cerita Ibu ketika kami sibuk diluar rumah, tapi kini, Ibu hanya akan
berada dirumah sendiri, tak ada lagi teman cerita seperti dahulu.
Jika boleh saya
jujur, masih banyak hal yang akhirnya mengingatkan saya kepadamu. Tak masalah
untuk saya ketika saya selalu teringat kepadamu, tapi saya akan selalu ingin
menangis akhirnya, Saya fikir, saya sudah tahu arti kehilangan yang
sesungguhnya sebelum kehilangan dirimu, tapi ternyata saya salah. Saya belum
tahu arti kehilangan itu dan ketika saya kehilanganmu, disitulah saya baru tahu
kehilangan itu menyakitkan, terlebih orang yang kita sayang.
Mbah, maaf jika
sampai saat ini, saya masih sering menangisi kepergianmu. Apa keikhlasan itu
berhubungan dengan airmata yang selalu menetes? Saya sudah mengikhlaskanmu,
merelakanmu, tapi saya tak bisa melupakanmu. Hanya itu yang sering membuat saya
ingin menangis, kenangan tentangmu, Mbah. Sosokmu yang takkan lagi aku temui. Rinduku
denganmu. Saya percaya kau lebih bahagia saat ini, tak perlu lagi merasakan
sakit, bisa berdiri dan berjalan lagi tanpa kesakitan lagi. Iya kan, Mbah?
Mbah, maaf jika
saya masih belum menjadi cucu seperti yang kau inginkan. Masih sering
mengecewakanmu. Mbah, kau ingat ceritaku tentang lomba cerpen yang aku ikuti?
Sehari setelah kepergianmu, aku mendapatkan kabar, cerpenku diterima, Mbah. Meski
belum menjadi pemenang, tapi saya termasuk kontributor didalam buku itu, Mbah. Tanpa
saya kasih tahu pun, sebenarnya kau sudah tahu ya, Mbah?
Mbah,
terimakasih sudah termasuk kedalam orang yang turutserta membesarkan saya
hingga seperti ini. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidup saya. Terimakasih
sudah menciptakan kenangan-kenangan kita yang takkan tergantikan. Terimakasih atas
segala kebaikanmu dan maaf saya yang terlalu sering merepotkanmu.
Mbah, doa
terbaik selalu aku berikan untukmu. Aku percaya Allah jauh lebih menyayangimu
dibandingkan kami. Allah tak ingin melihatmu merasakan sakit yang lebih lama
lagi. Dan saat ini kau sudah berada ditempat terbaikmu, ditempat yang lebih
baik dari tempatmu disini.
Meski jarang
terucap dari bibir kami, tapi kami sebenarnya sangat menyayangimu. Semoga kami
bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga kami bisa lebih sering
mendoakanmu dan Mbah Kakung. Semoga kalian bertemu dikehidupan disana dan
akhirnya bisa saling bersama-sama lagi. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.