Senin, 06 Oktober 2014

Datang untuk pergi

Sin hanya memandangi telepon genggam miliknya, matanya was-was memperhatikan layar hitam yang sedari tadi tak menyala. Beberapa kali, led merahnya menyala, pesan atau chat bbm mulai menghampiri handphone, tapi beberapa menit setelahnya ia hanya meletakkan handphonenya kembali dengan hembusan nafas yang terdengar lelah. Bukan pesan atau bbm yang ia tunggu.

Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur miliknya, dadanya seketika menjadi sesak. Air wajahnya mendadak menjadi berubah, tak ada senyum manis miliknya, matanya menatap lurus, kosong pandangannya. Beberapa menit selanjutnya, air matanya menetes begitu saja.

Hari ini, semuanya datang lagi, perasaan yang ia tidak tahu apa, perasaan yang tak pernah bisa ia ceritakan kepada teman-temannya, perasaan yang akhirnya selalu membuatnya menangis, perasaan yang selalu ia simpan sendiri, tak membaginya kepada yang lain karena tak pernah tahu cara memulai untuk membaginya. Perasaan yang selalu menghilang saat ia bersama teman-temannya dan perasaan yang selalu datang saat semuanya sudah tak bersamanya.

“Aku benci seperti ini.” Katanya dalam isak tangisnya.

***


Dua bulan yang lalu seseorang hadir dengan senyumannya yang indah. Dua bulan yang lalu Sin seperti melihat seseorang yang akan membawanya pergi dari kesendiriannya. Dua bulan yang lalu hatinya mulai ia buka, meski tak benar-benar ia buka, tetapi perlahan-lahan ia memberi celah untuk lelaki itu.

Glenn. Lelaki yang baru saja memberikan sebuah pengharapan baru untuk Sin. Lelaki yang datang secara mendadak, tanpa pernah disangka-sangka oleh Sin. Lelaki yang Sin kenal sebagai teman kampusnya. Ya, mereka adalah teman kampus. Mereka tak pernah saling sapa sebelumnya, saling bertukar canda bahkan tidak pernah saling bertukar senyum. Mereka saling acuh satu sama yang lain.
Dan hari itu, Glenn menghampiri Sin yang sedang asik membaca novelnya, membuat gadis dengan rambut yang selalu ia kuncir kuda itu bingung. Sin tidak pernah menduga sebelumnya Glenn akan menghampirinya saat itu. Tidak banyak basa-basi diantara mereka, hanya sebuah senyuman simpul diawal tatapan dan diikuti pengenalan satu sama yang lain. Hanya itu, diantara mereka.

Bukan hal yang sulit untuk mulai berteman dengan seorang Sin yang terlihat selalu menutup dirinya untuk orang baru. Bukan hal yang sulit untuk memulai percakapan dengan Sin yang terlihat pendiam. Wawasannya yang luas membuatnya tidak sulit menyesuaikan dirinya dengan topic yang Glenn bahas. Sin memang tidak mendominasi percakapan, tapi tidak juga terlalu pasif. Terkadang, mereka terlihat seperti seorang kekasih dengan topic yang menarik diantara mereka. Tidak ada yang mengira bahwa mereka adalah sepasang teman yang baru saling kenal.

Hari berlalu dengan cepat, pertemanan-pun terjalin dengan cepat. Seminggu sudah semuanya berlalu, awal saat mereka berjumpa. Sudah seminggu, Sin melewati hari-harinya dikampus tak hanya ditemani sebuah novel yang ia selalu bawa, ada Glenn yang setia menunggunya hingga selesai kelas terakhir, dan begitu pula Sin yang selalu setia menunggu Glenn. Tidak, andai saja Glenn tidak memaksanya untuk tak menunggunya, mungkin Sin takkan menunggunya.

“Kita mau kemana, Glenn?” Sin mulai bertanya saat mereka sudah berada diatas motor milik Sin.

“Percayai saja kepadaku.” Katanya.

Sin memposisikan dirinya, tak ada niat ingin bertanya lebih banyak akan kemana dirinya dibawa. Entah apa yang membuatnya terlalu percaya dengan lelaki ini, lelaki yang sebenarnya baru ia kenal seminggu yang lalu. Sin memang tidak tahu apa yang membuatnya menjadi sepenurut ini dengan lelaki yang ia baru kenal, Sin hanya tahu ia selalu merasa aman jika ia sedang bersama Glenn, nyaman ketika ia berada didekatnya.

Angin sore menerpa lembut wajah sepasang anak muda ini, membuat anak-anak rambut milik Sin berterbangan ditiup angin. Mereka saling diam menikmati hati sendiri, tak membahas satu bahasan pun layaknya biasa mereka lakukan. Mereka saling acuh dengan kegiatan mereka masing-masing, Glenn sibuk mengendarai motornya dengan baik dan Sin hanya sibuk merasakan angin lembut yang menyentuh pipinya sedari tadi, tak peduli dengan berapa persen polusi yang sudah tercampur dengan angin tersebut.

Disebuah taman kecil lah mereka berada sekarang, duduk tanpa alas, membiarkan rerumputan hijau menjadi alas duduk mereka. Menikmati udara sore yang sebenarnya sudah tak lagi segar, tetapi untuk seorang Sin, udara taman mampu membuatnya melupakan masalah-masalahnya. Glenn berbaring dengan alas tangannya dibagian kepalanya, tak peduli betapa kotornya tanah dibawah badannya, yang ia inginkan hanya terbaring sesaat dialam bebas.  Tanpa masalah yang selalu datang silih berganti.

“Kau senang?” Tanya Glenn.

Sin mengangguk penuh antusias. “Kamu pria yang pintar untuk membuat seorang wanita mempercayaimu dengan cepat.”

Glenn mengangkat kedua alisnya, “Oh ya? Semudah itukah kau mempercayai aku?”

“Aku bukan perempuan yang mudah percaya terhadap lelaki, tapi ketika bertemu denganmu, aku seperti langsung mempercayai dirimu. Kau terlihat berbeda dengan pria yang lain.” Sin tertawa sendiri, rasanya geli sendiri saat ia dengan mudahnya mengakui segala kenyamanannya terhadap lelaki disampingnya.

Glenn menggenggam tangan Sin dengan erat. “Percayai saja semuanya, aku akan selalu berada disampingmu.”

Sore itu berlalu begitu cepat untuk sepasang anak muda yang saling dimabuk cinta. Senja pergi dengan keindahannya, keindahan untuk Sin dan Glenn.

***

Sin masih saja menatap layar smartphone-nya, menunggu dan tetap menunggu hingga led merahnya menyala. Dan berkali-kali led menyala, berkali-kali pula rasa sesak menghampiri dadanya. Rasa yang tak pernah bisa ia lampiaskan dengan mudahnya, sesak. Hanya itu yang menghuni dadanya saat ini.

Sudah beberapa hari ini Glenn menghilang dari pandangannya, menghilang dari hari-harinya dan menghilang dari deretan pesan ataupun chat dihandphonenya. Glenn menghilang tanpa pesan, tak ada yang tahu kemana Glenn saat ini. Glenn menghilang saat Sin mulai menitipkan hatinya kepadanya.

Sin masih menunggu pesan Glenn, sebuah keyakinan datang begitu saja, keyakinan tentang Glenn yang akan kembali kepadanya, bahkan hanya untuk sekadar mengucapkan kata pisah. Dan hati memang selalu benar, pesan dari Glenn hadir dideretan pesan-pesannya. Tapi sepertinya itu hanya sebuah harapan tanpa hasil.

Malam ini, malam kesekian kali Sin mengundur waktu tidurnya demi sebuah pesan yang ia tunggu, sebuah pesan yang tak kunjung datang diantara pesan-pesan lainnya. Malam ini, ia berjanji kepada dirinya sendiri, ini akan menjadi malam terakhir ia menanti tanpa kepastian seperti ini. Ia akan melupakan segalanya meski tak semudah itu melupakannya. Membiarkan waktunya ia habiskan lagi dengan novel-novelnya bukan untuk menunggu.

Sin menangis, ia tidak tahu untuk apa airmatanya menetes. Yang ia tahu, dadanya hanya terasa sesak. Segala yang ia pendam memang tak pernah dengan mudah ia keluarkan, begitu pula saat ini, ia tidak tahu mengutarakan segala yang menyesakkannya. Ia hanya mampu menangis, tak bersuara dan tak diketahui oleh orang lain. Sudah biasa, ia menyimpan tangisannya menjadi rahasianya bersama Tuhan.

Malam ini, semuanya menjadi jelas. Ia benar-benar harus melepaskan ia yang belum sempat menjadi miliknya. Merelakan yang datang dan pergi begitu saja. Menghapus airmata yang menetes begitu saja. Meniadakan perasaan yang hanya menyesakkan hatinya. Ia harus merelakan Glenn yang tak hanya menjadi tamu dalam hidupnya, tamu yang akhirnya pergi dan berlalu.


Jangan datang jika hanya untuk pergi, kamu tidak tahu sisi hati seseorang yang kamu tinggal begitu saja bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.