Sin hanya memandangi telepon
genggam miliknya, matanya was-was memperhatikan layar hitam yang sedari tadi
tak menyala. Beberapa kali, led merahnya menyala, pesan atau chat bbm mulai
menghampiri handphone, tapi beberapa menit setelahnya ia hanya meletakkan
handphonenya kembali dengan hembusan nafas yang terdengar lelah. Bukan pesan
atau bbm yang ia tunggu.
Ia menghempaskan tubuhnya diatas
kasur miliknya, dadanya seketika menjadi sesak. Air wajahnya mendadak menjadi
berubah, tak ada senyum manis miliknya, matanya menatap lurus, kosong
pandangannya. Beberapa menit selanjutnya, air matanya menetes begitu saja.
Hari ini, semuanya datang lagi,
perasaan yang ia tidak tahu apa, perasaan yang tak pernah bisa ia ceritakan
kepada teman-temannya, perasaan yang akhirnya selalu membuatnya menangis,
perasaan yang selalu ia simpan sendiri, tak membaginya kepada yang lain karena
tak pernah tahu cara memulai untuk membaginya. Perasaan yang selalu menghilang
saat ia bersama teman-temannya dan perasaan yang selalu datang saat semuanya
sudah tak bersamanya.
“Aku benci seperti ini.” Katanya
dalam isak tangisnya.
***
Dua bulan yang lalu seseorang
hadir dengan senyumannya yang indah. Dua bulan yang lalu Sin seperti melihat
seseorang yang akan membawanya pergi dari kesendiriannya. Dua bulan yang lalu
hatinya mulai ia buka, meski tak benar-benar ia buka, tetapi perlahan-lahan ia
memberi celah untuk lelaki itu.
Glenn. Lelaki yang baru saja
memberikan sebuah pengharapan baru untuk Sin. Lelaki yang datang secara
mendadak, tanpa pernah disangka-sangka oleh Sin. Lelaki yang Sin kenal sebagai
teman kampusnya. Ya, mereka adalah teman kampus. Mereka tak pernah saling sapa
sebelumnya, saling bertukar canda bahkan tidak pernah saling bertukar senyum.
Mereka saling acuh satu sama yang lain.
Dan hari itu, Glenn menghampiri Sin
yang sedang asik membaca novelnya, membuat gadis dengan rambut yang selalu ia
kuncir kuda itu bingung. Sin tidak pernah menduga sebelumnya Glenn akan
menghampirinya saat itu. Tidak banyak basa-basi diantara mereka, hanya sebuah
senyuman simpul diawal tatapan dan diikuti pengenalan satu sama yang lain. Hanya
itu, diantara mereka.
Bukan hal yang sulit untuk mulai
berteman dengan seorang Sin yang terlihat selalu menutup dirinya untuk orang
baru. Bukan hal yang sulit untuk memulai percakapan dengan Sin yang terlihat
pendiam. Wawasannya yang luas membuatnya tidak sulit menyesuaikan dirinya
dengan topic yang Glenn bahas. Sin memang tidak mendominasi percakapan, tapi
tidak juga terlalu pasif. Terkadang, mereka terlihat seperti seorang kekasih
dengan topic yang menarik diantara mereka. Tidak ada yang mengira bahwa mereka
adalah sepasang teman yang baru saling kenal.
Hari berlalu dengan cepat,
pertemanan-pun terjalin dengan cepat. Seminggu sudah semuanya berlalu, awal
saat mereka berjumpa. Sudah seminggu, Sin melewati hari-harinya dikampus tak
hanya ditemani sebuah novel yang ia selalu bawa, ada Glenn yang setia
menunggunya hingga selesai kelas terakhir, dan begitu pula Sin yang selalu
setia menunggu Glenn. Tidak, andai saja Glenn tidak memaksanya untuk tak
menunggunya, mungkin Sin takkan menunggunya.
“Kita mau kemana, Glenn?” Sin
mulai bertanya saat mereka sudah berada diatas motor milik Sin.
“Percayai saja kepadaku.”
Katanya.
Sin memposisikan dirinya, tak ada
niat ingin bertanya lebih banyak akan kemana dirinya dibawa. Entah apa yang
membuatnya terlalu percaya dengan lelaki ini, lelaki yang sebenarnya baru ia
kenal seminggu yang lalu. Sin memang tidak tahu apa yang membuatnya menjadi
sepenurut ini dengan lelaki yang ia baru kenal, Sin hanya tahu ia selalu merasa
aman jika ia sedang bersama Glenn, nyaman ketika ia berada didekatnya.
Angin sore menerpa lembut wajah
sepasang anak muda ini, membuat anak-anak rambut milik Sin berterbangan ditiup
angin. Mereka saling diam menikmati hati sendiri, tak membahas satu bahasan pun
layaknya biasa mereka lakukan. Mereka saling acuh dengan kegiatan mereka
masing-masing, Glenn sibuk mengendarai motornya dengan baik dan Sin hanya sibuk
merasakan angin lembut yang menyentuh pipinya sedari tadi, tak peduli dengan
berapa persen polusi yang sudah tercampur dengan angin tersebut.
Disebuah taman kecil lah mereka
berada sekarang, duduk tanpa alas, membiarkan rerumputan hijau menjadi alas
duduk mereka. Menikmati udara sore yang sebenarnya sudah tak lagi segar, tetapi
untuk seorang Sin, udara taman mampu membuatnya melupakan masalah-masalahnya. Glenn
berbaring dengan alas tangannya dibagian kepalanya, tak peduli betapa kotornya
tanah dibawah badannya, yang ia inginkan hanya terbaring sesaat dialam
bebas. Tanpa masalah yang selalu datang
silih berganti.
“Kau senang?” Tanya Glenn.
Sin mengangguk penuh antusias. “Kamu
pria yang pintar untuk membuat seorang wanita mempercayaimu dengan cepat.”
Glenn mengangkat kedua alisnya, “Oh
ya? Semudah itukah kau mempercayai aku?”
“Aku bukan perempuan yang mudah
percaya terhadap lelaki, tapi ketika bertemu denganmu, aku seperti langsung
mempercayai dirimu. Kau terlihat berbeda dengan pria yang lain.” Sin tertawa
sendiri, rasanya geli sendiri saat ia dengan mudahnya mengakui segala
kenyamanannya terhadap lelaki disampingnya.
Glenn menggenggam tangan Sin
dengan erat. “Percayai saja semuanya, aku akan selalu berada disampingmu.”
Sore itu berlalu begitu cepat
untuk sepasang anak muda yang saling dimabuk cinta. Senja pergi dengan
keindahannya, keindahan untuk Sin dan Glenn.
***
Sin masih saja menatap layar
smartphone-nya, menunggu dan tetap menunggu hingga led merahnya menyala. Dan berkali-kali
led menyala, berkali-kali pula rasa sesak menghampiri dadanya. Rasa yang tak
pernah bisa ia lampiaskan dengan mudahnya, sesak. Hanya itu yang menghuni
dadanya saat ini.
Sudah beberapa hari ini Glenn
menghilang dari pandangannya, menghilang dari hari-harinya dan menghilang dari
deretan pesan ataupun chat dihandphonenya. Glenn menghilang tanpa pesan, tak
ada yang tahu kemana Glenn saat ini. Glenn menghilang saat Sin mulai menitipkan
hatinya kepadanya.
Sin masih menunggu pesan Glenn,
sebuah keyakinan datang begitu saja, keyakinan tentang Glenn yang akan kembali
kepadanya, bahkan hanya untuk sekadar mengucapkan kata pisah. Dan hati memang
selalu benar, pesan dari Glenn hadir dideretan pesan-pesannya. Tapi sepertinya
itu hanya sebuah harapan tanpa hasil.
Malam ini, malam kesekian kali
Sin mengundur waktu tidurnya demi sebuah pesan yang ia tunggu, sebuah pesan
yang tak kunjung datang diantara pesan-pesan lainnya. Malam ini, ia berjanji
kepada dirinya sendiri, ini akan menjadi malam terakhir ia menanti tanpa
kepastian seperti ini. Ia akan melupakan segalanya meski tak semudah itu
melupakannya. Membiarkan waktunya ia habiskan lagi dengan novel-novelnya bukan
untuk menunggu.
Sin menangis, ia tidak tahu untuk
apa airmatanya menetes. Yang ia tahu, dadanya hanya terasa sesak. Segala yang
ia pendam memang tak pernah dengan mudah ia keluarkan, begitu pula saat ini, ia
tidak tahu mengutarakan segala yang menyesakkannya. Ia hanya mampu menangis,
tak bersuara dan tak diketahui oleh orang lain. Sudah biasa, ia menyimpan
tangisannya menjadi rahasianya bersama Tuhan.
Malam ini, semuanya menjadi
jelas. Ia benar-benar harus melepaskan ia yang belum sempat menjadi miliknya. Merelakan
yang datang dan pergi begitu saja. Menghapus airmata yang menetes begitu saja.
Meniadakan perasaan yang hanya menyesakkan hatinya. Ia harus merelakan Glenn
yang tak hanya menjadi tamu dalam hidupnya, tamu yang akhirnya pergi dan
berlalu.
Jangan datang jika hanya untuk pergi, kamu tidak tahu sisi hati
seseorang yang kamu tinggal begitu saja bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.