Rabu, 31 Desember 2014

Tentang 2014 #MEmoryeah2014!

2014 akan segera pergi dan 2015 akan segera datang. Beberapa jam lagi, kita akan menyambut hari yang baru, memulai cerita baru dalam tahun yang baru datang. 2014, selalu akan ada banyak yang teringat saat membicarakannya. 365 hari sudah (hampir) terlewati, sudah banyak cerita yang tersimpan di 8.760 jam. 525.600 menit pernah menjadi saksi bisu sebuah kebahagian dan kesedihan. Dan dalam #MEmoryeah2014! saya bakal cerita sedikit kenangan yang takkan pernah terlupakan;

1.       Kenangan Yogyakarta dalam 2014.

Kalo bicara tentang Yogyakarta pasti akan terhubung dengan mereka, manusia yang pernah menemani saya dalam waktu 3 tahun. Manusia yang akhirnya harus menjalani kesibukan mereka masing-masing.

Malam itu, takkan pernah tergantikan oleh malam-malam lainnya. Seberapa manis malam yang akan terlewati dihari yang akan datang, namun malam itu akan tetap menjadi malam yang berkesan untuk saya, malam yang sudah punya tempat sendiri dalam 2014. Malam yang akhirnya saya sebut sebagai kenangan.

Mungkin maling yang ketangkep, ceritanya...

Sabtu, 20 Desember 2014

Diary Gladis part 4

Senin, 4 Oktober 2010

Apapun alasannya, aku memang tak pernah benar-benar menyukai hari senin. Menurutku, senin itu suatu waktu yang seharusnya tak ada, meski jika hari senin tak ada mungkin selasa yang akhirnya tak aku harapkan kedatangannya. Aku menganggap senin sebagai pengganggu waktu liburku, waktu minggu yang aku tunggu-tunggu akan habis dimakan waktu untuk diganti dengan hari senin. Ya, entahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu malas untuk memulai setiap minggunya dengan keadaan jalan yang tak pernah berubah, macet.

Senin hari ini berbeda dari senin beberapa waktu yang lalu. Aku harus bangun lebih pagi lagi agar tak kesiangan sampai di sekolah. Hari ini, aku harus lebih pagi lagi keluar rumah agar bisa menumpangi bus pertama yang melintasi jalan depan sekolahku. Hari ini aku terbiasa lagi setelah kegiatan ini tak lama aku lakukan, sebelumnya aku masih tak begitu memperdulikan senin, tak memperdulikan jalanan yang selalu macet. Ya, sebelumnya masih ada Dion yang senantiasa menjemputku, meski ia harus berangkat lebih awal dari biasanya agar tak telat menjemputku, tapi ia tak pernah mempermasalahkan hal itu.

“Gladis” Seorang lelaki yang masih menggunakan helmnya menghentikan motornya tepat dihadapanku. “Bareng aja yuk?” Ujarnya sembari melepas helmnya. Rio, lelaki yang masih berada diatas motornya.

Aku tak memberikan respon yang berarti, aku tak menyangka lelaki yang selama ini aku harapkan kehadirannya, kini sudah berada didepanku. Beberapa langkah dari tempatku berdiri sedang berada seorang lelaki yang aku kagumi sejak aku baru pertama kali mengenalnya. Ini adalah saat-saat yang selalu aku harapkan, dahulu. Ya, dahulu, entah mengapa hari ini menjadi sangat biasa saja saat seseorang yang—sebenarnya—kau inginkan mulai menyapaku. Apa yang salah denganku? Dengan hatiku? Mengapa tak ada lagi getaran yang biasanya selalu hadir kala kami berada dijarak yang dekat?