Senin, 4 Oktober 2010
Apapun alasannya, aku memang tak
pernah benar-benar menyukai hari senin. Menurutku, senin itu suatu waktu yang
seharusnya tak ada, meski jika hari senin tak ada mungkin selasa yang akhirnya
tak aku harapkan kedatangannya. Aku menganggap senin sebagai pengganggu waktu
liburku, waktu minggu yang aku tunggu-tunggu akan habis dimakan waktu untuk
diganti dengan hari senin. Ya, entahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu
malas untuk memulai setiap minggunya dengan keadaan jalan yang tak pernah
berubah, macet.
Senin hari ini berbeda dari senin
beberapa waktu yang lalu. Aku harus bangun lebih pagi lagi agar tak kesiangan
sampai di sekolah. Hari ini, aku harus lebih pagi lagi keluar rumah agar bisa
menumpangi bus pertama yang melintasi jalan depan sekolahku. Hari ini aku
terbiasa lagi setelah kegiatan ini tak lama aku lakukan, sebelumnya aku masih
tak begitu memperdulikan senin, tak memperdulikan jalanan yang selalu macet.
Ya, sebelumnya masih ada Dion yang senantiasa menjemputku, meski ia harus
berangkat lebih awal dari biasanya agar tak telat menjemputku, tapi ia tak
pernah mempermasalahkan hal itu.
“Gladis” Seorang lelaki yang
masih menggunakan helmnya menghentikan motornya tepat dihadapanku. “Bareng aja
yuk?” Ujarnya sembari melepas helmnya. Rio, lelaki yang masih berada diatas
motornya.
Aku tak memberikan respon yang
berarti, aku tak menyangka lelaki yang selama ini aku harapkan kehadirannya,
kini sudah berada didepanku. Beberapa langkah dari tempatku berdiri sedang
berada seorang lelaki yang aku kagumi sejak aku baru pertama kali mengenalnya.
Ini adalah saat-saat yang selalu aku harapkan, dahulu. Ya, dahulu, entah
mengapa hari ini menjadi sangat biasa saja saat seseorang yang—sebenarnya—kau
inginkan mulai menyapaku. Apa yang salah denganku? Dengan hatiku? Mengapa tak
ada lagi getaran yang biasanya selalu hadir kala kami berada dijarak yang
dekat?
“Kalau cuma diem kaya gini doang
sih, kamu bisa telat.” Katanya, “Aku juga bakal telat, kayanya.” Ia melanjutkan
kalimatnya setelah benar-benar yakin aku memperhatikannya.
“Tidak merepotkan?” Tanyaku ragu.
Ini kalimat pertama yang aku tanyakan kepadanya.
Rio mengerutkan dahinya, beberapa
menit hanya seperti itu. “Sangat merepotkan........” Ia diam menatapku seksama.
“Jika kau hanya seperti ini terus, karena kita akan telat” Ia tertawa. Tawa
yang selama ini aku nikmati diam-diam.
Selama perjalanan aku hanya diam,
tak mengerti apa yang harus dijadikan topic untuk bicara dengannya. Aku hanya
menikmati udara pagi yang mulai tercemar polusi-polusi kendaraan, menikmati
angin yang menerbangkan rambutku.
Kami sudah sampai didepan gerbang
sekolah, lima belas menit sebelum bel berbunyi. Aku bergegas turun dari motor
Rio, mengambil posisi diri disampingnya, menatapnya yang masih sibuk melepas
segala perlengkapan yang ia pakai. Aku masih menatapnya, mencoba mendalami
perasaanku, masih adakah rasa itu ataukah memang sudah tak ada?
Aku masih memperhatikan Rio,
menatapnya, hingga seseorang mulai mengalihkan pandanganku. Seseorang yang tak
memperhatikan kehadiranku yang berada disamping langkahnya, seseorang yang
bahkan hanya terus memandang kedepan tanpa menengok kearahku. Mungkin ia
sengaja tak menghiraukanku, mungkin ia masih marah denganku.
Aku menatapnya yang semakin jauh,
aku menatapnya yang masih tak menghiraukanku. Dadaku seketika terasa sesak,
entah, ada tangan yang ingin menahan lengannya, agar tak terus menjauhiku. Ada
kata-kata yang ingin disampaikan agar tak ada kesalahpahaman. Ada mata yang
memanas saat aku baru menyadari langkahnya semakin cepat dan tubuhnya semakin
jauh.
“Kalau aku duluan, boleh kan ya
Rio?” Tanyaku ragu.
Rio menatapku, entah tatapan
macam apa yang ia tuju tepat dimataku, “Memang mengapa kalau kita jalan
bersama?”
“Aku harus segera tiba dikelas.
Boleh kan?” Kataku bohong. Tidak sepenuhnya berbohong tetapi tidak sepenuhnya
benar.
“Ya sudah.”
Tanpa basa-basi lagi, aku
melangkah dengan langkah cepat, aku hanya ingin mengejar langkah seseorang yang
sudah tak aku temui. Seiring kaki yang terus melangkah ada hati yang tak
menentu. Disetiap langkah kaki yang menginjak lantai ada fikiran yang tak
pernah berhenti menerka-nerka. Semakin dekat aku dengan pintu kelasku, semakin
debaran jantungku sangat terasa.
Aku melihat sekeliling kelasku,
belum banyak teman-temanku yang datang. Mataku langsung tertuju kepada
seseorang yang sedang asyik di bangkunya, membaca setiap lembaran dalam buku
tebalnya. Aku menatapnya, memperlambat langkah kakiku, mengumpulkan segala
keyakinanku untuk mulai menyapanya (lagi).
“Dion?” Panggilku canggung.
“Heem?” Jawabnya tanpa menoleh
sedikit pun.
“Lu marah ya sama gue?” Tanyaku
dengan gerakan tak menentu, aku memang suka bergerak tak jelas jika sedang
gugup.
Dion masih memperhatikan setiap
kata yang terangkai menjadi dalam bukunya.
“Gue tahu, gue salah. Waktu itu
gue udah ngomong yang seharusnya nggak gue omongan. Tapi, waktu itu lu juga
salah, kan? Lu ngerasa gak sih? Ih, jangan diem aja. Gue lagi ngomong sama lu.”
Aku merampas buku yang sedari tadi dipegangnya, yang sedari tadi menyita
pandangannya. “Gue lagi ngomong, lu dengerin nggak sih? Kalo lu emang marah
nggak kaya gini, Dion. Gue minta maaf.”
Dion berdiri dan menatapku dengan
tatapan nanar. Ia memang tipe orang yang tak suka jika ada yang merampas
bukunya saat ia sedang baca. “Kita dekat karena lu punya tujuan pengen bikin
Rio putus dari Naomi dan gue juga mengharapkan itu. Yang gue dengar, mereka
sedang renggang, dan bukannya lu udah deket sama Rio? Terus apa alasan kita
masih harus dekat? Bukannya emang dari awal kita seperti ini?” Ia mengambil
alih bukunya dari tanganku dan bergegas keluar kelas.
Aku berdiri mematung, tak berdaya
dibuat oleh kata-kata yang menyakitkan milik Dion. Tatapan matanya yang tajam
semakin membuat kesan ia tak menyukaiku lagi, layaknya kita menjadi teman
dahulu. Aku masih tak berkutik kala Dion meninggalkanku, selepas Dion
menghilang dari hadapanku, airmataku mengalir dengan bebas.
Semua hal yang pernah kami
lakukan bersama, kini seakan terlintas begitu saja didepan mataku, sedikit
dihalangi oleh airmataku. Saat kami bersama-sama menikmati hujan dengan
kegilaan kami ditaman dekat rumahku, saat kami sama-sama tertidur karena lelah
diteras rumahnya, saat kami sibuk mendengarkan lagu yang berasal dari headset
miliknya berdua, sembari memandang bintang.
Rasanya baru kemarin aku
mengenalnya, menghabiskan lebih banyak waktuku bersamanya. Ada yang harus aku
akui, ada yang hilang kala ia pergi dan kala bersamanya aku bisa melihat dunia
dengan cara berbeda, cara yang tak pernah aku tahu, cara yang akhirnya
menyingkirkan segala ketidak-indahan dunia dan menggantikannya dengan keindahan
dunia yang baru aku tahu.
Kini semua tak lagi sama, aku
tahu ada yang berbeda. Ada yang pergi dan ada yang datang, lalu salahkah aku
jika aku tak ingin seseorang yang datang itu pergi? Bahkan jika bisa aku
memohon, aku ingin ia yang datang tak kemana-mana lagi, tetap disini,
bersamaku, memulai cerita yang tak pernah kita kehendaki. Aku ingin tetap
bersamanya, meski tak tahu isi hati masing-masing. Aku ingin tetap bersamanya,
meski hanya berawal dari sebuah rencana dan jika aku bisa merubah semuanya, aku
ingin menghapus rencana itu, agar kami tetap bersama tanpa harus ada tujuan
tertentu.
Salamku,
Gladis Putri Gianca
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.