Sabtu, 20 Desember 2014

Diary Gladis part 4

Senin, 4 Oktober 2010

Apapun alasannya, aku memang tak pernah benar-benar menyukai hari senin. Menurutku, senin itu suatu waktu yang seharusnya tak ada, meski jika hari senin tak ada mungkin selasa yang akhirnya tak aku harapkan kedatangannya. Aku menganggap senin sebagai pengganggu waktu liburku, waktu minggu yang aku tunggu-tunggu akan habis dimakan waktu untuk diganti dengan hari senin. Ya, entahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu malas untuk memulai setiap minggunya dengan keadaan jalan yang tak pernah berubah, macet.

Senin hari ini berbeda dari senin beberapa waktu yang lalu. Aku harus bangun lebih pagi lagi agar tak kesiangan sampai di sekolah. Hari ini, aku harus lebih pagi lagi keluar rumah agar bisa menumpangi bus pertama yang melintasi jalan depan sekolahku. Hari ini aku terbiasa lagi setelah kegiatan ini tak lama aku lakukan, sebelumnya aku masih tak begitu memperdulikan senin, tak memperdulikan jalanan yang selalu macet. Ya, sebelumnya masih ada Dion yang senantiasa menjemputku, meski ia harus berangkat lebih awal dari biasanya agar tak telat menjemputku, tapi ia tak pernah mempermasalahkan hal itu.

“Gladis” Seorang lelaki yang masih menggunakan helmnya menghentikan motornya tepat dihadapanku. “Bareng aja yuk?” Ujarnya sembari melepas helmnya. Rio, lelaki yang masih berada diatas motornya.

Aku tak memberikan respon yang berarti, aku tak menyangka lelaki yang selama ini aku harapkan kehadirannya, kini sudah berada didepanku. Beberapa langkah dari tempatku berdiri sedang berada seorang lelaki yang aku kagumi sejak aku baru pertama kali mengenalnya. Ini adalah saat-saat yang selalu aku harapkan, dahulu. Ya, dahulu, entah mengapa hari ini menjadi sangat biasa saja saat seseorang yang—sebenarnya—kau inginkan mulai menyapaku. Apa yang salah denganku? Dengan hatiku? Mengapa tak ada lagi getaran yang biasanya selalu hadir kala kami berada dijarak yang dekat?

“Kalau cuma diem kaya gini doang sih, kamu bisa telat.” Katanya, “Aku juga bakal telat, kayanya.” Ia melanjutkan kalimatnya setelah benar-benar yakin aku memperhatikannya.

“Tidak merepotkan?” Tanyaku ragu. Ini kalimat pertama yang aku tanyakan kepadanya.

Rio mengerutkan dahinya, beberapa menit hanya seperti itu. “Sangat merepotkan........” Ia diam menatapku seksama. “Jika kau hanya seperti ini terus, karena kita akan telat” Ia tertawa. Tawa yang selama ini aku nikmati diam-diam.

Selama perjalanan aku hanya diam, tak mengerti apa yang harus dijadikan topic untuk bicara dengannya. Aku hanya menikmati udara pagi yang mulai tercemar polusi-polusi kendaraan, menikmati angin yang menerbangkan rambutku.

Kami sudah sampai didepan gerbang sekolah, lima belas menit sebelum bel berbunyi. Aku bergegas turun dari motor Rio, mengambil posisi diri disampingnya, menatapnya yang masih sibuk melepas segala perlengkapan yang ia pakai. Aku masih menatapnya, mencoba mendalami perasaanku, masih adakah rasa itu ataukah memang sudah tak ada?

Aku masih memperhatikan Rio, menatapnya, hingga seseorang mulai mengalihkan pandanganku. Seseorang yang tak memperhatikan kehadiranku yang berada disamping langkahnya, seseorang yang bahkan hanya terus memandang kedepan tanpa menengok kearahku. Mungkin ia sengaja tak menghiraukanku, mungkin ia masih marah denganku.

Aku menatapnya yang semakin jauh, aku menatapnya yang masih tak menghiraukanku. Dadaku seketika terasa sesak, entah, ada tangan yang ingin menahan lengannya, agar tak terus menjauhiku. Ada kata-kata yang ingin disampaikan agar tak ada kesalahpahaman. Ada mata yang memanas saat aku baru menyadari langkahnya semakin cepat dan tubuhnya semakin jauh.

“Kalau aku duluan, boleh kan ya Rio?” Tanyaku ragu.

Rio menatapku, entah tatapan macam apa yang ia tuju tepat dimataku, “Memang mengapa kalau kita jalan bersama?”

“Aku harus segera tiba dikelas. Boleh kan?” Kataku bohong. Tidak sepenuhnya berbohong tetapi tidak sepenuhnya benar.

“Ya sudah.”

Tanpa basa-basi lagi, aku melangkah dengan langkah cepat, aku hanya ingin mengejar langkah seseorang yang sudah tak aku temui. Seiring kaki yang terus melangkah ada hati yang tak menentu. Disetiap langkah kaki yang menginjak lantai ada fikiran yang tak pernah berhenti menerka-nerka. Semakin dekat aku dengan pintu kelasku, semakin debaran jantungku sangat terasa.

Aku melihat sekeliling kelasku, belum banyak teman-temanku yang datang. Mataku langsung tertuju kepada seseorang yang sedang asyik di bangkunya, membaca setiap lembaran dalam buku tebalnya. Aku menatapnya, memperlambat langkah kakiku, mengumpulkan segala keyakinanku untuk mulai menyapanya (lagi).

“Dion?” Panggilku canggung.

“Heem?” Jawabnya tanpa menoleh sedikit pun.

“Lu marah ya sama gue?” Tanyaku dengan gerakan tak menentu, aku memang suka bergerak tak jelas jika sedang gugup.

Dion masih memperhatikan setiap kata yang terangkai menjadi dalam bukunya.

“Gue tahu, gue salah. Waktu itu gue udah ngomong yang seharusnya nggak gue omongan. Tapi, waktu itu lu juga salah, kan? Lu ngerasa gak sih? Ih, jangan diem aja. Gue lagi ngomong sama lu.” Aku merampas buku yang sedari tadi dipegangnya, yang sedari tadi menyita pandangannya. “Gue lagi ngomong, lu dengerin nggak sih? Kalo lu emang marah nggak kaya gini, Dion. Gue minta maaf.”

Dion berdiri dan menatapku dengan tatapan nanar. Ia memang tipe orang yang tak suka jika ada yang merampas bukunya saat ia sedang baca. “Kita dekat karena lu punya tujuan pengen bikin Rio putus dari Naomi dan gue juga mengharapkan itu. Yang gue dengar, mereka sedang renggang, dan bukannya lu udah deket sama Rio? Terus apa alasan kita masih harus dekat? Bukannya emang dari awal kita seperti ini?” Ia mengambil alih bukunya dari tanganku dan bergegas keluar kelas.

Aku berdiri mematung, tak berdaya dibuat oleh kata-kata yang menyakitkan milik Dion. Tatapan matanya yang tajam semakin membuat kesan ia tak menyukaiku lagi, layaknya kita menjadi teman dahulu. Aku masih tak berkutik kala Dion meninggalkanku, selepas Dion menghilang dari hadapanku, airmataku mengalir dengan bebas.

Semua hal yang pernah kami lakukan bersama, kini seakan terlintas begitu saja didepan mataku, sedikit dihalangi oleh airmataku. Saat kami bersama-sama menikmati hujan dengan kegilaan kami ditaman dekat rumahku, saat kami sama-sama tertidur karena lelah diteras rumahnya, saat kami sibuk mendengarkan lagu yang berasal dari headset miliknya berdua, sembari memandang bintang.

Rasanya baru kemarin aku mengenalnya, menghabiskan lebih banyak waktuku bersamanya. Ada yang harus aku akui, ada yang hilang kala ia pergi dan kala bersamanya aku bisa melihat dunia dengan cara berbeda, cara yang tak pernah aku tahu, cara yang akhirnya menyingkirkan segala ketidak-indahan dunia dan menggantikannya dengan keindahan dunia yang baru aku tahu.

Kini semua tak lagi sama, aku tahu ada yang berbeda. Ada yang pergi dan ada yang datang, lalu salahkah aku jika aku tak ingin seseorang yang datang itu pergi? Bahkan jika bisa aku memohon, aku ingin ia yang datang tak kemana-mana lagi, tetap disini, bersamaku, memulai cerita yang tak pernah kita kehendaki. Aku ingin tetap bersamanya, meski tak tahu isi hati masing-masing. Aku ingin tetap bersamanya, meski hanya berawal dari sebuah rencana dan jika aku bisa merubah semuanya, aku ingin menghapus rencana itu, agar kami tetap bersama tanpa harus ada tujuan tertentu.

Salamku,


Gladis Putri Gianca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.