Sejak setengah jam yang lalu, aku
dan Syia berada disini, sebuah kafe yang tak jauh dari kampus kami berdua. Aku dan
Syia bukan mahasiswi dalam satu universitas yang sama, namun kampus berdekatan,
hanya perlu waktu 15 menit untuk tiba dikampusnya jika menggunakan kendaraan
bermotor. Dan kafe ini adalah kafe tempat kami biasanya berjumpa, menghabiskan
waktu libur bersama.
Hari ini berbeda dari biasanya,
Syia mengajakku bertemu disaat kami tak sedang libur kuliah, bahkan ia rela
menunggu aku hingga jam terakhirku berakhir. Syia mengajak bertemu hari ini
tanpa kedua sahabatku lainnya. Hanya berdua. Dan kini, saat kami sudah berada
ditempat yang sama, masih tak ada perbincangan apapun seperti apapun. Sejak jumpa
tadi, hanya sebuah satu sapaan diantara kami, setelahnya tak ada yang berniat
ingin memulai topik pembicaraan, aku hanya menunggu Syia memulainya dan Syia
sibuk dengan gadget miliknya.
“Gue mau ngomong, Zi” Akhirnya
Syia meletakkan gadget miliknya,
menatapku secara tajam.
“Apa?” Aku mengerutkan dahiku.
Syia masih menatapku, ia seperti
seseorang yang tak menyukaiku, “Lu suka sama Dicno?”
“Dicno?” Aku mengulang nama yang
Syia sebut tadi, aku sedikit tertawa mendengar pertanyaannya. “Nggak lah. Gue sama
dia udah sahabatan. And u know about that, Syia!”
“Gue suka sama dia.” Ujarnya,
masih tanpa senyum dan masih dengan tatapan tak sukanya.
“Oh.... Oke.” Aku mengerti
mengapa ia menatapku dengan tatapan tak suka seperti itu. Aku mengerti mengapa
sikapnya berubah sejak beberapa bulan yang lalu.
Dicno adalah teman yang aku kenal
secara tak sengaja. Bermula dari perkenalan kami saat pesta teman smpku dan
hingga saat ini kami menjalin hubungan pertemanan yang cukup baik. Aku cukup
mengenal Dicno, begitu pula Dicno. Syia bukan orang pertama yang menduga aku
menyukai Dicno, sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, mungkin karena kami
terlalu banyak menghabiskan waktu berdua, bahkan aku lebih banyak menghabiskan
waktuku bersama Dicno.
Dicno adalah lelaki yang baik, sahabat
yang baik, ia selalu rela untuk aku repotkan dengan kerepotanku sebagai
perempuan. Tidak jarang ia rela menjemputku dirumah seorang temanku jika sudah
larut malam. Ia juga pernah rela menemaniku berbelanja bulanan, ketika Ibuku
sedang sakit.
Dan sebulan yang lalu, aku mulai
mengenalkannya dengan sahabatku, terlebih Syia. Ia sangat ingin berkenalan
dengan Dicno sejak pertama kali aku menceritakannya. Aku fikir mereka mulai
berteman dengan baik, tetapi Syia memang berubah sejak saat itu, ia terkesan
lebih tertutup denganku. Tatapan matanya menjadi terkesan tak suka jika aku ada
didekatnya.
“Tapi dia suka sama lu.” Katanya
dengan nada ketus.
Hening. Jantungku berdetak dengan
cepat, aku melemas. Tak pernah aku duga sebelumnya akan aku dengar pernyataan
seperti ini. Tidak pernah ada bayangan sebelumnya jika sebuah persahabatan
diwarnai dengan cinta. “Bercanda lu.” Aku mencoba mengusir segala perasaan tak
enak dihatiku. Jujur, aku takut Syia meninggalkanku dan persahabatan kami
kandas. Tapi disisi lain, aku juga takut kehilangan seorang sahabat seperti
Dicno.
“Kalau tidak percaya, tanya saja
sama Dicno. Dia yang bilang sendiri sama gue.”
*****
Dua minggu sudah pertemuanku
dengan Syia berlalu. Semenjak pertemuan terakhir kami, Syia menjadi susah untuk
dihubungi. Ia terkesan menghindar dariku. Syia hanya membalas pesanku
seperlunya, tak mengangkat telpon dariku. Menurutku, bukan tanpa sebab sikap
Syia semakin memburuk kepadaku dan firasatku kecemburuannya terhadap hubunganku
dengan Dicno lah yang membuatnya seperti ini.
Hari ini, aku memutuskan bertemu dengan
Dicno. Aku ingin menyelesaikan masalah ini, tak ada yang ingin terus-menerus didiamkan
sahabatnya seperti ini. Bagiku, dua minggu adalah waktu yang cukup untuk
memutuskan segalanya, sudah cukup dua minggu aku seperti tak mempunyai sahabat,
meski Dicno berada disampingku, ternyata keempat perempuan itu masih menjadi
prioritas diantara sahabatku lainnya.
Disebuah taman tak jauh dari
rumah Dicno kami memutuskan bertemu. Taman favorit kami berdua, telah banyak
waktu sore hari yang kami lewati di taman ini. Aku masih tak tahu bagaimana
cara memulai perbincangan ini, masih mencari kata-kata yang pas untuk memulai
pembahasan ini.
“Syia cerita sesuatu ke lu
tentang gue, Zi?” Akhirnya Dicno yang memulai dengan pertanyaan yang membuatku
menjadi tak karuan.
Aku mengangguk.
“Dia bilang apa aja?” Tanyanya,
ia menatapku dari samping. Sebelumnya tak pernah ia menatapku seserius ini.
Aku tak menjawab pertanyaan
Dicno. Aku tak tahu harus bicara seperti apa, bodoh memang ketika aku yang
ingin bertemu untuk menyelesaikan masalah tetapi aku hanya diam sedari tadi.
Dicno masih menatapku, menanti
jawaban yang akan keluar dari bibir yang sedari tadi hanya tertutup rapat.
“Kita nggak usah ketemu lagi ya,
Dic.” Kataku akhirnya. “Mungkin itu akan memperbaik semuanya.”
Dicno mendekatkan tubuhnya dengan
tubuhku, menatap wajahku dan menjatuhkan tatapannya tepat dibola mataku. “Kenapa?
Karena lu tahu gue sayang sama lu lebih dari seorang sahabat?”
Aku menundukkan pandanganku, tak
ingin menatap matanya yang hitam. Aku tak bisa menahan diriku agar tak menangis
sejak mata kami bertemu. Jantungku berdebub dengan cepat, dadaku terasa sangat
sesak, ingin berteriak, tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku teriakan, aku
menangis. Aku tidak tahu ini pilihan yang benar atau salah. Aku tidak tahu
dengan melepaskan Dicno semua akan kembali membaik atau tidak.
“Kenapa, Zi? Apa salah kalo gue
ternyata sayang sama lu? Apa salah kalo sebenarnya selalu berharap kita lebih
dari seorang sahabat?” Suaranya mulai berubah, ia seperti sedang menahan
sesuatu, airmatanya.
“Bukan karena itu, Dic. Syia suka
sama lu. Dan dia cemburu sama gue kalo gue masih deket sama lu. Dan gue nggak
mau dia cemburu sama gue terus-menerus, Dic.”
Dicno mendesah kesal. “Terus
gimana sama gue?” Tanyanya. Pertahanannya sudah hancur, akhirnya airmatanya
menetes. Ia tak bisa lagi menyembunyikan segala perasaan kesal yang
menghinggapi hatinya sejak tadi. “Lu bisa mikirin Syia, tapi kenapa lu nggak
bisa mikiri perasaan gue?”
“Gue ngga mau kita pisah.
Walaupun akhirnya gue cuma bisa jadi sahabat lu, itu akan lebih baik daripada
kita harus ngejauh. Ngerti?” Dicno menekan ucapannya.
“Gue gak bisa, Dic. Kita lebih
baik masing-masing, seperti sebelum kita ketemu dan kenal. Cuma ini cara untuk
memperbaiki keadaan ini, Dic.” Kataku. “Please, ngertiin gue.” Pintaku.
Dia bangun dari duduknya, menendang
rerumputan penuh kekesalan. “Jadi ini Frizie yang sebenarnya? Ini orang yang
selama ini gue sayang?” Ia tertawa lirih. “Ternyata lu nggak beda sama cewek
kebanyakan, Zi. Menyelesaikan masalah dengan masalah, bukan dengan solusi. Dan yang
harus lu tahu, lu egois!” Dicno meninggalkanku setelah ia menyelesaikan
ucapannya. Ucapan yang diakhiri dengan teriakan penuh penekanan.
Aku bangun dari dudukku,
airmataku semakin menetes tanpa henti saat menyadari Dicno sudah sangat jauh
melangkah. Dicno pergi dengan segala prasangkanya kepadaku, dengan perasaannya
yang tak salah. Jika bisa aku mengulang waktu, mungkin aku takkan mengenalkan
Dicno dengan sahabatku agar tak ada perpisahan yang menyakitkan ini. Dicno
semakin jauh dan aku sudah tidak mungkin menghentikan langkahnya. Ia pergi
dengan cintanya dan mungkin dengan rasa bencinya juga.
Aku memang hanya perempuan
seperti kebanyakan perempuan. Aku hanya perempuan yang hanya ingin
menyelamatkan persahabatanku. Mungkin memang egois, ketika aku hanya memikirkan
persahabatanku, tetapi bukankah memang dalam kehidupan kita hanya diberikan
pada satu pilihan diantara banyak pilihan? Dan aku memilih persahabatanku
diantara pilihan lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.