Rabu, 05 November 2014

Antara Persahabatan Terselip Cinta

Sejak setengah jam yang lalu, aku dan Syia berada disini, sebuah kafe yang tak jauh dari kampus kami berdua. Aku dan Syia bukan mahasiswi dalam satu universitas yang sama, namun kampus berdekatan, hanya perlu waktu 15 menit untuk tiba dikampusnya jika menggunakan kendaraan bermotor. Dan kafe ini adalah kafe tempat kami biasanya berjumpa, menghabiskan waktu libur bersama.

Hari ini berbeda dari biasanya, Syia mengajakku bertemu disaat kami tak sedang libur kuliah, bahkan ia rela menunggu aku hingga jam terakhirku berakhir. Syia mengajak bertemu hari ini tanpa kedua sahabatku lainnya. Hanya berdua. Dan kini, saat kami sudah berada ditempat yang sama, masih tak ada perbincangan apapun seperti apapun. Sejak jumpa tadi, hanya sebuah satu sapaan diantara kami, setelahnya tak ada yang berniat ingin memulai topik pembicaraan, aku hanya menunggu Syia memulainya dan Syia sibuk dengan gadget miliknya.

“Gue mau ngomong, Zi” Akhirnya Syia meletakkan gadget miliknya, menatapku secara tajam.

“Apa?” Aku mengerutkan dahiku.

Syia masih menatapku, ia seperti seseorang yang tak menyukaiku, “Lu suka sama Dicno?”

“Dicno?” Aku mengulang nama yang Syia sebut tadi, aku sedikit tertawa mendengar pertanyaannya. “Nggak lah. Gue sama dia udah sahabatan.  And u know about that, Syia!”

“Gue suka sama dia.” Ujarnya, masih tanpa senyum dan masih dengan tatapan tak sukanya.

“Oh.... Oke.” Aku mengerti mengapa ia menatapku dengan tatapan tak suka seperti itu. Aku mengerti mengapa sikapnya berubah sejak beberapa bulan yang lalu.

Dicno adalah teman yang aku kenal secara tak sengaja. Bermula dari perkenalan kami saat pesta teman smpku dan hingga saat ini kami menjalin hubungan pertemanan yang cukup baik. Aku cukup mengenal Dicno, begitu pula Dicno. Syia bukan orang pertama yang menduga aku menyukai Dicno, sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, mungkin karena kami terlalu banyak menghabiskan waktu berdua, bahkan aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Dicno.

Dicno adalah lelaki yang baik, sahabat yang baik, ia selalu rela untuk aku repotkan dengan kerepotanku sebagai perempuan. Tidak jarang ia rela menjemputku dirumah seorang temanku jika sudah larut malam. Ia juga pernah rela menemaniku berbelanja bulanan, ketika Ibuku sedang sakit.
Dan sebulan yang lalu, aku mulai mengenalkannya dengan sahabatku, terlebih Syia. Ia sangat ingin berkenalan dengan Dicno sejak pertama kali aku menceritakannya. Aku fikir mereka mulai berteman dengan baik, tetapi Syia memang berubah sejak saat itu, ia terkesan lebih tertutup denganku. Tatapan matanya menjadi terkesan tak suka jika aku ada didekatnya.

“Tapi dia suka sama lu.” Katanya dengan nada ketus.

Hening. Jantungku berdetak dengan cepat, aku melemas. Tak pernah aku duga sebelumnya akan aku dengar pernyataan seperti ini. Tidak pernah ada bayangan sebelumnya jika sebuah persahabatan diwarnai dengan cinta. “Bercanda lu.” Aku mencoba mengusir segala perasaan tak enak dihatiku. Jujur, aku takut Syia meninggalkanku dan persahabatan kami kandas. Tapi disisi lain, aku juga takut kehilangan seorang sahabat seperti Dicno.

“Kalau tidak percaya, tanya saja sama Dicno. Dia yang bilang sendiri sama gue.”

*****


Dua minggu sudah pertemuanku dengan Syia berlalu. Semenjak pertemuan terakhir kami, Syia menjadi susah untuk dihubungi. Ia terkesan menghindar dariku. Syia hanya membalas pesanku seperlunya, tak mengangkat telpon dariku. Menurutku, bukan tanpa sebab sikap Syia semakin memburuk kepadaku dan firasatku kecemburuannya terhadap hubunganku dengan Dicno lah yang membuatnya seperti ini.

Hari ini, aku memutuskan bertemu dengan Dicno. Aku ingin menyelesaikan masalah ini, tak ada yang ingin terus-menerus didiamkan sahabatnya seperti ini. Bagiku, dua minggu adalah waktu yang cukup untuk memutuskan segalanya, sudah cukup dua minggu aku seperti tak mempunyai sahabat, meski Dicno berada disampingku, ternyata keempat perempuan itu masih menjadi prioritas diantara sahabatku lainnya.

Disebuah taman tak jauh dari rumah Dicno kami memutuskan bertemu. Taman favorit kami berdua, telah banyak waktu sore hari yang kami lewati di taman ini. Aku masih tak tahu bagaimana cara memulai perbincangan ini, masih mencari kata-kata yang pas untuk memulai pembahasan ini.

“Syia cerita sesuatu ke lu tentang gue, Zi?” Akhirnya Dicno yang memulai dengan pertanyaan yang membuatku menjadi tak karuan.

Aku mengangguk.

“Dia bilang apa aja?” Tanyanya, ia menatapku dari samping. Sebelumnya tak pernah ia menatapku seserius ini.

Aku tak menjawab pertanyaan Dicno. Aku tak tahu harus bicara seperti apa, bodoh memang ketika aku yang ingin bertemu untuk menyelesaikan masalah tetapi aku hanya diam sedari tadi.

Dicno masih menatapku, menanti jawaban yang akan keluar dari bibir yang sedari tadi hanya tertutup rapat.

“Kita nggak usah ketemu lagi ya, Dic.” Kataku akhirnya. “Mungkin itu akan memperbaik semuanya.”

Dicno mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku, menatap wajahku dan menjatuhkan tatapannya tepat dibola mataku. “Kenapa? Karena lu tahu gue sayang sama lu lebih dari seorang sahabat?”

Aku menundukkan pandanganku, tak ingin menatap matanya yang hitam. Aku tak bisa menahan diriku agar tak menangis sejak mata kami bertemu. Jantungku berdebub dengan cepat, dadaku terasa sangat sesak, ingin berteriak, tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku teriakan, aku menangis. Aku tidak tahu ini pilihan yang benar atau salah. Aku tidak tahu dengan melepaskan Dicno semua akan kembali membaik atau tidak.

“Kenapa, Zi? Apa salah kalo gue ternyata sayang sama lu? Apa salah kalo sebenarnya selalu berharap kita lebih dari seorang sahabat?” Suaranya mulai berubah, ia seperti sedang menahan sesuatu, airmatanya.

“Bukan karena itu, Dic. Syia suka sama lu. Dan dia cemburu sama gue kalo gue masih deket sama lu. Dan gue nggak mau dia cemburu sama gue terus-menerus, Dic.”

Dicno mendesah kesal. “Terus gimana sama gue?” Tanyanya. Pertahanannya sudah hancur, akhirnya airmatanya menetes. Ia tak bisa lagi menyembunyikan segala perasaan kesal yang menghinggapi hatinya sejak tadi. “Lu bisa mikirin Syia, tapi kenapa lu nggak bisa mikiri perasaan gue?”

“Gue ngga mau kita pisah. Walaupun akhirnya gue cuma bisa jadi sahabat lu, itu akan lebih baik daripada kita harus ngejauh. Ngerti?” Dicno menekan ucapannya.

“Gue gak bisa, Dic. Kita lebih baik masing-masing, seperti sebelum kita ketemu dan kenal. Cuma ini cara untuk memperbaiki keadaan ini, Dic.” Kataku. “Please, ngertiin gue.” Pintaku.

Dia bangun dari duduknya, menendang rerumputan penuh kekesalan. “Jadi ini Frizie yang sebenarnya? Ini orang yang selama ini gue sayang?” Ia tertawa lirih. “Ternyata lu nggak beda sama cewek kebanyakan, Zi. Menyelesaikan masalah dengan masalah, bukan dengan solusi. Dan yang harus lu tahu, lu egois!” Dicno meninggalkanku setelah ia menyelesaikan ucapannya. Ucapan yang diakhiri dengan teriakan penuh penekanan.

Aku bangun dari dudukku, airmataku semakin menetes tanpa henti saat menyadari Dicno sudah sangat jauh melangkah. Dicno pergi dengan segala prasangkanya kepadaku, dengan perasaannya yang tak salah. Jika bisa aku mengulang waktu, mungkin aku takkan mengenalkan Dicno dengan sahabatku agar tak ada perpisahan yang menyakitkan ini. Dicno semakin jauh dan aku sudah tidak mungkin menghentikan langkahnya. Ia pergi dengan cintanya dan mungkin dengan rasa bencinya juga.


Aku memang hanya perempuan seperti kebanyakan perempuan. Aku hanya perempuan yang hanya ingin menyelamatkan persahabatanku. Mungkin memang egois, ketika aku hanya memikirkan persahabatanku, tetapi bukankah memang dalam kehidupan kita hanya diberikan pada satu pilihan diantara banyak pilihan? Dan aku memilih persahabatanku diantara pilihan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.