Kamis, 22 Januari 2015

Cinta dari Sahabatmu.

Perempuan itu berdiri diujung pintu perpustakaan kampusnya, niat awalnya untuk membaca seketika sirna saat pandangannya tak sengaja jatuh kepada dua insan yang saling bercengkerama mesra. Lelaki dan perempuan yang sedang jatuh cinta itu tak sadar sedang diperhatikan oleh perempuan lainnya dari jarak yang tak begitu jauh. Banyak yang sadar jika ada yang sedang jatuh cinta, namun tak ada yang sadar jika ada hati sedang terluka.

Creva masih saja berdiri diujung sana, tak berniat untuk segera bergegas. Kakinya terlalu kaku untuk diajak melangkah menjauhi tempat itu. Disana, Theo dan Clara—pacar barunya—masih saja asik bercengkerama, tak jelas topic apa yang membuat mereka senang berlama-lama mengobrol. Creva masih memperhatikan Theo yang sedari tadi melengkungkan bibirnya disela-sela ucapannya, hingga akhirnya Theo sadar jika ada Creva yang hanya berdiri didepan pintu, enggan untuk masuk ataupun pergi.

“Crev?” Panggilnya, membuat Clara menoleh kearahnya juga.

Creva hanya tersenyum tipis, lalu ia pergi. Ini cara terjitu untuk mengembalikan perasaannya yang sedang hancur, mengapa tak dari tadi ia pergi? Mengapa ia harus menyiksa hatinya terlalu lama? Entahlah, terkadang Creva terlalu menikmati kala hatinya sakit.

Kamis, 01 Januari 2015

(Bukan) Pemeran Utama.

Yang aku tahu dalam cinta tak pernah ada dua pemeran utama dalam satu sisi, hanya satu pemeran utama disetiap sisinya, satu lelaki dan satu perempuan, tak kurang dan tak lebih. Aku fikir, aku sudah berhasil menjadi pemeran utama dalam kehidupan cintanya, setelah ia tak menjadikan perempuan itu sebagai wanitanya lagi. Aku fikir, aku ada karena ia memberiku sepenuhnya peran ini, tapi ternyata aku salah, perempuan itu masih ia beri peran, bahkan peran yang seharusnya kini menjadi peranku. Perempuan itu bukanlah pemeran utama tetapi dia memiliki peran yang penting dan aku hanya pemeran tanpa peran.

Calvin, lelaki dengan umur terpaut 3 tahun lebih dewasa dariku. Lelaki yang aku kenal sebagai kakak senior dikampusku. Aku mengenalnya secara tak sengaja, saat aku sedang melewati masa-masa ospek, ia hadir menjadi kakak senior yang baik. Lelaki yang sangat irit bicara, tetapi mampu bersikap manis kepada semua orang. Menurut cerita yang aku dengar, ia sangat disegani dikampus ini, jabatannya sebagai ketua BEM kampus-lah yang membuatnya dikenal oleh hampir semua mahasiswa disini.

“Kau ingin jadi kekasihku?” Tanyanya saat itu, saat aku rela menghabiskan sabtu malam kesekian kali bersamanya.

Aku masih menatapnya, masih tak percaya akan pertanyaan yang baru saja aku dengar. Terlalu cepat untuknya yang baru saja patah hati, menurutku saat itu.

“Kirana, Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Ia meyakinkanku. Menatapku begitu lembut, membuatku semakin merasakan kenyamaan kala bersamanya.