Perempuan itu berdiri diujung
pintu perpustakaan kampusnya, niat awalnya untuk membaca seketika sirna saat
pandangannya tak sengaja jatuh kepada dua insan yang saling bercengkerama
mesra. Lelaki dan perempuan yang sedang jatuh cinta itu tak sadar sedang
diperhatikan oleh perempuan lainnya dari jarak yang tak begitu jauh. Banyak
yang sadar jika ada yang sedang jatuh cinta, namun tak ada yang sadar jika ada
hati sedang terluka.
Creva masih saja berdiri diujung
sana, tak berniat untuk segera bergegas. Kakinya terlalu kaku untuk diajak
melangkah menjauhi tempat itu. Disana, Theo dan Clara—pacar barunya—masih saja
asik bercengkerama, tak jelas topic apa yang membuat mereka senang berlama-lama
mengobrol. Creva masih memperhatikan Theo yang sedari tadi melengkungkan bibirnya
disela-sela ucapannya, hingga akhirnya Theo sadar jika ada Creva yang hanya
berdiri didepan pintu, enggan untuk masuk ataupun pergi.
“Crev?” Panggilnya, membuat Clara
menoleh kearahnya juga.
Creva hanya tersenyum tipis, lalu
ia pergi. Ini cara terjitu untuk mengembalikan perasaannya yang sedang hancur,
mengapa tak dari tadi ia pergi? Mengapa ia harus menyiksa hatinya terlalu lama?
Entahlah, terkadang Creva terlalu menikmati kala hatinya sakit.