Yang aku tahu dalam cinta tak
pernah ada dua pemeran utama dalam satu sisi, hanya satu pemeran utama disetiap
sisinya, satu lelaki dan satu perempuan, tak kurang dan tak lebih. Aku fikir,
aku sudah berhasil menjadi pemeran utama dalam kehidupan cintanya, setelah ia
tak menjadikan perempuan itu sebagai wanitanya lagi. Aku fikir, aku ada karena
ia memberiku sepenuhnya peran ini, tapi ternyata aku salah, perempuan itu masih
ia beri peran, bahkan peran yang seharusnya kini menjadi peranku. Perempuan itu
bukanlah pemeran utama tetapi dia memiliki peran yang penting dan aku hanya
pemeran tanpa peran.
Calvin, lelaki dengan umur
terpaut 3 tahun lebih dewasa dariku. Lelaki yang aku kenal sebagai kakak senior
dikampusku. Aku mengenalnya secara tak sengaja, saat aku sedang melewati
masa-masa ospek, ia hadir menjadi kakak senior yang baik. Lelaki yang sangat
irit bicara, tetapi mampu bersikap manis kepada semua orang. Menurut cerita
yang aku dengar, ia sangat disegani dikampus ini, jabatannya sebagai ketua BEM
kampus-lah yang membuatnya dikenal oleh hampir semua mahasiswa disini.
“Kau ingin jadi kekasihku?”
Tanyanya saat itu, saat aku rela menghabiskan sabtu malam kesekian kali
bersamanya.
Aku masih menatapnya, masih tak
percaya akan pertanyaan yang baru saja aku dengar. Terlalu cepat untuknya yang
baru saja patah hati, menurutku saat itu.
“Kirana, Aku mencintaimu. Maukah
kau menjadi kekasihku?” Ia meyakinkanku. Menatapku begitu lembut, membuatku
semakin merasakan kenyamaan kala bersamanya.
“Begitu cepat kau melupakannya?
Aku bukan tidak ingin menerimamu, tapi aku bukanlah wanita yang cukup kuat jika
akhirnya aku hanya kau jadikan pelarianmu. Kalian sudah saling mengenal cukup
lama, menjalin hubungan jauh sebelum aku mengenalmu, lalu saat aku datang, kau
memilihku. Bukan aku tak percaya, hanya saja ini terlalu aneh untukku.” Kataku.
Aku membalas tatapannya, “Berikan satu alasan mengapa kau secepat itu
menggantikan tempat untuknya menjadi untukku?”
“Apa yang harus aku katakan
sebagai alasanku mencintaimu? Aku tidak pernah tahu mengapa secepat ini kau
masuk kedalam hatiku dan menggantikan posisinya. Aku tak pernah sekalipun
mengerti, mengapa aku bisa mencintaimu dan ingin terus melihatmu.”
Kami hanya saling diam beberapa
menit. Aku sibuk memikirkan perasaan tak menentu milikku dan Calvin sibuk
menatapku, menanti jawaban atas pertanyaannya.
Beberapa hari ini aku memang
lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya, banyak cerita yang aku bagi
kepadanya, Calvin adalah orang pertama yang mampu membuatku mudah bercerita.
Harus ku akui, ada rasa nyaman yang aku rasa saat kami sedang bersama. Banyak
yang tak menyukai kedekatanku dengannya, namun saat bersamanya, aku seperti
lupa akan hal itu. Ia menghadirkan rasa yang sudah lama tak ada, membuat
hidupku yang biasa menjadi berwarna. Membuat senyumku hadir lebih banyak.
“Kau tahu banyak tak suka dengan
hubungan kita? Apa kau bisa meyakinkanku, kita akan baik-baik saja?” Aku masih
meragukannya, ragu akan hubungan yang akan kami mulai.
“Jika kau percaya kepada cinta,
maka semua akan baik-baik saja. Apa yang akan terjadi dalam hubungan kita
tergantung apa yang kita fikirkan.” Calvin masih menatapku, masih berusaha
meyakinkanku tanpa henti. “Aku tak ingin berjanji akan menjaga hubungan kita
agar tetap baik-baik saja, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk
menjaga hubungan kita. Aku tak ingin berjanji, karena aku tahu kau tak percaya
akan janji. Kau butuh tindakan langsung bukan?”
Aku mengangguk. Menggenggam
tangannya penuh lembut, “Aku mau menjadi kekasihmu.” Kataku, akhirnya.
“Terimakasih.” Katanya saat itu.
Malam itu, malam pertama aku menjalani hari-hari penuh dengan tatapan tak suka,
menjalani hari-hari dihiasi dengan perkataan yang tak seharusnya aku dengar.
*****
Semenjak malam itu, aku lebih
banyak belajar arti perjuangan sesungguhnya. Tak jarang, aku lelah dengan
omongan yang aku dengar, ingin menyerah tapi Calvin selalu menguatkanku. Selalu
begitu, kala aku mulai ingin menyerah, ia datang tepat waktu. Calvin
meyakinkanku akan cinta.
“Cinta bisa mengubah semua,
mungkin kini banyak tak suka akan hubungan kita, tapi percayalah, cinta akan
mengubahnya. Biar mereka lihat sendiri, betapa kuat cinta kita dan biar mereka
sadar sendiri, jika cinta kita tak salah.” Hanya itu yang pernah ia ucapkan
kala aku sudah benar-benar ingin menyerah.
Calvin masih terus meyakinkanku
bahwa semua akan berakhir indah, kata-katanya singkat yang selalu mampu membuatku
ingin terus bersamanya. Calvin masih terus memintaku agar tetap disisinya
ditengah omongan yang membuatku gusar semakin sering terdengar. Calvin masih
disisiku, masih menguatkan hatiku yang sering goyah, semua yang dilakukannya
masih terasa manis, membuat perasaanku semakin yakin.
Aku masih merasa seperti ratu
dihati sampai saat aku tahu, bukan aku yang benar-benar dihatinya. Dua bulan
sudah aku jalani hariku bersamanya, mencoba menemani ia yang disibukkan dengan
tugas keorganisasiannya, terus mencoba menguatkan hati seperti yang ia pinta. Aku
sedang belajar menutup telingaku dari gunjingan mereka yang tak tahu apa-apa,
kala aku melihatmu sedang menghabiskan waktu bersamanya.
Sore itu, semua seakan jelas. Kau
sangat pandai berbicara, membuatku yakin akan ucapan manis yang sesungguhnya
tak ada, membuat aku percaya akan tatapan cinta yang sebenarnya semu. Semua
yang sedang aku yakinkan kini menjadi runtuh, berhari-hari aku melawan hati
yang goyah, mengingat kata-kata penguatmu, namun, di satu menit sore itu, semua
hancur. Tak ada kata-kata penguat yang dapat aku percayai lagi, tak ada tatapan
yang meyakinkan lagi. Semuanya semu.
“Vin...” Panggilku lirih.
Calvin menatapku dari tempatnya
duduk, perempuan dihadapannya pun ikut menatapku, lalu menunduk dimenit
selanjutnya.
“Kita bisa bicarakan ini semua,
Ran.” Katanya, beranjak mendekatiku. “Kita bicara berdua disana ya,” Bujuknya
seraya menunjuk tempat sepi diujung kafe.
“Kenapa berdua? Bukankah ini
masalah kita bertiga?” Tatapku nanar.
“Nggak.” Ia menghembuskan
napasnya secara gusar. “Dia tidak tahu apa-apa. Jangan salahkan dia.” Ia
meraih lenganku, memintaku agar mengikutinya.
Aku menghempaskan lenganku, “Dia
tidak tahu apa-apa? Apa aku gak salah dengar? Dia tahu, kamu pacarku, Vin.”
“Kirana, aku mohon, jangan
disini.” Katanya sedikit berbisik, kala banyak pasang mata yang sudah menatap
kami.
“Ikut aku, kita selesaikan
baik-baik.” Katanya lagi.
Aku masih diam, hatiku sudah
sangat kacau, aku tak ingin mendengar apapun penjelasannya, semuanya sudah
cukup jelas. Memang egois kala aku lebih memilih mendengarkan kata hatiku tanpa
tahu apa penjelasannya, tapi itu lebih baik dibandingkan aku harus tahu yang
sebenarnya. Aku tak ingin semakin hancur dibuatnya.
“Kirana” Perempuan yang sedari
tadi hanya menatap kami dari tempatnya duduk, kini mulai mendekat. “Maaf, aku
yang salah. Seharusnya tidak ku turuti pintanya dan keinginan hatiku untuk
bertemu dengannya.” Perempuan yang tak aku tahu namanya itu, mengelus bahuku
dan setelahnya beranjak pergi meninggalkanku.
Calvin menahannya, “Kamu tidak
salah, Sin. Juga bukan salahmu, Ran.” Katanya menatap perempuan disampingnya
dan aku secara bergantian. “Aku yang egois disini, aku yang mengikutsertakan
Kirana kala perasaanku untukmu belum pergi. Aku yang memintanya menggantikan
posisimu, namun tidak memberikan sepenuh hatiku untuknya.” Jelas Calvin
menatapku.
“Kami masih memiliki perasaan
yang sama, tak berubah, Ran. Namun, kami sadar, kami tak bisa menyatu.
Perbedaan kami yang memaksa kami untuk memikirkan kelanjutan hubungan kami,
disaat kami sedang memutuskan untuk menjalani semuanya masing-masing, kamu
hadir, awalnya aku sedang mencintaimu, namun, semakin aku berusaha melawan
cintaku untuknya, aku semakin merindukannya, Ran.”
Aku mengangkat sebelah bibirku, “Lalu
dengan seperti itu, apa kamu fikir semua yang kamu lakukan kepadaku menjadi
benar?” Aku menatapnya, tak memberikan sedikit senyumanku untuknya, “Terimakasih
sudah menjadikanku pemeran utama tanpa peran yang penting di cintamu.” Aku berlalu,
tak menghiraukan panggilan Calvin. Aku rasa semua sudah cukup jelas. Aku bukan
yang ada dihatinya.
*****
Aku fikir, aku sudah cukup dewasa
untuk mengerti apa itu cinta. Namun nyatanya aku masih terlalu dini untuk
mengenalnya. Aku masih terlalu mudah untuk dibodohi oleh cinta, bukan, bukan
oleh cinta, namun oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab yang
mengatasnamakan cinta untuk keegoisannya. Aku masih tidak mengerti, mengapa
cinta harus digunakan untuk menutupi keegoisan? Mengapa banyak orang yang
menggunakan alasan cinta untuk memuaskan keegoisannya? Bukankah cinta lebih
dari itu? Cinta yang ku tahu itu putih, bukan berwarna, cinta bukan alasan
untuk sebuah keegoisan. Cinta itu suci. Ya, seharusnya seperti itu. Jika cinta
ditempatkan ditempat yang seharusnya, mungkin tak ada yang menangis karna
cinta. Jika semua orang mengerti akan cinta, mungkin tak ada yang mengatakan “Cinta
itu menyakitkan”.
Belum genap seminggu aku
memutuskan hubunganku dengan Calvin, tapi aku sudah sering melihatnya bersama
perempuannya, mereka bahkan tak jarang memperlihatkan kemesraannya dihadapanku.
Entah sengaja atau tidak, tapi mereka terkesan tak menganggapku, tak menganggap
dua bulan kebersamaanku bersama Calvin, aku seperti hanya figuran yang tak
berarti, meski sebenarnya saat itu dijadikan pemeran utama.
Kini, aku sudah tidak peduli
dengannya. Aku tidak peduli dengan pemeran utama yang pernah disematkan
kepadaku meski tanpa peran. Aku sudah bisa menatap semuanya lebih berwarna, aku
tidak selemah yang mereka fikirkan. Mungkin, aku tak sekuat yang diharapkan
sahabatku, namun aku juga tidak selemah yang mereka fikir. Aku lebih kuat dari
itu, meski lebih lemah dari harapan sahabatku. Setidaknya, aku bisa membiarkan
pemeran utama pria dan wanita itu memerankan perannya sebagaimana mestinya.
*** Selesai ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.