Kamis, 01 Januari 2015

(Bukan) Pemeran Utama.

Yang aku tahu dalam cinta tak pernah ada dua pemeran utama dalam satu sisi, hanya satu pemeran utama disetiap sisinya, satu lelaki dan satu perempuan, tak kurang dan tak lebih. Aku fikir, aku sudah berhasil menjadi pemeran utama dalam kehidupan cintanya, setelah ia tak menjadikan perempuan itu sebagai wanitanya lagi. Aku fikir, aku ada karena ia memberiku sepenuhnya peran ini, tapi ternyata aku salah, perempuan itu masih ia beri peran, bahkan peran yang seharusnya kini menjadi peranku. Perempuan itu bukanlah pemeran utama tetapi dia memiliki peran yang penting dan aku hanya pemeran tanpa peran.

Calvin, lelaki dengan umur terpaut 3 tahun lebih dewasa dariku. Lelaki yang aku kenal sebagai kakak senior dikampusku. Aku mengenalnya secara tak sengaja, saat aku sedang melewati masa-masa ospek, ia hadir menjadi kakak senior yang baik. Lelaki yang sangat irit bicara, tetapi mampu bersikap manis kepada semua orang. Menurut cerita yang aku dengar, ia sangat disegani dikampus ini, jabatannya sebagai ketua BEM kampus-lah yang membuatnya dikenal oleh hampir semua mahasiswa disini.

“Kau ingin jadi kekasihku?” Tanyanya saat itu, saat aku rela menghabiskan sabtu malam kesekian kali bersamanya.

Aku masih menatapnya, masih tak percaya akan pertanyaan yang baru saja aku dengar. Terlalu cepat untuknya yang baru saja patah hati, menurutku saat itu.

“Kirana, Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Ia meyakinkanku. Menatapku begitu lembut, membuatku semakin merasakan kenyamaan kala bersamanya.

“Begitu cepat kau melupakannya? Aku bukan tidak ingin menerimamu, tapi aku bukanlah wanita yang cukup kuat jika akhirnya aku hanya kau jadikan pelarianmu. Kalian sudah saling mengenal cukup lama, menjalin hubungan jauh sebelum aku mengenalmu, lalu saat aku datang, kau memilihku. Bukan aku tak percaya, hanya saja ini terlalu aneh untukku.” Kataku. Aku membalas tatapannya, “Berikan satu alasan mengapa kau secepat itu menggantikan tempat untuknya menjadi untukku?”

“Apa yang harus aku katakan sebagai alasanku mencintaimu? Aku tidak pernah tahu mengapa secepat ini kau masuk kedalam hatiku dan menggantikan posisinya. Aku tak pernah sekalipun mengerti, mengapa aku bisa mencintaimu dan ingin terus melihatmu.”

Kami hanya saling diam beberapa menit. Aku sibuk memikirkan perasaan tak menentu milikku dan Calvin sibuk menatapku, menanti jawaban atas pertanyaannya.

Beberapa hari ini aku memang lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya, banyak cerita yang aku bagi kepadanya, Calvin adalah orang pertama yang mampu membuatku mudah bercerita. Harus ku akui, ada rasa nyaman yang aku rasa saat kami sedang bersama. Banyak yang tak menyukai kedekatanku dengannya, namun saat bersamanya, aku seperti lupa akan hal itu. Ia menghadirkan rasa yang sudah lama tak ada, membuat hidupku yang biasa menjadi berwarna. Membuat senyumku hadir lebih banyak.

“Kau tahu banyak tak suka dengan hubungan kita? Apa kau bisa meyakinkanku, kita akan baik-baik saja?” Aku masih meragukannya, ragu akan hubungan yang akan kami mulai.

“Jika kau percaya kepada cinta, maka semua akan baik-baik saja. Apa yang akan terjadi dalam hubungan kita tergantung apa yang kita fikirkan.” Calvin masih menatapku, masih berusaha meyakinkanku tanpa henti. “Aku tak ingin berjanji akan menjaga hubungan kita agar tetap baik-baik saja, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga hubungan kita. Aku tak ingin berjanji, karena aku tahu kau tak percaya akan janji. Kau butuh tindakan langsung bukan?”

Aku mengangguk. Menggenggam tangannya penuh lembut, “Aku mau menjadi kekasihmu.” Kataku, akhirnya.

“Terimakasih.” Katanya saat itu. Malam itu, malam pertama aku menjalani hari-hari penuh dengan tatapan tak suka, menjalani hari-hari dihiasi dengan perkataan yang tak seharusnya aku dengar.

*****

Semenjak malam itu, aku lebih banyak belajar arti perjuangan sesungguhnya. Tak jarang, aku lelah dengan omongan yang aku dengar, ingin menyerah tapi Calvin selalu menguatkanku. Selalu begitu, kala aku mulai ingin menyerah, ia datang tepat waktu. Calvin meyakinkanku akan cinta.

“Cinta bisa mengubah semua, mungkin kini banyak tak suka akan hubungan kita, tapi percayalah, cinta akan mengubahnya. Biar mereka lihat sendiri, betapa kuat cinta kita dan biar mereka sadar sendiri, jika cinta kita tak salah.” Hanya itu yang pernah ia ucapkan kala aku sudah benar-benar ingin menyerah.

Calvin masih terus meyakinkanku bahwa semua akan berakhir indah, kata-katanya singkat yang selalu mampu membuatku ingin terus bersamanya. Calvin masih terus memintaku agar tetap disisinya ditengah omongan yang membuatku gusar semakin sering terdengar. Calvin masih disisiku, masih menguatkan hatiku yang sering goyah, semua yang dilakukannya masih terasa manis, membuat perasaanku semakin yakin.

Aku masih merasa seperti ratu dihati sampai saat aku tahu, bukan aku yang benar-benar dihatinya. Dua bulan sudah aku jalani hariku bersamanya, mencoba menemani ia yang disibukkan dengan tugas keorganisasiannya, terus mencoba menguatkan hati seperti yang ia pinta. Aku sedang belajar menutup telingaku dari gunjingan mereka yang tak tahu apa-apa, kala aku melihatmu sedang menghabiskan waktu bersamanya.

Sore itu, semua seakan jelas. Kau sangat pandai berbicara, membuatku yakin akan ucapan manis yang sesungguhnya tak ada, membuat aku percaya akan tatapan cinta yang sebenarnya semu. Semua yang sedang aku yakinkan kini menjadi runtuh, berhari-hari aku melawan hati yang goyah, mengingat kata-kata penguatmu, namun, di satu menit sore itu, semua hancur. Tak ada kata-kata penguat yang dapat aku percayai lagi, tak ada tatapan yang meyakinkan lagi. Semuanya semu.

“Vin...” Panggilku lirih.

Calvin menatapku dari tempatnya duduk, perempuan dihadapannya pun ikut menatapku, lalu menunduk dimenit selanjutnya.

“Kita bisa bicarakan ini semua, Ran.” Katanya, beranjak mendekatiku. “Kita bicara berdua disana ya,” Bujuknya seraya menunjuk tempat sepi diujung kafe.

“Kenapa berdua? Bukankah ini masalah kita bertiga?” Tatapku nanar.

“Nggak.” Ia menghembuskan napasnya secara gusar. “Dia tidak tahu apa-apa. Jangan salahkan dia.” Ia meraih lenganku, memintaku agar mengikutinya.

Aku menghempaskan lenganku, “Dia tidak tahu apa-apa? Apa aku gak salah dengar? Dia tahu, kamu pacarku, Vin.”

“Kirana, aku mohon, jangan disini.” Katanya sedikit berbisik, kala banyak pasang mata yang sudah menatap kami.

“Ikut aku, kita selesaikan baik-baik.” Katanya lagi.

Aku masih diam, hatiku sudah sangat kacau, aku tak ingin mendengar apapun penjelasannya, semuanya sudah cukup jelas. Memang egois kala aku lebih memilih mendengarkan kata hatiku tanpa tahu apa penjelasannya, tapi itu lebih baik dibandingkan aku harus tahu yang sebenarnya. Aku tak ingin semakin hancur dibuatnya.

“Kirana” Perempuan yang sedari tadi hanya menatap kami dari tempatnya duduk, kini mulai mendekat. “Maaf, aku yang salah. Seharusnya tidak ku turuti pintanya dan keinginan hatiku untuk bertemu dengannya.” Perempuan yang tak aku tahu namanya itu, mengelus bahuku dan setelahnya beranjak pergi meninggalkanku.

Calvin menahannya, “Kamu tidak salah, Sin. Juga bukan salahmu, Ran.” Katanya menatap perempuan disampingnya dan aku secara bergantian. “Aku yang egois disini, aku yang mengikutsertakan Kirana kala perasaanku untukmu belum pergi. Aku yang memintanya menggantikan posisimu, namun tidak memberikan sepenuh hatiku untuknya.” Jelas Calvin menatapku.

“Kami masih memiliki perasaan yang sama, tak berubah, Ran. Namun, kami sadar, kami tak bisa menyatu. Perbedaan kami yang memaksa kami untuk memikirkan kelanjutan hubungan kami, disaat kami sedang memutuskan untuk menjalani semuanya masing-masing, kamu hadir, awalnya aku sedang mencintaimu, namun, semakin aku berusaha melawan cintaku untuknya, aku semakin merindukannya, Ran.”

Aku mengangkat sebelah bibirku, “Lalu dengan seperti itu, apa kamu fikir semua yang kamu lakukan kepadaku menjadi benar?” Aku menatapnya, tak memberikan sedikit senyumanku untuknya, “Terimakasih sudah menjadikanku pemeran utama tanpa peran yang penting di cintamu.” Aku berlalu, tak menghiraukan panggilan Calvin. Aku rasa semua sudah cukup jelas. Aku bukan yang ada dihatinya.

*****

Aku fikir, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti apa itu cinta. Namun nyatanya aku masih terlalu dini untuk mengenalnya. Aku masih terlalu mudah untuk dibodohi oleh cinta, bukan, bukan oleh cinta, namun oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab yang mengatasnamakan cinta untuk keegoisannya. Aku masih tidak mengerti, mengapa cinta harus digunakan untuk menutupi keegoisan? Mengapa banyak orang yang menggunakan alasan cinta untuk memuaskan keegoisannya? Bukankah cinta lebih dari itu? Cinta yang ku tahu itu putih, bukan berwarna, cinta bukan alasan untuk sebuah keegoisan. Cinta itu suci. Ya, seharusnya seperti itu. Jika cinta ditempatkan ditempat yang seharusnya, mungkin tak ada yang menangis karna cinta. Jika semua orang mengerti akan cinta, mungkin tak ada yang mengatakan “Cinta itu menyakitkan”.

Belum genap seminggu aku memutuskan hubunganku dengan Calvin, tapi aku sudah sering melihatnya bersama perempuannya, mereka bahkan tak jarang memperlihatkan kemesraannya dihadapanku. Entah sengaja atau tidak, tapi mereka terkesan tak menganggapku, tak menganggap dua bulan kebersamaanku bersama Calvin, aku seperti hanya figuran yang tak berarti, meski sebenarnya saat itu dijadikan pemeran utama.

Kini, aku sudah tidak peduli dengannya. Aku tidak peduli dengan pemeran utama yang pernah disematkan kepadaku meski tanpa peran. Aku sudah bisa menatap semuanya lebih berwarna, aku tidak selemah yang mereka fikirkan. Mungkin, aku tak sekuat yang diharapkan sahabatku, namun aku juga tidak selemah yang mereka fikir. Aku lebih kuat dari itu, meski lebih lemah dari harapan sahabatku. Setidaknya, aku bisa membiarkan pemeran utama pria dan wanita itu memerankan perannya sebagaimana mestinya.


*** Selesai ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.