Kamis, 22 Januari 2015

Cinta dari Sahabatmu.

Perempuan itu berdiri diujung pintu perpustakaan kampusnya, niat awalnya untuk membaca seketika sirna saat pandangannya tak sengaja jatuh kepada dua insan yang saling bercengkerama mesra. Lelaki dan perempuan yang sedang jatuh cinta itu tak sadar sedang diperhatikan oleh perempuan lainnya dari jarak yang tak begitu jauh. Banyak yang sadar jika ada yang sedang jatuh cinta, namun tak ada yang sadar jika ada hati sedang terluka.

Creva masih saja berdiri diujung sana, tak berniat untuk segera bergegas. Kakinya terlalu kaku untuk diajak melangkah menjauhi tempat itu. Disana, Theo dan Clara—pacar barunya—masih saja asik bercengkerama, tak jelas topic apa yang membuat mereka senang berlama-lama mengobrol. Creva masih memperhatikan Theo yang sedari tadi melengkungkan bibirnya disela-sela ucapannya, hingga akhirnya Theo sadar jika ada Creva yang hanya berdiri didepan pintu, enggan untuk masuk ataupun pergi.

“Crev?” Panggilnya, membuat Clara menoleh kearahnya juga.

Creva hanya tersenyum tipis, lalu ia pergi. Ini cara terjitu untuk mengembalikan perasaannya yang sedang hancur, mengapa tak dari tadi ia pergi? Mengapa ia harus menyiksa hatinya terlalu lama? Entahlah, terkadang Creva terlalu menikmati kala hatinya sakit.

Sudah hampir 3 tahun ia bersahabat dengan Theo, melewati banyak momen bersama, melewati beberapa waktu saat hujan turun bersama, melakukan beberapa hal konyol bersama, dimana ada Creva disitulah ada Theo dan sebaliknya. Tak ada yang menyangka jika dua orang yang awalnya sangat enggan untuk berjumpa kini sangat dekat. Tiga tahun bersama Theo membuat hati yang terluka menjadi sembuh, menumbuhkan cinta yang pernah hilang. Tapi kini, sakit yang dulu sembuh menjadi sakit yang baru, saat melihat Theo bersama perempuannya.

Clara memang gadisnya. Perempuan yang akhirnya ia pilih untuk menemaninya kala sebenarnya ada perempuan yang lebih lama bersedia menemaninya. Theo tidak sadar jika ada perempuan yang siap menyembuhkan hatinya kala terluka, ia tidak pernah sadar jika ada perempuan yang menantinya, meski tak terucap. Theo memang tidak pernah sadar akan cinta untuknya dari Creva, tak pernah menganggapnya lebih, tak pernah menyadari ada hati yang selalu terluka kala ia bersama Clara.

***

Jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi hari, namun dering handphone milik Creva sudah berdering beberapa kali. Creva masih enggan untuk membuka matanya, meski hanya sekejap. Dering handphonenya berhenti sejenak, membuat Creva ingin melanjutkan mimpinya, namun beberapa detik setelahnya dering itu kembali terdengar. Creva mengambil handphonenya, tak melihat siapa si penelepon, yang ia tahu hanya ia ingin tidur lagi.

“Creva.” Terdengar suara yang memanggilnya dengan suara cemas.

“Hmmm.” Creva hanya meresponnya dengan sekadarnya, “Ada apa?”

“Kamu tahu Theo dimana?” Tanya si penelepon, dari suara yang Creva dengar, ia bisa memastikan ini adalah suara perempuan.

“Ya dirumahnya lah. Ini kan baru jam berapa!” Katanya sedikit kesal.

“Ini tante, Crev. Mamanya Theo.” Creva masih mendengarkannya dengan mata tertutup, “Theo tak pulang malam ini.” Katanya, lagi. Kali ini Mamanya Theo berhasil membuat mata Creva terbuka lebar-lebar.

“Theo gak pulang, tan? Creva juga gak tau dimana Theo. Nanti coba Creva cari ya.” Katanya cepat.

“Terimakasih ya, Crev. Maaf sudah mengganggu-mu.” Sesal Mama Theo.

“Oh, tidak apa-apa tan. Creva yang minta maaf, tadi sempat tidak sopan.”

Telepon terputus. Creva tidak mempedulikan lagi matanya yang ingin terpejam lebih lama, yang ia pedulikan kali ini hanyalah keberadaan Theo. Jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul 4.30, ia berpikir sejenak kemana Theo pergi, memikirkan beberapa tempat yang dijadikan Theo untuk menginap, hingga akhirnya, ia tahu kemana Theo. Sebuah tempat rahasia yang pernah ditunjukkan Theo kepadanya, sebuah tempat pelampiasan kemarahan Theo, sebuah tempat yang mampu menenangkan Theo. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menuju tempat yang diyakini sebagai tempat menginap Theo semalam, setelah ia mendapatkan izin dari Ibunya.

Setibanya disana, ada seorang lelaki yang sedang berbaring menatap langit.

“Apa tempat ini lebih hangat dibandingkan kamarmu kala malam dan pagi seperti ini?” Creva mulai mendekati Theo yang tak menghiraukan kehadirannya.

Theo tertawa, “Kau memang pandai menemukanku.” Ia masih menatap langit yang sudah masih gelap. “Setidaknya tempat ini lebih mampu menghilangkan segala perasaan tak enak yang mengganggu hatiku dibandingkan kamarku yang hangat.”

Creva memusatkan perhatiannya, ia menatap Theo yang masih menatap langit.

“Aku kembali salah menjatuhkan hati. Lagi, lagi dan lagi, aku salah dalam memilih.” Ia menarik napasnya, lalu menghembuskannya secara gusar. “Ternyata Clara masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya, bahkan cintanya belum enggan pergi, tak ada cinta untukku selama ini. Ia hanya kasihan kepadaku, katanya begitu.” Air mata Theo mengalir begitu saja dari mata indahnya. Creva masih memperhatikannya, ia sudah menangis terlebih dahulu sejak pertama kali melihat Theo kacau.

“Mengapa cinta seperti ini, Crev? Mengapa aku selalu tersakiti?” Theo sedikit terisak-isak. “Aku menahannya sedari malam, tapi kini semuanya menetes. Aku tak kuasa lagi menahannya, Crev.”

“Jangan ditahan, menangis saja jika itu bisa membuatmu lega.” Ucap Creva, menyembunyikan airmatanya yang menetes.

Theo meraih tubuhnya, menangis dalam pelukan Creva. Creva mengelus punggung Theo dengan airmata yang menetes. Theo masih menangis, dan Creva masih membiarkan airmatanya jatuh saat mendengan suara isak orang yang ia cintai.

“Aku ingin mengajakmu ke tempat yang indah, semoga disana luka-mu bisa pergi, meski tidak sepenuhnya, namun setidaknya tak begitu sesak didadamu lagi. Mau?” Creva melepaskan pelukan Theo.

Theo hanya mengangguk, ia tak selera untuk mengeluarkan kata apapun. Terkadang, dada yang sangat sesak membuatmu enggan untuk berkata banyak.

Mereka pergi kesebuah tempat tak jauh dari tempat rahasianya, hanya berjarak beberapa meter dari tempat sebelumnya. Tempat yang lebih tinggi dari tempat sebelumnya. Kini, ia bisa melihat sawah dengan warna hijau yang berada dibawah tempat ini, entah apa nama tempat ini, namun, menurut Creva tempat ini seperti jurang, namun tak menyeramkan. Diujung pandanganmu, kamu akan melihat gunung yang dipenuhi kabut.

“Bagaimana?” Creva menatap Theo yang sedang memperhatikan setiap sudut tempat mereka berada.

“Indah.” Katanya takjub.

“Ini belum seberapa, tunggu beberapa menit lagi ya.”

Mereka masih sibuk memperhatikan keadaan dibawah sana dengan suara ayam menambah kesan sejuk. Pandangan mereka teralihkan dengan sinar yang kian lama kian meninggi, sinar matahari yang meninggi kala langit masih dipenuhi kabut-kabut. Theo menatapnya takjub, ia tidak pernah tahu sebelumnya ada tempat seperti ini, sesekali menatap Creva yang masih menikmati matahari yang seakan tersenyum kepada mereka.

“Teriakan saja apa yang membuat hatimu sesak. Biarkan sesak itu dibawa pergi oleh matahari yang kian meninggi.” Creva menatap Theo.

Theo mengangguk, beberapa detik setelahnya ia berteriak sekuat tenaganya. Setelahnya, Creva ikut berteriak, ia ingin memberitahu kepada dunia jika ada rasa sesak yang datang kala ia melihat Theo menangis. Dan jadilah setelahnya mereka berteriak bersama, menghilangkan segala perasaan yang mengganggu hati masing-masing.

“Terimakasih, Crev.” Theo mengalihkan pandangannya ke wajahnya. “Kamu hebat. Kamu selalu ada saat aku sedang seperti ini, selalu mampu menghilang rasa yang menggangguku dengan keajaiban-keajaibanmu.” Theo tersenyum, ia meraih tubuh Creva, memeluk perempuan yang mencintainya dengan erat. “Kelak, kau akan dapat lelaki yang mencintaimu dengan sungguh dan menunjukkan keajaiban-keajaiban yang ia simpan hanya untukmu.”

“Semoga.” Hanya itu yang ia katakan.

Creva memang tidak tahu cara mengungkapkan rasa cintanya, tidak pernah berani menunjukkannya, namun Creva selalu punya cara untuk membuat Theo tersenyum kala ia sedang sakit, menghapus sedikit sakitnya, menghilangkan sedikit rasa sesak didadanya. Creva tidak tahu cara membuat Theo menyukainya, namun ia tahu cara membuatnya tersenyum, meski hanya sebagai seorang sahabatnya.

2 komentar:

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.