Perempuan itu berdiri diujung
pintu perpustakaan kampusnya, niat awalnya untuk membaca seketika sirna saat
pandangannya tak sengaja jatuh kepada dua insan yang saling bercengkerama
mesra. Lelaki dan perempuan yang sedang jatuh cinta itu tak sadar sedang
diperhatikan oleh perempuan lainnya dari jarak yang tak begitu jauh. Banyak
yang sadar jika ada yang sedang jatuh cinta, namun tak ada yang sadar jika ada
hati sedang terluka.
Creva masih saja berdiri diujung
sana, tak berniat untuk segera bergegas. Kakinya terlalu kaku untuk diajak
melangkah menjauhi tempat itu. Disana, Theo dan Clara—pacar barunya—masih saja
asik bercengkerama, tak jelas topic apa yang membuat mereka senang berlama-lama
mengobrol. Creva masih memperhatikan Theo yang sedari tadi melengkungkan bibirnya
disela-sela ucapannya, hingga akhirnya Theo sadar jika ada Creva yang hanya
berdiri didepan pintu, enggan untuk masuk ataupun pergi.
“Crev?” Panggilnya, membuat Clara
menoleh kearahnya juga.
Creva hanya tersenyum tipis, lalu
ia pergi. Ini cara terjitu untuk mengembalikan perasaannya yang sedang hancur,
mengapa tak dari tadi ia pergi? Mengapa ia harus menyiksa hatinya terlalu lama?
Entahlah, terkadang Creva terlalu menikmati kala hatinya sakit.
Sudah hampir 3 tahun ia
bersahabat dengan Theo, melewati banyak momen bersama, melewati beberapa waktu
saat hujan turun bersama, melakukan beberapa hal konyol bersama, dimana ada
Creva disitulah ada Theo dan sebaliknya. Tak ada yang menyangka jika dua orang
yang awalnya sangat enggan untuk berjumpa kini sangat dekat. Tiga tahun bersama
Theo membuat hati yang terluka menjadi sembuh, menumbuhkan cinta yang pernah
hilang. Tapi kini, sakit yang dulu sembuh menjadi sakit yang baru, saat melihat
Theo bersama perempuannya.
Clara memang gadisnya. Perempuan
yang akhirnya ia pilih untuk menemaninya kala sebenarnya ada perempuan yang
lebih lama bersedia menemaninya. Theo tidak sadar jika ada perempuan yang siap
menyembuhkan hatinya kala terluka, ia tidak pernah sadar jika ada perempuan yang
menantinya, meski tak terucap. Theo memang tidak pernah sadar akan cinta
untuknya dari Creva, tak pernah menganggapnya lebih, tak pernah menyadari ada
hati yang selalu terluka kala ia bersama Clara.
***
Jam masih menunjukkan pukul 04.00
pagi hari, namun dering handphone milik Creva sudah berdering beberapa kali.
Creva masih enggan untuk membuka matanya, meski hanya sekejap. Dering
handphonenya berhenti sejenak, membuat Creva ingin melanjutkan mimpinya, namun
beberapa detik setelahnya dering itu kembali terdengar. Creva mengambil
handphonenya, tak melihat siapa si penelepon, yang ia tahu hanya ia ingin tidur
lagi.
“Creva.” Terdengar suara yang
memanggilnya dengan suara cemas.
“Hmmm.” Creva hanya meresponnya
dengan sekadarnya, “Ada apa?”
“Kamu tahu Theo dimana?” Tanya si
penelepon, dari suara yang Creva dengar, ia bisa memastikan ini adalah suara
perempuan.
“Ya dirumahnya lah. Ini kan baru
jam berapa!” Katanya sedikit kesal.
“Ini tante, Crev. Mamanya Theo.”
Creva masih mendengarkannya dengan mata tertutup, “Theo tak pulang malam ini.”
Katanya, lagi. Kali ini Mamanya Theo berhasil membuat mata Creva terbuka
lebar-lebar.
“Theo gak pulang, tan? Creva juga
gak tau dimana Theo. Nanti coba Creva cari ya.” Katanya cepat.
“Terimakasih ya, Crev. Maaf sudah
mengganggu-mu.” Sesal Mama Theo.
“Oh, tidak apa-apa tan. Creva
yang minta maaf, tadi sempat tidak sopan.”
Telepon terputus. Creva tidak
mempedulikan lagi matanya yang ingin terpejam lebih lama, yang ia pedulikan
kali ini hanyalah keberadaan Theo. Jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul
4.30, ia berpikir sejenak kemana Theo pergi, memikirkan beberapa tempat yang
dijadikan Theo untuk menginap, hingga akhirnya, ia tahu kemana Theo. Sebuah
tempat rahasia yang pernah ditunjukkan Theo kepadanya, sebuah tempat
pelampiasan kemarahan Theo, sebuah tempat yang mampu menenangkan Theo. Tanpa
pikir panjang lagi, ia langsung menuju tempat yang diyakini sebagai tempat
menginap Theo semalam, setelah ia mendapatkan izin dari Ibunya.
Setibanya disana, ada seorang
lelaki yang sedang berbaring menatap langit.
“Apa tempat ini lebih hangat
dibandingkan kamarmu kala malam dan pagi seperti ini?” Creva mulai mendekati
Theo yang tak menghiraukan kehadirannya.
Theo tertawa, “Kau memang pandai
menemukanku.” Ia masih menatap langit yang sudah masih gelap. “Setidaknya
tempat ini lebih mampu menghilangkan segala perasaan tak enak yang mengganggu
hatiku dibandingkan kamarku yang hangat.”
Creva memusatkan perhatiannya, ia
menatap Theo yang masih menatap langit.
“Aku kembali salah menjatuhkan
hati. Lagi, lagi dan lagi, aku salah dalam memilih.” Ia menarik napasnya, lalu
menghembuskannya secara gusar. “Ternyata Clara masih menjalin hubungan dengan
mantan kekasihnya, bahkan cintanya belum enggan pergi, tak ada cinta untukku
selama ini. Ia hanya kasihan kepadaku, katanya begitu.” Air mata Theo mengalir
begitu saja dari mata indahnya. Creva masih memperhatikannya, ia sudah menangis
terlebih dahulu sejak pertama kali melihat Theo kacau.
“Mengapa cinta seperti ini, Crev?
Mengapa aku selalu tersakiti?” Theo sedikit terisak-isak. “Aku menahannya
sedari malam, tapi kini semuanya menetes. Aku tak kuasa lagi menahannya, Crev.”
“Jangan ditahan, menangis saja
jika itu bisa membuatmu lega.” Ucap Creva, menyembunyikan airmatanya yang
menetes.
Theo meraih tubuhnya, menangis
dalam pelukan Creva. Creva mengelus punggung Theo dengan airmata yang menetes.
Theo masih menangis, dan Creva masih membiarkan airmatanya jatuh saat mendengan
suara isak orang yang ia cintai.
“Aku ingin mengajakmu ke tempat
yang indah, semoga disana luka-mu bisa pergi, meski tidak sepenuhnya, namun
setidaknya tak begitu sesak didadamu lagi. Mau?” Creva melepaskan pelukan Theo.
Theo hanya mengangguk, ia tak
selera untuk mengeluarkan kata apapun. Terkadang, dada yang sangat sesak
membuatmu enggan untuk berkata banyak.
Mereka pergi kesebuah tempat tak
jauh dari tempat rahasianya, hanya berjarak beberapa meter dari tempat
sebelumnya. Tempat yang lebih tinggi dari tempat sebelumnya. Kini, ia bisa
melihat sawah dengan warna hijau yang berada dibawah tempat ini, entah apa nama
tempat ini, namun, menurut Creva tempat ini seperti jurang, namun tak
menyeramkan. Diujung pandanganmu, kamu akan melihat gunung yang dipenuhi kabut.
“Bagaimana?” Creva menatap Theo
yang sedang memperhatikan setiap sudut tempat mereka berada.
“Indah.” Katanya takjub.
“Ini belum seberapa, tunggu beberapa
menit lagi ya.”
Mereka masih sibuk memperhatikan
keadaan dibawah sana dengan suara ayam menambah kesan sejuk. Pandangan mereka
teralihkan dengan sinar yang kian lama kian meninggi, sinar matahari yang
meninggi kala langit masih dipenuhi kabut-kabut. Theo menatapnya takjub, ia
tidak pernah tahu sebelumnya ada tempat seperti ini, sesekali menatap Creva
yang masih menikmati matahari yang seakan tersenyum kepada mereka.
“Teriakan saja apa yang membuat
hatimu sesak. Biarkan sesak itu dibawa pergi oleh matahari yang kian meninggi.”
Creva menatap Theo.
Theo mengangguk, beberapa detik
setelahnya ia berteriak sekuat tenaganya. Setelahnya, Creva ikut berteriak, ia
ingin memberitahu kepada dunia jika ada rasa sesak yang datang kala ia melihat Theo menangis. Dan jadilah setelahnya mereka berteriak bersama, menghilangkan
segala perasaan yang mengganggu hati masing-masing.
“Terimakasih, Crev.” Theo
mengalihkan pandangannya ke wajahnya. “Kamu hebat. Kamu selalu ada saat aku
sedang seperti ini, selalu mampu menghilang rasa yang menggangguku dengan
keajaiban-keajaibanmu.” Theo tersenyum, ia meraih tubuh Creva, memeluk
perempuan yang mencintainya dengan erat. “Kelak, kau akan dapat lelaki yang mencintaimu
dengan sungguh dan menunjukkan keajaiban-keajaiban yang ia simpan hanya
untukmu.”
“Semoga.” Hanya itu yang ia
katakan.
Creva memang tidak tahu cara
mengungkapkan rasa cintanya, tidak pernah berani menunjukkannya, namun Creva
selalu punya cara untuk membuat Theo tersenyum kala ia sedang sakit, menghapus
sedikit sakitnya, menghilangkan sedikit rasa sesak didadanya. Creva tidak tahu
cara membuat Theo menyukainya, namun ia tahu cara membuatnya tersenyum, meski
hanya sebagai seorang sahabatnya.
Baru mampir udah suka sama tulisannya :)
BalasHapusTerimakasih sudah bersedia mampir:)
Hapus