Rabu, 04 Maret 2015

Gadis Penyimpan Rahasia

Aku telah mengenalnya sejak dulu, jauh sebelum kau mengenalnya ataupun lelaki sebelumnya mengenalnya, bahkan sebelum ia mulai bersahabat dengan yang lain, aku sudah mulai menawarkan diriku untuk bersahabat dengannya. Kami mulai bersahabat, kami mulai membantu dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Kami saling membutuhkan dan kami tahu itu.

Dia, perempuan –yang kini mulai—periang, namun masih menyimpan perasaannya sendiri. Dia, perempuan yang tak pernah membagi airmatanya dengan yang lain. Tak semua cerita yang ia punya, ia bagi, ia hanya membaginya kala ia fikir pantas untuk dibagi. Dan selebihnya ia simpan rapat-rapat, terlebih cerita yang menyangkut perasaannya. Aku tidak tahu bagaimana bisa, dia selalu menyimpan segala perasaan yang mengganjal hatinya. Aku tidak pernah tahu ia belajar darimana, menyimpan semua perasaannya untuk orang yang ia cinta. Tak mengutarakannya, bahkan memberitahu sekelilingnya pun tidak.

Kisah Yang Sama.

“Rendi?” Seorang perempuan dengan tubuh semampai berdiri didepanku. Ia melengkungkan dua sisi bibirnya yang dihiasi lipstick berwarna pink, membentuk sebuah senyuman yang tak pernah aku lupakan.

“Rasanya sudah lama kita tak bertemu, apa kabarmu?” Tanyanya setelah aku mempersilakannya untuk menempati bangku kosong didepanku.

“Baik, meski tidak sepenuhnya. Bagaimana dengan kamu?”

“Ketika banyak orang yang mulai berubah karena waktu, nyatanya disini masih ada seseorang yang tetap sama, tak dirubah oleh waktu.” Katanya, ia tertawa kecil. “Aku baik. Apa kegiatanmu saat ini?”

“Sekarang aku adalah seorang penulis.” Aku menatap matanya yang semakin indah.

“Oh ya?” Ia tersenyum puas mendengar pengakuanku. “Aku senang mendengarnya, kau sudah berhasil meraih semua keinginanmu.” Katanya, masih dengan senyum yang terus ia sajikan.