Rabu, 04 Maret 2015

Gadis Penyimpan Rahasia

Aku telah mengenalnya sejak dulu, jauh sebelum kau mengenalnya ataupun lelaki sebelumnya mengenalnya, bahkan sebelum ia mulai bersahabat dengan yang lain, aku sudah mulai menawarkan diriku untuk bersahabat dengannya. Kami mulai bersahabat, kami mulai membantu dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Kami saling membutuhkan dan kami tahu itu.

Dia, perempuan –yang kini mulai—periang, namun masih menyimpan perasaannya sendiri. Dia, perempuan yang tak pernah membagi airmatanya dengan yang lain. Tak semua cerita yang ia punya, ia bagi, ia hanya membaginya kala ia fikir pantas untuk dibagi. Dan selebihnya ia simpan rapat-rapat, terlebih cerita yang menyangkut perasaannya. Aku tidak tahu bagaimana bisa, dia selalu menyimpan segala perasaan yang mengganjal hatinya. Aku tidak pernah tahu ia belajar darimana, menyimpan semua perasaannya untuk orang yang ia cinta. Tak mengutarakannya, bahkan memberitahu sekelilingnya pun tidak.


Ia pernah bertanya, “Mengapa aku terlihat berbeda dengan yang lain? Apa memang aku berbeda? Apa  aku tak bisa seperti mereka? Mengapa mereka dapat dengan mudah mendapatkannya, sedangkan aku hanya mampu melihat.” Aku sempat tidak mengerti apa maksud pertanyaannya, namun, kini aku mengerti.

Aku tidak tahu seperti apa ia dilihat, aku tidak tahu mengapa seakan semua terlalu sulit untuknya, memulai, entah apa yang membuatnya tak pernah bisa memulai. Seseorang pernah datang kepada kami, orang itu berkata, “Memulai-lah, sampai kapan kau hanya menunggu tanpa pernah mau memulai? Menempatkan ia dihatimu, namun tak berusaha menempatkanmu dihatinya, itu konyol. Sampai kapanpun, kau takkan pernah tahu jika kau tak memulai.”

Setelah orang itu pergi, ia hanya berkata kepadaku, “Bukankah seorang wanita seharusnya hanya menunggu, lelaki yang seharusnya memulai, mengejar. Jika lelaki yang kau suka tak memulai ataupun tak mengejarmu, maka ia tidak menyukaimu juga, kan?”

Aku menatapnya, mencoba masuk kedalam dunia fikirnya yang terkadang tak aku mengerti, “Akankah harus selalu seperti ini, hanya menunggu tanpa pernah memberitahu bahwa kau sedang menunggu?” Ia mengangguk, lalu tersenyum setelahnya.

Aku masih mencoba bersahabat dengannya, hingga saat ini, meski ada beberapa hal yang tak aku suka darinya, ia senang sekali menangis kala malam, menikmati setiap detik malam ditemani tangisnya yang tak bersuara. Ia tak memberitahu siapapun kala ia menangis, tapi ia memberitahu sekelilingnya kala ia mampu tertawa, aku tidak tahu harus bangga atau sebal dengannya kala situasi seperti itu.

Ia pernah bercerita, kala ia harus merelakan seseorang yang sangat dekat dengannya untuk seorang sahabatnya. Bukan seseorang yang ia cinta memang, namun ternyata, ketika orang sudah pergi, ia baru tahu, orang itu memiliki perasaan lebih untuknya, bukan sekadar teman. Awalnya biasa saja, tidak, tidak sepenuhnya biasa. Ia mengalami masa sulit menentukan, harus ia akui, lelaki itu-lah yang selalu menemaninya dalam keadaan apapun, lelaki itu memprioritaskan temanku dalam skala prioritasnya. Dan ketika ia pergi tanpa alasan jelas—ia memang menyimpan alasannya untuk dirinya sendiri, beberapa tahun setelahnya, ia baru memberitahu alasannya kepada sekeliling—lelakinya mulai mencoba menghapus ia dalam hidupnya. Aku tidak tahu, ini sebuah kesalahan atau bukan, tapi bisakah kau lihat berapa pengorbanannya?

Kini, ia sudah beranjak dewasa, sudah banyak orang baru yang akhirnya ia sebut sebagai teman. Aku tidak mempermasalahkan itu, hanya saja aku terlalu takut ia bertemu dengan orang yang salah. Aku takut ia tersakiti, karena ia sangat mudah tersinggung dalam hal apapun, hatinya terlalu mudah untuk menjadi tak menentu. Jadi, aku mohon, jangan buat ia menjadi tak menentu.

Dia sering bercerita kepadaku tentang lelaki yang mulai mendekatinya, tetapi akhirnya ia hanya dibuat tak menentu, entah ia yang terlalu perasa atau memang mereka yang tak sungguh-sungguh. Ia pernah berkata kepadaku kala ada seseorang mulai menatapnya dengan berbeda, “Awalnya aku hanya merasa seperti ada yang mencuri pandang, hingga suatu saat mata kami bertemu. Aku merasa ia melihatku tak sama seperti yang lain. Aku tak tahu tatapan macam apa yang ia miliki, namun yang aku tahu, aku sudah terlanjur menjatuhkan hatiku untuknya, berawal dari tatapan semunya.”

Akhirnya, dua tahun hanya terisi dengan cinta yang tak terucapkan, ia dan lelakinya hanya saling memandang tanpa mengungkapkan atau memulai. Alasannya? Seperti yang sudah ia katakan. Ia perempuan dan seharusnya ia menunggu, bukan memulai. Aku tidak tahu apa maksud dari tatapan lelaki itu, hingga sekarang, saat mereka berjumpa, tatapan itu masih ada, masih ada rasa sungkan untuk menyapa diantara mereka, aku rasa itu.

Akhir-akhir ini, ia seperti mengalami hal yang sama, seseorang menatapnya dengan cara berbeda, seseorang seakan mencuri pandang kearahnya, namun tak ada sapaan yang berarti. Ia menatap seakan penuh arti, namun tak ada aksi. Ia bertanya kepadaku, “Haruskah aku mengulangnya lagi? Terjebak dalam tatapan semu, dan akhirnya tak ada yang menemaniku didalamnya?”. Aku tak menjawabnya, hanya menatap ia yang masih tertunduk.

“Jangan datang jika hanya untuk bersinggah sementara. Jangan menatapnya seakan kau punya rasa, jika kau tak mampu memulai. Jangan mengajaknya terbang, jika kau akan meninggalkannya sendiri. Dia hanya perempuan yang menyembunyikan semuanya dibalik senyumannya. Jangan dia, jika kau hanya ingin mengajaknya bermain, ia bukan pemain yang baik, bukan pengatur hati yang handal. Jangan mengajaknya bermain, jika akhirnya kau meninggalkannya begitu saja.”

Aku menatap sahabatku yang sedang tertunduk, hatinya kini sedang bergejolak, seperti biasa, ada sesuatu yang tak pernah mampu ia katakan kepada yang lain. “Jangan menganggap mereka akan tetap ada, jika kau tahu mereka akan pergi akhirnya. Jangan menyimpan apa yang membuat hatimu menjadi sakit. Aku ada untuk mendengar kala kau ingin bercerita, mencurahkan segala perasaan yang berkecambuk dalam hatimu.” Aku menghela nafas, menatapnya yang mulai meneteskan airmatanya. “Jika kau menganggap dirimu salah karena sudah meninggalkannya, kau memang salah, tapi juga benar. Jika akhirnya kau sadar tak ada yang memperlakukanmu seperti dia melakukanmu, percayalah, suatu saat nanti kau akan bertemu dengan seseorang yang bersikap manis kepadamu, seseorang yang akan memintamu untuk mendampinginya. Percayalah, Tuhanmu sudah menyiapkannya untukmu.”

Ia memelukku dengan tangis yang semakin menjadi. Kami sudah saling kenal, namun ini kali pertama aku melihatnya menangis. Ini kali pertama, aku tahu apa yang sebenarnya ia pendam. Semua yang ku dengar selama ini, ternyata masih belum benar-benar mewakili perasaannya.

Teruntuk sahabatku, gadis dengan senyum (palsu),

Aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepadamu, memintamu untuk tak mengikutkan hatimu pun rasanya percuma. Aku mengenalmu, sangat mengenalmmu. Aku tahu seberapa banyak kata yang kau katakan, seberapa banyak cerita yang kau ceritakan, itu semua masih belum seberapa dari semua yang kau simpan sendiri, terlalu banyak yang kau simpan sendiri. Tidurlah cepat agar semua rasa yang tersimpan tak membuatmu kacau seiring malam yang semakin larut, aku tahu, mereka senang datang untuk mengganggu perasaanmu kala malam. Kau gadis baik, teman terbaikku, jika semua orang mulai berubah, jika semua mulai sibuk dengan kehidupan mereka, disini masih ada aku yang selalu menanti kabarmu.

Bolehkah aku sedikit menyarankan agar kau sedikit lebih berani? Lingkungan memang membuatmu lebih berani kini, tapi tidak untuk soal perasaan. Kau masih terlalu nyaman menyimpan semuanya sendiri, entah apa rasanya menganggumi sendiri, tapi rasanya kau sudah terlalu terbiasa dan menikmati hal itu. Tidak ada salahnya jika kau sedikit mulai mulai menyapanya, jika selebihnya dia masih tak memulai untuk menyapamu, setidaknya kau tahu, dia memang tak menginginkan dirimu. Tak usah sedih, kau temanku yang baik, Tuhan tak menciptakanmu untuk tinggal sendiri di bumi-Nya, jadi, lambat laun kau akan bertemu dengan dia, yang memang sudah ditetapkan untukmu.

Jakarta, 4 Maret 2015

Salam Sayangku,






Fanny Saufina.

4 komentar:

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.