Aku telah mengenalnya sejak dulu,
jauh sebelum kau mengenalnya ataupun lelaki sebelumnya mengenalnya, bahkan
sebelum ia mulai bersahabat dengan yang lain, aku sudah mulai menawarkan diriku
untuk bersahabat dengannya. Kami mulai bersahabat, kami mulai membantu dan
saling menguatkan satu dengan yang lain. Kami saling membutuhkan dan kami tahu
itu.
Dia, perempuan –yang kini
mulai—periang, namun masih menyimpan perasaannya sendiri. Dia, perempuan yang
tak pernah membagi airmatanya dengan yang lain. Tak semua cerita yang ia punya,
ia bagi, ia hanya membaginya kala ia fikir pantas untuk dibagi. Dan selebihnya
ia simpan rapat-rapat, terlebih cerita yang menyangkut perasaannya. Aku tidak
tahu bagaimana bisa, dia selalu menyimpan segala perasaan yang mengganjal
hatinya. Aku tidak pernah tahu ia belajar darimana, menyimpan semua perasaannya
untuk orang yang ia cinta. Tak mengutarakannya, bahkan memberitahu
sekelilingnya pun tidak.
Ia pernah bertanya, “Mengapa aku terlihat berbeda dengan yang
lain? Apa memang aku berbeda? Apa aku
tak bisa seperti mereka? Mengapa mereka dapat dengan mudah mendapatkannya,
sedangkan aku hanya mampu melihat.” Aku sempat tidak mengerti apa maksud
pertanyaannya, namun, kini aku mengerti.
Aku tidak tahu seperti apa ia
dilihat, aku tidak tahu mengapa seakan semua terlalu sulit untuknya, memulai,
entah apa yang membuatnya tak pernah bisa memulai. Seseorang pernah datang
kepada kami, orang itu berkata, “Memulai-lah,
sampai kapan kau hanya menunggu tanpa pernah mau memulai? Menempatkan ia dihatimu,
namun tak berusaha menempatkanmu dihatinya, itu konyol. Sampai kapanpun, kau
takkan pernah tahu jika kau tak memulai.”
Setelah orang itu pergi, ia hanya
berkata kepadaku, “Bukankah seorang
wanita seharusnya hanya menunggu, lelaki yang seharusnya memulai, mengejar.
Jika lelaki yang kau suka tak memulai ataupun tak mengejarmu, maka ia tidak
menyukaimu juga, kan?”
Aku menatapnya, mencoba masuk
kedalam dunia fikirnya yang terkadang tak aku mengerti, “Akankah harus selalu seperti ini, hanya menunggu tanpa pernah
memberitahu bahwa kau sedang menunggu?” Ia mengangguk, lalu tersenyum
setelahnya.
Aku masih mencoba bersahabat
dengannya, hingga saat ini, meski ada beberapa hal yang tak aku suka darinya,
ia senang sekali menangis kala malam, menikmati setiap detik malam ditemani
tangisnya yang tak bersuara. Ia tak memberitahu siapapun kala ia menangis, tapi
ia memberitahu sekelilingnya kala ia mampu tertawa, aku tidak tahu harus bangga
atau sebal dengannya kala situasi seperti itu.
Ia pernah bercerita, kala ia
harus merelakan seseorang yang sangat dekat dengannya untuk seorang sahabatnya.
Bukan seseorang yang ia cinta memang, namun ternyata, ketika orang sudah pergi,
ia baru tahu, orang itu memiliki perasaan lebih untuknya, bukan sekadar teman. Awalnya
biasa saja, tidak, tidak sepenuhnya biasa. Ia mengalami masa sulit menentukan,
harus ia akui, lelaki itu-lah yang selalu menemaninya dalam keadaan apapun,
lelaki itu memprioritaskan temanku dalam skala prioritasnya. Dan ketika ia
pergi tanpa alasan jelas—ia memang menyimpan alasannya untuk dirinya sendiri,
beberapa tahun setelahnya, ia baru memberitahu alasannya kepada
sekeliling—lelakinya mulai mencoba menghapus ia dalam hidupnya. Aku tidak tahu,
ini sebuah kesalahan atau bukan, tapi bisakah kau lihat berapa pengorbanannya?
Kini, ia sudah beranjak dewasa,
sudah banyak orang baru yang akhirnya ia sebut sebagai teman. Aku tidak
mempermasalahkan itu, hanya saja aku terlalu takut ia bertemu dengan orang yang
salah. Aku takut ia tersakiti, karena ia sangat mudah tersinggung dalam hal
apapun, hatinya terlalu mudah untuk menjadi tak menentu. Jadi, aku mohon,
jangan buat ia menjadi tak menentu.
Dia sering bercerita kepadaku
tentang lelaki yang mulai mendekatinya, tetapi akhirnya ia hanya dibuat tak
menentu, entah ia yang terlalu perasa atau memang mereka yang tak
sungguh-sungguh. Ia pernah berkata kepadaku kala ada seseorang mulai menatapnya
dengan berbeda, “Awalnya aku hanya merasa
seperti ada yang mencuri pandang, hingga suatu saat mata kami bertemu. Aku
merasa ia melihatku tak sama seperti yang lain. Aku tak tahu tatapan macam apa
yang ia miliki, namun yang aku tahu, aku sudah terlanjur menjatuhkan hatiku
untuknya, berawal dari tatapan semunya.”
Akhirnya, dua tahun hanya terisi
dengan cinta yang tak terucapkan, ia dan lelakinya hanya saling memandang tanpa
mengungkapkan atau memulai. Alasannya? Seperti yang sudah ia katakan. Ia
perempuan dan seharusnya ia menunggu, bukan memulai. Aku tidak tahu apa maksud
dari tatapan lelaki itu, hingga sekarang, saat mereka berjumpa, tatapan itu
masih ada, masih ada rasa sungkan untuk menyapa diantara mereka, aku rasa itu.
Akhir-akhir ini, ia seperti
mengalami hal yang sama, seseorang menatapnya dengan cara berbeda, seseorang
seakan mencuri pandang kearahnya, namun tak ada sapaan yang berarti. Ia menatap
seakan penuh arti, namun tak ada aksi. Ia bertanya kepadaku, “Haruskah aku mengulangnya lagi? Terjebak
dalam tatapan semu, dan akhirnya tak ada yang menemaniku didalamnya?”. Aku
tak menjawabnya, hanya menatap ia yang masih tertunduk.
“Jangan datang jika hanya untuk bersinggah sementara. Jangan menatapnya
seakan kau punya rasa, jika kau tak mampu memulai. Jangan mengajaknya terbang,
jika kau akan meninggalkannya sendiri. Dia hanya perempuan yang menyembunyikan
semuanya dibalik senyumannya. Jangan dia, jika kau hanya ingin mengajaknya
bermain, ia bukan pemain yang baik, bukan pengatur hati yang handal. Jangan
mengajaknya bermain, jika akhirnya kau meninggalkannya begitu saja.”
Aku menatap sahabatku yang sedang
tertunduk, hatinya kini sedang bergejolak, seperti biasa, ada sesuatu yang tak
pernah mampu ia katakan kepada yang lain. “Jangan
menganggap mereka akan tetap ada, jika kau tahu mereka akan pergi akhirnya.
Jangan menyimpan apa yang membuat hatimu menjadi sakit. Aku ada untuk mendengar
kala kau ingin bercerita, mencurahkan segala perasaan yang berkecambuk dalam
hatimu.” Aku menghela nafas, menatapnya yang mulai meneteskan airmatanya. “Jika kau menganggap dirimu salah karena
sudah meninggalkannya, kau memang salah, tapi juga benar. Jika akhirnya kau
sadar tak ada yang memperlakukanmu seperti dia melakukanmu, percayalah, suatu
saat nanti kau akan bertemu dengan seseorang yang bersikap manis kepadamu,
seseorang yang akan memintamu untuk mendampinginya. Percayalah, Tuhanmu sudah
menyiapkannya untukmu.”
Ia memelukku dengan tangis yang
semakin menjadi. Kami sudah saling kenal, namun ini kali pertama aku melihatnya
menangis. Ini kali pertama, aku tahu apa yang sebenarnya ia pendam. Semua yang
ku dengar selama ini, ternyata masih belum benar-benar mewakili perasaannya.
Teruntuk sahabatku, gadis dengan senyum (palsu),
Aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepadamu, memintamu untuk
tak mengikutkan hatimu pun rasanya percuma. Aku mengenalmu, sangat mengenalmmu.
Aku tahu seberapa banyak kata yang kau katakan, seberapa banyak cerita yang kau
ceritakan, itu semua masih belum seberapa dari semua yang kau simpan sendiri,
terlalu banyak yang kau simpan sendiri. Tidurlah cepat agar semua rasa yang
tersimpan tak membuatmu kacau seiring malam yang semakin larut, aku tahu, mereka
senang datang untuk mengganggu perasaanmu kala malam. Kau gadis baik, teman terbaikku,
jika semua orang mulai berubah, jika semua mulai sibuk dengan kehidupan mereka,
disini masih ada aku yang selalu menanti kabarmu.
Bolehkah aku sedikit menyarankan agar kau sedikit lebih berani? Lingkungan
memang membuatmu lebih berani kini, tapi tidak untuk soal perasaan. Kau masih
terlalu nyaman menyimpan semuanya sendiri, entah apa rasanya menganggumi sendiri,
tapi rasanya kau sudah terlalu terbiasa dan menikmati hal itu. Tidak ada salahnya jika kau sedikit mulai mulai menyapanya, jika selebihnya dia masih tak memulai
untuk menyapamu, setidaknya kau tahu, dia memang tak menginginkan dirimu. Tak usah
sedih, kau temanku yang baik, Tuhan tak menciptakanmu untuk tinggal sendiri di
bumi-Nya, jadi, lambat laun kau akan bertemu dengan dia, yang memang sudah
ditetapkan untukmu.
Jakarta, 4 Maret 2015
Salam Sayangku,
Fanny Saufina.
Baru mampir udah suka sama tulisannya :)
BalasHapuswww.fikrimaulanaa.com
Terimakasih sudah mampir:))
HapusSuka banget sama tulisannya :)
BalasHapusTerima kasih sudah bersedia membaca:))
Hapus