Rabu, 04 Maret 2015

Kisah Yang Sama.

“Rendi?” Seorang perempuan dengan tubuh semampai berdiri didepanku. Ia melengkungkan dua sisi bibirnya yang dihiasi lipstick berwarna pink, membentuk sebuah senyuman yang tak pernah aku lupakan.

“Rasanya sudah lama kita tak bertemu, apa kabarmu?” Tanyanya setelah aku mempersilakannya untuk menempati bangku kosong didepanku.

“Baik, meski tidak sepenuhnya. Bagaimana dengan kamu?”

“Ketika banyak orang yang mulai berubah karena waktu, nyatanya disini masih ada seseorang yang tetap sama, tak dirubah oleh waktu.” Katanya, ia tertawa kecil. “Aku baik. Apa kegiatanmu saat ini?”

“Sekarang aku adalah seorang penulis.” Aku menatap matanya yang semakin indah.

“Oh ya?” Ia tersenyum puas mendengar pengakuanku. “Aku senang mendengarnya, kau sudah berhasil meraih semua keinginanmu.” Katanya, masih dengan senyum yang terus ia sajikan.


“Belum semua keinginanku bisa aku raih, masih ada satu keinginan yang masih menjadi sekedar keinginan. Dan kau tahu itu!” Kataku.

Tatapannya berubah menjadi datar, senyumnya seketika hilang. Tak ada tawa kecilnya yang berusaha mencairkan suasana, kini ia hanya diam dan menatapku yang sedari tadi hanya menatapnya. Raut wajahnya menjadi tak enak, sama seperti terakhir kali kami bertemu, tiga tahun yang lalu, kala ia memutuskan untuk pergi meninggalkanku, meninggalkan kisah yang baru akan kuperjuangkan. Tiga tahun yang lalu, aku harus rela melepaskannya, merelakan senyuman yang selalu aku nanti kala kami berjumpa. Ia pergi, membawa hatiku yang kutitipkan kepadanya dan kini ia datang dengan hati yang kutitipkan. Tak berubah dan tak berkurang.

Clevo. Perempuan yang aku kenal sejak tujuh tahun yang lalu, kala kami masih sama-sama menempuh masa-masa SMA. Pertemuan yang tak disengaja menjadikan sebuah kebiasaan bersama untuk kami, menjalani setiap harinya dengan segala kekonyolan anak SMA. Kebersamaan memang akan menciptakan suatu hal baru, rasa yang tak pernah ada sebelumnya dan kini hadir menemani kami menjalani hari-hari bersama, cinta. Ya, dua tahun bersamanya, membuatku mencintainya, lebih dari sekedar seorang teman ataupun sahabat.

“Aku akan cukup lama disini.” Clevo memulai perbincangan lagi, memecahkan keheningan yang ada. “Mungkin suatu hari nanti aku butuh kau untuk menemaniku berkeliling kota yang sudah banyak berubah ini.” Ucapnya lagi.

“Aku tak pernah merubah nomor handphone-ku, jadi jika kau butuh aku, kau bisa menghubungi nomor itu.” Aku merapihkan berkas-berkas naskah yang harus segera aku selesaikan. “Aku harus pergi, seseorang sudah menungguku.”

“Pacarmu?”

“Bukan, seorang editor yang sedang menungguku.” Aku berlalu meninggalkannya yang masih terduduk dengan anggunnya.

****

Sudah seminggu aku selalu memperhatikan handphone-ku sejak pertemuanku dengan Clevo di café. Sudah seminggu aku berharap ada telepon yang berasal darinya, berharap ada seseorang yang mengajakku bertemu untuk menemaninya berkeliling. Seminggu ini, aku seperti bukan aku, aku tak begitu selera berlama-lama didepan laptopku, tak ada kata-kata yang terangkai begitu saja, tak ada jari-jari yang dapat dengan mudah mengetik apapun kata yang ada difikiranku. Yang ada kini, hanya sepasang mata yang selalu was-was memperhatikan handphoneku, tangan yang sigap meraihnya kala ia mulai menyala tiba-tiba, meski akhirnya aku harus menelan kekecewaan.

Tiga tahun tak bertemu dengannya, tak membuatku menghentikan harapan ini. Harapan tentang kehidupan dimasa depan, harapan tentang kisah yang pernah tak selesai, harapan tentang aku dan dia. Cinta yang dulu pernah terluka karena kepergian, kini kembali. Tak berubah, meski ia bukan seperti yang dahulu. Aku masih mencintainya, meski ia pernah memilih untuk membunuh cintaku untuknya dan cintanya untukku. Aku masih mengharapkannya, meski aku tahu ia tak menginginkan itu.

Handphone yang ku letakkan disamping laptopku tiba-tiba menyala, menandakan sebuah pesan masuk. Aku meraihnya tanpa tergebu-gebu seperti kemarin-kemarin, hari ini, aku sudah tidak terlalu berharap pesan ataupun telepon dari Clevo.

From: 087789980201
Apa kau sibuk minggu ini? Aku ingin memintamu untuk menemaniku berkunjung ke tempat-tempat indah, yang jauh dari keramaian kota ini. Bisa?

Tanpa aku sadari, sebuah senyuman yang sudah lama tak hadir kini hadir kembali. Tak perlu menunggu lama, aku segera membalas pesannya.

To: 087789980201
Aku bisa. Aku akan menjemputmu tepat pukul 08.00 dirumahmu.

****

“Lusa aku balik ke Singapura, Ndi.” Ungkapnya, saat kami hanya saling diam menikmati suasana café favorit kami.

Aku menatapnya seperti saat ia memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Aku tidak mengerti dengannya, mengapa ia senang memberitahu aku kalau ia akan meninggalkanku di café ini? Ia tahu, ini café favoritku, bahkan aku sudah memberitahunya, aku hampir selalu menulis disini. Dan kini, ia membuatku enggan untuk berlama-lama berada di cafe ini.

“Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disini, meski kota ini sudah banyak berubah, tapi aku tetap lebih senang berada disini. Terlebih bersamamu,” Ia menghela nafasnya, “Kau bukan seperti lelaki kebanyakan, kau tetap lelaki yang baik, kau tetap Rendi seperti pertama kali aku mengenalmu.”

Mata kami bertemu, matanya yang indah masih mampu mengajakku untuk merobohkan sebuah benteng diantara kami. Bertemu dengan matanya, menghadirkan sebuah bisikan tentang kekuatan untuk memulai kisah bersamanya lagi, kisah yang pernah terhenti tanpa diakhiri. Cinta yang lama terpendam, kini hadir lebih berani. Ia memaksaku untuk mengutarakannya, ia sudah terlalu bosan hanya berada dihatiku.

“Aku masih Rendi yang sama, Vo. Masih seorang Rendi yang cintanya hanya untuk kamu. Masih seorang pengkhayal yang selalu berharap bisa hidup denganmu.”

Clevo menundukkan pandangannya, ia tak menjawab apapun pernyataanku. Airmatanya menetes dari matanya yang indah, perlahan-lahan membasahi pipinya yang ia dihiasi blash on berwarna pink.

“Kita sudah bukan remaja lagi, kan, Vo? Kita bisa sama-sama berjuang untuk ini.”

“Kita berbeda, Ndi.” Lirihnya, dengan isak tangis yang semakin menjadi.

“Cinta menyatukan sepasang manusia yang berbeda untuk menjadikannya pelengkap. Bukan menyatukan sepasang manusia yang sama, Vo.” Kataku, kini, aku lebih berani mengutarakan yang selama ini menjadi pendapatku. “Bukannya dulu kamu pernah bilang, Tuhan itu satu hanya saja cara beribadah kita yang beda?” Tanyaku mengingat ucapan Clevo saat kami baru memulai hubungan.

“Tapi, perbedaan kita sangat kuat, Ndi. Seharusnya kamu sadar, kita terlalu berbeda dan orangtua kita pun tidak mengizinkan untuk salah satu dari kita menyamakan perbedaan yang ada.”

“Kau masih mencintaiku?” Aku memberanikan diri untuk menanyakan hal yang selama ini aku pertanyakan sendiri.

“Apa jika aku masih mencintaimu, kita bisa bersama? Tak mengindahkan perbedaan ini?” Ia menatapku dan aku bisa melihat berapa banyak luka yang ia simpan akibat cinta ini, semakin lama ia menatapku, semakin banyak tetesan airmata yang mengalir begitu saja. “Aku jatuh hati kepadamu seperti pertama kali kita bertemu dan aku semakin jatuh hati kepadamu, ketika aku melihatmu saat ini. Tapi cinta tidak selalu indah dan untukku memang tak indah, karena saat hatiku jatuh kepadamu, aku tak bisa menggapaimu. Jarak terlalu jauh, seberapa banyak langkah yang kau langkahkan untuk menggapaiku, semua akan percuma, begitu pula aku.”

Kini, aku yang dibuatnya diam, airmatanya yang menetes seakan meminta untuk ditemani oleh airmataku. Aku tidak sadar sejak kapan, pipiku mulai basah oleh airmata. Fikiranku menerawang bebas, melihat benteng yang begitu besar yang membatasi kami, melihat kedua orangtuaku dan orang tuanya yang selalu mewanti-wanti kami. Dihadapanku ada seorang wanita cantik yang menungguku, namun jarak kami sangat jauh dan diantara jarak yang jauh, ada sebuah tembok yang harus aku robohkan. Semakin dekat dengan tembok itu, semakin sering aku mendengar suara bentakan bapak dan tangisan ibu kala aku mengaku sedang menjalin hubungan dengan wanita yang berbeda iman denganku.

“Aku tidak cukup kuat untuk melawan orangtuaku, begitu pula kau. Kau selalu mematuhi orangtuamu, bukan? Aku tahu kau anak yang baik, tak akan melanggar apa yang tak dibolehi oleh orangtuamu, terlebih oleh Tuhanmu juga.” Katanya, saat ini ia lebih tenang, airmatanya masih menetes namun tak sampai terisak-isak seperti tadi.

“Aku harus kembali kerumah untuk berkemas. Mungkin, aku tak akan datang lagi dalam waktu yang dekat, tapi aku janji, aku akan datang saat acara pernikahanmu dan kau pun harus datang saat upacara pernikahanku.” Ucapnya sembari menyeka airmata yang masih menetes.

“Aku tidak tahu akan jatuh cinta kepada siapa, bahkan aku tidak tahu bisa atau tidak untuk jatuh cinta lagi.”

Ia tersenyum, “Kau lelaki baik, banyak perempuan yang menginginkanmu dan pilihlah salah satu yang terbaik diantara mereka.” Ia memeriksa isi tas jinjingnya, “Aku senang bertemu denganmu, menghilangkan rindu yang ada.” Ucapnya dan segera berlalu meninggalkanku.

Dan sepeninggal Clevo, tinggallah aku sendiri, menenangkan hati yang sedang berkecambuk, menghentikan airmata yang sedari tadi menetes. merapikan kepingan harapan yang telah hancur. Kini, tak ada lagi kisah yang harus aku sambung. Clevo telah menjelaskan semuanya, kami memang berbeda dan tak ada yang mau menyamakannya. Clevo telah menjelaskan semuanya, kalau harapanku akan selalu menjadi harapan, tak akan nyata. Clevo telah menjelaskan semuanya, kalau kisah kami tidak akan mencapai tujuan yang sama, hanya terhenti diseperempat jalan. Dan Clevo sudah meninggalkanku lagi, masih dengan hatiku yang aku titipkan, mungkin suatu saat nanti, aku akan mengambilnya kembali, saat aku sudah merelakannya.

Tiga tahun menunggu, tak menjadikan cinta kami indah. Kami tetap berada diantara perbedaan yang sama. Tiga tahun ternyata tak mengubahnya, kami tetap tak bisa bersama, cinta yang ada tak akan sampai pada tujuan yang diinginkan. Tiga tahun tak membuat jarak diantara kami menjadi dekat, kami masih terlalu jauh. Bahkan sangat jauh. Dan hari ini, aku harus menyadari, Clevo bukanlah untukku, cinta diantara kami bukanlah cinta yang bisa disatukan.

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.