“Rendi?” Seorang perempuan dengan
tubuh semampai berdiri didepanku. Ia melengkungkan dua sisi bibirnya yang
dihiasi lipstick berwarna pink,
membentuk sebuah senyuman yang tak pernah aku lupakan.
“Rasanya sudah lama kita tak
bertemu, apa kabarmu?” Tanyanya setelah aku mempersilakannya untuk menempati
bangku kosong didepanku.
“Baik, meski tidak sepenuhnya.
Bagaimana dengan kamu?”
“Ketika banyak orang yang mulai
berubah karena waktu, nyatanya disini masih ada seseorang yang tetap sama, tak
dirubah oleh waktu.” Katanya, ia tertawa kecil. “Aku baik. Apa kegiatanmu saat
ini?”
“Sekarang aku adalah seorang
penulis.” Aku menatap matanya yang semakin indah.
“Oh ya?” Ia tersenyum puas
mendengar pengakuanku. “Aku senang mendengarnya, kau sudah berhasil meraih
semua keinginanmu.” Katanya, masih dengan senyum yang terus ia sajikan.
“Belum semua keinginanku bisa aku
raih, masih ada satu keinginan yang masih menjadi sekedar keinginan. Dan kau
tahu itu!” Kataku.
Tatapannya berubah menjadi datar,
senyumnya seketika hilang. Tak ada tawa kecilnya yang berusaha mencairkan
suasana, kini ia hanya diam dan menatapku yang sedari tadi hanya menatapnya.
Raut wajahnya menjadi tak enak, sama seperti terakhir kali kami bertemu, tiga
tahun yang lalu, kala ia memutuskan untuk pergi meninggalkanku, meninggalkan
kisah yang baru akan kuperjuangkan. Tiga tahun yang lalu, aku harus rela
melepaskannya, merelakan senyuman yang selalu aku nanti kala kami berjumpa. Ia
pergi, membawa hatiku yang kutitipkan kepadanya dan kini ia datang dengan hati
yang kutitipkan. Tak berubah dan tak berkurang.
Clevo. Perempuan yang aku kenal
sejak tujuh tahun yang lalu, kala kami masih sama-sama menempuh masa-masa SMA.
Pertemuan yang tak disengaja menjadikan sebuah kebiasaan bersama untuk kami,
menjalani setiap harinya dengan segala kekonyolan anak SMA. Kebersamaan memang
akan menciptakan suatu hal baru, rasa yang tak pernah ada sebelumnya dan kini
hadir menemani kami menjalani hari-hari bersama, cinta. Ya, dua tahun
bersamanya, membuatku mencintainya, lebih dari sekedar seorang teman ataupun
sahabat.
“Aku akan cukup lama disini.”
Clevo memulai perbincangan lagi, memecahkan keheningan yang ada. “Mungkin suatu
hari nanti aku butuh kau untuk menemaniku berkeliling kota yang sudah banyak
berubah ini.” Ucapnya lagi.
“Aku tak pernah merubah nomor
handphone-ku, jadi jika kau butuh aku, kau bisa menghubungi nomor itu.” Aku
merapihkan berkas-berkas naskah yang harus segera aku selesaikan. “Aku harus
pergi, seseorang sudah menungguku.”
“Pacarmu?”
“Bukan, seorang editor yang
sedang menungguku.” Aku berlalu meninggalkannya yang masih terduduk dengan
anggunnya.
****
Sudah seminggu aku selalu
memperhatikan handphone-ku sejak pertemuanku dengan Clevo di café. Sudah
seminggu aku berharap ada telepon yang berasal darinya, berharap ada seseorang
yang mengajakku bertemu untuk menemaninya berkeliling. Seminggu ini, aku
seperti bukan aku, aku tak begitu selera berlama-lama didepan laptopku, tak ada
kata-kata yang terangkai begitu saja, tak ada jari-jari yang dapat dengan mudah
mengetik apapun kata yang ada difikiranku. Yang ada kini, hanya sepasang mata
yang selalu was-was memperhatikan handphoneku, tangan yang sigap meraihnya kala
ia mulai menyala tiba-tiba, meski akhirnya aku harus menelan kekecewaan.
Tiga tahun tak bertemu dengannya,
tak membuatku menghentikan harapan ini. Harapan tentang kehidupan dimasa depan,
harapan tentang kisah yang pernah tak selesai, harapan tentang aku dan dia.
Cinta yang dulu pernah terluka karena kepergian, kini kembali. Tak berubah,
meski ia bukan seperti yang dahulu. Aku masih mencintainya, meski ia pernah
memilih untuk membunuh cintaku untuknya dan cintanya untukku. Aku masih
mengharapkannya, meski aku tahu ia tak menginginkan itu.
Handphone yang ku letakkan
disamping laptopku tiba-tiba menyala, menandakan sebuah pesan masuk. Aku meraihnya
tanpa tergebu-gebu seperti kemarin-kemarin, hari ini, aku sudah tidak terlalu
berharap pesan ataupun telepon dari Clevo.
From:
087789980201
Apa
kau sibuk minggu ini? Aku ingin memintamu untuk menemaniku berkunjung ke tempat-tempat
indah, yang jauh dari keramaian kota ini. Bisa?
Tanpa aku sadari,
sebuah senyuman yang sudah lama tak hadir kini hadir kembali. Tak perlu
menunggu lama, aku segera membalas pesannya.
To:
087789980201
Aku
bisa. Aku akan menjemputmu tepat pukul 08.00 dirumahmu.
****
“Lusa aku balik ke
Singapura, Ndi.” Ungkapnya, saat kami hanya saling diam menikmati suasana café
favorit kami.
Aku menatapnya
seperti saat ia memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Aku tidak mengerti
dengannya, mengapa ia senang memberitahu aku kalau ia akan meninggalkanku di
café ini? Ia tahu, ini café favoritku, bahkan aku sudah memberitahunya, aku
hampir selalu menulis disini. Dan kini, ia membuatku enggan untuk berlama-lama
berada di cafe ini.
“Sebenarnya aku masih
ingin berlama-lama disini, meski kota ini sudah banyak berubah, tapi aku tetap
lebih senang berada disini. Terlebih bersamamu,” Ia menghela nafasnya, “Kau
bukan seperti lelaki kebanyakan, kau tetap lelaki yang baik, kau tetap Rendi
seperti pertama kali aku mengenalmu.”
Mata kami bertemu,
matanya yang indah masih mampu mengajakku untuk merobohkan sebuah benteng
diantara kami. Bertemu dengan matanya, menghadirkan sebuah bisikan tentang
kekuatan untuk memulai kisah bersamanya lagi, kisah yang pernah terhenti tanpa
diakhiri. Cinta yang lama terpendam, kini hadir lebih berani. Ia memaksaku
untuk mengutarakannya, ia sudah terlalu bosan hanya berada dihatiku.
“Aku masih Rendi yang
sama, Vo. Masih seorang Rendi yang cintanya hanya untuk kamu. Masih seorang
pengkhayal yang selalu berharap bisa hidup denganmu.”
Clevo menundukkan
pandangannya, ia tak menjawab apapun pernyataanku. Airmatanya menetes dari
matanya yang indah, perlahan-lahan membasahi pipinya yang ia dihiasi blash on berwarna pink.
“Kita sudah bukan
remaja lagi, kan, Vo? Kita bisa sama-sama berjuang untuk ini.”
“Kita berbeda, Ndi.”
Lirihnya, dengan isak tangis yang semakin menjadi.
“Cinta menyatukan sepasang
manusia yang berbeda untuk menjadikannya pelengkap. Bukan menyatukan sepasang
manusia yang sama, Vo.” Kataku, kini, aku lebih berani mengutarakan yang selama
ini menjadi pendapatku. “Bukannya dulu kamu pernah bilang, Tuhan itu satu hanya
saja cara beribadah kita yang beda?” Tanyaku mengingat ucapan Clevo saat kami
baru memulai hubungan.
“Tapi, perbedaan kita
sangat kuat, Ndi. Seharusnya kamu sadar, kita terlalu berbeda dan orangtua kita
pun tidak mengizinkan untuk salah satu dari kita menyamakan perbedaan yang
ada.”
“Kau masih
mencintaiku?” Aku memberanikan diri untuk menanyakan hal yang selama ini aku
pertanyakan sendiri.
“Apa jika aku masih
mencintaimu, kita bisa bersama? Tak mengindahkan perbedaan ini?” Ia menatapku
dan aku bisa melihat berapa banyak luka yang ia simpan akibat cinta ini,
semakin lama ia menatapku, semakin banyak tetesan airmata yang mengalir begitu
saja. “Aku jatuh hati kepadamu seperti pertama kali kita bertemu dan aku
semakin jatuh hati kepadamu, ketika aku melihatmu saat ini. Tapi cinta tidak
selalu indah dan untukku memang tak indah, karena saat hatiku jatuh kepadamu,
aku tak bisa menggapaimu. Jarak terlalu jauh, seberapa banyak langkah yang kau
langkahkan untuk menggapaiku, semua akan percuma, begitu pula aku.”
Kini, aku yang dibuatnya
diam, airmatanya yang menetes seakan meminta untuk ditemani oleh airmataku. Aku
tidak sadar sejak kapan, pipiku mulai basah oleh airmata. Fikiranku menerawang
bebas, melihat benteng yang begitu besar yang membatasi kami, melihat kedua
orangtuaku dan orang tuanya yang selalu mewanti-wanti kami. Dihadapanku ada
seorang wanita cantik yang menungguku, namun jarak kami sangat jauh dan
diantara jarak yang jauh, ada sebuah tembok yang harus aku robohkan. Semakin
dekat dengan tembok itu, semakin sering aku mendengar suara bentakan bapak dan
tangisan ibu kala aku mengaku sedang menjalin hubungan dengan wanita yang
berbeda iman denganku.
“Aku tidak cukup kuat
untuk melawan orangtuaku, begitu pula kau. Kau selalu mematuhi orangtuamu,
bukan? Aku tahu kau anak yang baik, tak akan melanggar apa yang tak dibolehi
oleh orangtuamu, terlebih oleh Tuhanmu juga.” Katanya, saat ini ia lebih
tenang, airmatanya masih menetes namun tak sampai terisak-isak seperti tadi.
“Aku harus kembali
kerumah untuk berkemas. Mungkin, aku tak akan datang lagi dalam waktu yang
dekat, tapi aku janji, aku akan datang saat acara pernikahanmu dan kau pun
harus datang saat upacara pernikahanku.” Ucapnya sembari menyeka airmata yang
masih menetes.
“Aku tidak tahu akan
jatuh cinta kepada siapa, bahkan aku tidak tahu bisa atau tidak untuk jatuh
cinta lagi.”
Ia tersenyum, “Kau
lelaki baik, banyak perempuan yang menginginkanmu dan pilihlah salah satu yang
terbaik diantara mereka.” Ia memeriksa isi tas jinjingnya, “Aku senang bertemu
denganmu, menghilangkan rindu yang ada.” Ucapnya dan segera berlalu
meninggalkanku.
Dan sepeninggal
Clevo, tinggallah aku sendiri, menenangkan hati yang sedang berkecambuk,
menghentikan airmata yang sedari tadi menetes. merapikan kepingan harapan yang
telah hancur. Kini, tak ada lagi kisah yang harus aku sambung. Clevo telah menjelaskan
semuanya, kami memang berbeda dan tak ada yang mau menyamakannya. Clevo telah menjelaskan
semuanya, kalau harapanku akan selalu menjadi harapan, tak akan nyata. Clevo telah
menjelaskan semuanya, kalau kisah kami tidak akan mencapai tujuan yang sama,
hanya terhenti diseperempat jalan. Dan Clevo sudah meninggalkanku lagi, masih
dengan hatiku yang aku titipkan, mungkin suatu saat nanti, aku akan
mengambilnya kembali, saat aku sudah merelakannya.
Tiga tahun menunggu,
tak menjadikan cinta kami indah. Kami tetap berada diantara perbedaan yang sama.
Tiga tahun ternyata tak mengubahnya, kami tetap tak bisa bersama, cinta yang
ada tak akan sampai pada tujuan yang diinginkan. Tiga tahun tak membuat jarak
diantara kami menjadi dekat, kami masih terlalu jauh. Bahkan sangat jauh. Dan
hari ini, aku harus menyadari, Clevo bukanlah untukku, cinta diantara kami
bukanlah cinta yang bisa disatukan.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.