Senin, 27 Juli 2015

Tak Perlu Dijelaskan

Kami tidak pernah tahu mengapa kami tetap bersama, kala sudah banyak hari yang kami lalui tanpa saling menggenggam, tanpa saling menyapa, bahkan tanpa saling tersenyum. Kami tidak tahu, apa yang membuat kami tetap bersama, kala kami sudah saling berjalan tanpa menghiraukan satu sama yang lain.

Aku mengenal Fandi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, kala kami masih menggunakan seragam putih-biru, kala kami masih asing dengan sebuah smartphone. Sepuluh tahun yang lalu, kala ia masih harus menggayuh pedal sepedanya agar bisa sampai kesekolah, kala aku masih di antar-jemput Mas Revan—kakakku—kami mulai saling menatap diam-diam.

Entah siapa yang memulai, sebuah tatapan diam-diam itu beranjak menjadi sebuah percakapan hangat setiap jam istirahat. Tak ada waktu istirahat yang terlewatkan tanpa percakapan antara kami. Hingga akhirnya, suatu hari ia mulai memberanikan diri untuk menjemput dirumahku, bertemu dengan orangtua-ku dan Mas Revan. Butuh waktu sebulan untuk meyakinkan diriku, bahwa ia benar-benar menepati ucapannya.

Jumat, 24 Juli 2015

Cinta dan Persahabatan

Aku mengenalnya sudah sejak lama, sejak kami baru dilahirkan. Bahkan saat kami masih dalam kandungan kami sudah diperkenalkan satu sama lain. Dan setelah kami dilahirkan di tanggal yang sama, kami seperti ditakdirkan untuk terus bersama. Kami adalah sepasang remaja yang tumbuh secara bersama, melewati setiap fase pertumbuhan secara bersama. Kami seperti anak kembar yang berbeda jenis kelamin, dimana ada aku selalu ada dia, begitu sebaliknya. 

Semua hari aku lewati dengan dirinya, tak ada yang terlewatkan sekali pun. Telah banyak hal yang aku lalui bersamanya, merasakan membolos sekolah bersama, merasakan bermain disaat hujan deras, bahkan saat Ayah memarahiku karena aku memakan terlalu banyak coklat pun, dia tetap berada disampingku. Untuk kami, setiap hari adalah hari kami, hari dimana kami bebas melakukan apapun yang kami suka tanpa ada yang bisa melarangnya. Tidak pernah ada niat untuk saling menjauh, tidak pernah sedikit pun terbersit untuk saling mendiamkan. Karena, aku dan Revan sadar, bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain.

Hingga akhirnya semua mulai berubah, saat kami mulai mengenal cinta. Saat pipi kami mulai merona seketika, saat degub jantung kami menjadi tak stabil. Semuanya mulai berubah saat cinta datang kepada kami. Revan jatuh cinta kepada seorang gadis biasa, adik kelas kami disekolah. Jika dilihat dari kejauhan, tak ada yang menarik darinya. Dia adalah gadis dengan rambut panjang yang selalu dibiarkan terurai dan Revan menyukai itu. Dan aku. Aku juga mulai merasakan cinta saat Revan jatuh cinta. Cinta sederhana yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya. Cinta yang akhirnya membuat tidur malamku tak nyenyak, cinta yang membuat aku tak berhenti memikirkannya. Aku jatuh cinta pada seorang pria yang sudah lama kukenal. Pria yang senantiasa menemani hari-hariku. Pria yang sedang jatuh cinta kepada gadis lain. Aku jatuh cinta kepada Revan.