Kami tidak pernah tahu mengapa kami tetap bersama, kala sudah
banyak hari yang kami lalui tanpa saling menggenggam, tanpa saling menyapa,
bahkan tanpa saling tersenyum. Kami tidak tahu, apa yang membuat kami tetap
bersama, kala kami sudah saling berjalan tanpa menghiraukan satu sama yang
lain.
Aku mengenal Fandi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, kala
kami masih menggunakan seragam putih-biru, kala kami masih asing dengan sebuah smartphone. Sepuluh tahun yang lalu,
kala ia masih harus menggayuh pedal sepedanya agar bisa sampai kesekolah, kala
aku masih di antar-jemput Mas Revan—kakakku—kami mulai saling menatap
diam-diam.
Entah siapa yang memulai, sebuah tatapan diam-diam itu
beranjak menjadi sebuah percakapan hangat setiap jam istirahat. Tak ada waktu
istirahat yang terlewatkan tanpa percakapan antara kami. Hingga akhirnya, suatu
hari ia mulai memberanikan diri untuk menjemput dirumahku, bertemu dengan
orangtua-ku dan Mas Revan. Butuh waktu sebulan untuk meyakinkan diriku, bahwa
ia benar-benar menepati ucapannya.