Jumat, 24 Juli 2015

Cinta dan Persahabatan

Aku mengenalnya sudah sejak lama, sejak kami baru dilahirkan. Bahkan saat kami masih dalam kandungan kami sudah diperkenalkan satu sama lain. Dan setelah kami dilahirkan di tanggal yang sama, kami seperti ditakdirkan untuk terus bersama. Kami adalah sepasang remaja yang tumbuh secara bersama, melewati setiap fase pertumbuhan secara bersama. Kami seperti anak kembar yang berbeda jenis kelamin, dimana ada aku selalu ada dia, begitu sebaliknya. 

Semua hari aku lewati dengan dirinya, tak ada yang terlewatkan sekali pun. Telah banyak hal yang aku lalui bersamanya, merasakan membolos sekolah bersama, merasakan bermain disaat hujan deras, bahkan saat Ayah memarahiku karena aku memakan terlalu banyak coklat pun, dia tetap berada disampingku. Untuk kami, setiap hari adalah hari kami, hari dimana kami bebas melakukan apapun yang kami suka tanpa ada yang bisa melarangnya. Tidak pernah ada niat untuk saling menjauh, tidak pernah sedikit pun terbersit untuk saling mendiamkan. Karena, aku dan Revan sadar, bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain.

Hingga akhirnya semua mulai berubah, saat kami mulai mengenal cinta. Saat pipi kami mulai merona seketika, saat degub jantung kami menjadi tak stabil. Semuanya mulai berubah saat cinta datang kepada kami. Revan jatuh cinta kepada seorang gadis biasa, adik kelas kami disekolah. Jika dilihat dari kejauhan, tak ada yang menarik darinya. Dia adalah gadis dengan rambut panjang yang selalu dibiarkan terurai dan Revan menyukai itu. Dan aku. Aku juga mulai merasakan cinta saat Revan jatuh cinta. Cinta sederhana yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya. Cinta yang akhirnya membuat tidur malamku tak nyenyak, cinta yang membuat aku tak berhenti memikirkannya. Aku jatuh cinta pada seorang pria yang sudah lama kukenal. Pria yang senantiasa menemani hari-hariku. Pria yang sedang jatuh cinta kepada gadis lain. Aku jatuh cinta kepada Revan.

“Aku......” ia menatapku sejenak lalu menghembuskan napasnya secara gusar, “Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini. Kau mencintai aku.”

Aku tak menjawab perkataannya sejak awal, sejak aku mengakui perasaan yang ku pendam selama ini.

“Aku mencintai Cindy.” Katanya menyesal.

Aku tersenyum masam, “Aku tahu itu.” aku mengatur degub jantung yang mulai tak beraturan, tanganku yang mulai terasa dingin dan mataku yang mulai memanas, “tapi apa salah kalau aku jatuh cinta kepadamu?”

“Aku tidak tahu harus berkata apa. Kita pernah membahas ini.........” ia mengatur napasnya yang naik turun, menstabilkan suaranya yang mulai terdengar gusar, “aku tidak pernah bisa menerima sebuah cinta dalam persahabatan. Menurutku, keduanya tidak bisa dijadikan satu.” Ia mulai menangis, meski aku tak melihatnya, namun aku bisa merasakan kehadiran airmatanya dari perubahan suaranya.

“Tapi ini bukan salahmu. Intensitas pertemuan kita yang cukup sering membuatmu menaruh hati padaku, terlebih aku terlalu menjagamu dari lelaki lain.” Katanya, “Aku bukan tidak ingin lagi bertemu denganmu, namun, rasanya ini akan lebih baik saat kita mulai hidup sendiri-sendiri, tak selalu bersama seperti yang sudah lalu.”

Airmata yang sedari tadi aku tahan, menetes dengan bebas, membasahi pipiku tanpa henti.

“Jaga dirimu baik-baik.” Pesannya. Setelahnya, ia mengecup keningku, lalu meninggalkan aku yang masih menangisi kebodohanku. Andai aku tidak mengakui semuanya, mungkin aku masih bersama dengannya. Aku mengutuk keegoisanku, keegoisanku untuk memilikinya. Aku mencintainya, tapi tidak harus memilikinya.

Pipiku semakin basah sejak ia melangkahkan kakinya meninggalkanku. Semakin lama, ia semakin menghilang dari pandanganku dan airmataku semakin deras mengalir. Kini, aku sendiri ditempat ini, tempat yang paling aku suka saat bersama Revan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Untuk saat ini, aku hanya ingin menangis. Menangisi takdir cintaku, takdir persahabatanku dengan Revan.

***

Enam tahun sudah berlalu sejak saat itu.

Kini, aku berdiri dihadapan pantulan bayanganku sendiri. Dengan balutan gaun putih cantik yang terlihat sempurna dengan padanan pita serta renda yang membuatnya seakan mewah. Terlebih tata rias wajah yang membuat wajahku terlihat laksana puteri kerajaan menambah kesan hari ini adalah hariku. Ya, hari ini adalah hariku, hari pernikahanku.

Aku tidak pernah menyangka semua akan secepat ini, membayangkannya saja tidak pernah. Aku masih tidak percaya, hari ini adalah hari pernikahanku. Aku tidak percaya, akhirnya aku menerima lamaran seorang lelaki yang ingin hidup bersamaku.

Aku menatap diriku sendiri di cermin, kenangan itu masih ada, tentang Revan yang mulai menjauh dariku, tentang bagaimana aku menghabiskan malam hari hanya untuk menangis, tentang hari-hari yang harus ku mulai jalani sendiri. Tanpa sadar air mataku kembali menetes, namun dengan buru-buru aku mengusirnya, menggantinya dengan sebuah senyuman. Tidak seharusnya aku hancurkan hari ini.

“Kamu terlihat cantik, Nev.” Ibu berjalan mendekat kepadaku. “Revan sudah datang dan sebentar lagi acara akan dimulai.”

“Aku gugup bu.” Kataku dengan senyum sumringah.

Ibu hanya tersenyum sembari mengelus kepalaku. “Ibu ke depan ya, Nak.”

Aku mengangguk dan Ibu mulai berjalan menjauhiku.

Selepas ibu meninggalkanku, aku kembali mengingat beberapa kejadian yang aku lalui bersama Revan. Saat kami selalu bersama, saat kami—maksudku ia—mulai menjauh dan saat tiga tahun yang lalu, takdir mulai mempersatukan kami kembali. Kami dipertemukan dalam sebuah acara milik teman SMP kami, Revan yang saat itu sudah menjadi karyawan swasta terlihat gagah dengan setelan jas yang ia kenakan. Dan sejak saat itu, kami kembali bersama, aku melupakan perasaan yang tak pernah berubah untuknya demi tetap berada disampingnya. Begitu pula dirinya yang tak pernah menanyakan perasaanku, agar persahabatan kami tetap terjalin.

Semua berjalan begitu saja, hingga akhirnya lima bulan yang lalu, ia datang kerumahku. Tidak seperti biasanya, hari itu ia membawa serta-merta kedua orangtuanya dan beberapa orang dari keluarga dekatnya. Aku hanya diam menatap—penuh tanya kepada—Revan yang terlihat lebih tampan dengan balutan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Hari itu, adalah hari Revan mulai mengatakan ia mencintaiku, memintaku untuk menjadi istrinya di depan kedua orangtuaku, orangtuanya dan keluarganya.

“Nev, kamu sudah boleh keluar.” Ibu sudah berada disampingku, memperhatikan diriku. “Kamu sudah sah menjadi istri Revan, Nak.” Katanya, menahan airmata kebahagiannya.

Aku tersenyum, memeluknya. Aku tak lagi bisa menjelaskan perasaanku. Aku bahagia luar biasa.

Kami langsung bergegas menuju ruang tengah, tempat acara berlangsung. Disana, sudah ada Revan yang menungguku. Aku berjalan menuju dirinya secara perlahan dengan senyum yang tidak lepas dari bibirku. Begitu pula senyum Revan yang sedari tadi tak pernah pudar dari bibirnya, melambangkan kebahagian yang sama seperti yang aku rasa. Airmataku kembali menetes saat ia mengecup keningku. Airmataku bukan tanda aku kesedihanku akan takdirku, namun tentang sebuah ungkapan rasa bahagiaku akan takdir yang Tuhan gariskan untuk aku dan Revan.

*****

2 komentar:

  1. Awalnya sedih, karena si cowok jatuh cinta sama cewek lain. Tapi kalo jodoh ya nggak ke mana hihi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau emang udah jodoh, mau seperti apa kisah yang digariskan pada akhirnya akan tetap bertemu. Terima kasih sudah berkunjung, btw:-)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.