Aku mengenalnya sudah sejak lama,
sejak kami baru dilahirkan. Bahkan saat kami masih dalam kandungan kami sudah
diperkenalkan satu sama lain. Dan setelah kami dilahirkan di tanggal yang sama,
kami seperti ditakdirkan untuk terus bersama. Kami adalah sepasang remaja yang
tumbuh secara bersama, melewati setiap fase pertumbuhan secara bersama. Kami
seperti anak kembar yang berbeda jenis kelamin, dimana ada aku selalu ada dia,
begitu sebaliknya.
Semua hari aku lewati dengan
dirinya, tak ada yang terlewatkan sekali pun. Telah banyak hal yang aku lalui
bersamanya, merasakan membolos sekolah bersama, merasakan bermain disaat hujan
deras, bahkan saat Ayah memarahiku karena aku memakan terlalu banyak coklat
pun, dia tetap berada disampingku. Untuk kami, setiap hari adalah hari kami,
hari dimana kami bebas melakukan apapun yang kami suka tanpa ada yang bisa
melarangnya. Tidak pernah ada niat untuk saling menjauh, tidak pernah sedikit
pun terbersit untuk saling mendiamkan. Karena, aku dan Revan sadar, bahwa kami
saling membutuhkan satu sama lain.
Hingga akhirnya semua mulai
berubah, saat kami mulai mengenal cinta. Saat pipi kami mulai merona seketika,
saat degub jantung kami menjadi tak stabil. Semuanya mulai berubah saat cinta
datang kepada kami. Revan jatuh cinta kepada seorang gadis biasa, adik kelas
kami disekolah. Jika dilihat dari kejauhan, tak ada yang menarik darinya. Dia
adalah gadis dengan rambut panjang yang selalu dibiarkan terurai dan Revan
menyukai itu. Dan aku. Aku juga mulai merasakan cinta saat Revan jatuh cinta.
Cinta sederhana yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya. Cinta yang akhirnya
membuat tidur malamku tak nyenyak, cinta yang membuat aku tak berhenti
memikirkannya. Aku jatuh cinta pada seorang pria yang sudah lama kukenal. Pria
yang senantiasa menemani hari-hariku. Pria yang sedang jatuh cinta kepada gadis
lain. Aku jatuh cinta kepada Revan.
“Aku......” ia menatapku sejenak
lalu menghembuskan napasnya secara gusar, “Aku tidak pernah menyangka akan
seperti ini. Kau mencintai aku.”
Aku tak menjawab perkataannya
sejak awal, sejak aku mengakui perasaan yang ku pendam selama ini.
“Aku mencintai Cindy.” Katanya
menyesal.
Aku tersenyum masam, “Aku tahu
itu.” aku mengatur degub jantung yang mulai tak beraturan, tanganku yang mulai
terasa dingin dan mataku yang mulai memanas, “tapi apa salah kalau aku jatuh
cinta kepadamu?”
“Aku tidak tahu harus berkata
apa. Kita pernah membahas ini.........” ia mengatur napasnya yang naik turun,
menstabilkan suaranya yang mulai terdengar gusar, “aku tidak pernah bisa menerima
sebuah cinta dalam persahabatan. Menurutku, keduanya tidak bisa dijadikan satu.”
Ia mulai menangis, meski aku tak melihatnya, namun aku bisa merasakan kehadiran airmatanya dari perubahan
suaranya.
“Tapi ini bukan salahmu.
Intensitas pertemuan kita yang cukup sering membuatmu menaruh hati padaku,
terlebih aku terlalu menjagamu dari lelaki lain.” Katanya, “Aku bukan
tidak ingin lagi bertemu denganmu, namun, rasanya ini akan lebih baik saat kita
mulai hidup sendiri-sendiri, tak selalu bersama seperti yang sudah lalu.”
Airmata yang sedari tadi aku
tahan, menetes dengan bebas, membasahi pipiku tanpa henti.
“Jaga dirimu baik-baik.”
Pesannya. Setelahnya, ia mengecup keningku, lalu meninggalkan aku yang masih
menangisi kebodohanku. Andai aku tidak mengakui semuanya, mungkin aku
masih bersama dengannya. Aku mengutuk keegoisanku, keegoisanku untuk memilikinya. Aku mencintainya, tapi tidak
harus memilikinya.
Pipiku semakin basah sejak ia
melangkahkan kakinya meninggalkanku. Semakin lama, ia semakin menghilang dari
pandanganku dan airmataku semakin deras mengalir. Kini, aku sendiri ditempat
ini, tempat yang paling aku suka saat bersama Revan. Aku tidak tahu apa yang
harus aku lakukan saat ini. Untuk saat ini, aku hanya ingin menangis. Menangisi
takdir cintaku, takdir persahabatanku dengan Revan.
***
Enam tahun sudah berlalu sejak
saat itu.
Kini, aku berdiri dihadapan
pantulan bayanganku sendiri. Dengan balutan gaun putih cantik yang terlihat
sempurna dengan padanan pita serta renda yang membuatnya seakan mewah. Terlebih
tata rias wajah yang membuat wajahku terlihat laksana puteri kerajaan menambah
kesan hari ini adalah hariku. Ya, hari ini adalah hariku, hari pernikahanku.
Aku tidak pernah menyangka semua
akan secepat ini, membayangkannya saja tidak pernah. Aku masih tidak percaya,
hari ini adalah hari pernikahanku. Aku tidak percaya, akhirnya aku menerima
lamaran seorang lelaki yang ingin hidup bersamaku.
Aku menatap diriku sendiri di
cermin, kenangan itu masih ada, tentang Revan yang mulai menjauh dariku,
tentang bagaimana aku menghabiskan malam hari hanya untuk menangis, tentang
hari-hari yang harus ku mulai jalani sendiri. Tanpa sadar air mataku kembali
menetes, namun dengan buru-buru aku mengusirnya, menggantinya dengan sebuah
senyuman. Tidak seharusnya aku hancurkan hari ini.
“Kamu terlihat cantik, Nev.” Ibu
berjalan mendekat kepadaku. “Revan sudah datang dan sebentar lagi acara akan
dimulai.”
“Aku gugup bu.” Kataku dengan
senyum sumringah.
Ibu hanya tersenyum sembari
mengelus kepalaku. “Ibu ke depan ya, Nak.”
Aku mengangguk dan Ibu mulai
berjalan menjauhiku.
Selepas ibu meninggalkanku, aku
kembali mengingat beberapa kejadian yang aku lalui bersama Revan. Saat kami
selalu bersama, saat kami—maksudku ia—mulai menjauh dan saat tiga tahun yang
lalu, takdir mulai mempersatukan kami kembali. Kami dipertemukan dalam sebuah
acara milik teman SMP kami, Revan yang saat itu sudah menjadi karyawan swasta
terlihat gagah dengan setelan jas yang ia kenakan. Dan sejak saat itu, kami
kembali bersama, aku melupakan perasaan yang tak pernah berubah untuknya demi
tetap berada disampingnya. Begitu pula dirinya yang tak pernah menanyakan
perasaanku, agar persahabatan kami tetap terjalin.
Semua berjalan begitu saja, hingga akhirnya lima bulan yang lalu, ia
datang kerumahku. Tidak seperti biasanya, hari itu ia membawa serta-merta kedua
orangtuanya dan beberapa orang dari keluarga dekatnya. Aku hanya diam
menatap—penuh tanya kepada—Revan yang terlihat lebih tampan dengan balutan
kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Hari itu, adalah hari Revan mulai mengatakan ia
mencintaiku, memintaku untuk menjadi istrinya di depan kedua orangtuaku,
orangtuanya dan keluarganya.
“Nev, kamu sudah boleh keluar.”
Ibu sudah berada disampingku, memperhatikan diriku. “Kamu sudah sah menjadi
istri Revan, Nak.” Katanya, menahan airmata kebahagiannya.
Aku tersenyum, memeluknya. Aku tak lagi bisa menjelaskan perasaanku. Aku bahagia luar biasa.
Kami langsung bergegas menuju
ruang tengah, tempat acara berlangsung. Disana, sudah ada Revan yang
menungguku. Aku berjalan menuju dirinya secara perlahan dengan senyum yang
tidak lepas dari bibirku. Begitu pula senyum Revan yang sedari tadi tak pernah pudar dari bibirnya, melambangkan kebahagian yang sama seperti yang aku rasa.
Airmataku kembali menetes saat ia mengecup keningku. Airmataku bukan tanda aku
kesedihanku akan takdirku, namun tentang sebuah ungkapan rasa bahagiaku akan
takdir yang Tuhan gariskan untuk aku dan Revan.
*****
Awalnya sedih, karena si cowok jatuh cinta sama cewek lain. Tapi kalo jodoh ya nggak ke mana hihi :)
BalasHapusKalau emang udah jodoh, mau seperti apa kisah yang digariskan pada akhirnya akan tetap bertemu. Terima kasih sudah berkunjung, btw:-)
Hapus