Senin, 27 Juli 2015

Tak Perlu Dijelaskan

Kami tidak pernah tahu mengapa kami tetap bersama, kala sudah banyak hari yang kami lalui tanpa saling menggenggam, tanpa saling menyapa, bahkan tanpa saling tersenyum. Kami tidak tahu, apa yang membuat kami tetap bersama, kala kami sudah saling berjalan tanpa menghiraukan satu sama yang lain.

Aku mengenal Fandi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, kala kami masih menggunakan seragam putih-biru, kala kami masih asing dengan sebuah smartphone. Sepuluh tahun yang lalu, kala ia masih harus menggayuh pedal sepedanya agar bisa sampai kesekolah, kala aku masih di antar-jemput Mas Revan—kakakku—kami mulai saling menatap diam-diam.

Entah siapa yang memulai, sebuah tatapan diam-diam itu beranjak menjadi sebuah percakapan hangat setiap jam istirahat. Tak ada waktu istirahat yang terlewatkan tanpa percakapan antara kami. Hingga akhirnya, suatu hari ia mulai memberanikan diri untuk menjemput dirumahku, bertemu dengan orangtua-ku dan Mas Revan. Butuh waktu sebulan untuk meyakinkan diriku, bahwa ia benar-benar menepati ucapannya.


Empat bulan setelahnya, kami masih tetap menjadi seorang teman. Tak banyak yang berubah sejak kami saling kenal, hanya saja, kini ada seseorang yang selalu datang kerumahku saat sabtu malam. Banyak hal yang aku dapatkan dari dirinya, tentang pelajaran yang sebelumnya aku tak mengerti atau tentang teman-teman yang sebelumnya tak mengenalku menjadi mengenalku. Mungkin sebabnya, Ayah dan Ibuku menyukainya.

Hingga gerbang perpisahan antara kami sudah terbuka lebar, kami masih hanya menjadi teman. Jika dikatakan aku berharap lebih dengannya, mungkin juga tidak, saat itu aku belum tahu apa itu jatuh cinta. Banyak temanku yang sudah menduga atau berharap kami akan menjadi seorang kekasih, tapi antara kami, mungkin masih tidak mengerti seperti apa cinta atau mungkin hanya aku yang tidak tahu. 

“Aku sayang sama kamu, Nin.” Katanya, saat Fandi secara tiba-tiba datang kerumahku dengan rangkaian bunga ditangannya. Hari itu, ia terlihat lebih dewasa, terlihat tampan, itu sudah pasti. Aku menatap ia dan bunga yang kini ditanganku secara bergantian, tak tahu apa yang harus aku ucapkan. “Kamu mau jadi pacarku?” Tanyanya.

Aku mengangguk dan kami saling tersenyum setelahnya.

***

Hari ini Fandi datang kerumahku, bukan dengan rangkaian bunga, melainkan dengan tumpukan contoh desain undangan. Ia juga datang membawa laptop dan berkas-berkas pekerjaannya yang harus ia selesaikan minggu ini.

“Ini desainnya, kamu pilih mana yang kamu suka. Kalau aku lebih suka yang ini.” Katanya seraya menunjukkan desain undangan pilihannya.

Dua bulan lagi kami akan menikah. Kami tidak langsung berada di tahap ini, seperti yang sudah aku jelaskan diawal, sudah banyak hari yang kami lalui tanpa saling menggenggam, saling menyapa atau saling tersenyum. Kami pernah berada di tahap paling bawah dari sebuah hubungan, tak saling bertemu dalam waktu yang lama, bahkan saling berkomunikasi pun tidak. Sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam menjalani hubungan, sudah banyak orang yang kami temui, tapi entah kami masih saja tetap bersama. Banyak orang yang menawarkan hubungan baru, tapi kami tidak pernah mau mengakhiri hubungan ini.

Kami akan menikah, bukan artinya kami sudah berada di suatu hubungan yang baik-baik saja. Kami masih sering tak sependapat, masih sering bertengkar untuk suatu hal yang kecil sekalipun. Hal-hal yang bersangkutan dengan hari pernikahan kami pun menjadi penyebab kami tak sependapat lebih sering akhir-akhir ini.

Seperti hari ini, Fandi lagi-lagi meninggalkanku yang tak menemukan kecocokan dengan desain undangan yang ia bawakan untukku. “Ini ketiga kalinya aku bawa desain undangan dan masih aja kamu nggak nemu yang cocok dari contoh sebanyak ini. Aku nggak ngerti lagi sama kamu, Nin. Pernikahan kita tinggal dua bulan lagi, tapi dari cathering, baju pengantin, bahkan undangan belum ada yang deal, karena kamu ngga cocok semuanya.”

***

Pada akhirnya, waktu tak pernah berhenti berputar. Pernikahan yang selalu kami bicarakan sudah didepan mata. Hari ini adalah sebuah awal dari sebuah kehidupan baru antara aku dan Fandi. Serangkaian adat menjelang pernikahan sudah kami lewati dan hari ini adalah puncaknya. Seminggu terakhir ini, kami tak bertemu, bukan karena sedang malas bertemu atau sedang bertengkar, melainkan karena adat yang harus aku lakukan hingga hari pernikahan kami.

Aku masih tidak percaya akan berada di tahap ini dengan Fandi, laki-laki pertama yang berani datang kerumahku, laki-laki pertama yang memberikanku bunga, laki-laki pertama yang menyatakan cinta padaku, pacar pertamaku, cinta pertamaku. Aku masih tak percaya akan menikah dengan Fandi, setelah banyak hari yang kami lalui dengan pertengkaran, banyak hari yang kami lalui tanpa saling menggenggam, tanpa saling menyapa. Aku masih tak percaya, bagaimana bisa aku akan menikah dengan seseorang yang pernah tak menyapaku, yang menjadi kekasihnya, kala kami bertemu disebuah café.

Sudah satu jam aku hanya duduk di depan meja hias. Memperhatikan seorang perempuan di cermin. Seorang perempuan dengan gaun putih yang sangat cantik, hiasan di wajahnya menambah kesan ayu untuk dirinya.

“Fandi belum datang bu?” Tanyaku yang mulai tak tenang.

Ibu menggeleng, setelahnya ia berusaha tersenyum kearahku, agar kegugupannya tak terbaca olehku. Namun, aku masih saja bisa melihatnya.

Aku menghembuskan nafasku secara gusar. Air wajahku mulai menunjukkan kegugupan yang aku rasa. “Bagaimana bisa mempelai pria belum datang saat waktu yang sudah dijadwalkan lewat 15 menit?”. Fikirku pun semakin tak menentu, hingga akhirnya, aku teringat percakapan kami via handphone yang berakhir dengan sebuah kesalahpahaman. Percakapan yang aku mulai dengan keinginanku untuk berlibur setelah pernikahan kami yang membuat kami menjadi tak sependapat. Bukan Fandi tidak mau, hanya saja ia masih harus menyelesaikan suatu project kantornya untuk waktu yang masih lama, begitu katanya malam itu. Dan aku masih menginginkan liburan itu, Fandi menawarkan liburan saat ia telah menyelesaikan pekerjaannya pun tak aku hiraukan, hingga akhirnya Fandi tak mendengarkanku lagi, ia mengakhiri perbincangan kami dengan kalimat yang membuatku semakin tak tenang.

“Mungkin aku perlu waktu berfikir untuk datang esok hari kerumahmu, jika kamu masih tak bisa bersikap dewasa. Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku jika aku harus menjalani hari-hariku kedepannya dengan seseorang yang tak bisa mengalahkan keinginannya.”. Katanya, sebelum mematikan teleponnya.

Aku masih memperhatikan seorang perempuan yang ada dihadapanku. Ia terlihat cantik, tapi ia bukan perempuan dewasa yang mengerti keadaan yang ada. Perempuan dihadapanku mulai meneteskan airmatanya, mungkin ia sadar bagaimana seharusnya ia menghargai seseorang. Fandi benar, aku masih belum cukup dewasa untuk ia jadikan istri, batinku. 

Aku memang tak dewasa seperti perempuan seusiaku. Aku memang tak sabar seperti perempuan kebanyakan. Aku memang hanya perempuan menyebalkan, tak sabar, tukang protes. Tapi, hari ini aku adalah calon mempelai wanita yang masih menunggu mempelai pria-nya datang. Jika, aku bukan seperti perempuan kebanyakan, kau pun tak seperti pria kebanyakan. Kau pria dengan kesabaran tak terhingga, kau pria yang mampu menyimbangi keegoisanku. Fandi, kamu satu-satunya pria yang mampu membuat aku jatuh cinta. Maaf untuk semua keegoisanku, ketidaksabaranku, kecerewatanku dan segalanya. Aku mohon, kamu tetap akan datang hari ini kerumahku, membuka gerbang kehidupan kita yang baru dan terus mengajariku tentang kedewasaan yang ada didirimu. Aku mengirim pesan bbm untuknya. Semenit, dua menit, hingga lima menit, pesan tak kunjung ia baca. Menit ke enam, tanda D pada pesan berubah menjadi R. Hanya itu. Tak ada tanda-tanda Fandi akan membalas pesan tanda ketidaktenanganku.

“Mereka sudah datang, Nin.” Ibuku mulai merapikan gaunku. Raut kegelisahan diwajahnya menghilang seketika.

Akad sudah kami lewati, kini, kami sudah berada dipelaminan, menerima ucapan dari setiap tamu yang datang, memperhatikan tamu-tamu yang ikut berbahagia atas kami.
“Maaf.” Kataku.

Fandi tersenyum penuh ketulusan, menatapku penuh kelembutan dengan tangan yang menggenggamku sangat erat. “Seberapa menyebalkannya kamu, seberapa ketidakdewasaan sikapmu, itu tidak akan merubah niatku untuk memperistri dirimu. Hari ini akan tetap menjadi hari yang aku tunggu meski kamu masih saja egois seperti tadi malam.” Katanya seraya mengecup keningku.

Akhirnya, aku tidak perlu jawaban untuk pertanyaan yang selama ini aku pertanyakan. Kini, aku hanya tahu, Fandi memang untukku, lelaki penuh kesabaran yang selalu meyimbangi diriku yang penuh keegoisan. Aku tidak peduli bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang yang pernah mengacuhkanku, karna aku hanya tahu bahwa membutuhkannya, terlebih lagi aku mencintainya. Dan jika sudah bicara tentang cinta, bukankah cinta tidak memperlukan suatu alasan khusus?

****

2 komentar:

  1. rasa sayang memang nggak membutuhkan sebuah alasan:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Jika sudah ada alasan ketika mencintai, itu bukan cinta lagi namanya. Terima kasih sudah berkunjung, btw:)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.