Kami tidak pernah tahu mengapa kami tetap bersama, kala sudah
banyak hari yang kami lalui tanpa saling menggenggam, tanpa saling menyapa,
bahkan tanpa saling tersenyum. Kami tidak tahu, apa yang membuat kami tetap
bersama, kala kami sudah saling berjalan tanpa menghiraukan satu sama yang
lain.
Aku mengenal Fandi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, kala
kami masih menggunakan seragam putih-biru, kala kami masih asing dengan sebuah smartphone. Sepuluh tahun yang lalu,
kala ia masih harus menggayuh pedal sepedanya agar bisa sampai kesekolah, kala
aku masih di antar-jemput Mas Revan—kakakku—kami mulai saling menatap
diam-diam.
Entah siapa yang memulai, sebuah tatapan diam-diam itu
beranjak menjadi sebuah percakapan hangat setiap jam istirahat. Tak ada waktu
istirahat yang terlewatkan tanpa percakapan antara kami. Hingga akhirnya, suatu
hari ia mulai memberanikan diri untuk menjemput dirumahku, bertemu dengan
orangtua-ku dan Mas Revan. Butuh waktu sebulan untuk meyakinkan diriku, bahwa
ia benar-benar menepati ucapannya.
Empat bulan setelahnya, kami masih tetap menjadi seorang
teman. Tak banyak yang berubah sejak kami saling kenal, hanya saja, kini ada
seseorang yang selalu datang kerumahku saat sabtu malam. Banyak hal yang aku
dapatkan dari dirinya, tentang pelajaran yang sebelumnya aku tak mengerti atau
tentang teman-teman yang sebelumnya tak mengenalku menjadi mengenalku. Mungkin
sebabnya, Ayah dan Ibuku menyukainya.
Hingga gerbang perpisahan antara kami sudah terbuka lebar,
kami masih hanya menjadi teman. Jika dikatakan aku berharap lebih dengannya,
mungkin juga tidak, saat itu aku belum tahu apa itu jatuh cinta. Banyak temanku
yang sudah menduga atau berharap kami akan menjadi seorang kekasih, tapi antara
kami, mungkin masih tidak mengerti seperti apa cinta atau mungkin hanya aku
yang tidak tahu.
“Aku sayang sama kamu, Nin.” Katanya, saat Fandi secara
tiba-tiba datang kerumahku dengan rangkaian bunga ditangannya. Hari itu, ia
terlihat lebih dewasa, terlihat tampan, itu sudah pasti. Aku menatap ia dan
bunga yang kini ditanganku secara bergantian, tak tahu apa yang harus aku
ucapkan. “Kamu mau jadi pacarku?” Tanyanya.
Aku mengangguk dan kami saling tersenyum setelahnya.
***
Hari ini Fandi datang kerumahku, bukan dengan rangkaian
bunga, melainkan dengan tumpukan contoh desain
undangan. Ia juga datang membawa laptop dan berkas-berkas pekerjaannya yang
harus ia selesaikan minggu ini.
“Ini desainnya,
kamu pilih mana yang kamu suka. Kalau aku lebih suka yang ini.” Katanya seraya
menunjukkan desain undangan
pilihannya.
Dua bulan lagi kami akan menikah. Kami tidak langsung berada
di tahap ini, seperti yang sudah aku jelaskan diawal, sudah banyak hari yang
kami lalui tanpa saling menggenggam, saling menyapa atau saling tersenyum. Kami
pernah berada di tahap paling bawah dari sebuah hubungan, tak saling bertemu
dalam waktu yang lama, bahkan saling berkomunikasi pun tidak. Sembilan tahun
bukanlah waktu yang sebentar dalam menjalani hubungan, sudah banyak orang yang
kami temui, tapi entah kami masih saja tetap bersama. Banyak orang yang
menawarkan hubungan baru, tapi kami tidak pernah mau mengakhiri hubungan ini.
Kami akan menikah, bukan artinya kami sudah berada di suatu
hubungan yang baik-baik saja. Kami masih sering tak sependapat, masih sering
bertengkar untuk suatu hal yang kecil sekalipun. Hal-hal yang bersangkutan
dengan hari pernikahan kami pun menjadi penyebab kami tak sependapat lebih
sering akhir-akhir ini.
Seperti hari ini, Fandi lagi-lagi meninggalkanku yang tak
menemukan kecocokan dengan desain
undangan yang ia bawakan untukku. “Ini ketiga kalinya aku bawa desain undangan dan masih aja kamu nggak
nemu yang cocok dari contoh sebanyak ini. Aku nggak ngerti lagi sama kamu, Nin.
Pernikahan kita tinggal dua bulan lagi, tapi dari cathering, baju pengantin, bahkan undangan belum ada yang deal, karena kamu ngga cocok semuanya.”
***
Pada akhirnya, waktu tak pernah berhenti berputar. Pernikahan
yang selalu kami bicarakan sudah didepan mata. Hari ini adalah sebuah awal dari
sebuah kehidupan baru antara aku dan Fandi. Serangkaian adat menjelang pernikahan
sudah kami lewati dan hari ini adalah puncaknya. Seminggu terakhir ini, kami
tak bertemu, bukan karena sedang malas bertemu atau sedang bertengkar, melainkan
karena adat yang harus aku lakukan hingga hari pernikahan kami.
Aku masih tidak percaya akan berada di tahap ini dengan
Fandi, laki-laki pertama yang berani datang kerumahku, laki-laki pertama yang
memberikanku bunga, laki-laki pertama yang menyatakan cinta padaku, pacar
pertamaku, cinta pertamaku. Aku masih tak percaya akan menikah dengan Fandi,
setelah banyak hari yang kami lalui dengan pertengkaran, banyak hari yang kami
lalui tanpa saling menggenggam, tanpa saling menyapa. Aku masih tak percaya,
bagaimana bisa aku akan menikah dengan seseorang yang pernah tak menyapaku,
yang menjadi kekasihnya, kala kami bertemu disebuah café.
Sudah satu jam aku hanya duduk di depan meja hias.
Memperhatikan seorang perempuan di cermin. Seorang perempuan dengan gaun putih
yang sangat cantik, hiasan di wajahnya menambah kesan ayu untuk dirinya.
“Fandi belum datang bu?” Tanyaku yang mulai tak tenang.
Ibu menggeleng, setelahnya ia berusaha tersenyum kearahku,
agar kegugupannya tak terbaca olehku. Namun, aku masih saja bisa melihatnya.
Aku menghembuskan nafasku secara gusar. Air wajahku mulai
menunjukkan kegugupan yang aku rasa. “Bagaimana
bisa mempelai pria belum datang saat waktu yang sudah dijadwalkan lewat 15
menit?”. Fikirku pun semakin tak menentu, hingga akhirnya, aku teringat
percakapan kami via handphone yang berakhir dengan sebuah kesalahpahaman.
Percakapan yang aku mulai dengan keinginanku untuk berlibur setelah pernikahan
kami yang membuat kami menjadi tak sependapat. Bukan Fandi tidak mau, hanya
saja ia masih harus menyelesaikan suatu project
kantornya untuk waktu yang masih lama, begitu katanya malam itu. Dan aku masih
menginginkan liburan itu, Fandi menawarkan liburan saat ia telah menyelesaikan
pekerjaannya pun tak aku hiraukan, hingga akhirnya Fandi tak mendengarkanku
lagi, ia mengakhiri perbincangan kami dengan kalimat yang membuatku semakin tak
tenang.
“Mungkin aku perlu
waktu berfikir untuk datang esok hari kerumahmu, jika kamu masih tak bisa
bersikap dewasa. Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku jika aku harus
menjalani hari-hariku kedepannya dengan seseorang yang tak bisa mengalahkan
keinginannya.”.
Katanya, sebelum mematikan teleponnya.
Aku masih memperhatikan seorang perempuan yang ada
dihadapanku. Ia terlihat cantik, tapi ia bukan perempuan dewasa yang mengerti
keadaan yang ada. Perempuan dihadapanku mulai meneteskan airmatanya, mungkin ia
sadar bagaimana seharusnya ia menghargai seseorang. Fandi benar, aku masih belum cukup dewasa untuk ia jadikan istri,
batinku.
Aku
memang tak dewasa seperti perempuan seusiaku. Aku memang tak sabar seperti
perempuan kebanyakan. Aku memang hanya perempuan menyebalkan, tak sabar, tukang
protes. Tapi, hari ini aku adalah calon mempelai wanita yang masih menunggu
mempelai pria-nya datang. Jika, aku bukan seperti perempuan kebanyakan, kau pun
tak seperti pria kebanyakan. Kau pria dengan kesabaran tak terhingga, kau pria
yang mampu menyimbangi keegoisanku. Fandi, kamu satu-satunya pria yang mampu
membuat aku jatuh cinta. Maaf untuk semua keegoisanku, ketidaksabaranku,
kecerewatanku dan segalanya. Aku mohon, kamu tetap akan datang hari ini
kerumahku, membuka gerbang kehidupan kita yang baru dan terus mengajariku
tentang kedewasaan yang ada didirimu. Aku mengirim pesan bbm untuknya. Semenit, dua menit,
hingga lima menit, pesan tak kunjung ia baca. Menit ke enam, tanda D pada pesan
berubah menjadi R. Hanya itu. Tak ada tanda-tanda Fandi akan membalas pesan
tanda ketidaktenanganku.
“Mereka sudah datang, Nin.” Ibuku mulai merapikan gaunku.
Raut kegelisahan diwajahnya menghilang seketika.
Akad sudah kami lewati, kini, kami sudah berada dipelaminan,
menerima ucapan dari setiap tamu yang datang, memperhatikan tamu-tamu yang ikut
berbahagia atas kami.
“Maaf.” Kataku.
Fandi tersenyum penuh ketulusan, menatapku penuh kelembutan
dengan tangan yang menggenggamku sangat erat. “Seberapa menyebalkannya kamu,
seberapa ketidakdewasaan sikapmu, itu tidak akan merubah niatku untuk
memperistri dirimu. Hari ini akan tetap menjadi hari yang aku tunggu meski kamu
masih saja egois seperti tadi malam.” Katanya seraya mengecup keningku.
Akhirnya, aku tidak perlu jawaban untuk pertanyaan yang
selama ini aku pertanyakan. Kini, aku hanya tahu, Fandi memang untukku, lelaki
penuh kesabaran yang selalu meyimbangi diriku yang penuh keegoisan. Aku tidak
peduli bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang yang pernah mengacuhkanku,
karna aku hanya tahu bahwa membutuhkannya, terlebih lagi aku mencintainya. Dan
jika sudah bicara tentang cinta, bukankah cinta tidak memperlukan suatu alasan
khusus?
****
rasa sayang memang nggak membutuhkan sebuah alasan:)
BalasHapusBenar. Jika sudah ada alasan ketika mencintai, itu bukan cinta lagi namanya. Terima kasih sudah berkunjung, btw:)
Hapus