Sabtu, 12 September 2015

Ibuku bukan Mamaku



“Boneka ini milikku….” Kataku setengah berteriak.

“Aku hanya ingin pinjam.” Belanya, seakan ingin membenarkan perbuatannya yang telah mengambil boneka milikku tanpa izin.

“Berikan saja, dia hanya ingin meminjamnya, Kyl.” Aku menengok ke sumber suara, suara yang sudah tak pernah lagi aku dengar sejak 6 tahun yang lalu. Suara yang sangat aku rindukan.

“Mama……” Aku berhambur ke dalam pelukan Mama, tak lagi memperdulikan boneka yang kini Dysna bawa pergi.

Aku memeluknya, erat sekali. Aku tak ingin melepaskannya sedetik pun seakan pertanda aku tak ingin lagi kehilangannya. Perempuan dengan aroma tubuh yang masih sama ini membalas pelukanku seakan merasakan rindu yang sama dan mendambakan pertemuan ini sejak lama.

“Umurmu 20 tahun kan?” Tanyanya saat kami mulai duduk bersama dibawah pohon yang rindang.

Senin, 07 September 2015

When stranger become best friend

Dia adalah perempuan asing bagi saya saat itu, bukan orang pertama yang saya kenal saat awal perkuliahan. Saya selalu bilang sama dia, kalau awal perkuliahan saya tidak menyadari kehadirannya. Saya –atau orang lain juga—punya kebiasaan membahas bagaimana saya bisa kenal dengan seseorang, dan saya melakukan itu dengan dia. Kami punya versi yang berbeda, tapi kami tidak pernah mengambil pusing tentang itu. Yang saya tahu sekarang, dia adalah teman terbaik yang saya punya. Seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal, tapi bisa menjadi orang yang pantas saya anggap teman terbaik.

She’s Ifham Choirunnisa. Dia pernah bilang sama saya, “Mbak, bikinin gue cerpen, kek, tentang gue sama Topan—her boyfriend”. Ya, walaupun ini bukan cerpen tapi setidaknya saya pernah menuliskan sesuatu tentang kamu disini. And to you know, saya  menulis karena saya mencegah lupa dan itu artinya saya tidak ingin lupa dengan kamu. Oiya, kita sama-sama pernah bertanya, “Mbak, lu mah sama gue, gak pernah make aku-kamu, tapi sama yang lain bisa”. Dan disini saya menggunakan ‘saya-kamu’ seperti yang pernah kita debatkan.