Sabtu, 12 September 2015

Ibuku bukan Mamaku



“Boneka ini milikku….” Kataku setengah berteriak.

“Aku hanya ingin pinjam.” Belanya, seakan ingin membenarkan perbuatannya yang telah mengambil boneka milikku tanpa izin.

“Berikan saja, dia hanya ingin meminjamnya, Kyl.” Aku menengok ke sumber suara, suara yang sudah tak pernah lagi aku dengar sejak 6 tahun yang lalu. Suara yang sangat aku rindukan.

“Mama……” Aku berhambur ke dalam pelukan Mama, tak lagi memperdulikan boneka yang kini Dysna bawa pergi.

Aku memeluknya, erat sekali. Aku tak ingin melepaskannya sedetik pun seakan pertanda aku tak ingin lagi kehilangannya. Perempuan dengan aroma tubuh yang masih sama ini membalas pelukanku seakan merasakan rindu yang sama dan mendambakan pertemuan ini sejak lama.

“Umurmu 20 tahun kan?” Tanyanya saat kami mulai duduk bersama dibawah pohon yang rindang.

Aku mengangguk manja, masih dengan memeluk lengannya. Aku benar-benar tak mengizinkannya pergi lagi.
Dia tertawa, tawa yang masih sama seperti tawa yang sering aku dengar dahulu dirumah. “Lalu kau berantem dengan anak umur 7 tahun hanya karena boneka?”

“Itu boneka milikku Ma dan dia mengambilnya tanpa izinku.”

“Dia hanya ingin meminjamnya sayang.” Katanya, dengan belaian lembut di kepalaku. “Lagipula, tak baik jika terus bertengkar dengan adikmu.”

“Dia bukan adikku.” Bantahku. Aku tak pernah suka jika ada yang menyebutnya sebagai adikku, siapapun itu, termasuk Mama.

Mama kembali tersenyum mendengar bantahanku, lalu ia memelukku. Memang hanya Mama yang mengerti bagaimana cara memperlakukan aku yang tengah mengambek seperti saat ini. Memang hanya Mama yang mampu menenangkan segala hati yang gundah. Memang hanya Mama yang mampu menjadi tempat bercerita yang tepat. Dan itu semua aku rasakan terakhir kali ketika umurku 14 tahun, sebelum mama pergi.

“Jangan kesana, sayang. Hati-hati sayang.” Suara itu mengubah suasana hatiku lagi. 

Aku menengok ke sumber suara. Dan seperti yang sudah kuduga disana ada mereka, Papa, tante Rien, Dysna dan Mizky. Papa sedang menggendong Mizky yang baru berumur 3 tahun dan tante Rien bermain dengan Dysna yang tak melepaskan pelukannya dengan bonekaku. Sesekali mereka saling tertawa bersama, mereka terlihat bahagia, sangat. 

“Papa….. Papa........” Aku berteriak-teriak seperti orang gila. Berusaha memanggil Papa yang sedari acuh dengan keberadaan aku dan Mama. “Seharusnya kita yang disana, Ma. Seharusnya kita yang tertawa bersama Papa. Bukan mereka.” Kataku, yang masih berusaha memanggil Papa. “Papa……”

“Aku benci mereka. Aku benci orang baru dirumah kita seperti mereka. Aku tidak suka.” 

“Mama tahu, ini tak mudah. Tapi tante Rien adalah orang baik. Mama sudah mengenalnya sejak lama, jadi rasanya kau tidak patut untuk tak menyukainya.”

“Jika ia orang baik, mengapa ia mengambil Papa dari aku dan Mama?”

“Tak ada niat sedikitpun dalam benaknya untuk mengambil Papa darimu dan Mama. Papa masih mencintai Mama, Mama tahu itu. Tapi, Papa juga butuh seseorang yang mampu mengurusimu dan dirinya.”

“Tapi ma……”

“Kau tahu siapa yang rela tak tidur saat kau demam hebat saat umurmu 17 tahun? Tante Rien bukan? Saat itu ia sedang hamil adikmu, tapi ia tak menggubris kesehatannya. Baginya, memastikanmu dalam keadaan baik-baik saja adalah hal terpenting untuknya. Lalu siapa yang rela menunggumu sampai kau pulang? Sebenarnya, kau sudah dewasa, kau tahu kapan harus pulang seperti yang selalu Papa dan Mama ajarkan dulu, tapi ia tetap menunggumu. Meski akhirnya hanya sebuah sikap acuh yang kau tunjukkan kepadanya ketika kau melihatnya, kan?”

Aku terdiam. Aku ingat semua yang Mama katakan. Bahkan aku ingat ketika ia dimarahi Papa karena membelaku dibandingkan membela anaknya sendiri, Dysna. “Memang Dysna yang salah, Pa.” katanya saat itu. Hingga akhirnya, Papa mengalah dengan membiarkan keegoisanku. Meski, sudah jelas-jelas tante Rien yang menyebabkan Papa tak lagi memarahiku, namun aku tetap saja tak mengucapkan terima kasih kepadanya.

Aku juga ingat ketika ia rela menjemputku saat hujan lebat. Meski saat itu ia sedang tak enak badan, tapi ia tetap menjemput dan menungguku di stasiun dekat rumah. Dan memang aku yang tak pernah melihat segala kebaikannya, aku berlalu begitu saja saat menerima payung darinya. Tanpa ucapan terima kasih untuknya.

“Mama sudah harus pergi.” Katanya beranjak bangun dari duduknya. “Sudah saatnya kau mulai melihatnya, bagaimanapun dia, dia mamamu juga.”

“Mama, jangan pergi lagi. Aku ingin bersama Mama saja.” Pintaku, menahan kepergian Mama.

Mama tersenyum, pelan-pelan ia melepaskan genggaman tanganku yang erat. Pelan-pelan ia mulai melangkah menjauh, menuju cahaya putih yang menyilaukan mata.

“Kau harus cepat kembali. Mereka menunggumu, jangan buat mereka meunggumu semakin lama.” Mama semakin menjauhiku. “Doakan Mama terus, Mama selalu menunggu doamu.” Katanya yang terakhir sebelum ia benar-benar menghilang.

****

Aku terkejap. Mataku menatap langit-langit putih untuk sekian detik, detik selanjutnya aku baru sadar ini bukan langit-langit kamarku. Bukan langit-langit biru yang aku biasa pandang sebelum atau sesudah tidur. Mataku melihat sekelilingku, disamping tempat tidurku ada laci putih, ada sebuah tv yang menggantung didepan tempat tidurku, sebuah meja dan sofa yang Papa gunakan untuk tidur. Ini memang bukan kamarku, aku sangat tahu itu. Tapi dimana aku sekarang?

Aku masih memperhatikan sekelilingku, disamping tempat tidurku ada tiang infus dan sebuah tali infus yang menyambungkan sebuah jarum dengan tanganku. Dan disamping lenganku ada seorang perempuan yang sedang terlelap. Wajahnya menunjukkan keletihan yang ia rasakan berhari-hari. Tante Rien, ya dia adalah perempuan yang sedang tertidur itu.  

“Akhirnya kau bangun, Kyla” Sambutnya penuh antusias. Kelelahan yang ia rasa seakan tak ia gubris, wajahnya memancarkan bahagia yang selama ini ia idam-idamkan.

Ia membangunkan Papa yang terlelap dengan raut wajah yang tak jauh berbeda dengan tante Rien. Melihat tante Rien dengan senyum bahagia yang tak hilang sedetik pun, membuat aku teringat dengan percakapan aku dan Mama barusan tentang tante Rien. Bagaimana Mama menyadarkanku bahwa memang tante Rien bukan orang yang pantas untuk aku musuhi.

“Akhirnya kamu sadar sayang.” Papa menghampiriku, mencium keningku berkali-kali dengan ucapan syukur yang tak henti. “Papa panggil dokter dulu, ya.” Katanya beranjak meninggalkanku berdua tante Rien.

Tante Rien tersenyum diujung tempat tidurku, ia terus memperhatikanku dengan cemas namun senyumnya tak bisa memungkiri bahwa ia bahagia saat aku sadar. Melihatnya seperti mengingatkanku lagi dengan perjumpaanku dengan Mama. 

Seketika dadaku berdebar cepat saat aku sadar aku baru saja bertemu dengan Mama, meski hanya dalam mimpi. Aku bertemu dengan Mama lagi setelah sekian lama aku tak bertemu, setelah Mama meninggal. 

Aku berusaha memanggil tante Rien yang masih berdiri diujung tempat tidurku, tapi bibirku tak menyebutkannya. Ia masih memperhatikanku dengan seksama. Ia yang menyadariku menginginkan sesuatu, akhirnya berjalan perlahan mendekat.

“Ibu….” Akhirnya, suaraku keluar. Sebuah panggilan baru untuk tante Rien. Aku memang tak ingin memanggilnya mama, karena bagiku mama hanya satu untukku. Tapi dia ibu untukku.

Matanya berbinar-binar mendengar panggilan ibu untuknya, “Apa sayang?” Katanya penuh lembut. Aku memanjangkan tanganku seakan memintanya untuk memelukku. Seakan tahu maksudku, Ibu memelukku dengan erat. Sangat erat, mengisyaratkan betapa lama ia menunggu hal ini terjadi.
 
Dan kini, seperti ada kehangatan yang kini kembali. Kehangatan yang pernah hilang terbawa Mama dan kini kembali dihadirkan Ibu.

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.