“Boneka ini milikku….” Kataku
setengah berteriak.
“Aku hanya ingin pinjam.”
Belanya, seakan ingin membenarkan perbuatannya yang telah mengambil boneka
milikku tanpa izin.
“Berikan saja, dia hanya ingin
meminjamnya, Kyl.” Aku menengok ke sumber suara, suara yang sudah tak
pernah lagi aku dengar sejak 6 tahun yang lalu. Suara yang sangat aku rindukan.
“Mama……” Aku berhambur ke dalam
pelukan Mama, tak lagi memperdulikan boneka yang kini Dysna bawa pergi.
Aku memeluknya, erat sekali. Aku
tak ingin melepaskannya sedetik pun seakan pertanda aku tak ingin lagi
kehilangannya. Perempuan dengan aroma tubuh yang masih sama ini membalas
pelukanku seakan merasakan rindu yang sama dan mendambakan pertemuan ini sejak
lama.
“Umurmu 20 tahun kan?” Tanyanya
saat kami mulai duduk bersama dibawah pohon yang rindang.
Aku mengangguk manja, masih
dengan memeluk lengannya. Aku benar-benar tak mengizinkannya pergi lagi.
Dia tertawa, tawa yang masih sama
seperti tawa yang sering aku dengar dahulu dirumah. “Lalu kau berantem dengan
anak umur 7 tahun hanya karena boneka?”
“Itu boneka milikku Ma dan dia
mengambilnya tanpa izinku.”
“Dia hanya ingin meminjamnya
sayang.” Katanya, dengan belaian lembut di kepalaku. “Lagipula, tak baik jika
terus bertengkar dengan adikmu.”
“Dia bukan adikku.” Bantahku. Aku
tak pernah suka jika ada yang menyebutnya sebagai adikku, siapapun itu,
termasuk Mama.
Mama kembali tersenyum mendengar
bantahanku, lalu ia memelukku. Memang hanya Mama yang mengerti bagaimana cara
memperlakukan aku yang tengah mengambek seperti saat ini. Memang hanya Mama
yang mampu menenangkan segala hati yang gundah. Memang hanya Mama yang mampu
menjadi tempat bercerita yang tepat. Dan itu semua aku rasakan terakhir kali ketika umurku 14
tahun, sebelum mama pergi.
“Jangan kesana, sayang. Hati-hati
sayang.” Suara itu mengubah suasana hatiku lagi.
Aku menengok ke sumber suara. Dan
seperti yang sudah kuduga disana ada mereka, Papa, tante Rien, Dysna dan Mizky.
Papa sedang menggendong Mizky yang baru berumur 3 tahun dan tante Rien bermain
dengan Dysna yang tak melepaskan pelukannya dengan bonekaku. Sesekali mereka
saling tertawa bersama, mereka terlihat bahagia, sangat.
“Papa….. Papa........” Aku berteriak-teriak
seperti orang gila. Berusaha memanggil Papa yang sedari acuh dengan keberadaan
aku dan Mama. “Seharusnya kita yang disana, Ma. Seharusnya kita yang tertawa
bersama Papa. Bukan mereka.” Kataku, yang masih berusaha memanggil Papa.
“Papa……”
“Aku benci mereka. Aku benci
orang baru dirumah kita seperti mereka. Aku tidak suka.”
“Mama tahu, ini tak mudah. Tapi
tante Rien adalah orang baik. Mama sudah mengenalnya sejak lama, jadi rasanya
kau tidak patut untuk tak menyukainya.”
“Jika ia orang baik, mengapa ia
mengambil Papa dari aku dan Mama?”
“Tak ada niat sedikitpun dalam
benaknya untuk mengambil Papa darimu dan Mama. Papa masih mencintai Mama, Mama
tahu itu. Tapi, Papa juga butuh seseorang yang mampu mengurusimu dan dirinya.”
“Tapi ma……”
“Kau tahu siapa yang rela tak
tidur saat kau demam hebat saat umurmu 17 tahun? Tante Rien bukan? Saat itu ia
sedang hamil adikmu, tapi ia tak menggubris kesehatannya. Baginya, memastikanmu
dalam keadaan baik-baik saja adalah hal terpenting untuknya. Lalu siapa yang
rela menunggumu sampai kau pulang? Sebenarnya, kau sudah dewasa, kau tahu kapan
harus pulang seperti yang selalu Papa dan Mama ajarkan dulu, tapi ia tetap
menunggumu. Meski akhirnya hanya sebuah sikap acuh yang kau tunjukkan kepadanya
ketika kau melihatnya, kan?”
Aku terdiam. Aku ingat semua yang
Mama katakan. Bahkan aku ingat ketika ia dimarahi Papa karena membelaku
dibandingkan membela anaknya sendiri, Dysna. “Memang Dysna yang salah, Pa.” katanya saat itu. Hingga akhirnya,
Papa mengalah dengan membiarkan keegoisanku. Meski, sudah jelas-jelas tante
Rien yang menyebabkan Papa tak lagi memarahiku, namun aku tetap saja tak
mengucapkan terima kasih kepadanya.
Aku juga ingat ketika ia rela
menjemputku saat hujan lebat. Meski saat itu ia sedang tak enak badan, tapi ia
tetap menjemput dan menungguku di stasiun dekat rumah. Dan memang aku yang tak
pernah melihat segala kebaikannya, aku berlalu begitu saja saat menerima payung
darinya. Tanpa ucapan terima kasih untuknya.
“Mama sudah harus pergi.” Katanya
beranjak bangun dari duduknya. “Sudah saatnya kau mulai melihatnya,
bagaimanapun dia, dia mamamu juga.”
“Mama, jangan pergi lagi. Aku
ingin bersama Mama saja.” Pintaku, menahan kepergian Mama.
Mama tersenyum, pelan-pelan ia
melepaskan genggaman tanganku yang erat. Pelan-pelan ia mulai melangkah
menjauh, menuju cahaya putih yang menyilaukan mata.
“Kau harus cepat kembali. Mereka
menunggumu, jangan buat mereka meunggumu semakin lama.” Mama semakin
menjauhiku. “Doakan Mama terus, Mama selalu menunggu doamu.” Katanya yang
terakhir sebelum ia benar-benar menghilang.
****
Aku terkejap. Mataku menatap
langit-langit putih untuk sekian detik, detik selanjutnya aku baru sadar ini
bukan langit-langit kamarku. Bukan langit-langit biru yang aku biasa pandang
sebelum atau sesudah tidur. Mataku melihat sekelilingku, disamping tempat
tidurku ada laci putih, ada sebuah tv yang menggantung didepan tempat tidurku, sebuah meja dan sofa yang Papa gunakan untuk tidur. Ini memang bukan kamarku,
aku sangat tahu itu. Tapi dimana aku sekarang?
Aku masih memperhatikan
sekelilingku, disamping tempat tidurku ada tiang infus dan sebuah tali infus
yang menyambungkan sebuah jarum dengan tanganku. Dan disamping lenganku ada
seorang perempuan yang sedang terlelap. Wajahnya menunjukkan keletihan yang ia
rasakan berhari-hari. Tante Rien, ya dia adalah perempuan yang sedang tertidur itu.
“Akhirnya kau bangun, Kyla”
Sambutnya penuh antusias. Kelelahan yang ia rasa seakan tak ia gubris, wajahnya
memancarkan bahagia yang selama ini ia idam-idamkan.
Ia membangunkan Papa yang
terlelap dengan raut wajah yang tak jauh berbeda dengan tante Rien. Melihat
tante Rien dengan senyum bahagia yang tak hilang sedetik pun, membuat aku teringat
dengan percakapan aku dan Mama barusan tentang tante Rien. Bagaimana Mama
menyadarkanku bahwa memang tante Rien bukan orang yang pantas untuk aku musuhi.
“Akhirnya kamu sadar sayang.”
Papa menghampiriku, mencium keningku berkali-kali dengan ucapan syukur yang tak
henti. “Papa panggil dokter dulu, ya.” Katanya beranjak meninggalkanku berdua
tante Rien.
Tante Rien tersenyum diujung
tempat tidurku, ia terus memperhatikanku dengan cemas namun senyumnya tak bisa
memungkiri bahwa ia bahagia saat aku sadar. Melihatnya seperti mengingatkanku
lagi dengan perjumpaanku dengan Mama.
Seketika dadaku berdebar cepat
saat aku sadar aku baru saja bertemu dengan Mama, meski hanya dalam mimpi. Aku
bertemu dengan Mama lagi setelah sekian lama aku tak bertemu, setelah Mama
meninggal.
Aku berusaha memanggil tante Rien
yang masih berdiri diujung tempat tidurku, tapi bibirku tak menyebutkannya. Ia
masih memperhatikanku dengan seksama. Ia yang menyadariku menginginkan sesuatu,
akhirnya berjalan perlahan mendekat.
“Ibu….” Akhirnya, suaraku keluar.
Sebuah panggilan baru untuk tante Rien. Aku memang tak ingin memanggilnya mama,
karena bagiku mama hanya satu untukku. Tapi dia ibu untukku.
Matanya berbinar-binar mendengar
panggilan ibu untuknya, “Apa sayang?” Katanya penuh lembut. Aku memanjangkan
tanganku seakan memintanya untuk memelukku. Seakan tahu maksudku, Ibu memelukku
dengan erat. Sangat erat, mengisyaratkan betapa lama ia menunggu hal ini
terjadi.
Dan kini, seperti ada kehangatan
yang kini kembali. Kehangatan yang pernah hilang terbawa Mama dan kini kembali
dihadirkan Ibu.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.