Senin, 07 September 2015

When stranger become best friend

Dia adalah perempuan asing bagi saya saat itu, bukan orang pertama yang saya kenal saat awal perkuliahan. Saya selalu bilang sama dia, kalau awal perkuliahan saya tidak menyadari kehadirannya. Saya –atau orang lain juga—punya kebiasaan membahas bagaimana saya bisa kenal dengan seseorang, dan saya melakukan itu dengan dia. Kami punya versi yang berbeda, tapi kami tidak pernah mengambil pusing tentang itu. Yang saya tahu sekarang, dia adalah teman terbaik yang saya punya. Seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal, tapi bisa menjadi orang yang pantas saya anggap teman terbaik.

She’s Ifham Choirunnisa. Dia pernah bilang sama saya, “Mbak, bikinin gue cerpen, kek, tentang gue sama Topan—her boyfriend”. Ya, walaupun ini bukan cerpen tapi setidaknya saya pernah menuliskan sesuatu tentang kamu disini. And to you know, saya  menulis karena saya mencegah lupa dan itu artinya saya tidak ingin lupa dengan kamu. Oiya, kita sama-sama pernah bertanya, “Mbak, lu mah sama gue, gak pernah make aku-kamu, tapi sama yang lain bisa”. Dan disini saya menggunakan ‘saya-kamu’ seperti yang pernah kita debatkan.


Hai, Fham.

Seperti yang tadi saya bilang, awalnya saya tidak sadar akan kehadiranmu saat pengisian KRS ataupun hari-hari awal perkuliahan. Awal kita kenal, saat kita duduk sampingan pas mata kuliah PKN, tapi versi kamu, awal kita kenal saat mata kuliah SPJD dan kamu duduk didepan saya. Tapi akhirnya kita sepaham, kita semakin dekat berawal saat kamu mulai mengirim pesan untuk saya, memberitahu nomormu dan akhirnya kita tak jarang menghabiskan waktu malam untuk berkomunikasi via handphone.

Kamu adalah orang baik, orang yang sangat peka dan peduli dengan orang-orang sekitarmu, orang yang tidak bisa marah, orang yang tak-enak-an. Meski awal-awal kita jarang ngobrol di kelas, tapi rasanya seperti kita sudah tahu satu sama yang lain, ya? Kamu tahu bagaimana saya, tanpa saya memberitahu bagaimana saya. Saya tahu bagaimana kamu, tanpa kamu memberitahu bagaimana kamu. Kurang lebih kita punya beberapa kesamaan dan akhirnya membuat kita semakin tahu satu sama yang lain.

Satu tahun kenal sama kamu, membuat saya seperti beruntung bisa mengenal kamu. Telah banyak cerita tentang kamu selama satu tahun ini, telah banyak cerita yang saya ceritakan selama setahun ini. Meski kita jarang pergi bersama, jarang menghabiskan waktu bersama, tapi bagi saya, ada saat kamu butuh teman cerita adalah hal yang lebih penting.

Banyak hal tentang saya yang tidak saya beritahu tapi akhirnya kamu ketahui. Tidak jarang, kamu tahu saya sedang dalam keadaan tidak baik-baik, meski saya tidak memberitahumu sebelumnya. Kamu terlalu peka akan orang-orang disekelilingmu.

Jika ada pertemuan maka akan ada perpisahan. Ini sejatinya bukanlah suatu perpisahan, hanya saja kita tak bisa lagi bertemu sesering kemarin. Kita tak bisa lagi berbagi tawa semudah kemarin. Kini, ada jarak yang diantara kita. Tapi, teknologi sudah canggih, kan? Tidak peduli seberapa jauh jarak yang ada, komunikasi tetap bisa dilakukan via handphone.

Jika boleh jujur, saya sempat takut kehilangan seseorang yang sangat peduli dengan sekitar sepertimu, takut kehilangan seorang teman baik sepertimu, takut kehilangan seorang yang selalu menyempatkan waktunya untuk peduli denganku, sempat takut akan terlupakan olehmu dan hanya menjadi seseorang yang pernah kamu kenal. ((Jika ada yang bilang ini peres, but you know me so well and you know the truth, right?))

Oiya, satu hal lagi, kamu adalah seseorang—yang tanpa kamu ketahui—pemberi semangat agar saya tetap menulis. Terima kasih!!!

Terima kasih telah bersedia menjadi seseorang yang bersedia mendengar semua cerita saya. Terima kasih sudah membuat saya merasa bangga mempunyai teman sepertimu. Terima kasih untuk segala hal yang mungkin tidak bisa saya ucapkan satu persatu. Maaf jika saya sering membuat kamu kesal, maaf jika saya bukanlah teman yang baik, maaf jika saya sering meledekmu. Maaf untuk semua kesalahan saya.

Jika kamu butuh tempat cerita, saya selalu ada. Saya tidak akan mengganti nomor ponsel, kalaupun saya menggantinya, dapat saya pastikan kamu akan mengetahuinya, jadi kamu bisa dengan mudah menghubungi saya jika kamu butuh tempat cerita. Saya tidak meminta kamu membagi setiap ceritamu, saya hanya meminta kamu membagi cerita apa yang kamu ingin bagi. Jika tak ada lagi tempat cerita untukmu, saya tetap disini menanti ceritamu, jadi jangan sungkan untuk bercerita kepada saya suatu hari nanti.

Satu tahun mengenalmu telah membuat kamu mempunyai tempat tersendiri dihati saya, tempat yang akan tetap menjadi tempat kamu, meski kita tak lagi sering bertemu. Tidak akan ada yang mampu menggantikan kamu ditempat itu, itu sudah tempat milikmu. Jika pada suatu saat nanti, akan ada orang baru yang saya kenal dan akhirnya dia saya sebut sebagai teman terbaik, kamu tidak perlu risau, kamu tetap teman terbaik saya. Karena, dia tidak akan mampu sepertimu, jadi kamu akan tetap punya tempat dihidup saya.

Semoga kamu sukses dengan pekerjaanmu dan kuliahmu. Pinter-pinter membagi waktu ya, Fham. Keduanya harus jalan selaras, seimbang, jangan berat disebelah. Langgeng sama Topan, ya. Semoga kamu sehat selalu, dipermudahkan segala urusanmu. Semua doa terbaik untuk kamu, Fham.

Jangan lupa ya sama saya, kalau saya mulai sombong, tolong tegur saya. Mungkin saya tidak akan mengirim chat setiap saat, tapi itu bukan berarti saya tidak lagi ingat denganmu, saya tetap ingat denganmu, tetap menunggu ceritamu. Oiya, kamu pernah bilang, “Lu aja nggak mau cerita ke gue ya gue gak enak kalau cerita terus ke elu”, bukannya nggak mau, tapi saya memang jarang paham harus darimana saya membagi cerita saya. Saya memang lebih baik menyimpannya sendiri atau bercerita pada selembar kertas, karena saya punya alasan tersendiri.  Ini bukan hanya kepadamu, tapi kepada semuanya. Tapi, yang perlu kamu tahu, teman kampus yang tahu banyak cerita tentang saya adalah kamu.

Semoga kita akan tetap berkomunikasi, meski kita sibuk, terhalang oleh jarak. Semoga kita tetap menjadi kita. Di sela-sela kesibukanmu, sediakan sedikit waktumu untuk melepas kepenatan bersama saya, bercerita apa yang ingin saya dan kamu ceritakan. Seperti apapun kita akhirnya, saya tetap Fanny yang kamu kenal.
Saya tetap disini, jika kamu butuh seseorang untuk bercerita.

Jakarta, 2 Juli 2015
Seseorang yang tidak kamu kenal sebelumnya dan menjadi temanmu akhirnya.

Fanny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.