Dia adalah perempuan asing bagi
saya saat itu, bukan orang pertama yang saya kenal saat awal perkuliahan. Saya
selalu bilang sama dia, kalau awal perkuliahan saya tidak menyadari
kehadirannya. Saya –atau orang lain juga—punya kebiasaan membahas bagaimana saya
bisa kenal dengan seseorang, dan saya melakukan itu dengan dia. Kami punya
versi yang berbeda, tapi kami tidak pernah mengambil pusing tentang itu. Yang
saya tahu sekarang, dia adalah teman terbaik yang saya punya. Seseorang yang
sebelumnya tidak saya kenal, tapi bisa menjadi orang yang pantas saya anggap
teman terbaik.
She’s Ifham Choirunnisa. Dia
pernah bilang sama saya, “Mbak, bikinin gue cerpen, kek, tentang gue sama Topan—her
boyfriend”. Ya, walaupun ini bukan cerpen tapi setidaknya saya pernah menuliskan
sesuatu tentang kamu disini. And to you
know, saya menulis karena saya
mencegah lupa dan itu artinya saya tidak ingin lupa dengan kamu. Oiya, kita
sama-sama pernah bertanya, “Mbak, lu mah sama gue, gak pernah make aku-kamu,
tapi sama yang lain bisa”. Dan disini saya menggunakan ‘saya-kamu’ seperti yang
pernah kita debatkan.
Hai,
Fham.
Seperti
yang tadi saya bilang, awalnya saya tidak sadar akan kehadiranmu saat pengisian
KRS ataupun hari-hari awal perkuliahan. Awal kita kenal, saat kita duduk sampingan
pas mata kuliah PKN, tapi versi kamu, awal kita kenal saat mata kuliah SPJD dan
kamu duduk didepan saya. Tapi akhirnya kita sepaham, kita semakin dekat berawal
saat kamu mulai mengirim pesan untuk saya, memberitahu nomormu dan akhirnya
kita tak jarang menghabiskan waktu malam untuk berkomunikasi via handphone.
Kamu
adalah orang baik, orang yang sangat peka dan peduli dengan orang-orang
sekitarmu, orang yang tidak bisa marah, orang yang tak-enak-an. Meski awal-awal
kita jarang ngobrol di kelas, tapi rasanya seperti kita sudah tahu satu sama
yang lain, ya? Kamu tahu bagaimana saya, tanpa saya memberitahu bagaimana saya.
Saya tahu bagaimana kamu, tanpa kamu memberitahu bagaimana kamu. Kurang lebih
kita punya beberapa kesamaan dan akhirnya membuat kita semakin tahu satu sama
yang lain.
Satu
tahun kenal sama kamu, membuat saya seperti beruntung bisa mengenal kamu. Telah
banyak cerita tentang kamu selama satu tahun ini, telah banyak cerita yang saya
ceritakan selama setahun ini. Meski kita jarang pergi bersama, jarang
menghabiskan waktu bersama, tapi bagi saya, ada saat kamu butuh teman cerita
adalah hal yang lebih penting.
Banyak
hal tentang saya yang tidak saya beritahu tapi akhirnya kamu ketahui. Tidak
jarang, kamu tahu saya sedang dalam keadaan tidak baik-baik, meski saya tidak
memberitahumu sebelumnya. Kamu terlalu peka akan orang-orang disekelilingmu.
Jika
ada pertemuan maka akan ada perpisahan. Ini sejatinya bukanlah suatu
perpisahan, hanya saja kita tak bisa lagi bertemu sesering kemarin. Kita tak
bisa lagi berbagi tawa semudah kemarin. Kini, ada jarak yang diantara kita.
Tapi, teknologi sudah canggih, kan? Tidak peduli seberapa jauh jarak yang ada,
komunikasi tetap bisa dilakukan via handphone.
Jika
boleh jujur, saya sempat takut kehilangan seseorang yang sangat peduli dengan
sekitar sepertimu, takut kehilangan seorang teman baik sepertimu, takut
kehilangan seorang yang selalu menyempatkan waktunya untuk peduli denganku,
sempat takut akan terlupakan olehmu dan hanya menjadi seseorang yang pernah
kamu kenal. ((Jika ada yang bilang ini peres,
but you know me so well and you know the
truth, right?))
Oiya,
satu hal lagi, kamu adalah seseorang—yang tanpa kamu ketahui—pemberi semangat
agar saya tetap menulis. Terima kasih!!!
Terima
kasih telah bersedia menjadi seseorang yang bersedia mendengar semua cerita
saya. Terima kasih sudah membuat saya merasa bangga mempunyai teman sepertimu.
Terima kasih untuk segala hal yang mungkin tidak bisa saya ucapkan satu
persatu. Maaf jika saya sering membuat kamu kesal, maaf jika saya bukanlah
teman yang baik, maaf jika saya sering meledekmu. Maaf untuk semua kesalahan
saya.
Jika
kamu butuh tempat cerita, saya selalu ada. Saya tidak akan mengganti nomor
ponsel, kalaupun saya menggantinya, dapat saya pastikan kamu akan mengetahuinya,
jadi kamu bisa dengan mudah menghubungi saya jika kamu butuh tempat cerita.
Saya tidak meminta kamu membagi setiap ceritamu, saya hanya meminta kamu
membagi cerita apa yang kamu ingin bagi. Jika tak ada lagi tempat cerita
untukmu, saya tetap disini menanti ceritamu, jadi jangan sungkan untuk
bercerita kepada saya suatu hari nanti.
Satu
tahun mengenalmu telah membuat kamu mempunyai tempat tersendiri dihati saya,
tempat yang akan tetap menjadi tempat kamu, meski kita tak lagi sering bertemu.
Tidak akan ada yang mampu menggantikan kamu ditempat itu, itu sudah tempat
milikmu. Jika pada suatu saat nanti, akan ada orang baru yang saya kenal dan
akhirnya dia saya sebut sebagai teman terbaik, kamu tidak perlu risau, kamu
tetap teman terbaik saya. Karena, dia tidak akan mampu sepertimu, jadi kamu
akan tetap punya tempat dihidup saya.
Semoga
kamu sukses dengan pekerjaanmu dan kuliahmu. Pinter-pinter membagi waktu ya,
Fham. Keduanya harus jalan selaras, seimbang, jangan berat disebelah. Langgeng
sama Topan, ya. Semoga kamu sehat selalu, dipermudahkan segala urusanmu. Semua
doa terbaik untuk kamu, Fham.
Jangan
lupa ya sama saya, kalau saya mulai sombong, tolong tegur saya. Mungkin saya
tidak akan mengirim chat setiap saat, tapi itu bukan berarti saya tidak lagi
ingat denganmu, saya tetap ingat denganmu, tetap menunggu ceritamu. Oiya, kamu
pernah bilang, “Lu aja nggak mau cerita
ke gue ya gue gak enak kalau cerita terus ke elu”, bukannya nggak mau, tapi
saya memang jarang paham harus darimana saya membagi cerita saya. Saya memang
lebih baik menyimpannya sendiri atau bercerita pada selembar kertas, karena
saya punya alasan tersendiri. Ini bukan
hanya kepadamu, tapi kepada semuanya. Tapi, yang perlu kamu tahu, teman kampus yang
tahu banyak cerita tentang saya adalah kamu.
Semoga
kita akan tetap berkomunikasi, meski kita sibuk, terhalang oleh jarak. Semoga
kita tetap menjadi kita. Di sela-sela kesibukanmu, sediakan sedikit waktumu
untuk melepas kepenatan bersama saya, bercerita apa yang ingin saya dan kamu
ceritakan. Seperti apapun kita akhirnya, saya tetap Fanny yang kamu kenal.
Saya
tetap disini, jika kamu butuh seseorang untuk bercerita.
Jakarta,
2 Juli 2015
Seseorang
yang tidak kamu kenal sebelumnya dan menjadi temanmu akhirnya.
Fanny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.