Kamis, 19 November 2015

Pesan dari Sahabatku

Hai.

Kita sebelumnya tidak pernah kenal, bahkan rasanya sampai saat ini aku dan kalian tidak saling mengenal. Tapi, perkenalkan, aku adalah sahabat dari sahabat—atau mungkin lebih tepatnya teman—kalian. Tidak usah terlalu banyak bertanya, mengapa aku menuliskan surat ini untuk kalian. Seperti yang kita tahu, kita tak saling mengenal, jadi rasanya aneh jika aku tiba-tiba menuliskan ini. Tapi, tak perlu kalian bingung, ini bukan dariku, bukan tentangku, melainkan tentang sahabatku, tentang cerita yang ia simpan dibalik tawanya. 

Dia memang seperti itu, didepan orang banyak, tawa selalu terdengar. Didepan banyak orang, ia mengumpamakan dirinya adalah seseorang tanpa masalah. Dia tak senang membagi ceritanya dengan siapapun, kecuali aku. Dia lebih senang membiarkan malamnya diiringi dengan sebuah airmata, membiarkan dadanya menjadi sesak.

Selamat malam untuk kalian.

Terima kasih sudah mau mengenal sahabatku. Terima kasih sudah menjadikan sahabatku teman kalian. Aku sempat berfikir, kalian akan menjadi sahabat, namun semakin kesini, aku semakin tak yakin dengan itu. mungkin kalian bersahabat, namun jika dengan sahabatku rasanya kalian hanya berteman. Apa sahabat namanya jika saling tak peduli?

Aku tidak tahu percis apa salah sahabatku hingga akhirnya sikap kalian berubah. Atau mungkin memang ini kalian yang sesungguhnnya dan sahabatku yang belum mengenal kalian sebenarnya. Ah, aku tidak terlalu tahu, bahkan aku tidak tahu apapun, yang aku lihat adalah sahabatku tak lagi seperti ada diantara kalian.

Beberapa kali aku melihat, kalian sibuk bercerita tanpa menghiraukan kehadiran sahabatku. Sahabatku selalu ada disamping kalian dan tak sekalipun kalian menganggapnya ada. Sahabatku kalian biarkan sendiri, sibuk dengan dunianya. Kalian sibuk pergi tanpa lagi mengajak sahabatku. Bercerita kemana kalian menghabiskan waktu bersama dan sahabatku seperti tak ada.

Teruntuk kalian, teman sahabatku.

Jika sahabatku memang punya salah dengan kalian, bukankah bisa untuk dibicarakan baik-baik? Aku pernah tahu, kalian pernah melakukan seperti ini dengan temannya sahabatku, saat itu sahabatku berusaha untuk tetap menahannya, namun, kalian terlalu kuat untuk mengajak sahabatku menjauh dan akhirnya teman kalian itu pun menjauh. Lalu, saat ini kalian melakukan hal yang sama? Kalian sedang berusaha untuk menjauhi sahabatku?

Jika kalian melakukan ini karena memang ingin mengisyaratkan sahabatku untuk menjauh, sahabatku perlahan akan menjauh. Namun, jangan bertanya mengapa sahabatku mulai menjauh? Tanyakan pada diri kalian, apa yang sudah kalian lakukan hingga sahabatku menjauh.

Teman dari sahabatku.

Percayalah tak ada yang ingin dianggap tak ada. Percayalah, tak ada yang senang jika harus berdiam diri kala kalian sibuk bercerita, ingin ikut bercerita namun tak mengerti apa yang sedang diceritakan, ingin berdiam diri namun tetap mendengar apa yang kalian ceritakan.

Pesanku untuk kalian,

Berusahalah untuk menghargai keberadaan seseorang, maka keberadaan kalian akan jua dihargai.

Jangan membiarkan seseorang merasa sepi kala kalian ramai.

Jangan membiarkan seseorang merasa sendiri kala ia sedang bersama kalian.

Rasanya, aku sudah terlalu banyak omong. Maafkan aku karena lancang menuliskan ini untuk kalian. Semoga kalian membacanya. Maafkan sahabatku yang menyebalkan.

Terima kasih sudah mau menjadi teman dari sahabatku. Semoga kalian mendapatkan teman yang lebih baik dari sahabatku, lebih mampu menyimbangi kalian. Sekali lagi, maaf untuk kesalahan sahabatku yang ia tak sadari, sikap menyebalkan dari sahabatku. Dia memang menyebalkan.

Jakarta, 18 November 2015


Sahabat dari temanmu.

Rahasia Pingkan



Mencintai seseorang adalah sebuah pilihan, pilihan untuk mengizinkan atau tidak ia masuk ke dalam relung hati, pilihan untuk tetap bertahan atau mulai mundur, karena alasan yang perlahan mulai hadir. Mencintai seseorang berarti kita sudah mengambil keputusan tentang seperangkat hal yang mengikutinya, tentang mengungkapkan atau tentang memendam, tentang mengagumi atau mencinta, tentang meminta atau memberi. Mencintai seseorang adalah sebuah hal yang tak bersangkutan dengan ketulusan, bukan pamrih. Mencintai yang sesungguhnya adalah memberi tanpa meminta, mungkin paham seperti yang Pingkan selalu anut.

Ini sudah tahun ketiga, sejak hatinya sudah mulai membuka pintunya untuk ditempati seorang pria yang ia kenal beberapa tahun sebelumnya. Dan seperti yang ia pahami diatas, ia hanya bertugas memberi sebuah cinta untuk pangerannya, tak pernah—atau tak berani—meminta cinta untuknya. Yang ia tahu, kebahagian pria itu selalu berada dinomor satu, dan dengan cara itu, tentunya saja ia akan bahagia. Semoga.

Selasa, 10 November 2015

Untukmu, Pendatang baru



Selamat malam, 

Terima kasih sudah datang dan menganggu fikiranku, membuatku susah untuk terpejam. Fikiranku melayang-layang sesuka hatinya seirama dengan bayangmu yang tak hilang. Terima kasih sudah mendatangkan perasaan yang pernah aku cegah. Terima kasih sudah membuatku agar menuliskan ini untukmu.