Hai.
Kita sebelumnya tidak pernah
kenal, bahkan rasanya sampai saat ini aku dan kalian tidak saling mengenal.
Tapi, perkenalkan, aku adalah sahabat dari sahabat—atau mungkin lebih tepatnya
teman—kalian. Tidak usah terlalu banyak bertanya, mengapa aku menuliskan surat
ini untuk kalian. Seperti yang kita tahu, kita tak saling mengenal, jadi
rasanya aneh jika aku tiba-tiba menuliskan ini. Tapi, tak perlu kalian bingung,
ini bukan dariku, bukan tentangku, melainkan tentang sahabatku, tentang cerita
yang ia simpan dibalik tawanya.
Dia memang seperti itu, didepan
orang banyak, tawa selalu terdengar. Didepan banyak orang, ia mengumpamakan
dirinya adalah seseorang tanpa masalah. Dia tak senang membagi ceritanya dengan
siapapun, kecuali aku. Dia lebih senang membiarkan malamnya diiringi dengan
sebuah airmata, membiarkan dadanya menjadi sesak.
Selamat malam untuk kalian.
Terima kasih sudah mau mengenal
sahabatku. Terima kasih sudah menjadikan sahabatku teman kalian. Aku sempat
berfikir, kalian akan menjadi sahabat, namun semakin kesini, aku semakin tak
yakin dengan itu. mungkin kalian bersahabat, namun jika dengan sahabatku
rasanya kalian hanya berteman. Apa sahabat namanya jika saling tak peduli?
Aku tidak tahu percis apa salah
sahabatku hingga akhirnya sikap kalian berubah. Atau mungkin memang ini kalian
yang sesungguhnnya dan sahabatku yang belum mengenal kalian sebenarnya. Ah, aku
tidak terlalu tahu, bahkan aku tidak tahu apapun, yang aku lihat adalah
sahabatku tak lagi seperti ada diantara kalian.
Beberapa kali aku melihat, kalian
sibuk bercerita tanpa menghiraukan kehadiran sahabatku. Sahabatku selalu ada
disamping kalian dan tak sekalipun kalian menganggapnya ada. Sahabatku kalian
biarkan sendiri, sibuk dengan dunianya. Kalian sibuk pergi tanpa lagi mengajak
sahabatku. Bercerita kemana kalian menghabiskan waktu bersama dan sahabatku
seperti tak ada.
Teruntuk kalian, teman sahabatku.
Jika sahabatku memang punya salah
dengan kalian, bukankah bisa untuk dibicarakan baik-baik? Aku pernah tahu,
kalian pernah melakukan seperti ini dengan temannya sahabatku, saat itu
sahabatku berusaha untuk tetap menahannya, namun, kalian terlalu kuat untuk
mengajak sahabatku menjauh dan akhirnya teman kalian itu pun menjauh. Lalu,
saat ini kalian melakukan hal yang sama? Kalian sedang berusaha untuk menjauhi
sahabatku?
Jika kalian melakukan ini karena
memang ingin mengisyaratkan sahabatku untuk menjauh, sahabatku perlahan akan
menjauh. Namun, jangan bertanya mengapa sahabatku mulai menjauh? Tanyakan pada
diri kalian, apa yang sudah kalian lakukan hingga sahabatku menjauh.
Teman dari sahabatku.
Percayalah tak ada yang ingin
dianggap tak ada. Percayalah, tak ada yang senang jika harus berdiam diri kala
kalian sibuk bercerita, ingin ikut bercerita namun tak mengerti apa yang sedang
diceritakan, ingin berdiam diri namun tetap mendengar apa yang kalian
ceritakan.
Pesanku untuk kalian,
Berusahalah untuk menghargai
keberadaan seseorang, maka keberadaan kalian akan jua dihargai.
Jangan membiarkan seseorang
merasa sepi kala kalian ramai.
Jangan membiarkan seseorang
merasa sendiri kala ia sedang bersama kalian.
Rasanya, aku sudah terlalu banyak
omong. Maafkan aku karena lancang menuliskan ini untuk kalian. Semoga kalian
membacanya. Maafkan sahabatku yang menyebalkan.
Terima kasih sudah mau menjadi
teman dari sahabatku. Semoga kalian mendapatkan teman yang lebih baik dari sahabatku, lebih mampu menyimbangi kalian. Sekali lagi, maaf untuk kesalahan sahabatku yang ia tak sadari, sikap menyebalkan dari sahabatku. Dia memang menyebalkan.
Jakarta, 18 November 2015
Sahabat dari temanmu.