Selamat malam,
Terima kasih sudah datang dan
menganggu fikiranku, membuatku susah untuk terpejam. Fikiranku melayang-layang
sesuka hatinya seirama dengan bayangmu yang tak hilang. Terima kasih sudah
mendatangkan perasaan yang pernah aku cegah. Terima kasih sudah membuatku agar
menuliskan ini untukmu.
Aku pernah berusaha untuk tak
menghadirkannya lagi, kisah yang sebelumnya, cukup membuatku tak ingin
mengulang kesalahan yang sama. Aku pernah berusaha untuk menampik segala
perasaan disetiap malamku, bukan hanya tentangmu, namun tentang yang lain,
tentang yang pernah datang meski tak benar-benar ingin singgah, tentang sebuah
tatapan yang tak pernah aku tahu maksudnya. Aku pernah berusaha untuk terlelap
dengan cepat, agar semua bayang tentang kalian tak membuat malamku kacau. Aku
pernah berusaha menyibukkan hariku, agar fikiranku melupakanmu, dia dan yang
lain. Aku pernah berfikir, aku berhasil melakukannya, hingga aku tersadar akan
kehadiranmu yang berbeda.
Sejak kau datang, kau telah
menarik perhatianku berlebihan. Kau mempunyai beberapa persamaan dengan
seseorang dimasa yang lama. Persamaan yang awalnya membuatku takut untuk
berdekatan denganmu. Aku terlalu takut untuk perasaan yang belum hilang
sepenuhnya, kembali datang. Yang aku takuti bukan untuk jatuh cinta kepadamu,
hanya saja aku takut jatuh cinta kepadamu karena sosok yang lain yang hampir
sama denganmu. Aku memang mencegah diriku untuk menaruh hati padamu, mencegah
kau memasuki ruang hati yang hampir kosong.
Semuanya hampir berhasil, kalau
saja aku tak lengah. Senyummu yang memang kusuka, benar-benar telah mengambil
seluruh perhatianku. Caramu yang santun membuatku ingin selalu diperlakukan
special olehmu. Aku hampir berhasil, kalau saja mata ini tak menatap matamu
yang indah. Aku hampir berhasil, kalau saja…… kalau saja kau tak memulainya.
Permainanmu. Bukan. Itu bukan
permaianan. Entah seperti apa kau akan menyebutnya, yang pasti aku terjebak
kedalam permainanmu.
Dan beberapa hari ini, aku mulai
sibuk memikirkanmu. Perasaan yang pernah hilang, kini datang kembali. Aku tidak
tahu ini semacam apa, suka, kagum ataukah cinta. Namun, yang aku tahu, kau
telah menempati sisi ruang hati yang hampa.
Untukmu,
Aku pernah berusaha untuk tak
mempunyai perasaan semacam ini dan akhirnya aku harus mengakui kegagalanku. Aku
pernah berusaha untuk tak suka dengan senyummu dan aku gagal. Aku pernah
berusaha untuk tak senang jika harus menatap matamu dan aku tak berhasil untuk
itu. Aku jua pernah berusaha untuk tak senang saat kita bersama dan lagi-lagi
aku kalah untuk itu. Kau berhasil mengubah semuanya. Entah benteng yang ku buat
terlalu mudah untuk kau hancurkan atau memang kau yang terlalu lihai untuk
menerobosnya?
Aku pernah berusaha untuk tak
menyukaimu karena sosoknya dan aku akan terus berusaha untuk ini. Aku menyukaimu
sebagaimana kamu, semanis senyummu, seindah tatapanmu dan semenarik wajahmu.
Terima kasih sudah menghadirkan
perasaan yang pernah aku cegah untuk hadir.
Untukmu, yang sedang berusaha
menggapai wanita impianmu.
Tak perlu risau, aku tak akan
mengganggumu. Aku tak akan menghalangi keinginanmu. Meski seharusnya kau tahu
ada hati yang tak menentu saat kau berulang kali menyebut namanya, namun aku
tak apa. Aku bisa pastikan aku baik-baik saja dengan hati yang tak baik. Aku
akan baik-baik saja sekalipun cinta yang kau punya bukan untukmu.
Untukmu, yang kunanti.
Harus kau tahu ada rasa bahagia
yang tak terlihat kasat mata saat kita berbincang berdua cukup lama, saat kau
mulai menggodaku. Pernahkah kau sadar, tawa yang ada saat bersamamu tak sama
dengan tawa untuk yang lain? Ah. Rasanya siapa yang menyadari itu.
Dan yang harus kau tahu, disini
ada seseorang yang mencintaimu meskipun kau tak sadari.
Jakarta, 9 Oktober 2015
Fanny.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.