Selasa, 10 November 2015

Untukmu, Pendatang baru



Selamat malam, 

Terima kasih sudah datang dan menganggu fikiranku, membuatku susah untuk terpejam. Fikiranku melayang-layang sesuka hatinya seirama dengan bayangmu yang tak hilang. Terima kasih sudah mendatangkan perasaan yang pernah aku cegah. Terima kasih sudah membuatku agar menuliskan ini untukmu.


Aku pernah berusaha untuk tak menghadirkannya lagi, kisah yang sebelumnya, cukup membuatku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku pernah berusaha untuk menampik segala perasaan disetiap malamku, bukan hanya tentangmu, namun tentang yang lain, tentang yang pernah datang meski tak benar-benar ingin singgah, tentang sebuah tatapan yang tak pernah aku tahu maksudnya. Aku pernah berusaha untuk terlelap dengan cepat, agar semua bayang tentang kalian tak membuat malamku kacau. Aku pernah berusaha menyibukkan hariku, agar fikiranku melupakanmu, dia dan yang lain. Aku pernah berfikir, aku berhasil melakukannya, hingga aku tersadar akan kehadiranmu yang berbeda.

Sejak kau datang, kau telah menarik perhatianku berlebihan. Kau mempunyai beberapa persamaan dengan seseorang dimasa yang lama. Persamaan yang awalnya membuatku takut untuk berdekatan denganmu. Aku terlalu takut untuk perasaan yang belum hilang sepenuhnya, kembali datang. Yang aku takuti bukan untuk jatuh cinta kepadamu, hanya saja aku takut jatuh cinta kepadamu karena sosok yang lain yang hampir sama denganmu. Aku memang mencegah diriku untuk menaruh hati padamu, mencegah kau memasuki ruang hati yang hampir kosong.

Semuanya hampir berhasil, kalau saja aku tak lengah. Senyummu yang memang kusuka, benar-benar telah mengambil seluruh perhatianku. Caramu yang santun membuatku ingin selalu diperlakukan special olehmu. Aku hampir berhasil, kalau saja mata ini tak menatap matamu yang indah. Aku hampir berhasil, kalau saja…… kalau saja kau tak memulainya.
Permainanmu. Bukan. Itu bukan permaianan. Entah seperti apa kau akan menyebutnya, yang pasti aku terjebak kedalam permainanmu.

Dan beberapa hari ini, aku mulai sibuk memikirkanmu. Perasaan yang pernah hilang, kini datang kembali. Aku tidak tahu ini semacam apa, suka, kagum ataukah cinta. Namun, yang aku tahu, kau telah menempati sisi ruang hati yang hampa.

Untukmu,

Aku pernah berusaha untuk tak mempunyai perasaan semacam ini dan akhirnya aku harus mengakui kegagalanku. Aku pernah berusaha untuk tak suka dengan senyummu dan aku gagal. Aku pernah berusaha untuk tak senang jika harus menatap matamu dan aku tak berhasil untuk itu. Aku jua pernah berusaha untuk tak senang saat kita bersama dan lagi-lagi aku kalah untuk itu. Kau berhasil mengubah semuanya. Entah benteng yang ku buat terlalu mudah untuk kau hancurkan atau memang kau yang terlalu lihai untuk menerobosnya?

Aku pernah berusaha untuk tak menyukaimu karena sosoknya dan aku akan terus berusaha untuk ini. Aku menyukaimu sebagaimana kamu, semanis senyummu, seindah tatapanmu dan semenarik wajahmu.

Terima kasih sudah menghadirkan perasaan yang pernah aku cegah untuk hadir.

Untukmu, yang sedang berusaha menggapai wanita impianmu.

Tak perlu risau, aku tak akan mengganggumu. Aku tak akan menghalangi keinginanmu. Meski seharusnya kau tahu ada hati yang tak menentu saat kau berulang kali menyebut namanya, namun aku tak apa. Aku bisa pastikan aku baik-baik saja dengan hati yang tak baik. Aku akan baik-baik saja sekalipun cinta yang kau punya bukan untukmu.

Untukmu, yang kunanti.

Harus kau tahu ada rasa bahagia yang tak terlihat kasat mata saat kita berbincang berdua cukup lama, saat kau mulai menggodaku. Pernahkah kau sadar, tawa yang ada saat bersamamu tak sama dengan tawa untuk yang lain? Ah. Rasanya siapa yang menyadari itu.
Dan yang harus kau tahu, disini ada seseorang yang mencintaimu meskipun kau tak sadari.


Jakarta, 9 Oktober 2015


Fanny.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.