Mencintai seseorang adalah sebuah
pilihan, pilihan untuk mengizinkan atau tidak ia masuk ke dalam relung hati,
pilihan untuk tetap bertahan atau mulai mundur, karena alasan yang perlahan
mulai hadir. Mencintai seseorang berarti kita sudah mengambil keputusan tentang
seperangkat hal yang mengikutinya, tentang mengungkapkan atau tentang memendam,
tentang mengagumi atau mencinta, tentang meminta atau memberi. Mencintai
seseorang adalah sebuah hal yang tak bersangkutan dengan ketulusan, bukan
pamrih. Mencintai yang sesungguhnya adalah memberi tanpa meminta, mungkin paham
seperti yang Pingkan selalu anut.
Ini sudah tahun ketiga, sejak
hatinya sudah mulai membuka pintunya untuk ditempati seorang pria yang ia kenal
beberapa tahun sebelumnya. Dan seperti yang ia pahami diatas, ia hanya bertugas
memberi sebuah cinta untuk pangerannya, tak pernah—atau tak berani—meminta
cinta untuknya. Yang ia tahu, kebahagian pria itu selalu berada dinomor satu,
dan dengan cara itu, tentunya saja ia akan bahagia. Semoga.
“Kalau memang cinta, ungkapkan.
Jangan hanya memperhatikannya dari jauh.” Celetuk Dini sekenanya. Berulang
kali, ia menyarankan sahabatnya itu untuk memberitahu isi hatinya, namun
berulang kali jua, ia menemukan penolakan untuk sarannya. “Aku tidak pernah
tahu, atau bahkan tak pernah membayangkan rasanya mencinta tanpa dicinta. Tapi,
kok kamu kuat, Kan.” Katanya lagi.
Pingkan tak memperdulikan ocehan
sahabatnya itu, ia lebih senang tetap mencuri pandang kepada Bimo. Ia tahu
betul, kemana arah ucapan Dini jika ia menimpalinya. Dini akan memanggil Bimo
dan membiarkan Pingkan menjadi mati kutu.
“Kamu bukan orang asing lagi
untuk Bimo. Kalau kamu bicara bagaimana perasaan kamu kepada Bimo, mungkin Bimo
akan menerimanya.”
“Kalau semua yang terjadi tidak
seperti kemungkinan yang kamu bayangkan?”
“Setidaknya kamu sudah jujur.
Dengan dirimu, dengan Bimo.” Kali ini, Dini sudah mulai jengah dengan sikap
Pingkan yang bersembunyi dibalik label persahabatan milik mereka bertiga,
menyembunyikan perasaan yang semakin hari semakin tak terjelaskan menyerupai
apa. “Dan jujur dengan hatimu.” Sambungnya.
Pingkan tak menjawab Dini. Untuk
kalimat yang seperti ini, ia selalu kalah telak. Ia sadar, ia tak adil dengan
hatinya, membiarkan hatinya menyimpan cinta tanpa tahu timbal baliknya. Ia tak
jujur karena membiarkan cinta tumbuh sendiri dalam hatinya. Dan untuk itu, ia
memilih meninggalkan Dini yang masih sibuk dengan lembar-lembar laporan yang
menyiksanya untuk lembur malam ini. Dini hanya mencibir dengan
ketidakpahamannya terhadap sikap sahabatnya itu.
Bimo bukanlah orang asing Pingkan.
Mereka saling mengenal sejak lima tahun
yang lalu, sejak mereka masih menggunakan seragam putih-biru, sejak smartphoneI belum sebanyak saat ini,
sejak kata baper belum sering
diucapkan. Dan setelah dua tahun pertemanan mereka, pertemanan menjadi lebih
dari sebuah pertemanan, mereka saling melengkapi, Bimo selalu ada untuk
Pingkan, mereka tidak hanya tertawa bersama namun juga pernah menangis, Bimo
menangisi perempuan—yang ia cintai lebih memilih lelaki lain—lain dan Pingkan menangisi Bimo yang tak pernah
sadar dengan cinta yang ia pendam.
Tiga tahun cinta tumbuh perlahan
dalam hatinya, semakin kuat, semakin tak meminta, semakin dewasa dan semakin
terpendam. Pingkan tidak pernah tahu bagaimana cara yang pantas untuk
memberitahu perasaannya, tidak pernah tahu mengapa ia lebih memilih memendam
cintanya untuk Bimo kala banyak pria yang menantikan cintanya. Pingkan tidak
pernah sadar cinta perlahan namun pasti ia menyakitinya hatinya sendiri. Jika
ditanya sudah seperti apa cinta yang ada untuk Bimo? Seperti tak ada lagi yang meminta untuk diungkapkan, ia terasa lebih
dewasa, kebahagiannya menjadi sebagian kebahagian dari kesakitan hatiku. Kini,
aku tak lagi ingin memilikinya atau mungkin aku masih memilikinya, hanya saja
aku terlalu sadar diri, bagaimana bisa aku memilikinya saat aku selalu bungkam?,
ucapnya ragu.
“Sedang melamuni apa, Neng?”
Pingkan masih tenggelam dalam
lamunannya, tak menghiraukan atau bahkan tak mendengar pertanyaan Bimo yang
penuh semangat. Bimo melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Pingkan, namun
hasilnya nihil.
“Pingkann” Teriaknya penuh
semangat tepat didepan telinga Pingkan.
“Eee...” Pingkan refleks ingin memukul Bimo, namun ia
batalkan setelah seperkian detik ia mulai tersadar dengan gerakannya. “Untuk
belum jadi aku pukul, kalau aku refleks bagaimana?”
Bimo tertawa geli melihat tingkah
lucu Pingkan yang sedang mengambek seperti ini. “Memangnya sedang sibuk
melamuni apa sih, Neng?” Tanyanya sekali lagi.
“Bukan apa-apa.” Jawabnya seraya
menundukkan kepala kearah buku—yang sebenarnya tak ia baca. Tidak mungkin aku bilang aku sedang
memikirkannya.
“Pacarmu ya?” Ledek Bimo membuat
Pingkan salah tingkah. “Ayolah Kan, kita sudah bersahabat sejak lima tahun yang
lalu, masa sampai sekarang aku tak diberitahu siapa pacarmu.” Gerutunya.
Pingkan hanya sibuk memperhatikan
tulisan yang tersusun rapi dalam bukunya. Ia benar-benar tak ingin menjawab
ucapan Bimo.
“Dini tahu soal siapa pacarmu?”
Bimo masih menanyakan hal yang sama.
“Kamu kesini ada keperluan apa?” Tanyanya
mengalihkan arah pembicaraan Bimo.
“Jawab dulu pertanyaanku!”
“Kalau aku tidak mau menjawab,
kau akan apa?”
Bimo menatap tegas mata Pingkan
dan membuatnya tak berkutik, membuat hatinya berdetak semakin cepat. “Kita tak
usah bertemu saja jika kamu tidak mau memberitahu semuanya.” Katanya cepat. “Lima
tahun kita bersahabat, hanya aku yang selalu bercerita denganmu. Aku seperti
tidak ada gunanya, tak pernah tahu saat kau berada dalam keadaan tak baik, tak
pernah ada saat kau ingin bercerita.”
Bukannya merasa takut, Pingkan
malah tertawa “Ancaman macam ini lagi?”
“Aku serius sekarang.” Katanya
tak menghiraukan tawa Pingkan yang semakin terdengar mengejeknya. “Masih tidak
ingin bercerita?”
Masih dengan tawanya, Pingkan
menggelengkan kepala.
Bimo yang semakin naik pitam,
lebih memilih meninggalkan Pingkan yang tak menghentikan tawanya.
***
Sudah hampir setengah bulan, Bimo
mendiamkan Pingkan. Ancaman yang selama ini Pingkan anggap hanya sebuah gurauan
ternyata benar Bimo lakukan. Sejak perbincangan terakhir mereka, Bimo tak lagi
menyapa Pingkan, tak mengantarkannya ke tempat les, tak mengirimkannya pesan
singkat dan segala hal yang biasanya Bimo lakukan untuk pingkan.
Tawa yang terdengar saat mengejek
Bimo, kini tak lagi terdengar. Ocehan yang sering ia ucapkan kini lebih dipilih
untuk ia pendam. Banyak hal yang berubah sejak Bimo menjauh darinya, bahkan
sangat banyak saat ia sadar, ia tak lagi bisa memperhatikan Bimo secara
diam-diam. Bimo benar-benar menjauhinya, untuk melihatnya pun seakan tak
diizinkan lagi.
Semuanya tidak separah ini, jika
Pingkan tidak seegois ini, membiarkan dirinya menang dengan gengsi untuk
menyapa, membiarkan dirinya seakan-akan tak apa-apa saat tak ada suara yang
perlahan semakin menciptakan rindu. Semuanya akan baik-baik saja, jika Pingkan
ingin menceritakan segalanya, membuka rahasia yang selama ini ia pendam. Apa untungnya jika aku memberitahunya? Apa
ia akan langsung peduli? Rasanya tidak. Sanggahnya dalam hati, membenarkan
semua sikapnya tanpa memperhatikan hatinya yang kian tersiksa.
“Andai semuanya bisa terucap
dengan mudah, aku akan mengucapkannya. Andai lidah tidak menjadi kelu saat
berhadapan denganmu, sudah berulang aku beritahumu. Andai aku punya keberanian
yang lebih besar dari hari ini, aku tak akan memendam ini selama tiga tahun.”
Pingkan mulai berkata, tatapannya memandang lurus, namun kosong. Sesekali
bayangan Bimo datang dan menciptakan butir-butir airmata diujung matanya.
“Kau harus tahu, jika aku
tersiksa dengan perasaan ini. Ingin ku genggam tanpa ku lepas, namun nyatanya,
aku meraihnya pun tak sanggup. Kau tak terlalu jauh, bahkan sangat dekat, namun
aku yang bodoh. Aku bodoh.” Perlahan ucapannya semakin lirih, airmata yang
sedari tadi ia tahan kini sudah mengalir dengan bebas, membasahi pipinya secara
terus. “Aku yang bodoh karena membuatmu menjauhiku. Aku yang bodoh karena tak
memberitahumu. Aku yang bodoh. Aku yang salah”
“Ingin tetap bersamamu, merangkai
kekonyolan kita. Menciptakan tawa bersama saat aku membutuhkannya. Ingin tetap
disisimu, saat aku tak lagi kuat menyimpan semuanya. Aku ingin bersamamu,
ingin. Jika bisa, tak kuizinkan seorang gadis pun mendekatimu, menikmati
senyumanmu yang semakin lama membuatku semakin rindu denganmu. Jika bisa akan
kulakukan, namun? Aku terlalu tak punya nyali untuk itu.”
Pingkan setengah tertawa didalam
tangisnya, “Siapa aku? Siapa aku sampai berani-beraninya melarang itu semua?
Siapa aku sampai berani untuk mencintaimu selama ini?”
“Aku rindu.” Lirihnya. “Rindu
berbagi tawa denganmu, rindu mendengar sejuta cerita yang kau miliki, aku rindu
mendengar suaramu. Aku rindu, rindu dengan senyummu, rindu dengan segala hal
yang ada di dirimu.” Pingkan semakin terpuruk, ia tak lagi bisa mengendalikan
airmatanya, hatinya yang semakin terasa perih.
“Andai kau mendengar semua ini,
Bim. Maafkan aku yang lancang mencintaimu, maafkan aku yang bodoh, maafkan aku
yang egois.” Perlahan ia mulai mengatur nafasnya yang semakin tak beraturan,
mengendalikan airmata yang sedari tak henti mengalir. Ia mengendalikan emosinya
yang sudah lama terpendam.
“Aku sudah mendengar semuanya,
Kan….”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.