Kamis, 19 November 2015

Rahasia Pingkan



Mencintai seseorang adalah sebuah pilihan, pilihan untuk mengizinkan atau tidak ia masuk ke dalam relung hati, pilihan untuk tetap bertahan atau mulai mundur, karena alasan yang perlahan mulai hadir. Mencintai seseorang berarti kita sudah mengambil keputusan tentang seperangkat hal yang mengikutinya, tentang mengungkapkan atau tentang memendam, tentang mengagumi atau mencinta, tentang meminta atau memberi. Mencintai seseorang adalah sebuah hal yang tak bersangkutan dengan ketulusan, bukan pamrih. Mencintai yang sesungguhnya adalah memberi tanpa meminta, mungkin paham seperti yang Pingkan selalu anut.

Ini sudah tahun ketiga, sejak hatinya sudah mulai membuka pintunya untuk ditempati seorang pria yang ia kenal beberapa tahun sebelumnya. Dan seperti yang ia pahami diatas, ia hanya bertugas memberi sebuah cinta untuk pangerannya, tak pernah—atau tak berani—meminta cinta untuknya. Yang ia tahu, kebahagian pria itu selalu berada dinomor satu, dan dengan cara itu, tentunya saja ia akan bahagia. Semoga.

“Kalau memang cinta, ungkapkan. Jangan hanya memperhatikannya dari jauh.” Celetuk Dini sekenanya. Berulang kali, ia menyarankan sahabatnya itu untuk memberitahu isi hatinya, namun berulang kali jua, ia menemukan penolakan untuk sarannya. “Aku tidak pernah tahu, atau bahkan tak pernah membayangkan rasanya mencinta tanpa dicinta. Tapi, kok kamu kuat, Kan.” Katanya lagi.

Pingkan tak memperdulikan ocehan sahabatnya itu, ia lebih senang tetap mencuri pandang kepada Bimo. Ia tahu betul, kemana arah ucapan Dini jika ia menimpalinya. Dini akan memanggil Bimo dan membiarkan Pingkan menjadi mati kutu.

“Kamu bukan orang asing lagi untuk Bimo. Kalau kamu bicara bagaimana perasaan kamu kepada Bimo, mungkin Bimo akan menerimanya.”

“Kalau semua yang terjadi tidak seperti kemungkinan yang kamu bayangkan?”

“Setidaknya kamu sudah jujur. Dengan dirimu, dengan Bimo.” Kali ini, Dini sudah mulai jengah dengan sikap Pingkan yang bersembunyi dibalik label persahabatan milik mereka bertiga, menyembunyikan perasaan yang semakin hari semakin tak terjelaskan menyerupai apa. “Dan jujur dengan hatimu.” Sambungnya.

Pingkan tak menjawab Dini. Untuk kalimat yang seperti ini, ia selalu kalah telak. Ia sadar, ia tak adil dengan hatinya, membiarkan hatinya menyimpan cinta tanpa tahu timbal baliknya. Ia tak jujur karena membiarkan cinta tumbuh sendiri dalam hatinya. Dan untuk itu, ia memilih meninggalkan Dini yang masih sibuk dengan lembar-lembar laporan yang menyiksanya untuk lembur malam ini. Dini hanya mencibir dengan ketidakpahamannya terhadap sikap sahabatnya itu.

Bimo bukanlah orang asing Pingkan. Mereka saling mengenal sejak lima tahun  yang lalu, sejak mereka masih menggunakan seragam putih-biru, sejak smartphoneI belum sebanyak saat ini, sejak kata baper belum sering diucapkan. Dan setelah dua tahun pertemanan mereka, pertemanan menjadi lebih dari sebuah pertemanan, mereka saling melengkapi, Bimo selalu ada untuk Pingkan, mereka tidak hanya tertawa bersama namun juga pernah menangis, Bimo menangisi perempuan—yang ia cintai lebih memilih lelaki lain—lain  dan Pingkan menangisi Bimo yang tak pernah sadar dengan cinta yang ia pendam.

Tiga tahun cinta tumbuh perlahan dalam hatinya, semakin kuat, semakin tak meminta, semakin dewasa dan semakin terpendam. Pingkan tidak pernah tahu bagaimana cara yang pantas untuk memberitahu perasaannya, tidak pernah tahu mengapa ia lebih memilih memendam cintanya untuk Bimo kala banyak pria yang menantikan cintanya. Pingkan tidak pernah sadar cinta perlahan namun pasti ia menyakitinya hatinya sendiri. Jika ditanya sudah seperti apa cinta yang ada untuk Bimo? Seperti tak ada lagi yang meminta untuk diungkapkan, ia terasa lebih dewasa, kebahagiannya menjadi sebagian kebahagian dari kesakitan hatiku. Kini, aku tak lagi ingin memilikinya atau mungkin aku masih memilikinya, hanya saja aku terlalu sadar diri, bagaimana bisa aku memilikinya saat aku selalu bungkam?, ucapnya ragu.

“Sedang melamuni apa, Neng?”

Pingkan masih tenggelam dalam lamunannya, tak menghiraukan atau bahkan tak mendengar pertanyaan Bimo yang penuh semangat. Bimo melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Pingkan, namun hasilnya nihil.

“Pingkann” Teriaknya penuh semangat tepat didepan telinga Pingkan.

“Eee...” Pingkan refleks ingin memukul Bimo, namun ia batalkan setelah seperkian detik ia mulai tersadar dengan gerakannya. “Untuk belum jadi aku pukul, kalau aku refleks bagaimana?”

Bimo tertawa geli melihat tingkah lucu Pingkan yang sedang mengambek seperti ini. “Memangnya sedang sibuk melamuni apa sih, Neng?” Tanyanya sekali lagi.

“Bukan apa-apa.” Jawabnya seraya menundukkan kepala kearah buku—yang sebenarnya tak ia baca. Tidak mungkin aku bilang aku sedang memikirkannya.

“Pacarmu ya?” Ledek Bimo membuat Pingkan salah tingkah. “Ayolah Kan, kita sudah bersahabat sejak lima tahun yang lalu, masa sampai sekarang aku tak diberitahu siapa pacarmu.” Gerutunya.

Pingkan hanya sibuk memperhatikan tulisan yang tersusun rapi dalam bukunya. Ia benar-benar tak ingin menjawab ucapan Bimo.

“Dini tahu soal siapa pacarmu?” Bimo masih menanyakan hal yang sama.

“Kamu kesini ada keperluan apa?” Tanyanya mengalihkan arah pembicaraan Bimo.

“Jawab dulu pertanyaanku!”

“Kalau aku tidak mau menjawab, kau akan apa?”

Bimo menatap tegas mata Pingkan dan membuatnya tak berkutik, membuat hatinya berdetak semakin cepat. “Kita tak usah bertemu saja jika kamu tidak mau memberitahu semuanya.” Katanya cepat. “Lima tahun kita bersahabat, hanya aku yang selalu bercerita denganmu. Aku seperti tidak ada gunanya, tak pernah tahu saat kau berada dalam keadaan tak baik, tak pernah ada saat kau ingin bercerita.”

Bukannya merasa takut, Pingkan malah tertawa “Ancaman macam ini lagi?”

“Aku serius sekarang.” Katanya tak menghiraukan tawa Pingkan yang semakin terdengar mengejeknya. “Masih tidak ingin bercerita?”

Masih dengan tawanya, Pingkan menggelengkan kepala.

Bimo yang semakin naik pitam, lebih memilih meninggalkan Pingkan yang tak menghentikan tawanya.

***

Sudah hampir setengah bulan, Bimo mendiamkan Pingkan. Ancaman yang selama ini Pingkan anggap hanya sebuah gurauan ternyata benar Bimo lakukan. Sejak perbincangan terakhir mereka, Bimo tak lagi menyapa Pingkan, tak mengantarkannya ke tempat les, tak mengirimkannya pesan singkat dan segala hal yang biasanya Bimo lakukan untuk pingkan.

Tawa yang terdengar saat mengejek Bimo, kini tak lagi terdengar. Ocehan yang sering ia ucapkan kini lebih dipilih untuk ia pendam. Banyak hal yang berubah sejak Bimo menjauh darinya, bahkan sangat banyak saat ia sadar, ia tak lagi bisa memperhatikan Bimo secara diam-diam. Bimo benar-benar menjauhinya, untuk melihatnya pun seakan tak diizinkan lagi.

Semuanya tidak separah ini, jika Pingkan tidak seegois ini, membiarkan dirinya menang dengan gengsi untuk menyapa, membiarkan dirinya seakan-akan tak apa-apa saat tak ada suara yang perlahan semakin menciptakan rindu. Semuanya akan baik-baik saja, jika Pingkan ingin menceritakan segalanya, membuka rahasia yang selama ini ia pendam. Apa untungnya jika aku memberitahunya? Apa ia akan langsung peduli? Rasanya tidak. Sanggahnya dalam hati, membenarkan semua sikapnya tanpa memperhatikan hatinya yang kian tersiksa.

“Andai semuanya bisa terucap dengan mudah, aku akan mengucapkannya. Andai lidah tidak menjadi kelu saat berhadapan denganmu, sudah berulang aku beritahumu. Andai aku punya keberanian yang lebih besar dari hari ini, aku tak akan memendam ini selama tiga tahun.” Pingkan mulai berkata, tatapannya memandang lurus, namun kosong. Sesekali bayangan Bimo datang dan menciptakan butir-butir airmata diujung matanya.

“Kau harus tahu, jika aku tersiksa dengan perasaan ini. Ingin ku genggam tanpa ku lepas, namun nyatanya, aku meraihnya pun tak sanggup. Kau tak terlalu jauh, bahkan sangat dekat, namun aku yang bodoh. Aku bodoh.” Perlahan ucapannya semakin lirih, airmata yang sedari tadi ia tahan kini sudah mengalir dengan bebas, membasahi pipinya secara terus. “Aku yang bodoh karena membuatmu menjauhiku. Aku yang bodoh karena tak memberitahumu. Aku yang bodoh. Aku yang salah”

“Ingin tetap bersamamu, merangkai kekonyolan kita. Menciptakan tawa bersama saat aku membutuhkannya. Ingin tetap disisimu, saat aku tak lagi kuat menyimpan semuanya. Aku ingin bersamamu, ingin. Jika bisa, tak kuizinkan seorang gadis pun mendekatimu, menikmati senyumanmu yang semakin lama membuatku semakin rindu denganmu. Jika bisa akan kulakukan, namun? Aku terlalu tak punya nyali untuk itu.”

Pingkan setengah tertawa didalam tangisnya, “Siapa aku? Siapa aku sampai berani-beraninya melarang itu semua? Siapa aku sampai berani untuk mencintaimu selama ini?”

“Aku rindu.” Lirihnya. “Rindu berbagi tawa denganmu, rindu mendengar sejuta cerita yang kau miliki, aku rindu mendengar suaramu. Aku rindu, rindu dengan senyummu, rindu dengan segala hal yang ada di dirimu.” Pingkan semakin terpuruk, ia tak lagi bisa mengendalikan airmatanya, hatinya yang semakin terasa perih.

“Andai kau mendengar semua ini, Bim. Maafkan aku yang lancang mencintaimu, maafkan aku yang bodoh, maafkan aku yang egois.” Perlahan ia mulai mengatur nafasnya yang semakin tak beraturan, mengendalikan airmata yang sedari tak henti mengalir. Ia mengendalikan emosinya yang sudah lama terpendam.

“Aku sudah mendengar semuanya, Kan….”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.