Rabu, 07 November 2018

Janggala

Malam ini sama seperti malam yang lalu, saat tak lagi kudapati dirimu di sebuah sudut taman dekat kompleks. Malam ini sama seperti malam yang lalu, sejak tak lagi kudengar tawa renyah milikmu. Malam ini akan tetap sama seperti malam yang kulewati sejak kau tak lagi kutemui, sejak kau menghilang, sejak kau tak berkabar. Malam ini akan tetap sama, terasa sunyi, terasa hampa karna hatiku tak lagi utuh.

Janggala Resmi Rupadi. Begitu kausebutkan namamu di pertemuan kita yang kesekian kalinya. Aku ingin memanggilmu Janggala tapi sempat tak kauizinkan. Kau memintaku untuk memanggilmu Adi, seperti orang awam memanggilmu, tapi aku tak ingin. Aku ingin memanggilmu Janggala, seperti kau ingin memanggilku Deolinda bukan Linda.

Janggala. Sudah berapa lama aku tak menyebutkan namamu tepat di hadapanmu? Aku rindu, kautahu itu. Aku rindu senyum yang selalu tersemat di bibirmu, aku rindu suaramu yang selalu memanggilku, aku rindu raut wajahmu yang menunjukkan lelah namun selalu berusaha menyembunyikannya. Aku rindu.

Kau adalah lelaki pertama yang menarik perhatianku, lelaki yang selalu menghabiskan waktu sore di sudut taman dengan sebuah buku gambar yang selalu menemani. Aku tidak tahu kau menggambar apa setiap sorenya, senjakah? Pohonkah? Danau yang berada tepat di depanmu-kah? Atau bahkan sesuatu yang tak ada di taman? Kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri, bercengkerama secara tenang bersama buku gambar dan pensilmu, tak terlalu peduli dengan sekitarmu. Tak pernah sedikitpun terlihat kauterganggu dengan suara tawa anak kecil yang selalu terdengar riang.

Lalu, di suatu sore yang masih cerah, kausecara tiba-tiba memilih duduk di bangku yang sama denganku. Bangku taman yang berada tak jauh dari tempatmu biasanya duduk. Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu memilih pindah dari sudut taman ke tengah taman. Kauhanya tersenyum seraya menganggukkan kepala, lalu kubalas serupa denganmu. Hanya seperti itu di hari pertama kita saling tatap.

Sejak hari itu, kautak lagi duduk di sudut taman, kau duduk di bangku yang sama denganku. Mungkin kaubosan, pikirku saat itu. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi namun urung kulakukan karna suara pertamamu mengatakan, "jangan pindah. Tetap di sini." Hanya itu. Tanpa menoleh ke arahku, tanpa tersenyum ke arahku. Lalu, kau menyebutkan namamu secara lengkap. Janggala Resmi Rupadi.

Waktu berlalu begitu saja, sore masih tetap indentik dengan senja. Kau masih identik dengan buku gambarmu. Tak berubah, tetap sama. Dan di suatu senja lainnya, kaumulai izinkan aku melihat isi buku gambarmu. Buku gambar dengan berbagai macam warna. Indah, cantik, bagus, dan memang terasa hidup, seperti itu yang kutangkap dari gambarmu. Lalu, di sebuah lembar yang mendekati lembar akhir, aku melihat sketsa perempuan yang sedang terduduk di bawah pohon besar.

Perempuan yang kaulukis terlihat cantik meski tak diiringi oleh warna seperti gambar lainnya. "Itu gambarmu," ucapmu, menatap gambar yang kupegang. Aku tak tahu harus berkata seperti apa. "Aku mencintaimu, entah sejak kapan." Kaumenatapku, lalu mengusap rambutku lembut. Tak menuntut jawaban, hanya tatapan teduh dan senyuman tulus yang kauberikan kala itu.

Janggala. Kautahu mengapa aku senang memanggilmu seperti itu? Janggala berarti kehidupan, kaupasti tahu. Dan bagiku, kausudah memberikan kehidupan yang tak pernah kudapat sebelumnya. Dan kini, kehidupanku tak lagi sama sejak kaupergi. Janggalaku tak lagi kutemui. Adakah kaurindukan aku seperti malam ini kurindukanmu? Adakah sesak yang selalu datang kala ingat waktu yang terlewat begitu indah?

Biar kulanjut cerita kisah kita. Sejak hari di mana kau mulai menyatakan cintamu, kita semakin dekat. Tak hanya di waktu senja kita bertemu, kau berkenan menemuiku di rumah, bertemu kedua orangtuaku, bermain dengan adikku. Kau tak hanya hadir untukku, namun juga orang sekitarku. Kau sosok yang baik, Janggala. Namun, semua perlahan pudar. Tak lagi aku dapati tawa renyahmu di hari-hari setelah tahun ke dua kita bersama. Kau tak lagi sering berkunjung ke rumahku, bahkan di taman pun tak kujumpai lagi. Kau hanya sekali dua kali datang dengan se-bucket bunga dan kata maaf. Jika kutanya, kau tak pernah menghiraukannya. Semua kau simpan sendiri.

Hari-hari yang menyenangkan menjadi terasa menyedihkan untukku. Perubahan sikapmu terlalu mendadak untukku. Aku terlalu sedih karena hilangnya dirimu yang tak pernah kuketahui alasan jelasnya, hilangnya tawamu, hilangnya tatapan menenangkanmu, hilangnya cinta yang kauberikan padaku. Aku sedih dan kau terasa tak peduli tentang itu. Kau masih datang kepadaku kala kauingat, membawakan bunga, menganggap tak ada hal penting yang harus dibahas. Janggala, andai saja semua kauungkap lebih awal, mungkin tak akan ada sakit seperti ini.

Aku semakin menuntut, itu katamu. Kau semakin sering tak tersenyum kepadaku. Rindu yang tak terucapkan berubah menjadi tangis dan makian kala bertemu. Kita semakin jauh. Dan, ketika lelah atas sikapmu semakin memuncak, aku ingin kautunjukkan keseriusanmu. Berjalan hampir tiga tahun, namun, tak kunjung kaukenalkan akan orangtuamu. Katamu, belum saatnya, aku harus bersabar. Semua semakin menjadi satu; lelah, tak percaya, khawatir, rindu. Kita semakin menjadi berjarak. Tak saling berkirim kabar, tak saling bertemu, bahkan tak saling ingin bertatap muka.

Janggala, ternyata mengulang kisah kita membuatku semakin sesak. Aku rindu dan semakin rindu. Aku merasa terlalu egois untuk saat itu. Janggala, bisakah kau hadir di mimpiku dan berkata bahwa kaumemaafkan semua salahku?

Kautahu, duniaku hancur saat seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam datang ke rumahku. Saudara jauhmu, katanya. Ia hanya berkata, aku harus datang ke rumahmu. Setelah menawarkan aku berangkat bersamanya atau sendiri dan kujawab aku bisa datang sendiri, ia pergi. Aku hanya menatap secarik kertas bertuliskan alamatmu. Ini memang inginku, datang ke rumahmu, bertemu dengan kedua orangtuamu. Namun, apakah harus seperti ini? Saat kau tak di sampingku. Saat kau sudah terbaring tanpa mampu menenangkan degup jantungku yang memacu cepat.

Aku hancur kala itu, Janggala. Kaupergi di saat aku masih belum ingin mendengarkan penjelasanmu. Aku hancur saat ibuku memelukku dan berkata, mari kita ke rumahmu untuk mendoakanmu. Kau sudah tenang, jangan menghambat jalanmu dengan tangis yang terlalu. Aku akhirnya meneteskan airmataku. Kertas yang tergenggam, tak sengaja kuremas. Rasanya sesak, Janggala, sungguh. Bahkan hari ini, sudah 60 hari kepergianmu, aku masih merasa sesak.

Janggala. Kehidupan. Kau kehidupan baru untukku. Aku rindu, kautahu itu. Aku sayang kamu. Kaupun tahu itu. Terima kasih sudah hadir dan memberi warna yang indah untukku. Terima kasih sudah memberikanku banyak pelajaran tentang hidup. Tiga tahun bersama, bukan waktu yang sebentar untukku, pun bukan waktu yang biasa. Bersamamu menjadi hal yang sangat mengesankan. Meski di akhir pertemuan kita, kita tak terlalu menyenangkan. Aku, yang lebih tak menyenangkan.

Semoga kaumemaafkanku. Semoga kau tenang di sana. Aku mencintaimu sampai hari ini. Aku masih merindukanmu sampai hari ini.

Love,

Deolinda.

Jumat, 14 September 2018

Molayas



“Kita udahan aja, ya, Ta.”

Aku menatap perempuan di hadapanku dengan tatapan tak mengerti. Sebuah pernyataan yang terkesan mendadak untukku, karena untukku, sampai tadi ia datang pun kami sedang tak terlibat pertengkaran hebat. Aku menatapnya dengan tatapan menuntut, tak jauh berbeda dengan reaksiku, ia hanya menatapku. Tatapan sendu namun terasa tegas yang selalu memukau untukku.

“Alasan kamu apa?” tanyaku.

Irdina, perempuan yang usianya terpaut dua tahun di bawahku ini hanya mengangkat bahunya, tanda ia tak yakin untuk mengungkapkan alasannya. Irdina memilih untuk meminum cokelat hangatnya dibandingkan menjawab pertanyaanku. 

“Alasannya apa, Irdina?” Setelah membiarkannya menikmati cokelat hangatnya, aku kembali menuntut penjelasan darinya. “Berminggu-minggu yang lalu kamu minta kita ga ketemu dulu terus hari ini, kita ketemu cuma buat bicara ini?”

“Maaf, Ta. Kamu tahu apa alasan aku….”

“Nggak, aku nggak tahu. Jadi, sekarang kasih tahu aku!”

“Ta,” panggilnya lirih. “Kamu berhak bahagia dan pasti akan bisa bahagia tanpa aku, mungkin emang ja….”

“Aku lagi nggak mempermasalahkan soal jodoh ataupun takdir, Irdina. Aku hanya minta kamu jelasin alasan keputusan kamu yang serba mendadak ini.”

Irdina menatapku, semakin sendu, bahkan airmatanya sudah terlihat di pelupuk mata, ingin rasanya kumerengkuhnya, menenangkannya. “Kita pernah bahas ini, Ta. Aku mohon, jangan membuat semua semakin sulit untuk kita.”

Aku tak menjawab, tak berkutik kala aku melihat airmatanya benar-benar menetes. Ia berdiri dari duduknya, tersenyum kepadaku, lalu pergi meninggalkanku.

Irdina telah melangkah menjauh, meninggalkanku yang masih memperhatikan kepergiannya, meninggalkan kenangan yang telah kami rajut selama tiga tahun. Irdina mantap meninggalkanku yang masih tak terima atas keputusannya.
---

Jumat, 22 Juni 2018

Surat untuk Zalika



Teruntuk Zalika, 

Aku menuliskannya seperti itu, tujuannya hanya untuk memudahkan seseorang yang menemukan surat ini. Jika aku tak menuliskan seperti itu, kemungkinan besar akan dibaca terlebih dahulu dan baru mereka ketahui kepada siapa surat ini aku hendak tujukan. Aku tak ingin orang lain membaca ini sebelum kaumelihatnya. Aku bahkan tak ingin orang lain membaca ini, aku hanya ingin kamu yang membaca ini. Aku hanya ingin kamu yang mengerti suratku.

Zalika,

Jika kamu membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah meninggalkanmu untuk selamanya. Atau kemungkinan kecilnya, aku sedang berada di rumah sakit dengan berbagai alat bantu yang membantuku tetap ada. Lalu, kemungkinan mana yang menyebabkan kamu telah membaca suratku saat ini?

Minggu, 10 Juni 2018

Parak



Penyesalan yang tak kunjung hilang ialah saat aku tak menerima telepon dari seseorang. Penyesalan yang tak kunjung hilang adalah saat aku selalu meninggikan egoisku di atas rasa cinta yang sebenarnya tak pernah hilang sedetikpun. Penyesalan yang tak pernah terlupakan adalah saat dengan bangganya aku tak memedulikannya, tak mengacuhkannya, tak menganggap usahanya sebagai suatu hal yang perlu aku tanggapi.

Empat tahun berlalu. Namun, semuanya masih tetap sama. Aku masih menangis kala malam aku mulai membaca pesan-pesannya, aku masih merindukan tawa yang selalu berusaha menghiburku, dan aku selalu menyesal karna ia pergi tanpa sebuah ucapan cinta yang seharusnya kuucapkan.

Rabu, 16 Mei 2018

"Kaumuse", Namanya.



Setelah terlalu lama membiarkan blog ini menganggur tanpa tulisan baru yang cocok untuk dinikmati, maka malam ini aku ingin menuliskan sebuah kisah. Ide tulisan ini sudah sejak lama bersemayam di pikiran tapi baru sempat kutulis malam ini. Kisah yang sebelumnya tak pernah aku sangka akan menjadi pengisi hari-hariku selama empat tahun belakangan ini. Kisah yang diisi dengan makhluk yang tak terlalu menyenangkan namun sudah kuanggap sebagai saudaraku.

Kami menamai sebuah grup chat yang yang hanya berisi kami dengan Kaumuse. Kami adalah sembilan individu dengan kepribadian yang tak sama. Aku tidak ingat secara pasti, sejak kapan aku mulai berkumpul dengan mereka. Semua seperti berjalan begitu saja, saling mengenal lima laki-laki itu dan tiga perempuan itu. Mas Wira, Reka, Ucup, Yodi, Dewa, Kak Mira, Mpi, Cut. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan kami menjadikan rumah Ucup sebagai tempat istirahat kala jeda kuliah. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan dua baris bangku selalu diisi dengan kami, empat bangku di baris kedua untuk perempuan, dan lima bangku di baris ketiga untuk para lelaki. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan kita ingat hari ulangtahun setiap individunya. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan kita rela menunggu untuk turun ke bawah secara bersama.