Setelah terlalu lama
membiarkan blog ini menganggur tanpa tulisan baru yang cocok untuk dinikmati,
maka malam ini aku ingin menuliskan sebuah kisah. Ide tulisan ini sudah sejak
lama bersemayam di pikiran tapi baru sempat kutulis malam ini. Kisah yang
sebelumnya tak pernah aku sangka akan menjadi pengisi hari-hariku selama empat
tahun belakangan ini. Kisah yang diisi dengan makhluk yang tak terlalu
menyenangkan namun sudah kuanggap sebagai saudaraku.
Kami menamai sebuah
grup chat yang yang hanya berisi kami dengan Kaumuse. Kami adalah sembilan individu dengan kepribadian yang tak sama.
Aku tidak ingat secara pasti, sejak kapan aku mulai berkumpul dengan mereka.
Semua seperti berjalan begitu saja, saling mengenal lima laki-laki itu dan tiga
perempuan itu. Mas Wira, Reka, Ucup, Yodi, Dewa, Kak Mira, Mpi, Cut. Begitu
saja tanpa pernah tahu sejak kapan kami menjadikan rumah Ucup sebagai tempat
istirahat kala jeda kuliah. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan dua baris
bangku selalu diisi dengan kami, empat bangku di baris kedua untuk perempuan,
dan lima bangku di baris ketiga untuk para lelaki. Begitu saja tanpa pernah
tahu sejak kapan kita ingat hari ulangtahun setiap individunya. Begitu saja
tanpa pernah tahu sejak kapan kita rela menunggu untuk turun ke bawah secara
bersama.
Semuanya begitu saja
hingga saat kita pergi ke Puncak bersama. Meski tak lengkap, namun bagiku itu
adalah satu pengalaman yang takkan terlupakan. Mpi, Kak Mira, Dewa, Reka, Mas
Wira, dan aku sendiri tak punya tujuan khusus ketika punya wacana ke Puncak.
Hingga akhirnya, kami hanya makan di Puncak Pas dan secara tiba-tiba ingin
berkunjung ke Curug dekat rumah kerabat Mas Wira. Takkan terlupakan untuk
mereka karena harus dengan sabar menunggu temannya ini sampai ke Curug. Istirahat
yang hampir dengan jangka waktu sebentar
tak membuat mereka memaki diriku, mungkin karena aku saat itu sudah terlalu
pucat. Mereka terus menyemangati dan berucap, “sebentar lagi sampai,” namun nyatanya
tak kunjung sampai.
Semuanya berlalu begitu
saja hingga saat maghrib tiba dan kami harus mengakhiri kesenangan kami di
Curug. Perjalanan pulang kali ini lebih santai, tak ada yang istirahat yang
terlalu sering. Selepas Isya, kami baru hendak pulang ke Jakarta. Sebahagia itu
tentang pengalaman hari itu takkan pernah memudar. Aku masih tersenyum saat
mengingatnya, bahkan saat menuliskannya.
Kehidupan terus
berlanjut. Semuanya berlalu begitu saja sampai saat wacana ingin ke Yogyakarta
terlintas di otak mereka. Ingin menghabiskan waktu liburan bersama. Maka, setelah
hari Ujian Pengendalian Mutu berlalu kami pergi ke Yogyakarta. Memanfaatkan
tiket kereta yang sedang promo dan sesuai dengan kantong mahasiswa, kami
memantapkan wacana kami. Perjalanan saat itu, kami hanya pergi ber-delapan,
kurang Cut.
Dimulai dengan
berkumpul di rumahku dan diantar Ayah menuju stasiun, kami memulai perjalanan.
Waktu yang sangat mepet membuat kami was-was takut tertinggal kereta. Namun,
tepat beberapa menit sebelum kereta meninggalkan stasiun, kami sampai. Dan,
perjalanan dimulai disertai dengan personal
message di blackberry “Tenyom
goes to Yogya!”.
Sesampainya di Yogya,
kami dijemput oleh Pakde dari Ucup dan bergegas ke rumahnya yang tak jauh dari
stasiun. Tak ada yang tahu persis jalan di Yogya, kami hanya bermodal motor
yang kami sewa dan aplikasi penunjuk jalan yang terkadang mengalami kendala.
Menyenangkan dan lucu, dua kata itulah yang terlintas saat mengingat perjalanan
kali ini.
Setelah hari pertama,
kami bergegas menunju rumah saudaraku di dekat Borobudur, Magelang. Karena
tidak ada yang tahu jalan secara pasti dan hanya mengandalkan aplikasi penunjuk
jalan, kami diajak muter-muter oleh penunjuk jalan. Masuk ke sebuah
perkampungan di daerah Jawa Tengah yang akhirnya mengakibatkan sinyal kami
menghilang semua. Tak ada koneksi. Mentok
di perkampungan yang masih banyak pohon-pohon besarnya.
Setelah mencoba
bertanya pada warga sekitar, akhirnya kami menemukan kembali jalan menuju
Borobudur dan sinyal di gawai kami mulai bermunculan kembali. Kami melanjutkan
perjalanan. Dan akhirnya sampai di rumah saudaraku. Setelah beristirahat
sebentar, kami meneruskan perjalanan. Kami baru menyadari kelucuan kami ketika
secara sadar kami berangkat dari Yogyakarta (rumah saudara Ucup) lalu ke
Borobudur (rumah saudaraku) dan kembali ke Yogyakarta (Taman Sari dan
Malioboro). Kenapa kami terlalu senang berbolak-balik saat itu?
Hari berlalu hingga
akhirnya kami kembali dikerjai oleh penunjuk arah. Kami diberitahu melalui
jalan yang ternyata satu arah dan berimbas kena tilang. Sekalinya kena tilang
di kampung orang, betapa pengalaman tak terlupakan bukan?
Sebelum pulang, tentu
saja kami menyempatkan untuk ke Borobudur dan membeli sebuah oleh-oleh baju
dengan tulisan yang sama. Lalu, kami memutuskan untuk ke sebuah tempat wisata
Keteppas. Wisata ini berada di antara dua gunung. Seperti Puncak yang berada
Bogor, jika ingin digambarkan. Lalu pulang ditemani hujan yang cukup lebat,
untungnya kami sudah punya kesepakatan untuk membawa jas hujan dari Jakarta,
tapi ya tetap saja ada yang nggak bawa. Akhirnya kami meneduh sampai hujan
mulai mereda. Perjalanan hari itu belum selesai, kami memutuskan untuk kembali
ke Yogyakarta selepas isya. Jika kalian membayangkan perjalanan dengan lalu
lintas yang ramai, maka kalian salah. Perjalanan pulang malam itu teramat sepi.
Berulang kali terucap, “kalau di Jakarta mah, depan rumah gue nih, jam segini
suara motor sama mobil masih rame banget.”
Hari kepulangan yang
seharusnya akhirnya tiba. Kepulangan kami seharusnya adalah hari itu. Namun,
karena kelalaian kami, kereta akhirnya meninggalkan kami. Kami terpaksa harus
kembali menginap di Yogyakarta. Dan pulang ke Jakarta esok harinya.
Itu hanyalah sepenggal
kisah tentang kami. Tentang Yogyakarta dan kami yang akhirnya kami tulis
menjadi sebuah puisi. Semuanya memang begitu saja. Tiba-tiba kami mendapat
tugas untuk melakukan musikalisasi puisi. Hari latihan yang jarang lengkap
personilnya. Hari latihan yang lebih banyak diisi dengan makan lalu tidur. Hari
latihan yang masih sangat santai.
H min seminggu tampil,
Dewa lupa dengan kunci gitar yang sebenarnya ia ciptakan sendiri untuk puisi
kedua. Latihan yang semakin giat karena menutupi kesantaian kami sebelumnya.
Lalu, hari tampil tiba. Penampil pertama akhirnya berhasil menampilkan hasil
karyanya.
Begitulah kami.
Sembilan individu yang tak sama sifatnya. Hampir empat tahun secara rutin
bertemu di kampus, menjadi saksi bagaimana kisah di kampus bukan perihal tugas
dan persaingan nilai saja. Bagaimana kami masih bisa tertawa kala jangka waktu
pengumpulan tugas semakin dekat dan mulai panik ketika waktu pengumpulan hanya
tersisa beberapa jam. Bagaimana kami sibuk menanyakan kabar salahsatunya yang
belum terlihat kala dosen sudah mulai masuk kelas. Bagaimana kami tidur di
rumah ucup selama satu semester saat jeda kuliah.
Empat tahun hampir
selesai. Kini, kita masih saling bertemu di kampus, meski rasanya tak sama
seperti dahulu. Pertemuan yang semula hampir setiap hari kini menjadi satu hari
dalam seminggu. Lalu, berakhir dengan waktu yang cukup lama hingga kami
mempunyai waktu luang yang sama. Terima kasih, sahabat, saudara.
Jika kalian membaca
ini, maka terima kasih karena telah memilih kuliah di kampus yang sama
denganku, melakukan daftar ulang dalam waktu yang berdekatan hingga akhirnya
kita bertemu. Aku bukanlah seseorang yang menyenangkan, bukan orang yang
sepenuhnya baik, bukan seorang yang sepenuhnya mampu menjadi sahabat yang baik
untuk kalian, tapi ingatlah aku sebagai seorang yang pernah mengisi hari-hari
kalian selama masa perkuliahan. Ingatlah aku sebagai orang yang terlalu banyak
tingkah untuk membuat suasana menjadi menyenangkan. Ingatlah aku sebagai Fanny.
Ingatlah aku sebagai seorang mahasiswi tanpa malu yang pernah menyanyikan
“besok aku sekolah, besok aku sekolah” dengan nada yang tak jelas, tapi besok
malah sakit dan tak masuk. Ingatlah aku sebagai Fanny yang kalian kenal.
Terlalu banyak kisah
yang telah kita ukir di waktu hampir empat tahun ini. Beberapa bulan lagi
intensitas pertemuan kita tak bisa lagi kita pastikan. Terima kasih sudah
memberikan banyak pelajaran yang berharga, terima kasih sudah mau berteman
dengan Fanny yang seperti ini, teruntuk para lelaki di kaumuse, terima kasih sudah sempat rela direpotkan karena harus
menerima tebengan si Fanny ini. Terima kasih dan maaf. Maaf karena tak selalu
membantu kala kalian mengalami kesulitan, maaf karena tak menjadi sahabat yang
cukup baik untuk kalian. Maaf karena terlalu banyak ketidakjelasan dalam diriku
yang menyebalkan. Maaf karena sering merepotkan.
Teruntuk kalian yang
sempat terlalu sering mengatakan useeee
dan berakhir menamakan diri menjadi kaumuse,
kalian harus terus menggapai cita-cita kalian, menggapai mimpi yang tertunda
atau sedang berusaha digapai. Banyak kisah yang akan mengakibatkan banyak rindu
setelah perpisahan itu tiba. Banyak tawa konyol yang hilang karena pertemuan
yang semakin jarang. Banyak kenangan yang takkan pernah terlupakan, karena
sudah kusimpan di sini.
Pertemuan selalu
berakhir perpisahaan, hanya jangka waktu yang membedakan. Dan di depan,
perpisahan akan segera kita tuju sebagai jalan untuk kehidupan yang telah
dipilih masing-masing. Jangan pernah melupakan sebuah grup yang bernama kaumuse. Jangan pernah melupakan Mas
Wira sebagai kakak tertua yang senantiasa membimbing adik-adiknya. Jangan
pernah melupakan Kak Mira sebagai kakak kedua dan mamah yang terlalu baik dan
memberikan pencerahan kepada adik-adiknya. Jangan pernah melupakan Ucup yang
sudah rela menjadikan rumahnya menjadi rumah bersama, menjadikan Abi dan Umi
seperti ibu dan ayah kedua kita. Jangan pernah lupa dengan Dewa yang hobbi main
game dan suka nggak jelas, tapi senantiasa membantu teman-temannya. Jangan
pernah lupa dengan Cut yang rumahnya super duper jauh tapi berhati baik. Jangan
pernah melupakan Mpi yang jika ke rumahnya akan bertemu dengan transformer di jalan, seseorang selalu susah membedakan mana yang
bercanda atau serius, yang selalu membuat lawakan menjadi tidak lucu karena
harus dijelaskan berulang-ulang. Jangan pernah melupakan Reka yang tak pernah
marah dan selalu membantu teman-temannya kala susah. Jangan pernah melupakan
Yodi yang selalu hobbi makan, hobbi tidur, yang selalu dateng ke kampus dengan
semua buku dari semester satu. Dan, jangan pernah melupakan aku, si Fanny.
Terima kasih karena
hadir dan mengisi hari-hari selama masa perkuliahan. Kalian harus sukses.
Skripsinya disegerakan selesainya dan selalu diberikan kemudahan untuk
mengerjakannya. Kalian harus lebih baik dari yang sekarang. Dan ketika
perpisahan benar-benar sudah terjadi, maka kalian akan tetap menjadi bagian
dari hidupku, mengisi sebuah tempat yang takkan pernah bisa digantikan oleh
yang lain. Kalian mempunyai tempat khusus dalam sebuah kenangan.
“Persahabatan
tanpa sekat. Persaudaraan tanpa ikatan darah” (Kaumuse)
Tambahin poto dongggggg
BalasHapusG ah, tar lu jadi terkenal
Hapusterimakasih Fanny Saufinaaaa <3
BalasHapus