Rabu, 16 Mei 2018

"Kaumuse", Namanya.



Setelah terlalu lama membiarkan blog ini menganggur tanpa tulisan baru yang cocok untuk dinikmati, maka malam ini aku ingin menuliskan sebuah kisah. Ide tulisan ini sudah sejak lama bersemayam di pikiran tapi baru sempat kutulis malam ini. Kisah yang sebelumnya tak pernah aku sangka akan menjadi pengisi hari-hariku selama empat tahun belakangan ini. Kisah yang diisi dengan makhluk yang tak terlalu menyenangkan namun sudah kuanggap sebagai saudaraku.

Kami menamai sebuah grup chat yang yang hanya berisi kami dengan Kaumuse. Kami adalah sembilan individu dengan kepribadian yang tak sama. Aku tidak ingat secara pasti, sejak kapan aku mulai berkumpul dengan mereka. Semua seperti berjalan begitu saja, saling mengenal lima laki-laki itu dan tiga perempuan itu. Mas Wira, Reka, Ucup, Yodi, Dewa, Kak Mira, Mpi, Cut. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan kami menjadikan rumah Ucup sebagai tempat istirahat kala jeda kuliah. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan dua baris bangku selalu diisi dengan kami, empat bangku di baris kedua untuk perempuan, dan lima bangku di baris ketiga untuk para lelaki. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan kita ingat hari ulangtahun setiap individunya. Begitu saja tanpa pernah tahu sejak kapan kita rela menunggu untuk turun ke bawah secara bersama.


Semuanya begitu saja hingga saat kita pergi ke Puncak bersama. Meski tak lengkap, namun bagiku itu adalah satu pengalaman yang takkan terlupakan. Mpi, Kak Mira, Dewa, Reka, Mas Wira, dan aku sendiri tak punya tujuan khusus ketika punya wacana ke Puncak. Hingga akhirnya, kami hanya makan di Puncak Pas dan secara tiba-tiba ingin berkunjung ke Curug dekat rumah kerabat Mas Wira. Takkan terlupakan untuk mereka karena harus dengan sabar menunggu temannya ini sampai ke Curug. Istirahat yang hampir dengan jangka waktu  sebentar tak membuat mereka memaki diriku, mungkin karena aku saat itu sudah terlalu pucat. Mereka terus menyemangati dan berucap, “sebentar lagi sampai,” namun nyatanya tak kunjung sampai.

Semuanya berlalu begitu saja hingga saat maghrib tiba dan kami harus mengakhiri kesenangan kami di Curug. Perjalanan pulang kali ini lebih santai, tak ada yang istirahat yang terlalu sering. Selepas Isya, kami baru hendak pulang ke Jakarta. Sebahagia itu tentang pengalaman hari itu takkan pernah memudar. Aku masih tersenyum saat mengingatnya, bahkan saat menuliskannya.

Kehidupan terus berlanjut. Semuanya berlalu begitu saja sampai saat wacana ingin ke Yogyakarta terlintas di otak mereka. Ingin menghabiskan waktu liburan bersama. Maka, setelah hari Ujian Pengendalian Mutu berlalu kami pergi ke Yogyakarta. Memanfaatkan tiket kereta yang sedang promo dan sesuai dengan kantong mahasiswa, kami memantapkan wacana kami. Perjalanan saat itu, kami hanya pergi ber-delapan, kurang Cut.

Dimulai dengan berkumpul di rumahku dan diantar Ayah menuju stasiun, kami memulai perjalanan. Waktu yang sangat mepet membuat kami was-was takut tertinggal kereta. Namun, tepat beberapa menit sebelum kereta meninggalkan stasiun, kami sampai. Dan, perjalanan dimulai disertai dengan personal message di blackberry “Tenyom goes to Yogya!”.

Sesampainya di Yogya, kami dijemput oleh Pakde dari Ucup dan bergegas ke rumahnya yang tak jauh dari stasiun. Tak ada yang tahu persis jalan di Yogya, kami hanya bermodal motor yang kami sewa dan aplikasi penunjuk jalan yang terkadang mengalami kendala. Menyenangkan dan lucu, dua kata itulah yang terlintas saat mengingat perjalanan kali ini.

Setelah hari pertama, kami bergegas menunju rumah saudaraku di dekat Borobudur, Magelang. Karena tidak ada yang tahu jalan secara pasti dan hanya mengandalkan aplikasi penunjuk jalan, kami diajak muter-muter oleh penunjuk jalan. Masuk ke sebuah perkampungan di daerah Jawa Tengah yang akhirnya mengakibatkan sinyal kami menghilang semua. Tak ada koneksi. Mentok di perkampungan yang masih banyak pohon-pohon besarnya.

Setelah mencoba bertanya pada warga sekitar, akhirnya kami menemukan kembali jalan menuju Borobudur dan sinyal di gawai kami mulai bermunculan kembali. Kami melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya sampai di rumah saudaraku. Setelah beristirahat sebentar, kami meneruskan perjalanan. Kami baru menyadari kelucuan kami ketika secara sadar kami berangkat dari Yogyakarta (rumah saudara Ucup) lalu ke Borobudur (rumah saudaraku) dan kembali ke Yogyakarta (Taman Sari dan Malioboro). Kenapa kami terlalu senang berbolak-balik saat itu?

Hari berlalu hingga akhirnya kami kembali dikerjai oleh penunjuk arah. Kami diberitahu melalui jalan yang ternyata satu arah dan berimbas kena tilang. Sekalinya kena tilang di kampung orang, betapa pengalaman tak terlupakan bukan?

Sebelum pulang, tentu saja kami menyempatkan untuk ke Borobudur dan membeli sebuah oleh-oleh baju dengan tulisan yang sama. Lalu, kami memutuskan untuk ke sebuah tempat wisata Keteppas. Wisata ini berada di antara dua gunung. Seperti Puncak yang berada Bogor, jika ingin digambarkan. Lalu pulang ditemani hujan yang cukup lebat, untungnya kami sudah punya kesepakatan untuk membawa jas hujan dari Jakarta, tapi ya tetap saja ada yang nggak bawa. Akhirnya kami meneduh sampai hujan mulai mereda. Perjalanan hari itu belum selesai, kami memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta selepas isya. Jika kalian membayangkan perjalanan dengan lalu lintas yang ramai, maka kalian salah. Perjalanan pulang malam itu teramat sepi. Berulang kali terucap, “kalau di Jakarta mah, depan rumah gue nih, jam segini suara motor sama mobil masih rame banget.”

Hari kepulangan yang seharusnya akhirnya tiba. Kepulangan kami seharusnya adalah hari itu. Namun, karena kelalaian kami, kereta akhirnya meninggalkan kami. Kami terpaksa harus kembali menginap di Yogyakarta. Dan pulang ke Jakarta esok harinya.

Itu hanyalah sepenggal kisah tentang kami. Tentang Yogyakarta dan kami yang akhirnya kami tulis menjadi sebuah puisi. Semuanya memang begitu saja. Tiba-tiba kami mendapat tugas untuk melakukan musikalisasi puisi. Hari latihan yang jarang lengkap personilnya. Hari latihan yang lebih banyak diisi dengan makan lalu tidur. Hari latihan yang masih sangat santai.

H min seminggu tampil, Dewa lupa dengan kunci gitar yang sebenarnya ia ciptakan sendiri untuk puisi kedua. Latihan yang semakin giat karena menutupi kesantaian kami sebelumnya. Lalu, hari tampil tiba. Penampil pertama akhirnya berhasil menampilkan hasil karyanya.

Begitulah kami. Sembilan individu yang tak sama sifatnya. Hampir empat tahun secara rutin bertemu di kampus, menjadi saksi bagaimana kisah di kampus bukan perihal tugas dan persaingan nilai saja. Bagaimana kami masih bisa tertawa kala jangka waktu pengumpulan tugas semakin dekat dan mulai panik ketika waktu pengumpulan hanya tersisa beberapa jam. Bagaimana kami sibuk menanyakan kabar salahsatunya yang belum terlihat kala dosen sudah mulai masuk kelas. Bagaimana kami tidur di rumah ucup selama satu semester saat jeda kuliah.

Empat tahun hampir selesai. Kini, kita masih saling bertemu di kampus, meski rasanya tak sama seperti dahulu. Pertemuan yang semula hampir setiap hari kini menjadi satu hari dalam seminggu. Lalu, berakhir dengan waktu yang cukup lama hingga kami mempunyai waktu luang yang sama. Terima kasih, sahabat, saudara.

Jika kalian membaca ini, maka terima kasih karena telah memilih kuliah di kampus yang sama denganku, melakukan daftar ulang dalam waktu yang berdekatan hingga akhirnya kita bertemu. Aku bukanlah seseorang yang menyenangkan, bukan orang yang sepenuhnya baik, bukan seorang yang sepenuhnya mampu menjadi sahabat yang baik untuk kalian, tapi ingatlah aku sebagai seorang yang pernah mengisi hari-hari kalian selama masa perkuliahan. Ingatlah aku sebagai orang yang terlalu banyak tingkah untuk membuat suasana menjadi menyenangkan. Ingatlah aku sebagai Fanny. Ingatlah aku sebagai seorang mahasiswi tanpa malu yang pernah menyanyikan “besok aku sekolah, besok aku sekolah” dengan nada yang tak jelas, tapi besok malah sakit dan tak masuk. Ingatlah aku sebagai Fanny yang kalian kenal.

Terlalu banyak kisah yang telah kita ukir di waktu hampir empat tahun ini. Beberapa bulan lagi intensitas pertemuan kita tak bisa lagi kita pastikan. Terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran yang berharga, terima kasih sudah mau berteman dengan Fanny yang seperti ini, teruntuk para lelaki di kaumuse, terima kasih sudah sempat rela direpotkan karena harus menerima tebengan si Fanny ini. Terima kasih dan maaf. Maaf karena tak selalu membantu kala kalian mengalami kesulitan, maaf karena tak menjadi sahabat yang cukup baik untuk kalian. Maaf karena terlalu banyak ketidakjelasan dalam diriku yang menyebalkan. Maaf karena sering merepotkan.

Teruntuk kalian yang sempat terlalu sering mengatakan useeee dan berakhir menamakan diri menjadi kaumuse, kalian harus terus menggapai cita-cita kalian, menggapai mimpi yang tertunda atau sedang berusaha digapai. Banyak kisah yang akan mengakibatkan banyak rindu setelah perpisahan itu tiba. Banyak tawa konyol yang hilang karena pertemuan yang semakin jarang. Banyak kenangan yang takkan pernah terlupakan, karena sudah kusimpan di sini.

Pertemuan selalu berakhir perpisahaan, hanya jangka waktu yang membedakan. Dan di depan, perpisahan akan segera kita tuju sebagai jalan untuk kehidupan yang telah dipilih masing-masing. Jangan pernah melupakan sebuah grup yang bernama kaumuse. Jangan pernah melupakan Mas Wira sebagai kakak tertua yang senantiasa membimbing adik-adiknya. Jangan pernah melupakan Kak Mira sebagai kakak kedua dan mamah yang terlalu baik dan memberikan pencerahan kepada adik-adiknya. Jangan pernah melupakan Ucup yang sudah rela menjadikan rumahnya menjadi rumah bersama, menjadikan Abi dan Umi seperti ibu dan ayah kedua kita. Jangan pernah lupa dengan Dewa yang hobbi main game dan suka nggak jelas, tapi senantiasa membantu teman-temannya. Jangan pernah lupa dengan Cut yang rumahnya super duper jauh tapi berhati baik. Jangan pernah melupakan Mpi yang jika ke rumahnya akan bertemu dengan transformer di jalan, seseorang selalu susah membedakan mana yang bercanda atau serius, yang selalu membuat lawakan menjadi tidak lucu karena harus dijelaskan berulang-ulang. Jangan pernah melupakan Reka yang tak pernah marah dan selalu membantu teman-temannya kala susah. Jangan pernah melupakan Yodi yang selalu hobbi makan, hobbi tidur, yang selalu dateng ke kampus dengan semua buku dari semester satu. Dan, jangan pernah melupakan aku, si Fanny.

Terima kasih karena hadir dan mengisi hari-hari selama masa perkuliahan. Kalian harus sukses. Skripsinya disegerakan selesainya dan selalu diberikan kemudahan untuk mengerjakannya. Kalian harus lebih baik dari yang sekarang. Dan ketika perpisahan benar-benar sudah terjadi, maka kalian akan tetap menjadi bagian dari hidupku, mengisi sebuah tempat yang takkan pernah bisa digantikan oleh yang lain. Kalian mempunyai tempat khusus dalam sebuah kenangan. 


 
“Persahabatan tanpa sekat. Persaudaraan tanpa ikatan darah” (Kaumuse)

3 komentar:

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.